Wrong Bedroom With Boss Mafia

Wrong Bedroom With Boss Mafia
WBWBM BAB 12 - Merajut Nada Cinta



"Coba ulangi lagi!" pinta Erden.


"Ulangi apa?" tanya Rose.


"Kalimat terakhir tadi," jawab Erden. Dia ingin mendengar sekali lagi.


"Seharusnya aku yang bicara seperti itu, aku terpaksa menerima daddy mafia sepertimu!" Rose mengulangi lagi kalimat terakhir yang dia ucapkan ketika berdebat dengan sang daddy.


"Buang semua dan sisakan kata yang berawalan huruf D!" Erden memberi perintahnya dengan arogan. Seperti saat dia memerintah anak buahnya.


Walaupun tidak mengerti apa maksud Erden, Rose menuruti perintah lelaki itu. "Daddy?"


"Aha! Kau harus memanggilku dengan sebutan itu sekarang!" seru Erden.


Sebenarnya Rose enggan memanggil Erden dengan panggilan itu tapi mau bagaimana lagi, Erden memang ayah kandungnya.


"Baiklah, Daddy." Rose kali ini menurut.


Deg!


Jantung Erden berdebar lagi, dia merasakan perasaan aneh lagi ketika Rose memanggilnya seperti itu.


"Apa Daddy baik-baik saja? Daddy tidak punya penyakit mematikan, 'kan?" cecar Rose karena melihat ekspresi wajah sang daddy yang seperti menahan sesuatu.


Erden langsung memicingkan mata mendengar pertanyaan dari Rose. "Kau menyumpahiku mati, ya?"


"Aku hanya bertanya," elak anak perempuan itu.


"Pertanyaanmu itu mengandung sejuta makna tersirat," Erden merebut ponsel Rose lagi kemudian mematikan benda pipih itu. "Kita akan buat surprise untuk betina Alpha!"


Erden lalu melempar ponsel dan mengangkat tubuh Rose ke kamar mandi. "Kau harus membersihkan diri dan aku akan mengantarmu pulang!"


Lelaki itu membuka sikat gigi baru dan memberikannya pada Rose.


Untuk sejenak ayah dan anak itu tampak akur, mereka sikat gigi bersama di depan wastafel.


"Mandilah terlebih dahulu, lima belas menit kau harus siap dan kita turun ke lantai kafe!" Erden melempar handuk sampai mengenai wajah Rose.


"Kau memang daddy menyebalkan!" Rose mengambil handuk yang menutupi wajahnya. Perlahan anak itu mulai terbiasa dengan sikap Erden yang serampangan.


"Sepertinya tidak ada cara selain berakting," gumam anak itu sambil menggosok tubuh kecilnya.


Rose mempercepat mandinya lalu bergegas siap-siap kembali ke kota kelahirannya.


Saat Rose keluar dari kamar mandi, Erden ternyata sudah siap. Lelaki itu memakai kamar mandi di kamar lain.


Setelah dirasa siap, Erden membawa Rose turun ke lantai kafe. Di sana anak buahnya bersiap-siap untuk membuka kafe yang terkenal akan kopi dan pastry nya itu.


"Panaskan lasagna untuk anak ini," perintah Erden.


Pada saat itu, Otis memang sudah menyiapkan lasagna untuk sarapan bos dan anaknya.


"Ini resep baru, Bos," ucap Otis.


Rose yang lapar langsung mencobanya. "Woah, ini enak!"


"Benarkah?" Otis merasa bangga akan resep penemuannya. "Tidak sia-sia aku begadang untuk bereksperimen!"


"Kafe akan semakin ramai, Bos!"


Bukannya senang, Erden justru kesal mendengar itu.


"Sepertinya kau lupa jati dirimu, ya. Kau lebih suka menjadi pembuat pastry, hah? Ingat tujuan kita adalah menjadi raja penjahat dunia!" Erden berusaha mengingatkan.


Rose menggelengkan kepalanya, dia harus terbiasa dengan rencana gila sang daddy. Mungkin dengan bertemu Jasmine, Erden akan melupakan rencananya itu.


Walaupun dia masih beradaptasi memiliki seorang ayah tapi Rose juga tidak mau ayahnya menjadi penjahat dunia.


"Jangan bicarakan hal seperti ini saat bertemu dengan mommy nanti, kita harus membuat rencana, Dad. Aku menyebutnya merajut nada cinta," ucap Rose menyela.


"Merajut nada cinta?" tanya Erden.


Rose mengangguk. "Kita harus membuat mommy Jasmine jatuh cinta padamu, Dad!"


"Cih, sekali melihatku pasti dia langsung jatuh cinta. Buktinya ada kau sekarang," sahut Erden percaya diri.


"Aku tidak yakin, kalau mommy jatuh cinta, kenapa tidak mencarimu?" Rose berpikir memakai logikanya dan dia begitu tahu bagaimana Jasmine yang anti dengan laki-laki.