Wrong Bedroom With Boss Mafia

Wrong Bedroom With Boss Mafia
WBWBM BAB 15 - Mati Kutu



Jasmine memicingkan matanya mendengar pernyataan Erden, bisa-bisanya lelaki itu membicarakan masalah malam panas mereka di depan Rose.


Anak itu sangat pintar untuk menganalisa keadaan pasti sekarang Rose jadi berpikiran kalau dia hasil dari hubungan satu malam. Apalagi Jasmine selama ini tidak pernah membicarakan sosok Erden karena memang tidak tahu mengenai ayah biologis anaknya itu.


"Jaga bicaramu!" Jasmine maju dan berusaha mengambil Rose dari gendongan Erden. "Ayo, Rose. Kita masuk!"


"Tidak mau, aku mau bersama daddy." Rose mengeratkan pelukannya.


Dan Erden harus menambah bumbu supaya lebih dramatis.


"Tenanglah, kacang manisku. Tidak ada yang bisa memisahkan kita," ucap Erden sambil mengusap-usap rambut anak itu.


Jasmine tidak percaya kalau Rose akan berpaling pada ayah biologisnya itu. Tentu saja dia tidak terima.


"Rose, kenapa kau bisa percaya pada orang asing ini," protes Jasmine.


"Ayo turun dan masuk!"


Erden rasanya ingin berteriak karena dipanggil orang asing tapi dia harus mendalami peran menjadi laki-laki idaman.


"Apa kau seorang ibu? Kenapa kau bicara seperti itu pada anak yang merindukan ayahnya?" tanya Erden seperti menjadi korban.


Tidak bisa dibiarkan, Jasmine harus meluruskan situasi ini.


"Kalian masuk dulu!" akhirnya Jasmine mempersilahkan Erden masuk ke dalam rumahnya.


Erden dan Rose tertawa kemenangan di dalam hati mereka.


"Bagus, Dad! Pertahankan, jangan marah dan sabarlah untuk mengambil hati mommy," bisik Rose di telinga sang daddy.


"Cih, aku merendahkan harga diriku untuk ini. Berani-beraninya dia menolak sang Alpha, pasti pencuri itu mempunyai kelainan. Atau dia hanya memanfaatkan aku untuk menghasilkan anak dengan rupa sempurna," balas Erden dengan asumsinya.


"Jadi, aku sempurna?" tanya Rose.


"Kau anak Alpha yang licik," ketus Erden.


Jasmine yang melihat itu semakin tidak suka dengan Erden.


"Ceritakan, bagaimana kalian bisa bertemu?" tanya Jasmine penuh selidik.


"Apa kau yakin ingin mendengarnya? Ceritanya sangat mengharukan sekali, kami sampai menangis tersedu-sedu," jawab Erden yang diangguki oleh Rose.


Rose akhirnya menimpali dan membuat alur ceritanya. "Jadi, setelah kompetisi entah kenapa aku seperti mendapat sebuah petunjuk. Aku ingin sekali merayakannya di sebuah kafe yang terkenal di kota!"


"Saat aku masuk di kafe, semua mata memandangku karena aku mirip dengan sang barista yang tak lain adalah daddy. Kami saling terdiam tidak percaya sampai kami saling berpelukan, semua pengunjung sampai menangis melihat kami!"


"Tidak mungkin, sejak kapan kau menjadi anak seperti itu, hem?" Jasmine sangat tahu bagaimana Rose yang selalu berpikir sebelum bertindak, di cerita itu bukan Rose anaknya.


"Tentu saja kami tidak percaya begitu saja, untuk itu aku melakukan tes DNA hari itu juga dan hasilnya positif," timpal Erden meyakinkan.


"Rumah sakit mana yang bisa mengeluarkan hasil tes DNA hanya dalam hitungan jam? Apa kau menyuap pihak rumah sakit?"


Jasmine semakin mencecar Erden, dia melirik ke arah Rose dan meminta anaknya untuk masuk ke kamar.


"Ini urusan kami, jadi masuklah dulu," pintanya.


Mau tidak mau Rose masuk ke dalam kamarnya, hanya ada Erden dan Jasmine sekarang yang duduk saling berhadapan.


"Kau bukan pria pertamaku jadi bisa saja aku berhubungan dengan pria lain setelah berhubungan denganmu. Rose bukan anakmu jadi sekarang pergilah dari rumahku!" usir Jasmine tanpa belas kasih dan basa basi.


Erden tidak terima, dia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan hasil tes DNA dari Jack. "Lihatlah sendiri, kacang manis itu anakku!"


"Hasil itu sepertinya bukan murni dari rumah sakit. Apa kau tes DNA secara ilegal?" tanya Jasmine.


"Dan guru pembimbing Rose mengatakan kau mengancam akan membakar hotel kalau Rose tidak ingin ikut denganmu,"


"Bukankah sudah jelas, kau mengklaim secara sepihak dan melakukan pengancaman pada anakku," Jasmine tidak memberi celah untuk Erden dan membuat lelaki itu mati kutu.