
Erden turun dari ranjang walaupun dia lelah dan mengantuk, dia mencari bathrobe miliknya yang tergeletak di lantai.
Dengan cepat Erden memakainya lagi dan berjalan untuk membuka pintu.
Saat pintu terbuka, terlihat Rose yang mengacak pinggangnya.
"Bukankah Daddy berjanji akan tidur bersamaku?" cecar Rose. Anak itu sebelumnya tertidur sendirian karena kelelahan, ketika terbangun dia tidak mendapati Erden.
Rose langsung menduga jika Erden ada di kamar pribadi Jasmine. Tapi, sayangnya jam sudah menunjukkan pagi hari.
"Sorry," Erden hanya menjawab seperti itu.
"Kalau begitu, daddy harus mengantarku sekolah, okay," pinta Rose meminta kompensasi.
Erden sepertinya tidak sanggup jadi dia meminta James untuk mengantar anak itu. "Biarkan aku istirahat sebentar saja, aku janji akan mengajarimu caranya membobol rekening bank!"
"Woah, kau harus tepati janjimu itu, Dad!" Rose mengulurkan jari kelingkingnya.
Dan Erden menautkan jari kelingkingnya juga sebagai bentuk kesepakatan.
Akhirnya Rose benar-benar diantar pulang oleh James untuk ganti baju setelah itu berangkat sekolah.
James mengantar sampai depan gerbang sekolah saja.
"Pulang sekolah saya akan jemput, Nona kecil," ucap James.
"Baiklah," Rose melambaikan tangannya.
Mereka tidak sadar kalau ada yang tengah memperhatikan mereka.
"Jadi, itu anaknya?" tanya orang itu pada rekannya yang memberi informasi.
"Matanya sangat cocok," jawab rekannya itu.
Kedua orang itu kemudian membuat rencana untuk membawa Rose bersama mereka.
...***...
"Rose..." Jasmine langsung berteriak memanggil anaknya ketika terbangun. Dia melupakan sekolah anak itu.
Tubuhnya sakit semua dan dia memaksakan diri untuk menyeret kakinya ke kamar mandi.
Bisa-bisanya dia tidur tidak ingat waktu. Ini semua karena Erden.
"Tunggu, di mana si mesum itu?" gumam Jasmine cemas.
Dugaan Jasmine itu langsung terpatahkan ketika Erden masuk ke dalam kamar dengan membawa beberapa makanan.
"Aku baru saja mau membangunkanmu, bukahkah kau lapar?" tanya Erden.
Jasmine bernafas lega, ternyata lelaki itu tidak mau enaknya saja.
"Badanku rasanya sakit semua," keluh Jasmine yang ingin bermanja-manja dengan Erden.
Sepertinya dia salah mengharapkan jika Erden akan bersikap romantis karena nyatanya lelaki itu justru mengeluarkan alat pijat listrik.
"Ini katanya bisa memijat tubuh," Erden menyalakan alatnya dan meminta Jasmine duduk sambil makan.
"Aku tidak butuh itu," tolak Jasmine. Dia hanya ingin makan dan memulihkan tenaganya.
"Rose?"
"James yang mengurusnya," Erden menjawab sambil mematikan alat pijat listriknya.
Sebelum melanjutkan pembicaraan, Jasmine makan terlebih dahulu, dia benar-benar lapar.
"Bagaimana dengan kekuatan pinggangku?" tanya Erden tiba-tiba.
Seketika Jasmine langsung tersedak, bisa-bisanya lelaki itu bertanya disaat yang tidak tepat.
Jasmine terbatuk-batuk dan minum air putih supaya menghentikan tersedaknya dan hal itu disalah artikan oleh Erden.
"Pasti karena hebatnya sampai kau tersedak seperti itu," ucap lelaki itu.
"Aku itu tersedak karena kaget," balas Jasmine kesal.
Setelah tenang Jasmine melanjutkan makannya lagi. Tapi, dia harus bertanya mengenai hubungan mereka selanjutnya sebelum Erden kembali.
"Jadi, sekarang bagaimana?" tanya Jasmine.
"Kau inginnya bagaimana? Kita ada di dua kota yang berbeda dan memiliki bisnis yang tidak bisa kita tinggal begitu saja," sahut Erden yang merasa menunda banyak pekerjaannya demi berhubungan dengan Jasmine dan Rose.
Jasmine juga sepemikiran, dia bisa saja mengalah untuk ikut Erden dan memantau serenity dari jauh.
"Jadi, berapa luas kebun kopimu?" tanya Jasmine yang ingin tahu lebih banyak mengenai Erden.
Ternyata Jasmine percaya mengenai kebun kopi itu.
Erden jadi bimbang antara terus berbohong atau jujur.