Wrong Bedroom With Boss Mafia

Wrong Bedroom With Boss Mafia
WBWBM BAB 20 - Membujuk Betina



Setelah memperkenalkan diri, suasana tidak kaku seperti sebelumnya. Namun, Erden bingung harus bercerita seperti apa, kalau dia jujur pasti Jasmine akan langsung mengusirnya lagi.


"Aku hanya seorang barista yang mempunyai kafe di kota. Setiap hari yang aku lakukan memajukan bisnisku itu," ucap Erden. Dia tidak bohong karena memang benar dirinya adalah barista tapi untuk bisnis ilegalnya, dia tidak akan mengatakannya.


"Sejak kecil hidupku berada di jalanan yang keras, aku tidak mempunyai orang tua jadi aku memang tidak tahu cara memperlakukan Rose dengan benar," Erden mengingat masa lalunya yang sebatang kara. Dia biasanya tidak mau menceritakan hal seperti ini karena akan membuat sisi lemahnya terlihat.


Jasmine menganggukkan kepalanya paham, dia mulai mengerti arti dari tidak pernah makan di meja makan sebelumnya.


"Aku tahu apa yang kau rasakan, kalau aku disuruh memilih mungkin lebih baik aku tidak mempunyai orang tua sepertimu," Jasmine mengingat orang tuanya yang saling selingkuh dan mengabaikan dirinya.


"Jika tidak menginginkan anak sebaiknya jangan melahirkannya di dunia karena kita tidak meminta untuk dilahirkan dan disakiti," tambahnya seraya menunjuk ke arah penginapannya yang terlihat dari rooftop.


"Namanya serenity, aku membuatnya untuk Rose dan masa depannya ada di sana. Aku memberinya kasih sayang sebagai seorang ayah dan ibu sekaligus, aku sangat bahagia jadi..."


Jasmine menatap Erden di sana. "Jangan mengusik kebahagiaan kami, mari kita jalani kehidupan masing-masing seperti sebelumnya."


"Kau bisa mendatangi Rose kalau ada waktu senggangmu tapi tidak untuk membawanya pergi atau memisahkan kami. Rose satu-satunya yang aku miliki di dunia ini," Jasmine harap apa yang telah dia ceritakan tersampaikan pada Erden.


Sedari tadi Erden hanya diam dan mendengarkan Jasmine tanpa menyela.


"Jase..." panggilnya kemudian.


Entah kenapa mendengar namanya dipanggil membuat hati Jasmine jadi bergetar. Kalau boleh jujur, dia sudah lama tidak pernah dekat dengan laki-laki seperti ini.


"Apa kau tidak ingin bertanya, apa yang diinginkan Rose?" tanya Erden.


Erden tidak sedang memanfaatkan Rose untuk saat ini, dia hanya berfikir kalau memang Rose mendapatkan semua yang anak itu mau tapi kenapa masih mencarinya.


"Apapun yang diinginkan Rose, aku pasti memberikannya kecuali keluarga yang utuh. Aku tidak ingin menanggung beban seperti yang dilakukan orang tuaku dulu," jelas Jasmine.


"Bukankah kau egois?" tanya Erden tidak suka.


"Kau kesepian dan menginginkan seorang anak tanpa peduli dari mana kau mendapatkan bibitnya, kau mengklaim bahagia dengan mengorbankan Rose," tambah Erden.


"Aku tidak mengorbankan Rose, dia bahagia selama ini hidup sebagai anakku. Kau tidak tahu apa-apa dan kau hanyalah ayah biologisnya jadi jangan ikut campur," Jasmine jadi emosional sekali.


Dan Erden ikut terpancing juga, lelaki itu merasa kesal karena Jasmine seolah melakukan hal yang benar.


"Kau sudah melibatkanku dari awal jadi bagaimana mungkin kau bilang kalau aku tidak boleh ikut campur," balas Erden.


"Aku juga tidak menginginkan situasi ini tapi..." Erden meraih tangan Jasmine kemudian dia letakkan di dadanya. "Apa kau merasakannya?"


Jantung Erden memang berdebar cepat sekali, Jasmine bisa merasakannya.


"Aku mengalami ini saat mengingatmu malam itu, kau tahu apa artinya?"


"Ya, kau pria mesum!"