
Jasmine membangunkan Rose karena waktunya makan malam tapi anak itu tidak mau makan.
"Aku tidak lapar," ucap Rose menolak.
Anak perempuan itu justru menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut.
Tidak mau memaksa atau membuat putrinya semakin marah, Jasmine memilih keluar dari kamar Rose.
Perempuan itu makan malam sendirian, rasanya dia merasa ada sesuatu yang salah. Kalau dari awal dia tidak berambisi ingin mempunyai anak tanpa ikatan pernikahan, pasti ini semua tidak akan terjadi.
Tanpa sadar justru membuat Rose jadi korbannya.
Jasmine tidak menyalahkan Erden karena laki-laki itu memang tidak tahu kalau selama ini telah menjadi seorang ayah. Hanya saja dia memang tidak bisa membuka hatinya.
"Kalau aku memberinya kesempatan, apa semua akan berubah jadi lebih baik?" gumam Jasmine.
Malam itu, dia tidak tidur sendirian tapi Jasmine tidur bersama Rose sambil memeluk putrinya.
"Maafkan mommy," ucap Jasmine lirih.
Sebenarnya Rose mendengarnya tapi anak itu pura-pura tidak tahu. Dia sangat marah dengan keadaan.
Keesokan harinya, Rose masih tetap tidak mau berbicara atau makan masakan Jasmine.
Anak itu memilih makan di kantin sekolahnya.
"Tahun ini pasti keluargaku yang akan menjadi juara,"
"Jangan percaya diri dulu, mommy dan daddy ku sudah berlatih keras,"
Bahkan di kantin sekolah pun membuat Rose tidak nyaman. Para murid membicarakan lomba yang akan diadakan di sekolah.
Rose akhirnya memilih kembali ke kelasnya.
...***...
Seperti tahun sebelumnya, yang datang ke lomba tahunan sekolah adalah Jasmine dan Sarah serta beberapa pegawai serenity. Mereka datang untuk memberi dukungan pada Rose.
"Semangat, Rose!" teriak Jasmine.
Namun, Rose justru membuang wajahnya.
"Nona Rose masih marah, Nyonya?" tanya Sarah.
Sebelum pertandingan orang tua, biasanya pertandingan anak-anak terlebih dahulu.
Rose mengikuti lomba lari karena dia mempunyai kelebihan dengan kecepatan kakinya.
Pada saat itu semua peserta sudah berdiri di garis start.
"Semua sudah siap?" tanya pemandu lomba.
"Siap!"
"Kalau begitu, ambil posisi!"
Semua peserta mengambil posisi dan ketika peluit berbunyi, mereka berlari mengelilingi lapangan.
Para orang tua berteriak untuk mendukung anak mereka yang mengikuti lomba.
Rose mengerahkan seluruh tenaganya dan garis finish sudah terlihat di depan. Tapi, salah satu temannya ada yang mendekat dan terus menyenggolnya.
"Hei, jangan curang!" Rose melakukan protes akan tindakan temannya itu.
Memang tujuan temannya itu membuat Rose terjatuh.
Rose menambah kecepatannya, saat akan mencapai garis finish, kaki Rose yang menjadi sasaran. Kakinya dijegal yang membuat anak itu jatuh terguling.
"Rose..." Jasmine panik, dia turun dari tempat penonton untuk mendatangi anaknya.
Temannya didiskualifikasi, sementara Rose tentu saja tidak menjadi juara.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Jasmine. Dia memeriksa tubuh putrinya dan ada beberapa lecet di lutut serta siku tangan.
"Ayo kita obati!"
Jasmine membantu Rose berdiri, beruntung anak itu mau bahkan naik ke punggung sang mommy.
Pada saat itu, tiba-tiba atensi semau orang mengarah pada sekelompok orang yang baru datang.
Orang-orang itu memakai baju serba hitam lengkap dengan kaca mata. Mereka berjalan berkelompok dan dipimpin oleh sang Alpha.
Aura sekolah seketika menjadi begitu dingin.
"Daddy?" Rose menggelengkan kepalanya. "Kenapa datang dengan gaya gangster seperti itu!"