
Suasana di meja makan itu menjadi berbeda karena ada ayah dan anak yang sebelumnya mesra tampak bermusuhan sekarang.
"Kalian bertengkar?" tanya Jasmine.
"Tidak!"
Erden dan Rose menjawab dengan kompak kemudian keduanya saling memandang dengan tajam, lalu membuang wajah mereka bersamaan.
Mereka berdua tidak sadar kalau tingkah mereka sangat lucu di mata Jasmine.
"Selesaikan sarapannya," Jasmine yang selesai duluan berdiri.
Perempuan itu mengambil kunci mobil dan memberikannya pada Erden.
"Antar Rose ke sekolah," pinta Jasmine.
Sebelum mendengar jawaban dari Erden, Jasmine menunduk dan mengecup pipi lelaki itu.
"Kalau kau bisa menjadi ayah yang baik, mungkin aku akan memberimu kesempatan untuk menunjukkan kekuatan pinggangmu itu," bisiknya.
Wajah Erden seketika merona, dia merasakan debaran itu lagi.
"Sialan!" umpat Erden dalam hatinya.
Jasmine kemudian beralih mengecup pipi Rose. "Mommy akan pergi ke serenity, berangkat sekolah dengan daddy mu, okay."
"Baiklah," Rose menjawab dengan malas.
Rose mengucek matanya karena hari ini dia memakai soflens, anak itu belum terbiasa.
"Kenapa memakai soflens?" tanya Jasmine.
"Aku hanya ingin warna mataku kelihatan sama, daddy yang membelikan untukku," jawab Rose.
Jasmine menatap Erden yang diangguki oleh lelaki itu.
"Matanya langka sepertiku, jadi aku tidak mau terjadi apa-apa," ucap Erden ambigu.
Merasa tidak perlu penjelasan lagi, Jasmine pergi meninggalkan kedua ayah dan anak itu.
Klontang!
Rose melempar sendoknya setelah Jasmine pergi. "Aku akan ke sekolah sendiri!"
"Anak ini..." Erden mengambil tas Rose dan membawanya pergi ke luar rumah.
Otomatis anak itu mengikuti Erden dari belakang.
Erden tetap berjalan dan menuju parkiran, dia memencet kunci mobil supaya tahu mobil mana yang diminta Jasmine pakai untuk mengantar Rose.
"Mobil keluarga," decaknya sebal. Dia biasa menggunakan mobil sport.
Erden membuka mobil itu dan melempar tas Rose ke dalam.
"Apa kau lupa dengan aktingmu, hem?" tegur Erden akan sikap Rose yang labil.
"Kau masih marah karena kejadian semalam? Jadi, aku harus bagaimana?"
Rose masuk ke dalam mobil tanpa mau menjawab. "Pergi ke sekolah dulu nanti aku terlambat!"
Mereka pun akhirnya bergegas pergi ke sekolah. Rose masih tidak mau berbicara dengan Erden yang membuat lelaki itu akhirnya mengalah.
"Aku minta maaf, okay. Betina Alpha sudah memberi lampu hijau jadi jangan membuatnya berubah pikiran," ucap Erden.
"Daddy kapan akan kembali?" Rose tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
"Setelah kutukanku hilang," Erden ingin mengucapkan itu tapi hanya dalam hatinya saja.
"Memangnya kenapa, mau mengusirku lagi?"
Rose menggeleng. "Di sekolah akan ada pertandingan lomba, bisakah daddy ikut? Tahun lalu lomba itu diikuti oleh murid yang mempunyai orang tua lengkap, anak sepertiku akan diam dan menyaksikan saja," jelasnya.
"Kenapa sekolahmu seperti itu?" Erden jadi kesal mendengarnya.
"Ada lomba lain, hanya saja ada lomba yang khusus untuk anak dan orang tua," tambah Rose.
Tangan kekar Erden mengusap kepala Rose, dia tidak akan membiarkan anaknya hanya diam dan melihat pertandingan.
"Baiklah, aku akan ikut," ucap Erden kemudian.
Amarah Rose sebelumnya tiba-tiba redam, anak itu tidak marah lagi dan akan menuntut janji sang daddy.
Saat sampai di sekolah, Rose mengecup pipi Erden sebelum turun dari mobil.
"Bye, Daddy."
Erden memaku, matanya melihat Rose yang berjalan sambil terus melambaikan tangan untuknya.
"Kacang manis itu benar-benar..." Erden tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Yang jelas dia merasa senang dan ingin melihat Rose sampai anak itu benar-benar masuk ke dalam sekolah.
Setelah itu, Erden menghubungi James untuk menanyakan keberadaan anak buahnya itu.
"Pengaman masih kau simpan, 'kan?" tanyanya.