Wrong Bedroom With Boss Mafia

Wrong Bedroom With Boss Mafia
WBWBM BAB 27 - Tantrum



"Aku tidak butuh janji, Tuan Walters," Jasmine mengelus wajah Erden menggunakan jarinya mulai dari mata turun ke pipi dan bibir lelaki itu.


Erden memejamkan matanya menikmati sentuhan dari perempuan yang sudah melahirkan anak untuknya itu.


"Jase..." Erden menangkap jari Jasmine dan memasukkannya ke mulutnya.


"Akh! Jangan lakukan itu," Jasmine merasa geli sendiri.


Bukannya berhenti, Erden justru mengarahkan tangan Jasmine untuk turun ke bawah dan menyentuh miliknya.


"Sepertinya ada yang bangun," komentar Jasmine.


"Dia selalu bangun jika berada di dekatmu," Erden merogoh pengaman yang ada di kantong celananya.


Lelaki itu mengambil satu dan merobeknya menggunakan giginya. Sumpah demi apa, Erden kelihatan sangat seksi.


"Aku akan melakukan yang terbaik, Jase," Erden mengeluarkan miliknya dari dalam celananya karena ingin memasangkan pengaman.


Jasmine memalingkan wajahnya, dia tidak siap dan semua ini terlalu cepat. Mereka bahkan baru bertemu beberapa hari.


"Erden..." perempuan itu berusaha mencegah. "Beri aku waktu!"


"Waktu untuk apa? Kepalaku sudah mau pecah," balas Erden frustasi.


Dan itu memang terlihat dari raut wajah Erden sekarang.


"Ini terlalu cepat," ucap Jasmine.


"Bagimu memang terlalu cepat tapi bagiku sudah tujuh tahun lebih lamanya," sahut Erden memohon.


"Hanya sekali saja, Jess. Hanya sekali," sambungnya.


Dia tidak akan menyerah, Erden akan melakukan apapun termasuk merendahkan harga dirinya untuk mengajak bercinta wanita.


"Aku tidak bisa," Jasmine menolak.


Perempuan itu berdiri sambil memperbaiki pakaiannya.


"Pergilah!"


Erden meradang, dia melempar pengaman yang sudah dibukanya ke lantai dan memasukkan miliknya ke dalam celana lagi.


Tanpa sepatah kata pun, Erden keluar dari ruangan Jasmine. Lelaki itu sampai menggebrak pintu dengan suara nyaring.


Sia-sia sudah usahanya beberapa hari ini.


"James..." panggil Erden pada anak buahnya. "Siapkan mobil, kita pulang!"


James bergegas menyiapkan mobil dan hari itu juga, Erden kembali ke kota dengan semua anak buahnya yang dia bawa.


...***...


Di sekolah, Rose tengah melukis karena waktunya pelajaran seni rupa.


Rose menggambar keluarganya, dia berharap apa yang digambarnya akan jadi kenyataan.


"Kau menggambar apa, Rose?" tanya guru seni yang melihat Rose tampak antusias.


Biasanya Rose anak yang ogah-ogahan sekolah.


"Aku menggambar keluargaku, aku mommy dan daddy sedang memakan kacang manis. Daddy ku suka memanggilku kacang manis," jelas Rose sambil memberi warna pada gambarnya.


Guru seni itu tersenyum simpul mendengar penjelasan Rose.


"Apa lukisannya akan diberikan pada daddy mu?" tanyanya.


"Tentu saja," Rose berusaha menggambar sebaik mungkin.


Anak itu berharap pulang sekolah nanti, Erden akan menjemputnya.


Namun, tidak sesuai ekspektasi karena yang menjemputnya adalah sang mommy.


"Di mana daddy?" tanya Rose pada Jasmine.


Tidak ada jawaban karena Jasmine bingung harus menjawab apa.


"Mom..."


Rose menuntut jawaban tapi Jasmine masih tidak merespon.


Sebenarnya Jasmine merasa kecewa pada Erden, hanya karena dia menolak bercinta. Lelaki itu pergi begitu saja.


Dari sini bisa kelihatan kalau Erden hanya menginginkan tubuhnya.


"Dasar pria mesum!" umpat Jasmine dalam hatinya.


Kemudian perempuan itu mengelus rambut putrinya.


"Kita kembali seperti semula, okay. Jadi, jangan berharap pada daddy mu," ucap Jasmine berusaha memberi pengertian.


Seketika Rose memasang wajah kecewa, dia mengambil lukisannya dan menusuk kanvasnya dengan pensil.


"Aku benci daddy. Dia ingkar janji!" Rose menangis di sana.


"Rose..." Jasmine tidak pernah melihat putrinya jadi tantrum seperti itu.