Wrong Bedroom With Boss Mafia

Wrong Bedroom With Boss Mafia
WBWBM BAB 42 - Otak Mafia



Tidak ada kompromi walaupun lawannya adalah kakek tua sekalipun. Ketika ada yang mengusiknya, Erden tidak akan memberi ampun.


Saat Erden dan Rose melewati koridor rumah sakit keluarga itu, semua perawat yang tersisa tampak kalang kabut pergi meninggalkan rumah sakit itu.


Namun, ada hal yang menarik perhatian Erden.


Lelaki itu melihat ada anak yang duduk di kursi roda dan tampak didorong keluar dari rumah sakit. Anak itu terpejam karena memang tidak bisa melihat.


Pasti anak itu yang menjadi pemicu semua ini terjadi.


"Kasihan sekali daddy," komentar Rose.


"Seharusnya kau kasihan pada dirimu sendiri," balas Erden tak habis pikir.


"Apa kita bisa melakukan sesuatu untuk anak itu?" tanya Rose.


Erden menghela nafasnya panjang, mungkin kalau tidak ada drama penculikan dia bisa membantu dari awal. Tapi, sudah jadi begini mau bagaimana lagi.


"Jack pasti punya stok mata yang bagus, dia kan suka koleksi organ tubuh manusia," jawab Erden.


"Jadi uncle Jack bisa membantu?" tanya Rose lagi.


"Kita lihat saja nanti," Erden tidak mau terlalu lama disitu.


Dia bahkan sengaja menembaki cctv yang merekam gerak-geriknya.


Di penginapan, Jasmine begitu gelisah ditambah ada beberapa mobil polisi yang lewat. Perempuan itu terus mondar-mandir tidak jelas.


James yang mendapat laporan bergegas memberitahu Jasmine kabar terbaru mengenai bosnya.


"Anu Nyonya, bos Erden langsung pergi ke kota tempat tinggal kami," ucap James.


"Apa?" Jasmine merasa kesal. Bisa-bisanya Erden mengabaikan dirinya. "Tapi Rose selamat, 'kan?"


"Tentu saja, bos pasti sedang menghindari polisi," jelas James.


"Kalau begitu, ayo susul mereka," ajak Jasmine.


Sebelum pergi, Jasmine menitipkan serenity pada Sarah kemudian dia dan James segera pergi ke kota di mana anaknya berada sekarang.


Mereka sama-sama masih dalam perjalanan, hanya saja Erden pasti akan sampai duluan.


"Sialan kau, Bos," umpatnya.


...***...


Otis yang mendengar kabar jika bosnya akan kembali bergegas menutup kafe, dia bahkan memberikan uang pada pengunjung yang tersisa supaya cepat pergi.


"Buka garasi mobil!" perintah Otis pada anggota yang lain.


Garasi dibuka dan mereka menunggu mobil bos mereka masuk.


Akhirnya mobil yang ditunggu datang juga, Erden turun dengan menggendong Rose yang tertidur.


"Minta Jack langsung ke kamarku saat sampai," ucap Erden memberitahu.


Erden ingin anggotanya itu memeriksa keadaan Rose apalagi bagian matanya. Dia berubah jadi sosok laki-laki penyayang yang posesif pada putrinya.


"Dan minta Otis bawa makanan dan susu ke kamarku," ucap lelaki itu lagi sebelum menghilang dibalik pintu lift.


Lift menuju lantai di mana kamar Erden berada.


"Kau sudah aman kacang manis," Erden merasa lega ketika membaringkan Rose di atas kasurnya.


Rose masih tertidur, anak itu walaupun kelihatannya kuat pasti sangat terguncang dengan insiden yang dialaminya apalagi Rose melihat ayahnya sendiri membunuh seseorang.


"Bos..." panggil Otis yang masuk ke kamar Erden dengan membawa pasta dan susu.


"Apa Jack sudah sampai?" tanya Erden.


Sepertinya umur orang itu panjang karena tak lama Jack muncul dan masuk ke kamar bosnya.


"Cepat periksa keadaan kacang manisku terutama bagian mata," pinta Erden.


Jack memeriksa keadaan Rose, terdapat memar dipergelangan kaki dan tangan anak itu karena sebelumnya Rose diikat. Untuk urusan mata tampaknya sehat sentosa.


"Aman, Bos. Untuk memarnya akan hilang-hilang sendiri," ucap Jack kemudian.


"Baguslah, sekarang kau bantu keluarga Esther sepertinya mereka membutuhkan donor mata untuk penerus mereka. Kau bisa minta imbalan yang besar, kuras harta mereka dan sebagian berikan pada organisasi," perintah Erden yang tidak mau rugi dan otak mafianya bekerja.