
Erden melampiaskan kekesalannya dengan memukuli James di belakang rumah. James tampak tidak melawan sama sekali.
Dan hal itu dilihat oleh Rose.
"Berhenti!"
Sekarang Rose yang marah pada sang daddy.
"Jangan ikut campur!" Erden masih marah.
Namun, Rose tidak takut. Langkah kaki anak itu terus maju karena Rose ingin membantu James yang babak belur.
"Apa Uncle tidak apa-apa?" tanya Rose sambil membantu James berdiri. "Seharusnya Uncle melawan, kalau sudah begini cepat minta resign dan kita lakukan visum!"
James menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Nona kecil. Saya sudah terbiasa bahkan ini terbilang tidak ada apa-apanya, seharusnya saya dihukum lebih parah!"
"Kenapa hidup kalian seperti itu? Bukankah kita harus saling menyayangi?" Rose tidak suka hidup penuh kekerasan yang dijalani oleh Erden dan para anak buahnya.
James bingung harus menjawab apa, hidup mereka memang seperti itu. Kalau lapor polisi yang ada mereka justru tertangkap karena menjadi gembong narkoba selama ini.
"Saya akan kembali ke penginapan," James akhirnya pamit pergi.
Masih sempat-sempatnya lelaki itu memberi hormat pada Erden yang membuat Rose semakin kesal.
Rose menendang betis Erden menggunakan kaki kecilnya. "Ini balasan untuk Uncle James dan sebaiknya daddy pergi dari sini!"
"Ibu dan anak sama saja," Erden menggerutu karena terus-terusan diusir.
Bukannya ikut pergi, Erden justru mengangkat tubuh Rose ke pundaknya dan membawa anak itu masuk ke dalam rumah.
"Pokoknya aku tidak suka kalau daddy main pukul orang, aku tidak mau mommy nanti jadi korban atau bisa-bisa aku juga bisa kena pukul," Rose tetap membahas masalah ini. Dia akan menyeleksi orang yang masuk dalam hidupnya bahkan Erden sekalipun.
Erden selalu dibuat mati kutu. "Aku tidak pernah memukul wanita apalagi anak kecil jadi tenang saja!"
Terpaksa Erden tidak menanggapi lagi atau masalah akan semakin panjang. Lain kali dia akan hati-hati jika memukul anak buahnya, hal itu sudah biasa dia lakukan jadi Erden tidak merasa bersalah.
Malam itu, Erden tidur di sofa ruang tamu sambil merenung memikirkan hidupnya sampai tidak terasa matanya tiba-tiba terpejam.
"Hei, bangun," Jasmine membangunkan Erden keesokan paginya dengan berbisik di telinga lelaki itu.
Aroma parfum Jasmine masuk ke indera penciuman Erden yang membuat jiwa kelaki-lakiannya bangkit.
Ketika membuka matanya, Erden langsung mendekap Jasmine dalam pelukannya.
"Lepaskan aku, aku sedang memasak," Jasmine berusaha memberontak.
"Kita lanjutkan yang tadi malam, ya. Kacang manis hari ini sekolah, 'kan?" Erden sudah di titik frustasi maksimal.
Bahkan miliknya tidak mau tidur dan itu terlihat jelas menyembul.
"Aku harus ke serenity hari ini," tolak Jasmine.
"Itu jauh lebih baik, kita bisa gunakan salah satu kamar di penginapan," sahut Erden. Dipikirannya hanya supaya bisa terlepas dari kutukan.
Jasmine mencoba lepas dari pelukan Erden. "Aku harus memasak untuk sarapan, kau sebaiknya membersihkan diri dan ganti bajumu!"
Kemudian perempuan itu bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Kali ini Erden menjadi penurut supaya bisa mengambil hati Jasmine. Pokoknya kutukannya harus cepat hilang setelah itu dia bisa memikirkan langkah selanjutnya.
Ingin bertahan atau melepas Jasmine dan Rose.
Di hati kecilnya dia ingin membangun keluarga baru tapi di sisi lain, Jasmine dan Rose bisa hidup tanpanya. Bahkan dia dianggap tidak berguna.