
Rose memandangi adik-adiknya yang berada di box bayi. Wajah mereka sangat mirip dan sangat sulit dibedakan.
"Bagaimana kalau kita salah memanggil mereka, Daddy?" tanya Rose pada Erden yang mendekati anak-anaknya.
"Tenang saja, daddy sudah menyiapkan kalung untuk mereka," Erden mengeluarkan kalung itu dan memasang pada leher ketiga bayinya satu persatu.
Kini ketiga bayi itu memakai kalung sesuai dengan nama mereka.
"Kau suka bayi-bayi buatan daddy?" tanya Erden.
"Aku sangat suka, mereka begitu menggemaskan," jawab Rose.
Awalnya memang menggemaskan tapi lama-kelamaan, keluarga kecil itu kerepotan mengurus ketiga bayi itu.
Bayi-bayi Alpha selalu tidur, bangun, menangis, lapar bahkan pup di waktu bersamaan.
Erden dan Jasmine sudah mempekerjakan baby sitter untuk masing-masing bayi tapi tidak ada satu pun yang betah, mereka minta resign tanpa digaji.
Akhirnya pasangan suami istri itu mengurus sendiri dengan bantuan Rose kadang anak-anak buah Erden dikerahkan.
Namanya bayi-bayi Alpha nakal, mereka tidak mau disentuh sembarangan. Mereka akan menangis dan berhenti di gendongan orang tuanya.
"Waktunya minum susu," Rose mengambil stok susu yang ada di freezer. Air susu yang diperah Jasmine dan dibekukan di lemari pendingin.
Rose memanaskan tiga plastik dan anak itu masukkan ke dalam tiga botol susu.
Kemudian Rose berikan pada kedua orang tuanya.
Jasmine dan Erden duduk di sofa ruang tamu dengan mata panda, Erden menggendong dua bayi dan Jasmine satu bayi.
"Jangan nangis lagi, ya. Kakak mau sekolah dulu," Rose menciumi adik-adiknya sebelum berangkat sekolah.
"Ayo, Nona kecil," James yang bertugas mengantar anak itu sekolah sudah standby.
Jasmine dan Erden tidak berani bersuara atau bergerak karena bayi-bayi mereka mulai memejamkan mata.
Jika sudah begitu, mereka akan ikut tertidur karena kelelahan.
Lelaki itu terbangun ketika mencium bau pup dari bayi-bayinya.
Sebelum menangis, Erden memberikan empeng.
"Sayang, waktunya ganti popok," Erden berusaha membangunkan Jasmine.
Mereka meletakkan bayi di box untuk diganti popoknya.
"Biar aku yang bersihkan bokong mereka," ucap Jasmine.
"Siapkan air mandinya, Dad. Sepertinya mereka butuh pijatan supaya rileks," lanjutnya.
Erden pun menyiapkan air hangat di tiga bak mandi khusus bayi.
Setelah selesai, dia meletakkan bayi-bayi mereka di sana. Dan terbukti ketiga bayi itu tertawa sesekali menikmati air hangat dan pijatan dari sang mommy.
"Aku dulu sering melakukan ini pada Rose," ucap Jasmine.
"Dulu aku tidak tahu kalau telah jadi seorang daddy, sekarang langsung dibalas tiga kali lipat dengan bayi-bayi luar biasa," sahut Erden yang sekarang tahu bagaimana mengurus bayi itu.
"Mereka kadang terlihat imut-imut tapi kadang juga terlihat amit-amit," lanjut Erden.
Jasmine menepuk lengan suaminya. "Jangan bicara seperti itu, mereka pasti ingin diurus orang tuanya sendiri bukan campur tangan orang lain."
"Aku sebenarnya mempunyai firasat buruk pada ketiga bayi kita ini," ungkap Erden.
"Jangan berpikir macam-macam apalagi mereka masih bayi," Jasmine menepis pikiran buruk suaminya itu.
Setelah selesai mandi, bayi itu dibaringkan di dalam kamar.
"Aku akan membuat makanan untuk kita," pamit Jasmine.
Tertinggal Erden dan ketiga bayinya, lelaki itu memandangi bayinya satu persatu.
"Ayo tidur lagi dan cepatlah besar!"