Wrong Bedroom With Boss Mafia

Wrong Bedroom With Boss Mafia
WBWBM BAB 37 - Pertanyaan Lagi



Selesai makan, Jasmine mengajak Erden jalan-jalan. Anggap saja mereka saat ini tengah berkencan.


Ada street food di dekat penginapan, Jasmine membawa Erden ke sana sambil bergandengan tangan.


"Aku mau itu," tunjuk Jasmine ketika melihat ada penjual gulali. Padahal bisa saja Jasmine membelinya sendiri tapi pasti beda rasanya jika Erden yang membelikannya.


"Baiklah, tunggu di sini," Erden menyanggupi. Bos mafia itu berjalan ke arah penjual gulali dan membelinya.


Setelah selesai membayar gulali, Erden mendatangi Jasmine yang menunggunya di kursi panjang yang ada di street food itu.


"Thanks," Jasmine menerima gulali dari Erden dan langsung memakannya.


Erden memperhatikan Jasmine yang memaju mundurkan gulali itu. Kemudian dia berbisik pada telinga Jasmine.


"Aku mau seperti gulali itu," bisiknya.


"Ish, mesum!" Jasmine mendorong bahu Erden supaya menjauh. "Kau belum menjawab pertanyaanku!"


"Tentang kebun kopi itu?" tanya Erden.


Jasmine menganggukkan kepalanya, dia sangat penasaran dengan kehidupan lelaki itu. Bagaimana seorang barista tapi kemana-mana selalu membawa anak buah.


"Ah, sepertinya kacang manis akan pulang sekolah, bukankah kita harus menjemputnya?" Erden mengalihkan pembicaraan.


Erden belum siap berkata jujur karena Jasmine pasti akan menolaknya.


Sementara Rose sendiri masih belajar di sekolahnya, sebentar lagi dia akan pulang dan tidak sabar menagih janji Erden.


"Rose..."


Tiba-tiba kepala sekolah memanggil anak itu dan meminta Rose ke ruangannya.


"Ada apa? Aku kan tidak pernah buat masalah lagi," gumam Rose.


Tapi dia tetap berdiri dan pergi ke ruangan kepala sekolah. Ternyata di sana, ada beberapa orang yang menunggu kedatangannya.


"Cucuku..." seorang kakek mengaku-ngaku menjadi kakek Rose.


Dan Rose sepertinya mengenal pria tua itu.


"Bukankah kakek, kakek yang malam itu?" tanya Rose memastikan.


Kepala sekolah meminta Rose duduk dan berbicara lebih intens lagi pada sang kakek.


Ternyata namanya kakek Ken, dia mengaku ayah dari Jasmine.


"Benarkah? Mommy tidak pernah cerita," ucap Rose yang tidak akan mudahnya percaya.


"Mommy mu sangat membenci kakek jadi Jase pasti tidak pernah bercerita tapi dengan bantuan cucu kakek ini pasti hubungan kami akan membaik," sahutnya.


Rose tampak berpikir, apa kakek ini seperti Erden yang selama ini tidak diceritakan padanya?


Sepertinya Rose harus menanyakan langsung pada sang mommy.


Jadi, Rose pulang duluan bersama kakek itu walaupun bel pulang sekolah belum berbunyi.


"Ayo masuklah," sang kakek meminta Rose masuk ke dalam mobil mewah yang ada di parkiran.


Saat Rose masuk, hal tak terduga terjadi karena di dalam mobil ada seseorang yang siap memberi obat bius pada anak itu.


"Aaaaa...." Rose sempat berteriak tapi mulutnya di bungkam dengan kain yang sudah diberi obat bius.


"Cepat, kita harus pergi!"


Mobil itu pun langsung pergi meninggalkan area sekolah Rose.


Dan perasaan tidak enak dirasakan oleh Jasmine dalam perjalanan menuju sekolah anaknya.


"Bisa tambah kecepatan?" pinta Jasmine yang pada saat itu berdua dengan Erden.


"Sebentar lagi kita sampai," balas Erden. Dia yang menyetir mobil tanpa melihat lawan bicaranya.


"Perasaanku tidak tenang kalau belum melihat anak itu," ungkap Jasmine.


Erden terkekeh mendengarnya. "Aku jadi penasaran, bagaimana kau hamil dulu!"


"Kau melakukan semua sendirian?"


Jasmine mengangguk dan mengingat masa lalu. "Tapi, ada kalanya aku juga ingin didampingi seseorang seperti yang lain. Apalagi saat melahirkan, rasanya sangat menyakitkan."


"Kalau aku memberitahumu dari awal, apa kau akan menerima Rose?"