
"Hahaha...." Jasmine tertawa karena mengira Erden tengah bercanda. Namun, lelaki itu hanya diam saja melihatnya tertawa.
Sepertinya memang Erden kali ini berbicara serius.
"Bukan bercanda?" Jasmine lagi-lagi memastikan.
"Di saat seperti ini memangnya ada waktu bercanda?" tanggap Erden.
PLAK!
Jasmine langsung menampar pipi lelaki itu karena merasa dibohongi.
"Apa Rose diculik ada hubungannya dengan kelompok mafiamu?"
Kali ini Jasmine bertanya begitu serius.
"Dugaanku mereka bukan dari kalangan bawah tanah jadi tidak ada hubungan dengan bisnis gelap. Aku selama ini selalu bermain aman dan selalu mempunyai sekutu yang menguntungkan satu sama lain," jelas Erden sambil memegangi pipinya.
"Apa Rose tahu dari awal?" tanya Jasmine lagi.
"Kami bertemu karena dia ingin masuk ke kelompokku," Erden memberitahu.
"Rose melakukan itu?" Jasmine tersadar jika selama ini anaknya diam-diam mencari ayah kandungnya.
Betapa bodohnya Jasmine yang mengira bisa memberikan segalanya pada Rose.
"Percayalah, awalnya dia juga menolakku tapi seiring berjalannya waktu kacang manis justru berusaha membuat kita dekat," lanjut Erden.
Lelaki itu ingin memeluk Jasmine tapi Jasmine memundurkan badannya.
"Jase..." panggil Erden.
Pada saat itu, James berhasil menemukan data dari keluarga Esther. Dia langsung memberitahu bosnya.
Keluarga Esther sangat kaya raya tapi Kendrick Esther mempunyai satu orang anak saja. Kakek Ken ingin anaknya banyak memberinya cucu supaya garis keluarga tidak terputus tapi nyatanya anak semata wayangnya susah hamil.
Program apapun dilakukan sampai akhirnya bisa hamil setelah melakukan proses bayi tabung.
"Sepertinya mereka mengincar mata kacang manisku," ucap Erden mengepalkan kedua tangannya.
Sudah jelas kenapa Rose bisa dibawa ke rumah sakit keluarga mereka karena ada praktek ilegal yang akan dilakukan. Mereka akan mencangkok mata dengan anak yang masih hidup.
"James..." panggil Erden pada anak buahnya dengan bibir bergetar. Bahkan matanya sampai berkaca-kaca.
"Iya, Bos." James tidak pernah melihat bosnya seperti itu. Erden biasanya akan marah dan menjadikannya pelampiasan. "Apa ingin memukulku, Bos? Aku siap!"
Erden menggelengkan kepalanya, lelaki itu mengatakan hal di luar dugaan.
"Jika terjadi sesuatu pada kacang manisku, katakan pada Jack kalau dia harus memberikan mataku pada anakku," ucap Erden bersungguh-sungguh.
Jasmine yang juga mendengar itu merasa tidak percaya jika Erden akan memberikan mata pada Rose. Perempuan itu bisa melihat ketulusan seorang ayah.
Rasa emosi sebelumnya seketika langsung menguar seperti tertiup angin.
"Bos...." James tidak menyangka jika Erden akan berkata seperti itu.
"Kau berjaga di sini, aku dan yang lainnya akan ke lokasi," Erden tidak mau membuang waktu lagi.
Jasmine menghampiri Erden yang ingin masuk ke mobil.
"Aku ikut!" serunya.
"Tidak bisa, kau harus ada di sini! Jangan membuatku banyak menanggung beban, Jase," tolak Erden.
"Tapi, aku ibunya..." Jasmine tetap memaksa.
"Justru karena kau ibunya, kau harus baik-baik saja. Aku berjanji akan menyelamatkan anak kita," tegas Erden.
Jasmine terpaksa membiarkan Erden pergi, dia melihat mobil yang membawa lelaki itu menjauh.
"Siapapun kau, aku pasti akan menikahimu jika semua ini sudah selesai," ucap Jasmine dengan tekad membara. Dia tidak akan melepas Erden dan mengikat lelaki itu supaya selalu ada di sisinya.