
Erden memandangi Rose yang tertidur di atas ranjangnya. Anak itu tidur setelah makan cukup banyak.
Dia masih tidak menyangka sudah menjadi seorang ayah. Ini di luar ekspektasinya.
Lelaki itu ingin menjadi raja penjahat dan membuat nama Wolf Winter ditakuti oleh seluruh dunia jadi Erden tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi.
Namun, kalau dia mempunyai anak, rasanya cita-citanya akan mustahil terwujud.
"Sebelum itu, aku harus mencabut kutukannya," gumam Erden seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh kecil kacang manisnya.
Sebelum keluar kamar, Erden menyempatkan menyentil hidung Rose yang menurutnya imut. Kening anak itu jadi berkerut yang membuat Erden semakin bersemangat menggodanya.
"Daddy..." Rose melakukan protes di alam bawah sadarnya karena merasa terganggu.
Deg!
Jantung Erden kembali berdebar seperti saat pertama kali melihat Rose. Baru pertama kali ini dia dipanggil daddy oleh anaknya.
"Apa yang terjadi denganku?" gumam Erden.
Dia mengacak rambutnya, pertama Jasmine yang membuat miliknya tidak bereaksi pada wanita lain, kedua Rose yang selalu membuatnya berdebar dan merasakan perasaan aneh.
"Pencuri itu, ini semua adalah salahmu!" Erden jadi semakin dan semakin tidak sabar untuk bertemu dengan Jasmine.
"Sepertinya penyakitku jadi bertambah, aku harus berkonsultasi dengan Jack. Semoga dia tidak menyarankan aku untuk mengeluarkan jantungku supaya dia bisa teliti," tambahnya.
Akhirnya Erden tidak jadi keluar dari kamar, dia membaringkan diri di samping Rose dan berbagi ranjang dengan anak itu.
Keesokan paginya, Rose bangun duluan dan mendapati Erden yang masih tertidur.
"Kenapa aku tidur di sini?" gumamnya.
Sejenak Rose memandangi wajah Erden sampai ponselnya yang berada di dalam tasnya berbunyi.
Ternyata Jasmine yang menelepon untuk menanyakan keadaan putrinya.
"Hari ini pulang, 'kan? Mommy sangat merindukanmu," ucap Jasmine ketika Rose menerima panggilan darinya.
"Aku pulang tidak bersama miss Chloe, Mom," ungkap Rose.
"Dengan seseorang, mommy jangan kaget, ya. Dia sedikit kurang waras," jelas Rose ambigu.
"Rose, jangan main-main. Ini tidak lucu, kau pulang dengan siapa?" Jasmine harus tahu dan dia pasti akan memarahi Rose karena memisahkan diri dari miss Chloe.
"Pokoknya mommy tenang saja, aku baik-baik saja dan tidak perlu menjemputku," ucap Rose berusaha membuat sang mommy tenang.
Bagaimana mungkin Jasmine bisa tenang, dia harus mengalihkan panggilan menjadi video supaya dia bisa melihat putrinya.
"Astaga, gawat!" Rose langsung menutupi tubuh Erden sampai ke kepala sebelum menerima panggilan video itu.
Rupanya ulah Rose itu membuat Erden terbangun dan terganggu.
"Arghhh!" Erden berteriak ingin marah tapi Rose langsung menunjukkan ponselnya.
"Diamlah dan sembunyi, mommy ingin video call," ucap Rose.
"Kenapa aku harus sembunyi?" protes Erden. Dia justru merebut ponsel anak itu. "Sini, biar aku saja yang menerima panggilan!"
"Jangan, kau pasti akan mengacaukan segalanya," Rose berusaha merebut ponselnya kembali.
"Aku harus berbicara pada pencuri itu," Erden ingin memencet tombol hijau untuk menerima panggilan.
Namun, Rose dengan cepat menggigit tangan Erden. Anak itu menggigit dengan sekuat tenaga.
"Arghhh!" Erden kembali berteriak. "Kenapa kau menggigitku!"
"Karena aku anak Alpha, jadi jangan macam-macam padaku," Rose berhasil merebut ponselnya.
"Kau harus memperbaiki cara bicara dan sikapmu baru bisa berinteraksi dengan mommy. Mommy Jasmine itu tidak butuh kau, Mr. E," sambungnya.
Erden berdecak sebal, baru kali ini dia tidak bisa melampiaskan kekesalannya karena lawannya adalah anaknya sendiri.
Kalau dipikir-pikir benar kata Rose kalau Jasmine tidak butuh dirinya, buktinya perempuan itu bisa membesarkan Rose sendirian.
"Baiklah, sekarang kita adalah sekutu. Aku terpaksa menerimamu jadi anakku," ucap Erden kemudian.
Rose menggeleng. "Seharusnya aku yang bicara seperti itu, aku terpaksa menerima daddy mafia sepertimu!"