
Rose tersenyum cerah ketika melihat orang tuanya menang lomba. Sebenarnya dia lebih senang karena bisa memperlihatkan pada satu sekolah kalau dia mempunyai orang tua yang utuh.
Pada saat pembagian piala, Rose ikut naik di atas podium. Di sana anak itu mengangkat piala kemenangan seraya digendong oleh Erden.
Kemudian fotografer yang bertugas mendokumentasikan lomba, meminta keluarga kecil itu untuk berfoto.
Erden dan Jasmine mencium pipi Rose, mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.
"Boleh aku meminta fotonya?" tanya Rose.
"Ini foto keluarga pertamaku!"
Mendengar itu, sang fotografer merasa tersentuh.
"Baiklah, nanti aku akan mengirimkan padamu," ucapnya.
"Terima kasih," balas Rose.
Bukan hanya Rose yang merasa memiliki keluarga, Erden dan Jasmine pun merasakan hal yang sama.
"Jadi begini rasanya?" batin Erden.
Tak lama James mendatangi lelaki itu untuk melaporkan sesuatu.
"Sudah siap, Bos!" lapor James.
"Baiklah, aku akan segera ke sana," Erden mengangkat tubuh Rose untuk dia gendong lagi.
"Kita mau ke mana, Daddy?" tanya Rose bingung.
"Merayakan kemenangan kita," jawab Erden.
Lelaki itu berjalan membawa Rose ke halaman sekolah.
Sementara Jasmine mendengus kasar karena merasa tidak dianggap. Walaupun begitu, perempuan itu tetap mengikuti Erden dan Rose dari belakang.
Ternyata di halaman sekolah ada food truck, di sana Erden memperlihatkan keahliannya menjadi barista.
Erden mentraktir semuanya untuk mencicipi kopi buatannya.
Para panitia bahkan kepala sekolah menunggu di tempat duduk yang disediakan.
Bukan hanya kopi tapi ada burger yang dimasak oleh anak buah Erden dan untuk anak-anak ada minuman milkshake serta es krim.
"Silahkan," Erden memberikan kopi hasil buatannya pada kepala sekolah duluan.
Kepala sekolah menerima itu dan meminumnya. "Wah, ini kopi terenak yang pernah saya minum!"
"Ambilkan temanmu milkshake dan es krim, sebentar lagi burger juga sudah jadi," ucap Erden pada anaknya.
"Baik, Daddy." Rose segera mengambil milkshake dan es krim sesuai perkataan Erden.
Erden yang datang begitu menakutkan sebelumnya mendadak menjadi disukai satu sekolah.
Apalagi saat lelaki itu begitu serius meracik kopi membuat para orang tua murid perempuan ramai-ramai merekam Erden menggunakan ponsel.
"Cih, apa yang mereka lakukan," Jasmine jadi merasa kesal.
Jasmine kemudian mendekat dan membubarkan mereka.
"Dilarang mengambil foto dan video!" seru Jasmine seraya mengacak pinggang dan melotot dengan galak.
"Kau cemburu?" tegur Erden.
"Tidak," jawab Jasmine cepat.
Erden memberikan satu gelas kopi latte pada Jasmine. "Minumlah!"
"Apa memang seenak itu?" Jasmine menerima kopi itu dan langsung meminumnya.
Pupil mata Jasmine melebar karena ternyata memang kopinya seenak itu.
"Enak, bukan?" tanya Erden.
Jasmine tidak menjawab tapi matanya terus memperhatikan Erden yang meracik kopi dengan keren.
Tiba-tiba dia merasakan debaran aneh di dadanya, Jasmine sampai memegang dadanya karena sakit.
Rupanya hal itu diperhatikan oleh Erden, sepertinya Jasmine mempunyai gejala penyakit yang sama dengan dirinya.
Erden melempar botol aspirin miliknya. "Minum itu supaya kau tidak mengalami gejala stroke! Kalau kau mati dengan cepat, siapa yang repot!"
Rose yang melihat keduanya dari kejauhan sampai menggelengkan kepalanya.
"Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?" gumamnya.
Akhirnya anak itu mendatangi James dan Sarah yang memanggang burger.
"Sepertinya mommy dan daddy ku jatuh cinta, apa yang harus kita lakukan supaya mereka sadar?" tanya Rose.
James dan Sarah saling pandang kemudian tertawa bersama. Dalam hati mereka berkata...
"Tentu saja memberi mereka pengaman!"