
Dessy POV’s
Akhirnya, ujian ku di mulai. Keseluruhan ujian di bagi menjadi 2 babak. Babak pertama aku melawan para panglima, lalu di babak selanjutnya melawan Shida dan Eveline. Tidak ada batas waktu, pertarungan berakhir jika aku berhasil melumpuhkan lawan, begitupun sebaliknya.
Selagi bersiap-siap, Tuan Leo tidak berhenti memberiku nasihat-nasihat membosankan tentang pertarungan.
“...kau dengar aku?”
“eh? Apanya?” tanyaku bingung.
“Dessy, dari tadi aku memberimu nasihat dan tips-tips, demi kemenangan mu dan kau malah menghayal? Kau tidak memperhatikan sejak tadi!”
“astaga, Paman Leo.. soal nasehat dalam pertarungan, iya.. aku sudah dengar berkali-kali.. berhentilah mengulangnya terus, bisa bisa aku sakit kepala. Padahal kondisiku harus prima sebelum ujian”
Paman Leo menatapku, lalu menghela nafas berat. “huufft.. ya sudah. Ingat saja, yang terpenting bagi seorang Putri Winter adalah pertahanan. Tidak menutup kemungkinan bagi seorang Putri Winter untuk menjadi penyerang, tapi mengingat kekuatannya, seorang putri Winter lebih utama dalam pertahanan. Kau harus lebih siaga dan harus berkonsentrasi mempertahankan es mu. Saat diserang, es mu jadi lebih rapuh. Itulah kekuarangan utamamu. Selain itu, kau harus menjaga refleksmu, jangan sampai kau kelepasan menggunakan kekuatan mu yang lain---“
“aku akan berhati-hati, Paman..” aku memegang tangan beliau. Dalam hati aku sebenarnya memaki ‘Astaga Paman Leo! Kau tidak membuatku merasa lebih baik!
“baguslah. Kau harus selalu ingat itu... hufftt.. waktu benar-benar cepat berlalu. Kini kau sudah besar, dan sebentar lagi akan meninggalkan lelaki tua ini”
“jangan bilang begitu... kau tahu aku tidak ingin pergi”
“tapi kau harus. Karena itulah takdirmu, tanggung jawabmu. Setelah ujian mu berakhir, kau harus ikut ke markas dan memasuki dunia peperangan.”
“tidak bisakah kau ikut bersama ku? Aku tidak mau berpisah dari paman. Paman tahu aku sangat menyayangi Paman, kan?”
“aku ingin ikut, tapi tempatku bukan di sana, nak. Aku tidak menyukai kekerasan. Kau tahu itu.”
Aku memeluk Paman Leo erat. Jelas bagiku, dia adalah pengganti sosok ayah dalam hidupku. Selama 12 tahun aku tinggal bersama dengan beliau, dan aku rasa akan sangat sulit bagiku untuk terbiasa hidup tanpa sosoknya di sampingku.
“kau harus membawa Tory bersamamu. Setidaknya, kalau aku mengetahui bahwa kalian bersama, aku akan sedikit lebih tenang.”
“tidak. Sebaiknya dia di sini untuk menjaga Paman” ujarku.
Paman Leo melepaskan pelukan. Ia memutar bola matanya sambil mendengus kesal. “kau bercanda? Menjagaku? Yang benar saja.. kau tidak mengira bahwa aku akan betah mendengarnya mengeluh setelah kau pergi, kan?”
Mendengar jawaban tersebut, aku terkekeh geli.
“lagi pula, dia memang sudah seharusnya pergi sejak dulu. Tapi demi bersama mu, dia mengabaikan panggilan dewan. Kau tahu betapa anak itu tidak bisa di atur, dia tidak akan mengikuti perintah dan hanya akan bersama mu”
oke, sekarang aku merasa terhibur mendengar Paman Leo.
“sekarang, pergilah. Mereka sudah menunggu mu di arena. Jangan lengah. Ingat selalu ajaran dan pesan-pesan ku. Aku tidak sudi usahaku dipandang sebelah mata oleh orang yang hanya duduk-duduk dan sok berkuasa. Ooh iya, mengenai kemampuan rahasia mu, jangan sampai bocor ya! Semangat, putriku. Tunjukkan kemampuan mu!”
“iya. Trimakasih sudah datang menghiburku. Aku tidak akan mengecewakan mu”
***
Tory’s POV
Dia bertarung dengan menyembunyikan kemampuan pengendalian apinya dengan sangat baik. Gumamku.
Pertarungan masih berlangsung hingga malam. Setelah berhasil mengalahkan para panglima, Dessy harus bisa menghadapi Shida dan Eve sekaligus. Sejauh ini, Dessy bertarung dengan sangat baik. Ia mampu menjaga pertahanan sambil menyerang. Serangan-serangannya sebagian besar sangat efektif. Dessy memang sangat luar biasa..
Mohon maaf, kalau di tinjau dari sudut pandangku, kau hanya akan mendengar penilaian subyektif. Harap maklum ya, karena aku adalah fans nomor satu December De Winter! Ha-ha-ha..
Sayangnya, pertarungan ini sangat ketat. Yang tidak berkepentingan dilarang menonton. Sialnya, aku termasuk salah satu yang tidak di beri akses. Jadilah aku terpaksa menonton dari jauh... aku bersembunyi dan menonton dari atap kamar ku.
“wwaaaahh kakak Dessy hebat sekali. Dia bisa melawan kakak Eve dan Shida bersaman. Nanti kalau sudah besar, aku juga mau seperti itu!” ujar April.
Yang lebih amat-sangat-di sayangkan- adalah- fakta bahwa selain aku, di samping ku ada April, adik Dessy beserta ibunya. Padahal aku sudah berniat untuk menikmatti tontonan ini dengan tenang, damai dan nyaman. Tapi terganggu oleh pekikan kagum yang nyaring oleh April, dan pekikan kaget bercampur khawatir oleh Ibu Dessy.
Huuftt.. aku paham apa ini sebabnya ibu-ibu tidak boleh dibiarkan ikut menonton...
“oh ya? Dengan cara apa kau melakukannya? kakakmu bisa melakukannya karena rajin berlatih, tidak seperti kau, manja”
“siapa yang kau bilang manja!”
“April! Tidak boleh berteriak kepada pangeran Tory! ayo, segera minta maaf.”
“aku tidak mau! Pangeran apanya? Dia bahkan tidak bisa melakukan apapun”
Bah.. anak kecil kurang ajar. Barangkali aku harus melakukan sesuatu untuk menutup mulut kecil kurang ajar itu.
Ibunya Dessy tertawa. “dia anak bungsu kami, di tambah lagi kakak-kakaknya sering memanjakan dia, tidak seperti Dessy yang terbiasa mandiri” ujarnya sambil mengusap-usap kepala April yang semakin merajuk.
Aku memikirkan kata-kata yang di ucapkan Ibu Dessy. dia anak bungsu kami, di tambah lagi kakak-kakaknya sering memanjakan dia, tidak seperti Dessy yang terbiasa mandiri... lebih tepatnya, Dessy terpaksa untuk mandiri
“ibuu! Aku sedang belajar mandiri. Kak Dessy mulai mengajariku sedikit-seikit.” April mulai merengek lagi.
Perlakuan Dave dan Hilla sangat berbeda pada Dessy. Aku tahu bahwa sebenarnya mereka sangat peduli kepada Dessy, bisa di lihat ketika Dave melatih Dessy ketika ada waktu luang. Sementara Hilla yang rajin membawakan Dessy makanan. Hanya saja, sama seperti orang tua mereka, keduanya adalah pasukan pelindung kota.
Akan tetapi kesibukan mereka sekarang bukan berarti mengabaikan adik bungsunya. Sepertinya mereka kini telah menyadari kesalahan mereka dulu ketika mengabaikan Dessy saat masih kecil dulu. Lagipula, ada kemungkinan bahwa April adalah seorang Spring, yaitu Putri Angin. Itu sebabnya April mulai di beri pelajaran bertahan oleh Dave untuk berjaga-jaga.
Kembali lagi pada pertarungan para Putri, saat ini pertahanan Dessy sedang di gempur habis-habisan oleh Eve dan Shida. Tidak bisa ku bayangkan jika seandainya Dessy hanyalah manusia biasa sepertiku. Untung saja dia seorang Putri. Tetapi jujur saja, Dessy sangat cerdas. Biasanya, orang biasa secara refleks akan melakukan apa saja untuk bertahan. Kekuatan Esnya saja tidak cukup untuk melindunginya dari Api Eve karena Esnya akan mencair.
Sekeliling laapaangan dipagari oleh api. Sedangkan langit sesekali melontarkan petir dan menghancurkan tembok-tembok pertahanan. Dessy bertarung seperti kesetanan. Ia menangkis pedang Shida, menghindari panah-panah Eve, dan memadamkan api di sekelilingnya. Kendati kelihatannya baik-baik saja, tapi cepat atau lambat Dessy semakin kelelahan. Pertarungan harus segera usai. Ia sudah bertahan selama 2 jam lebih bertarung melawan dua putri sekaligus. Ini adalah prestasi besar.
Di saat seperti ini, yang paling ku khawatirkan adalah jika ia mengeluarkan kekuatan tersembunyinya secara tidak sengaja. Jika ini terjadi, seluruh Negeri pasti akan terguncang mendengar kabar ini. Pasalnya, seorang putri tidak mungkin memiliki kekuatan ganda. Satu-satunya yang memiliki kekuatan ganda adalah para Dewi.
Mungkin kalian masih bingung dengan apa yang ku sebut dengan kekuatan rahasia.
Okedeh, ceritanya begini...
Setahun setelah mendapat kekuatan Esnya, Dessy mulai mendapatkan kekuatan baru, yaitu Api. Kekuatan Apinya terus berkembang, bersamaan dengan kekuatan es yang ia miliki. Hal ini sangat tidak lazim, karena setiap pengendali hanya memliki 1 kekuatan. Kami-aku dan Tuan Leo-khawatir atas keselamatan Dessy jika hal ini terungkap. Hanya sedikit sekali orang saja yang tahu, yaitu aku dan Tuan Leo.
Langit sudah sepenuhnya gelap. Namun mereka belum juga berhenti. Baru saja aku berniat meminta untuk mengakhiri ini kepada para Dewan, saat sebuah letusan besar terjadi. Ketika aku berbalik, di langit nampak pemandangan yang luar biasa mengerikan. Ledakan besar Api, Petir dan butiran Es menjadi satu di udara.
Bukannya takut, di samping ku April malah berdiri sambil bertepuk tangan, mengapresiasi dahsyatnya ledakan yang di buat oleh ketiga putri yang sedang bertarung.
“wohhhoohhohhoooo~” April berseru sambil bertepuk tangan.
Seandainya aku juga anak kecil seperti April, aku mungkin akan ikut bertepuk tangan. Pasalnya, saat ini aku seperti menonton pertunjukan kembang api terhebat sekaligus mengerikan yang pernah ku saksikan. Tapi saat ini, yang paling ku fikirkan adalah bagaimana keadaan Dessy, Eve dan Shida?
Tanpa pikir panjang lagi, bahkan sebelum ledakan mulai mereda, aku langsung berlari memasuki arena.
“Torryyy!! Kembalii!!!!” suara ayah menggema di belakangku.
Tapi aku tidak peduli. Aku terus saja berlari mendekati arena pertarungan. Namun ketika aku tiba di arena, samar-samar ku dapati sosok laki-laki sedang menggendong sesuatu. Ketka sosok tersebut mendekat, baru ku sadari bahwa sosok laki-laki itu adalah tuan Leo, dan sesuatu yang ia gendong adalah seorang gadis, dan gadis tersebut adalah Dessy yang tubuhnya berselimut handuk basah.
Rupanya, Tuan Leo lebih sigap ketimbang aku.
Bersama, kami merebahkannya di rerumputan. Ia masih sadar. Syukurlah..
“kau... bawa air tidak?” tanyanya sambil menstabilkan nafas.
“aku tidak bawa air. Aku tadi panik sekali melihat ledakannya, dan langsung lari ke sini. Maaf. lagi pula, ku kira kau punya kekuatan air. Kenapa tidak menggunakan kekuatan air mu saja?” tanyaku.
Refleks, kaki Dessy menendang ku. “aku sudah tidak sanggup menggunakan kekuatanku, bodoh. Kau fikir aku ini apa? Robot Besi? Hah?”
“kau bilang tidak bisa menggunakan kekuatan, tetapi masih sanggup menendangku dengan kuat. Dasar kau ini. Kau pasti menyisakan kekuatan mu untuk menghajarku, kan?”
“jika saja aku tidak kehabisan tenaga, sudah ku bekukan kau, lalu ku jadikan Es Krim. Sial. Aku jadi semakin haus. Dasar kurang ajar Dewan-dewanan bodoh itu. Mereka mengadu kami, tanpa memberikan istirahat. Bahkan airpun tidak di sediakan!”
“wow. Kemampuan mencaci-makimu semakin meningkat. Kedengarannya kau baik-baik saja.”
“aarggh~dari pada menghabiskan kekuatanku dengan mengobrol hal tidak berguna denganmu, lebih baik aku segera kembali, aku butuh minum sekarang juga!” Dessy berhasil berdiri, dan mulai berjalan terseok-seok. Namun beberapa langkah kemudian ia mematung dan menoleh pada kami.
“hei, bagaimana dengan Eve dan Shida? Sudah bertemu mereka belum?” Dessy menoleh lagi padaku.
“belum. Tadi aku berniat mencari mereka, tetapi aku kebetulan bertemu dengan kalian. Jadi aku menghapirimu terlebih dahulu”
“tolong segera kau cari mereka. Mereka juga pasti sama kelelahannya dengan ku.”
“Dessy! Kau baik-baik saja?” terdengar suara ibu Dessy memanggil. Wajahnya terlihat lega luar biasa. Ia memeluk Dessy dan mengelus kepalanya. Sambil menyandarkan kepala ke pundak ibunya, Dessy meminta air. “ibu, aku merasa haus. Ibu bawa air tidak?” tanyanya.
“ini, minumlah”
yaahh.. seorang ibu pasti yang paling mengerti anaknya, bukan? Keduanya kemudian berjalan bersama ke dalam gedung.
Tuan Leo menatap sekitar, lalu menyentuh bahuku. “hei, nak. Sepertinya mereka berdua telah kembali duluan. Sebaiknya kau ikut membawa Dessy dan ibunya masuk. Aku punya firasat yang sangat buruk”
“ada apa?” selidikku.
“ledakan sehebat itu aku takut seseorang akan menjadi tamu yang tak di undang” insting Tuan Leo sangat tajam. Jika merasa akan terjadi sesuatu, baik maupun buruk, biasanya terjadi. Ya.. setelah bertahun-tahun tinggal bersama beliau, aku tahu betapa tajamnya firasat seorang Tuan Leo. Dengan begitu, aku segera berlari mengikuti Dessy dan memapahnya untuk membantunya berjalan kembali ke Perpustakaan, sementara Tuan Leo memilih untuk berkeliling di sekitaran tempat pertarungan.[]