The Winter Stories

The Winter Stories
Perpustakaan Kota



Segera setelah melewati pintu Es, kami langsung di sambut dengan air hangat yang menelan seluruh tubuh kami. Aku refleks membuka mata, lalu sedetik kemudian aku menyadari bahwa kami berteleportasi di dalam air.


Oke, aku seorang pengendali air, tidak perlu panik. Aku bisa mengendalikan air ini untuk membawa kami naik ke permukaan. Ku rasakan tubuhku seringan kapas, lalu tubuhku serasa melayang dan di dorong ke atas.


“haaaaaahhhh~”


Jantung ku segera menghirup udara sebanyak-banyaknya.


“ohh.. bagus deh, kita semua basah” Tory berteriak.


“kenapa kau meneleportasikan kami ke dasar danau?” bahkan Eve terlihat sedikit jengkel.


Aku berenang menuju tepian, dan segera keluar dari danau. Tanpa sadar, aku jatuh sambil tertawa melihat kedua rekan ku itu ikut berenang dengan ogah-ogahan ke tepian dan ikut menjatuhkan diri di sebelahku.


“kau menganggap ini semua lucu? Selera mu benar-benar jelek”


“Tory, jika saja selera Dessy bagus, dia tidak akan memilihmu dan menyukaimu. Sudah.. jangan banyak bicara. Ayo kita masuk dulu”


“ku harap guru belum membakar atau mengubur pakaian-pakaian ku. Aku butuh pakaian baru untuk piknik” ujar Tory sambil memeras bajunya. 


Eve segera bangkit, dan tertatih-tatih memasuki pintu di depannya.


Aku bangkit berdiri, dan menguras pakaianku yang basah sambil berjalan mendekati pintu yang tadi di masuki Eve.


“tunggu dulu, sayaangg!”


Tory tiba-tiba menghadang jalanku.


Aku memberinya tatapan kalau-kau-tidak-meyingkir-akan-ku-bunuh-kau. Tapi dia membalas tatapanku dengan tatapan coba-saja-kau-bekukan-aku. Lalu menjulurkan lidahnya seolah-olah mengejekku kan yang akan menyesal kau juga. Ahh.. sepertinya dia benar. Seleraku buruk sekali.


“kenapa kau membawa kami kesini melalui danau?” Eve masih berupaya untuk menguras bajunya yang basah.


“aku tidak tahu. Tiba-tiba saja kita sudah berada di danau.”


Tory menatap danau, lalu melihat sekeliling. “benar-benar tidak tahu ya?” tanyanya dengan taatapan jahil yang menjadi trademarknya. 


Aku memperhatikan sekitar sekali lagi, lalu mulai berbicara. “aku tidak tahu. Tapi mungkin karena tidak ada salju di sini. aku tidak bisa berteleportasi di bak mandi, atau genangan air... Kenapa kau melihatku seperti itu? Memangnya ada alasan lain?” ketika aku bicara, Tory melangkah mendekatiku.


“Dessy, alam bawah sadarmu yang membawa kita kesini. Kau masih ingat, di sinilah dansa pertama kita. Di sini juga kau, guru dan aku sering membuat api unggun. Sama seperti waktu di danau di belakang markas utama.”


Ding!


Aku melihat sekelilingku dan baru menyadari dimana kami.


”taman rahasia, di belakang kamar Tuan Leo. Aku ingat.”


Mataku terasa perih, dan ku rasakan air mataku seperti akan menetes sebentar lagi. Sosok Tuan Leo kembali terbayang. Kami berada di pintu belakang kamarnya, membuatku semakin ingin menangis. Eve mungkin merasa tidak enak jika bertahan di ruangan bersama kammi sepasang murid yang galau, jadi ia segera keluar dari ruangan dan meninggalkan kami berdua.


“kau menangis lagi. Padahal aku menyetujui untuk piknik di sini untuk memeluk kembali memori dan saat terbaik kita dulu. Jangan menangis, kau tentu tidak mau jika Tuan Leo melihat keadaanmu yang sekarang ini. mulai sekarang, kita hanya mengingat kenangan baik.”


Tory meraih tanganku, lalu menciumi punggung tanganku. Mata kami saling bertatapan. Berbeda dengan ku, ia nampak damai dan tenang. Entah mengapa, saat melihat ke dalam matanya, kepalaku langsung mengingat kelebat ingatan saat kami masih sangat kecil.


Mau tak mau, aku ikut tersenyum.


Ia menarikku ke dalam pelukannya. Membuat jantungku berdetak semakin cepat karena gugup. Meskipun terkesan malu-malu dan agak kaku, aku perlahan membalas pelukannya. Eve yang sedari tadi bersama kami memilih untuk keluar dari kamar.


Aku tidak tahu apakah seleraku benar-benar buruk atau tidak, tapi aku yakin 100% tentang Tory, terserah apa pendapat orang tentang dia, dan bagaimana hubungan kami kedepannya nanti. Tapi aku tahu, bahwa pria ini memang hadir hanya untukku.


“aduh.. dingin sekali..” ujar Tory. Bersamaan denga ucapannya, ia kemudian melepaskan baju yang ia kenakan, menampilkan otot-otot dan  kulitnya yang kecokelatan. 


Ketika mata kami bertemu, aku merasakan wajahku memanas. 


“Toryy! Cepat pakai bajumu!” ujarku malu-malu. 


“kenapa sih? Bukannya sudah biasa kau melihatku tanpa baju?” ujarnya tanpa sedikit pu merasa risih. 


“kalau kedinginan, kau bisa ganti di dalam. Sekarang pakai bajumu dulu!” 


Meliatku mengomel-ngomel terus, Tory akhirnya sadar bahwa lebih baik ia menurut dari pada aku tidak berhenti mengomel.


Tiba-tiba Eve masuk kembali ke ruangan. “hei kalian berdua, aku bukannya benar-benar ingin mengganggu kalian, tapi sepertinya kalian harus mengetahui ini... ehm.. sepertinya tempat ini sudah tidak terpakai selama beberapa lama”


Apa?


Aku meniggalkan Tory, dan segera bergegas masuk ke dalam. Dan ya.. yang ku dapatkan hanyalah tempat kosong tak berpenghuni.


Kami mencari ke seluruh tempat, tapi sayangnya, tidak ada tanda keberadaan seseorang di sini. Anehnya, perpustakaan nampak sudah tidak terpakai selama berminggu-minggu, mungkin sekitaran sebulan lebih, padahal kematian Tuan Leo baru menginjak minggu ke dua.


Hanya ada dua kemungkinan, yaitu Tuan Leo sudah sejak lama meninggalkan tempat ini, dan memberhentikan pelayannya. Lalu setelah berita kematian Tuan Leo, seseorang pernah datang ke sini untuk mencari sesuatu, karena kondisi perputakaan sekarang lumayan kacau. Yah.. aku cukup yakin Tuan Leo tidak akan membuat buku-buku kesayangannya itu berserakan seperti ini. Jadi aku berasumsi bahwa ada orang lain yang datang dan menghamburkan segalanya.


“tidak ada jalan lain selain melaporkan ini pada dewan. Mereka jauh lebih ahli” ujar Eve.


“kau serius? Maksud ku, jika kita ketahuan, bisa bahaya. Pertama-tama, tentang jebakan pengalih perhatian yang ku buat, lalu kaburnya kita, yang akan membuat kita semua kehilangan hak privasi atas diri kita masing-masing! Pokoknya tidak mau! Aku menolak rencana ini.” 


“ya terus bagaimana? Apa kau baru saja menyarankan agar cukup kita saja yang mengetahui ini? dengan cara apa kita akan menyelidiki ini semua? Kau mau membuat warga panik?”


Tory berfikir keras.. lalu setelah beberapa lama, ia menjawab “kita cari pelayan yang dulu bekerja dengan Tuan Leo. Jika benar mereka masih hidup, kita akan menanyai mereka. Untuk hari ini, kita keliling sambil melihat sa---- “


“apa yang kalian lakukan di sini?”


Kami semua menoleh pada sosok di balik pintu. Seorang pria paruh baya, dengan setelan jas sederhana, juga potongan rambut yang rapi. Tubuhnya sedikit gemuk, dengan tingi rata-rata. 


“kau.. kepala pelayan, kau adalah Tuan Muu?”


Sosok tersebut mendekat, dan terperangah ketika menyadari siapa sebenarnya kami. Sedetik kemudian, air matanya tak terbendung lagi  ketika ia melangkah pelan untuk memelukku dan Tory. Yah.. mau tidak mau, aku juga ikut menangis karena terharu.


“kalian kini sudah nampak berbeda. Terakhir bertemu kalian yaitu saat kami semua melepas kepergianmu ke markas utama”


Tuan Muu mengarahkan kami agar duduk di sebuah sofa yang nampak masih bersih. Ia menghapus air matanya yang masih menetes, dan mencoba tersenyum.


“keadaannya berubah sejak kalian meninggalkan perpustakaan. Sebelumnya keberadaan kalian di sini selalu bisa mewarnai sepinya rumah ini. kami mungkin hanyalah sekumpulan pelayan rendah, tapi kami semua menganggap kalian lebih dari sekedar tuan yang harus di layani. Kalian jauh lebih baik daripada itu. Maaf karena aku malah menangis ketika bertemu kalian setelah sekian lama”


“Tuan Muu, jangan bilang begitu. Kami belum sempat berterimakasih atas kebaikan kalian, yang turut serta mendidik dan menjaga kami bersama Tuan Leo. Kami yang harusnya minta maaf, bukan Tuan. Seharusnya kami sering-sering menengok rumah ini”’


“semuanya memang berubah sejak kalian pergi. Aku menerima kabar bahwa sahabatku, Leonardo itu kini telah mati. Kau tahu, hampir setiap malam ia mengunjungi kamar kalian. Karenanya ia jadi jarang tidur di kamar sendiri. Ia banyak menghabiskan waktunya di taman rahasia, dan taman belakang tempat kalian biasa berlatih. Ia sudah seperti orang yang mati, sejak saat itu”


Mendengar penjelasan dari Tuan Muu, aku dapat merasakan perasaan bersalahku membuncah kembali. Lalu Tory perlahan menggenggam tanganku. Dan aku sangat bersyukur atas tindakannya. 


“kami sangat khawatir. Apalagi sejak beberapa bulan terakhir ini, sifatnya semakin parah. Ia pernah menghabiskan waktu seminggu lebih di kamar Dessy, dan tidak keluar. Menurut beberapa pelayan, ia hanya memakan buah-buahan dari pohon di depan kamar Dessy, dan air yang di siapkan oleh pelayan kami di pintu kamar mu.”


Jadi, selama ini Tuan Leo... astaga. Seandainya aku tahu dia hidup dalam kerinduan dan batin yang tersiksa seperti ini, aku tidak akan mau pergi ke markas utama. Aku harusnya tetap bersikeras untuk tinggal.


Aku tidak kuat lagi. Aku segera berlari ke bekas kamarku dulu.


Kamar itu terlihat rapi, tepat seperti saat aku meninggalkannya 3 tahun lalu. Secara fisik, tidak ada yang berubah. Selain fakta bahwa kamar itu berbau tanaman segar, wangi khas Tuan Leo. Aku melangkahkan kakiku menuju jendela, dan membukanya.


Bahkan terpaan angin di sini masih sama.


Semuanya di sini, masih sama seperti dulu.


Tapi kenapa keadaan kami sangat berbeda dari diri kami yang dulu?


Aku jadi lebih tempramen di banding dulu. Ada jarak di antara aku dan April, Eve yang semakin misterius, kematian Tuan Leo,..


Aku berbaring di tempat tidurku. Untuk sesaat aku dapat merasakan kehadiran Tuan Leo. Aku bisa mencium baunya yang serupa dengan tanaman, dan wangi segar bunga-bunga. Caranya menarik nafas, ekspresinya saat tertidur, serta alisnya yang bertaut setiap kali ia menyadari bahwa aku dan Tory baru saja kabur dan jalan-jalan keluar tanpa permisi darinya.


“Dessy?”


Eve mengetuk pintu kamarku.


“kak Eve... “


Eve meraih tubuhku yang sedang terisak hebat. Aku menangis, lagi dan lagi. Aku merasa bersalah atas kematian Tuan Leo. Ini semua salahku. Aku meninggalkannya, sendirian di tempat ini. Ia ingin selalu mengunjungiku, tapi markas tidak penah mengizinkannya tinggal berlama-lama.


“tidak apa-apa menangis. Karena menangis akan membantumu melepaskan emosimu. Jangan kau tahan, karena menahannya akan membuat hatimu semakin keras. Tapi bukan berarti aku membiarkanmu terus-terusan menangis dan larut dalam kesedihan. Tidak. Berjanjilah bahwa pada kesempatan berikutnya, kau akan menanggapinya dengan santai, ingatlah kenangan mu bersama Tuan Leo, jadikan itu sebuah motivasi agar kau semakin kuat”


Dengan satu sentuhan, rasa hangat itu mengaliri jiwaku. Aku tahu, inilah kekuatan sebenarnya dari Eve sebagai seorang putri api. Ia mampu memberi kehangatan yang hakiki dalam tiap sentuhannya, menenangkan jiwamu, meluaskan cara pikirmu, sehingga kau bisa berfikir jernih dan menerima kenyataan pahit yang kau hadapi. Kekuatan yan tidak akan pernah aku miliki. 


“ayo.. kau datang ke sini untuk melepaskan penat. Waktu kita tidak banyak. Kita harus segera kembali ketika sore nanti”


Ia membantuku menghapus air mataku yang sebagian sudah mengering. Ia terseyum dan merapihkan rambutku yang kini acak-acakan. Rasanya seperti sentuhan ibu. Seandainya aku bisa, aku ingin mampir ke rumah. Aku ingin meminta maaf langung pada ibu karena tindakan ku yang tidak patut saat terakhir kali kami bertemu. Tapi mungkin percuma. Ibu saat ini sedang bertuas di luar kota. 


Sesaat, aku memikirkan kembali tindakan bodohku. Saat itu aku mengusirnya dan menyalahkannya atas kematian Paman Leo. Ugh.. sepertinya tidak ada satupun orang yang ku kenal lalu tidak ku salahkan atas kematian Tuan Leo.


“jangan jadi lemah seperti ini. Dessy yang ku tahu bukanlah wanita yang mudah menangis. Dia tipe yang sabar dan tidak suka mengeluh. Nah.. kau sudah sangat keren ketika kau mengalahkan Lord Hyno kemarin. Jangan sampai ia tertawa melihatmu selemah ini.”


Eve berdiri, dan merapihkan pakaiannya sedikit. Ia lalu meraih tanganku dan mengajakku keluar. Aku menggeleng kecil. “aku butuh waktu untuk menerima semua ini. beri aku 5 menit. Bolehkan?”


Eve mengangguk, lalu meninggalkan ku di kamar ku sendirian.


Aku menghirup nafas dalam-dalam. Sambil me-rilekskan pikiranku, aku memejamkan mata. Aku sudah bertekad, akan kembali seperti dulu. Menjadi Dessy yang bijak, tegar dan kuat. Tidak hanya kekuatan, tetapi juga mentalku.


Aku menatap pada foto yang terbingkai di dinding tembokku. Semua itu adalah masa-masa kecilku yang berharga. Ada foto ku bersama Tory dan Tuan Leo, keluargaku, Eve dan Shida, serta beberapa pelayan yang setia menemaniku bermain bersama Tory di halaman belakang.


Aku tidak akan membiarkan pengorbanan orang-orang yang aku sayangi terbuang sia-sia. Lihat saja, aku akan membunuh Lord Hyno. Pasti. Satu atau dengan lain cara. Tidak peduli seberapa besar rasa sakit yang akan ku terima [].