The Winter Stories

The Winter Stories
Kekuatan Yang Tidak Disangka-sangka



Singkatnya, begitulah pertemuan pertamaku dengan Tory. Ya. Tory adalah putra dari Ketua Dewan yang sangat termashur namanya. Saat itu aku masih berusia 6 tahun sementara Tory berusia 9 tahun. Tiap kali kami berbicara tentang pertemuan kami ini, kami selalu tertawa mengingat pertemuan kami dulu.


Aku yang sombong dan cerewet bertemu dengan bocah yang lebih sok tahu dariku yang juga punya hobi meremehkan kedudukan siapa saja. Singkatnya, kami ini memang mirip satu sama lain. Bukan perpaduan yang baik memang. Baik aku maupun Tory juga bingung kenapa bisa begitu. Belakangan kami sadar bahwa kami cocok satu sama lain di sebabkan oleh kesamaan keadaan kami. Kami saling bersimpati. 


Aku yang punya orangtua super sibuk, dan dua orang saudara yang kadang peduli-kadang tidak, tumbuh dalam kesepian. Sedangkan Tory adalah anak satu-satunya yang masih tersisa dari Ketua Dewan. Ya, kakaknya tewas dalam perang melawan kegelapan yang di pimpin oleh Lord Hyno. Ibunya juga telah tewas. Maka dari itu, ketika masih kecil, ayahnya mengirim Tory untuk bersembunyi di perpustakaan kota agar tidak terancam oleh pasukan kegelapan yang jelas mengincar Anggota Dewan dan para Putri pemegang kekuatan. Jadi, baik aku maupun Tory rupanya punya kehidupan yang sangat memprihatinkan.


Setelah hari pertama pertemuan kami yang tidak begitu baik, siapa yang menyangka bahwa kini kami menjadi dekat dan bahkan saling bergantung? Awalnya ku kira aku dan Tory akan menjadi musuh sampai maut memisahkan. Tapi ternyata, hanya kepada dia aku bisa menunjukkan kegelisahan dan tangis. Sejak aku mendapatkan kekuatan sebagai De Winter.


Kembali lagi ke masa lalu. Sebelum aku,  3 tahun yang lalu dua orang Putri telah hadir. Mereka adalah Eveline yang memiliki api, dan Shida yang menguasai petir. Kemudian aku mendapatkan kekuatan ku di usia 6 tahun, tepat 5 bulan setelah pertemuan ku dengan Tory. Saat itu, hubungan ku dengannya sudah semakin membaik di banding dengan pertama kali pertemuan kami.


Sore itu kami sedang bermain perang-perangan bersama para pelayan di taman belakang. Namun sebelum perang-perangan di mulai, masing-masing tim harus berebut mencari senjata.


Ngomong-ngomong soal senjata, ada satu di atas pohon besar di tengah taman! Aku segera berlari menuju pohon tersebut. Tapi pergerakan ku ternyata di curigai Tory, dan iapun akhirnya melihat senjata  yang tersembunyi di antara dedaunan pohon. Begitu Tory berlari, aku semakin berlari seperti kesetanan.


“jangan curang!” teriakku pada Tory.


Tory menatapku geli. “ini bukan curang. Mau di bagaimanakan lagi, akukan lebih tinggi” dengan kata-kata itu, Tory  mengambil senjata di dahan pohon lebih dulu. Aku mendengus kesal. Curang sekali. mentang-mentang dia lebih tinggi... padahal aku datang lebih dulu!


Baru saja berniat mengejar Tory, tiba-tiba aku merasa aneh. Ku sadari segala sesuatu di sekelilingku berjalan dengan lambat. Para pelayan berlarian dan saling berebut senjata, dan Tory di depan ku berlari-lari puas karena telah mendahuluiku. Aku mengerjapkann mata, dan seolah-olah bisa merasakan pergerakan angin.. tidak. Aku merasakan lebih dari sekadar itu. Aku merasakan pepohonan, gejolak api di perapian, kilatan guntur kala mendung, lalu air.. lautan.. salju.. es..


Apa.. apa yang terjadi?


Tubuhku tidak lagi mampu menahan bobotku, dan aku terjatuh.  Tory dan beberapa pelayan yang melihat segera mendatangiku untuk menolong. Terlambat.. batin ku. Aku tersungkur, dan merasakan hawa dingin, seolah-olah ada balok es yang menindih seluruh tubuhku. Dalam hitungan detik, tubuhku berubah menjadi dingin, sedingin es. Tubuhku gemetar hebat, dan sekelilingku terasa berputar.


Di sela-sela disorientasiku itu, sayup-sayup aku mendengar suara-suara.. seorang wanita... membuaiku semakin larut kedalam alam bawah sadarku. Dan perlahan aku merasakan luapan energi merembes melalui diriku.. perlahan perasaan dingin yang ku rasakan menguar, dan tumbuhan di sekeliling ku mulai membeku. Para pelayan mundur beberapa langkah, kaget akan apa yang baru saja mereka lihat. Beberapa kemudian berlari masuk sembari memanggil Tuan Leo. Beberapa masuk untuk mengambil selimut untuk menyelimuti tubuhku yang dingin.


Namun selimut yang menyelubungi tubuhku sama sekali tidak membantu. Aku mengerjapkan mataku berulang kali, panik akan nafas ku yang semakin berat dan pendek-pendek. Aku pasti akan mati.. batin ku. Aku mencoba mengeluarkan suaraku, namun tidak ada sama sekali. Entah aku yang tidak mampu mendengar atau memang kondisiku sudah sedemikian parah hingga tidak mampu mengeluarkan kata-kata.


Aku pasti telah kehilangan kesadaran untuk beberapa lama. pasalnya, ketika aku membuka mata, kudapati Tuan Leo sudah berada di sisiku.


Aku telah membekukan separuh padang rumput di belakang Perpustakaan Kota. []


***


Begitu aku tersadar, sosok yang paling pertama ku lihat adalah Ibu. Mimiknya yang semula nampak cemas kini mulai nampak sangat lega. Tidak hanya Ibu, kak Dave dan Hilla juga datang. Lalu ketika aku menoleh, ku dapati sosok Tuan Leonardo yang masih nampak kalut. Selain mereka, banyak juga wajah-wajah orang yang tidak ku kenali.


“ apa kau baik-baik saja?” Tuan Leo yag pertama bereaksi. Aku memegangi kepalaku. Rasanya pusing sekali.


“ paman... apa yang terjadi? Apa aku tidur terlalu lama?” tanyaku.


Tuan Leo terlihat ragu, lalu Tory yang menjawab. “kau pingsan. Lalu... yaahh sepertinya kau belum menyadarinya. Sebaiknya kau lihat saja sendiri bagaimana dirimu yang sekarang” Tory menyodorkan sebuah cermin kepada ku.


Dan betapa kagetnya aku ketika melihat ke dalam cermin. Wajah dalam cermin itu tetaplah wajahku. Tapi rambut dan kulit ku.. berubah warna. Rambut ku yang semula berwarna kecokelatan berubah menjadi biru muda keperakan, juga warna kulit ku yang semula tidak sebegitu putih, kini nampak secerah susu.


Tiba-tiba, dalam hitungan detik, es merambat dan membekukan cermin yang ku sentuh. 


“ahh!!” pekikku.


Cermin tersebut tergelicir dari tangan mungilku, dan pecah di lantai.


Aku sangat kaget dengan apa yang baru saja terjadi. Aku menatap tiap wajah orang-orang yang hadir untuk meminta penjelasan tentang apa yang terjadi padaku. Namun, semua orang membisu,  juga paman Leo, bahkan Tory. 


Ekspresi mereka semua sama. Yakin tentang siapa sebenarnya diriku ini. Ayah ku yang turut hadir kemudian angkat suara, “sekarang, kita telah menemukan seorang putri baru, salam kepada December De Winter.” Ayahku menunduk hormat.


“ salam kepada Putri December De Winter “ sorak orang-orang yang hadir. Dan  bersamaan, seluruh orang-orang itu ikut membungkuk padaku.[]