
-December’s POV-
“Jari-jari makhluk itu kecil sekali.” Ujar ku.
“shhtt... itu namanya bayi” Hilla menegurku.
“bayi? Apa itu bayi? Ibu, apa bayi juga manusia, sama seperti aku dan ibu?”
“iya. Kau juga dulu seperti itu. Semua orang pernah menjadi bayi. Lalu tumbuh, dan menjadi dewasa” jelas Hilla.
“tumbuh? Jadi kita termasuk tumbuhan?”tanyaku lagi.
Hilla memutar matanya sambil mendesah. “sulit sekali menjelaskan sesuatu kepada mu.”
“Hilla, adikmu kan, masih kecil.” Ibu menegur Hilla, lalu mengusap-usap lembut kepala Dessy.
“iya deh. Dasar Bocah...” setelah mengatakan hal tersebut, Hilla segera kabur. Ibu kami hanya mendesah. Sesaat kemudian, ibu menatapku sambil tersenyum. “yang namanya makhluk hidup itu pasti akan tumbuh dan berkembang. Jadi bukan Cuma tanaman, tapi manusia dan hewan juga tumbuh sayang. Suatu saat nanti, kamu juga akan tumbuh dewasa. Seperti ibu, ayah, tuan Shio, bahkan nenek Dama.”
“jadi, bayi ini juga manusia? Waaahhh ajaib sekalii. Aku harus menyebutnya apa?”
“orang yang lebih muda dari kita disebut adik. Karena nama adik ini Yui, kamu boleh memanggilnya adik Yui”
“adik Yui?”
Aku masih ingat dengan jelas pengalaman pertama ku melihat bayi. Yui adalah anak seorang sahabat ibuku. Saat itu aku masih bocah yang sama sekali tidak tau apa-apa. Bahkan, kekuatan ku belum muncul. Orang-orang belum tahu kalau aku seorang Controller. Dan tentu saja, itu adalah masa-masa terbaikku, karena aku masih anak kecil biasa yang bebas melakukan apapun yang ku inginkan.
Semua yang ku ketahui adalah bermain. Aku selalu punya rasa penasaran tinggi. Tiap kali penjagaku melarangku melakukan sesuatu, aku malah semakin tertarik dan bersemangat untuk melakukan hal yang dilarang tersebut. Itu sebabnya banyak pengasuhku mengundurkan diri karena tidak sanggup mengatasi kenakalan ku.
Ayah dan ibu bekerja di pemerintahan. Mereka adalah orang yang sangat penting. Ayah adalah salah seorang dari 13 Dewan yang mengontrol pemerintahan. Sementara Ibuku bekerja di departemen kesehatan. Karena orang tuaku tidak bisa terus berada di sisiku untuk menjagaku, juga tidak ada orang yang bersedia membantu menjagaku, jadi orang tuaku memutuskan untuk membawaku untuk tinggal sementara waktu di rumah sahabat dekat ayah, di Perpustakaan kota.
Hari pertama aku berkunjung ke perpustakaan kota, Ibuku memperkenalkan ku dengan penjaga perpustakaan, tuan Leonardo yang tidak lain dan tak bukan adalah sahabat Ayah dan Ibu. Tubuhnya tinggi-tegap, dengan bahu yang lebar dan otot-otot yang menghiasi lengannya. Di belakang lehernya ada bekas luka yang mengerikan, tapi ku putuskan untuk tidak peduli pada cacat di kulitnya.
Bagiku, beliau adalah seseorang dengan kepribadian yang ramah. Beliau sangat sabar dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan konyolku yang saat itu baru menginjak usia 5 tahun. Beliau juga mengajariku banyak hal. Tidak hanya pengetahuan dasar, tapi juga ilmu-ilmu lain.
Orang tua ku biasa tidak pulang berhari-hari, di karenakan tugas penting pekerjaannya di tambah lagi keadaan yang semakin buruk akibat perang. Kakak-kakakku, Dave dan Hilla, kurang tertarik dengan buku-buku. Jadi mereka lebih memilih tetap di rumah di banding ikut dengan ku, menginap di perpustakaan. Biarlah, mereka kan, sudah dewasa, tidak masalah kalau mereka di tinggal. Yang jadi masalah kalau aku di titipkan kepada kakakku. Mereka semua tidak akan kuat menjagaku yang hiperaktif ini.
Sehari-hari, aku menghabiskan waktu bersama Tuan Leo. Bagiku, sosoknya sudah seperti ayah kandungku sendiri. Yaahh,, aku memang jarang sekali bisa bertemu dengan ayah kandungku. Tapi aku mengerti kok, dia tidak bisa bertemu dengan ku bukan karena tidak mau, tapi tanggung jawabnya sebagai Dewan memaksanya untuk bekerja lebih keras demi kepentingan orang banyak. Apalagi, sekarang sedang perang.
Ketika malam datang, menjelang tidur, tuan Leo akan membacakan ku dongeng-dongeng aneh yang berhasil membuatku tertidur, karena bosan.
“paman, kenapa kita harus berperang?” tanyaku suatu malam.
Tuan Leo terlihat sedikit berpikir. “alasannya cukup rumit, anakku. Bahkan harus melihat ke belakang sejarah kita. Akan membutuhkan banyak waktu untuk menjelaskannya padamu” ujarnya.
Aku menarik selimmutku, untuk menyelimuti Tuan Leo yang berbaring di sampingku. “boleh tidak kau bercerita tentang sejarah awal permulaan peradaban kita?”
“sejarah? Ah~ iya. Boleh. Tapi lain waktu saja ya? Paman sudah mengantuk”
“bahkan kau sendiri sampai mengantuk menceritakan dongeng aneh manusia bumi itu” gerutuku.
“apa? Kau bilang apa tadi?”
“oh Tidak. Aku bilang,, aku juga sudah mau tertidur”
“oh ya, kau tentu saja sudah mengantuk, sudah larut.” Tuan Leo kemudian bangun, dan mengecup dahiku. Ia memperbaiki selimut di tempat tidurku, lalu berjalan menuju pintu dan mematikan lampu. “mimpi yang indah sayang~” kemudian sosoknya yang tinggi menghilang di balik pintu.[]
**
Perpustakaan kota adalah perpustakaan terbesar dan paling lengkap. Bahkan catatan sejarah awal peradaban kami, hingga sejarah kehidupan lain, tercatat lengkap. Hanya saja, untuk mengakses buku-buku tersebut, kau harus punya izin khusus.
Tapi yang namanya peraturan, 75% di ciptakan hanya untuk rakyat biasa.
Berhubung aku bukan rakyat biasa, aku putri dari 13 Dewan petinggi dunia ini! Tentu saja aku bisa mengakses buku-buku sejarah tersebut.
Ku fikir ini akan mudah. Tapi Setelah sekitaran 4 bulan berada di perpustakaan, paman bahkan belum mengizinkan aku memasuki ruang istimewa yang berisi catatan sejarah itu. Katanya aku masih belum cukup umur. Pernyataannya membuat ku bingung. Padahal di usia ku yang masih belia ini pun, paman pernah mengajariku strategi perang terbaik.
Ku ralat perkataanku. Sepertinya, peraturan memang dibuat 100% untuk siapa saja.
Hmm kira-kira siapa yang datang ya? Anggota Dewan? Tapi sepertinya suasana pagi ini terlalu tenang kalau Dewan datang. Soalnya kan, pasti banyak rakyat yang ingin menyambut dan bertemu dengan Dewan. Jadi kemungkinan bukan dewan yang datang. Hmm.. mungkin orang kaya, atau peneliti? Entahlah... Siapapun yang datang, aku tidak peduli. Yang penting, sekarang pintu itu terbuka. Sebuah kesempatan yang bagus bagiku untuk mengintip masuk dan mencari buku-buku sejarah yang sudah kunanti-nanti selama ini.
Ruangan ini bernuansa cokelat terang, dengan obor sebagai penghias karena tidak ada api yang menyala. Lampu-lampunya bersinar redup. Dari celah sebuah jendela yang di biarkan terbuka, cahaya matahari juga ikut membantu untuk menyinari ruangan ini. Sebuah ruangan yang aneh dan misterius menurutku. Buku-bukunya juga tersusun rapi... Di bagian depan, buku-bukunya terlihat sangat bersih tanpa debu. Tapi semakin aku menuju ke bagian dalam, semakin gelap dan juga, buku-bukunya semakin tidak terawat. Hmmm... apakah ini bagian yang paling terlarang???
Asyik.
Anehnya, ketika aku memasuki ruangan, aku tidak mendapati siapa-siapa. Jadi k u putuskan untuk berkeliling sambil mencari siapa yang membuka pintu ini. Namun setelah lama mencari, aku yakin kalau sebenarnya tidak ada orang lain selain aku yang sedang berada di ruangan ini. Dengan santai aku berkeliling mencari buku-buku bagian sejarah.
Oke, ini akan jadi semakin seru, fikirku.
adrenalin ku selalu meningkat setiap kali aku mendapati sesuatu yang misterius dan rahasia.
Namun tiba-tiba setelah beberapa lama melintas di lorong-lorong ruangan, terdengar bunyi suara seseorang sedang membolak-balik halaman sebuah buku. Mau tidak mau, aku berhenti sebentar. Siapakah itu? Aku harus memastikan siapa yang membuat suara tersebut.
Jadi, aku berjalan pelan menuju sumber suara, berharap agar tidak ketahuan. Namun, begitu sampai di sumber suara, aku tidak menemukan siapapun, atau apapun. Aneh.. padahal aku yakin sekali suara tadi itu berasal dari rak buku sebelah sini!!!
Hmphh! Apa jangan-jangan, ruangan ini berhantu? Cukup masuk akal sih... ruangan inikan, jarang di gunakan!
Ku putuskan untuk cepat-cepat kembali. Niat ku untuk mengintip bagian terlarang hilang sudah. Saat ini, yang ku fikirkan adalah cara untuk segera menyingkir dari tempat ini secepatnya. Aku segera membalikkan punggung ku, hendak berlari keluar.
Tiba-tiba aku merasa ada sepasang mata yang menatapku dari dalam kegelapan. Aku berusaha menyingkirkan perasaan itu, tapi perasaan sedang di awasi tetap tidak hilang dari batinku. Apa jangan-jangan, hantu-hantu di sini tidak suka kalau aku masuk ke sini tanpa permisi? Ketika pertanyaan tentang hal itu muncul di kepalaku, sontak aku segera mengambil langkah seribu.
Saat itu usia ku belum genap enam tahun, jadi wajar saja aku masih takut dengan candaan orang tua kalau hantu itu nyata. Ketika hendak berlari keluar, tiba-tiba aku merasakan ada bayangan gelap yang menghalangi jalan ku.
Sosok tersebut berpakaian hitam. Tidak... dia menggunakan jubah dan tudung hitam, meski matanya tidak terlihat karena tertutup tudung, tetap tidak merubah fakta bahwa ia memiliki tatapan yang dalam dan menusuk, hal yang tidak wajar melihat usianya yang tidak mungkin lebih dari sepuluh. Kulitnya putih terang, kontras dengan pakaian yang di kenakannya. Ia laksana malaikat pencabut nyawa.
Sesaat, aku tercekat ketika melihatnya.
Sedetik kemudian, hal pertama yang kulakukan adalah berteriak.
Aku telah melakukan hal yang paling ku sesali seumur hidup. Yaa, mau bagaimana lagi? aku berteriak kencang karena kaget sekaligus takut.
Sosok tersebut kemudian membekap mulutku dan mendorong ku menuju rak buku di belakangku. Ia pun membuka tudungnya, dan nampaklah matanya yang berwarna kecokelatan, bibir berwarna pink pucat, hidung mancung dan dagu yang tegas pada sosoknya yang ku perkirakan usianya berjarak 2-3 tahun lebih tua dariku. Ketika melihat tidak ada tanda-tanda bahwa aku akan berteriak lagi, ia membuka bekapannya.
“kau manusia?” tanyaku bodoh.
“ menurutmu?” tatapan matanya menyiratkan bahwa pertanyaan tadi adalah pertanyaan terbodoh yang pernah ia dengar. Heheeiii~ Memangnya pertanyaan apa lagi yang bisa di ucapkan oleh bocah 6 tahun ketika berada di posisiku?
Aku mengamatinya dari kepala hingga kaki. Siapa anak ini? Aku bertanya dalam hati. Anak itu juga balas menatapku. “siapa kau? Apa yang kau lakukan di sini? Kau membuntuti ku?”
ya ampuunn.. anak siapa ini? Kenapa pertanyaannya kurang ajar sekali?
Mendengar pertanyaannya, ku pasang pose sok layaknya seorang putri penting. Aku ini putri dari salah seorang dewan tertinggi! Jadi, kau mau apa hah? Berlutut sekarang juga!
Dengan nada sinis, aku menjawab, “aku December, putri dari tuan Joshua, salah satu dari Dewan Petinggi, juga anak angkat dari tuan Leonardo, pemilik dari tempat ini. Aku kesini untuk membaca, bukan untuk membuntuti mu. Memang kau siapa? Kenapa juga aku harus membuntutimu? Kau juga tidak terlihat tampan, jadi untuk apa aku harus membuntuti mu? Bisa-bisa harkat dan martabat ku ternoda karena kau!!!”
“Cih.. dasar Bangsawan..” ujarnya.
hah? “hei~ dasar ka---“
“December!” suara paman terdengar lantang di seluruh ruangan. Ia melangkah masuk. Di belakangnya, juga ikut beberapa pembantu yang nampak khawatir. Ia berjalan cepat-cepat dengan mata yan membelalak entah karena kaget atau gusar.
“Apa yang kau lakukan di sini? siapa yang mengizinkan mu masuk?” tanyanya.
“anu.. aku...” aku berusaha berfikir keras membuat alasan agar aku tidak di marahi. Biar bagaimanapun, itu adalah pertama kalinya aku melihat Tuan Leo begitu marah padaku. Lalu dengan terbata-bata aku mengucap alasan sambil menunjuk anak laki-laki di sampingku. “ta.. adi a.. aku.. aku melihat anak kecil ini juga masuk, jadi aku juga ikut masuk” ujarku pada akhirnya.
Tuan Leo memicingkan mata, mengamati anak kecil di sampingku, sebelum matanya kembali tertuju padaku.“tetap saja, tidak ada yang memberimu izin untuk memasuki ruangan ini, anakku.” Ujarnya. Tatapannya berhasil mengunciku. Awalnya, aku tidak mengerti, kenapa aku di marahi sampai di teriaki seperti tadi oleh tuan Leonardo sementara si anak tadi tidak di tegur sama sekali. Namun melihat tatapan mata paman entah kenapa berhasil meredam amarahku. Tuan Leo menarikku keluar di ikuti oleh para pembantu dan anak kecil tadi.
“Des.. Aku melarang mu masuk ke sana bukan karena alasan aneh yang ada di pikiran mu. Aku melarang mu masuk demi keamananmu sendiri. Percayalah padaku, di dalam sana sangat berbahaya. Terutama untuk bagian yang hendak kau masuki tadi. Aku tidak mau kau terluka. Kau mengerti sekarang?” tanyanya.
Ingin ku katakan Tidak, aku memang tidak bisa mengerti.. memangnya bahaya apa yang bisa menimpa bocah kecil berusia 5 tahun di perpustakaan?
Aku baru saja hendak mengucapkan kata-kata yang terlintas dibenakku ketika sekali lagi, tatapan Tuan Leo yang lembut berhasil membuat ku tidak mampu berkata tidak. Aku mengangguk. Lalu, ia menarikku dalam peluknya. Ketika ia akhirnya melepaskan pelukan, ia menatap tegas pada anak kecil yang tadi bersamaku.
“pangeran, saya berharap anda juga menjauhi bagian terlarang. Dalam rumah ini, peraturan berlaku bagi semua orang. Tak terkecuali anda, Pangeran Tory. Ayah anda, Ketua Dewan telah menitipkan anda pada saya, jadi mulai sekarang anda adalah tanggung jawab saya.”[]