The Winter Stories

The Winter Stories
Putri Spring



April's POV


ada sesuatu yang terasa aneh. Dan sepertinya, bukan hanya aku yang merasakannya. Tetapi juga Eve. Senyum ramah di wajahnya kini sirna, berganti dengan wajah serius dan khawatir, yang sepertinya sudah menjadi tren untuk kalangan putri. 


dan mungkin juga aku.


“.. sepertinya ada sesuatu” bahkan Tuan Leo sendiri merasakan sesuatu. Pandangan Eve jatuh menuju deretan pepohonan di taman belakang.  Ia memberi isyarat agar aku berdiri di belakangnya. Lalu ku sadari entah sejak kapan, suasananya menjadi sangat sepi. Tidak ada bunyi dari serangga.


“ada yang tidak beres. Tuan, bawa April ke dalam. Kita harus segera mengungsikan warga”


Baru saja kami hendak beranjak dari tempat ini, tiba-tiba aku merasa sakit di suatu daerah dekat perutku. Serasa ada pusaran angin di pusarku. Aku jatuh ke tanah akibat rasa mual dari hentakan tersebut.


“arghh” erangku. 


“April!! Ada apa dengan mu?”


“aku..” aku berusaha berbicara, namun kata-kata yang keluar dari mulutku menjadi semakin tidak jelas. 


Mau di bagaimanakan lagi, rasa sakit dan sensasi putaran angin di perutku membuatku sulit untuk berfikir. 


“Tuan, tolong bawa April masuk. Aku akan berjaga di sini.”ujar Eve. 


Tuan Leo menatapku. “kau tidak akan apa-apa?”


“bawa saja April masuk. Ia butuh pertolongan secepatnya..---”


Kurasa pendengaranku mulai terganggu, begitu juga kesadaranku. Aku mendadak merasakan kantuk dan pusing di kepala yang sangat kuat. Ada apa ini? kenapa aku jadi seperti ini? aku bersikeras mencoba untuk mendapatkan kesadaranku kembali. Sambil mencoba bernafas dengan teratur, aku mencoba untuk berdiri dengan menjadikan Tuan Leo sebagai tumpuan.


SRRRRRTTTT


Kejadiannya begitu cepat dan tiba-tiba. 


Sebuah panah melesat di antara aku dan Eve. Panah itu kini tertancap pada rerumpuan tepat di belakangku. “mereka datang!” bersamaan dengan seruan Tuan Leo, tiba-tiba muncul sekelompok orang dari balik pepohonan.


Uh-Oh...


Kami ternyata telah di kepung.


Ratusan pasukan kegelapan muncul dari berbagai arah. Membuat kami tersudut dan di kelilingi oleh mereka. Dengan satu gerakan yang sama dan tersinkronisasi, mereka mengangkat panah mereka, lalu membidiknya pada kami.


Bahkan dalam situasi biasa, aku belum tentu bisa melawan seorang pasukan kegelapan. Apalagi kalau harus melawan ratusan? Memangnya aku bisa apa? Aku memang sudah mendapatkan ilmu pertahanan dan menyerang dari guruku dan juga Dave, masalahnya, jika di bandingkan antara  berlatih dan mengalami langsung, jelas sangat berbeda. Apalagi aku juga sedang dalam keadaan mabuk begini.


Eve dan Tuan Leo berusaha menjadi tamengku. “aku harus mengirim sinyal untuk yang lain” Eve berbisik pada kami. Maka, Eve segera mengangkat tangannya ke atas. Ketika Eve berusaha memberi sinyal untuk memberi tahu pada putri lainnya, bersamaan dengan letusan api yang di tembakkan Eve, para pasukan kegelapan juga menembak.


Waktu serasa melambat. Eve berusaha menghentikan panah mereka, namun ia hanya sempat membakar panah pasukan kegelapan di satu sisi menggunakan satu tanganya yang bebas. Aku menutup mataku. Bersiap untuk kemungkinan terburuk. Menyadari hal ini, Eve berusaha melindungiku dengan mengorbankan dirinya. Tidak. Dalam kondisi sepert ini, otakku berpacu dengan keras. Aku tidak  bisa membiarkan Eve terluka karena ku. Aku tidak boleh terus-terusan di lindungi seperti ini...  


Dalam beberapa detik, aku berhasil menukar posisiku dengan Eve yang tadinya berada di depan untuk menghalangi serangan lawan untukku.


Seorang putri tidak boleh mati. Aku bersedia berkorban nyawa demi Eve. Karena dengan melindungi seorang Putri, sama juga dengan melindungi banyak  nyawa.


Aku tidak tahu kekuatan dari mana. Akan tetapi, panah yang sudah ku tunggu-tunggu untuk menghampiri ku tidak kunjung datang. 


Apa para Putri yang lain sudah datang?


Ketika aku membuka mata, tidak ada seorangpun yang datang. Tapi, seharusnya panah-panah itu sudah menembus tubuhku. Jadi,.. kenapa aku belum mati?


Sebuah perisai bening dari angin muncul tepat sebelum panah-panah tersebut menembus kami. Membuat panah-panah tadi patah, jatuh atau terlempar.


“apa itu? Angin? ke..kekuatan putri Angin?” Eve tercekat.


Apa ini? siapa yang menolong kami?


Aku berusaha untuk mencari tahu siapa yang menolong kami, sekaligus untuk terjaga lebih lama lagi, tapi sepertinya mustahil. Tubuhku tersasa kian melemah. Puncaknya, aku merasa sakit yang sangat di kepala dan juga pundakku. Aku menghembuskan nafasku dengan susah payah. Dan sedetik kemudian aku kembali ambruk ke tanah.[]


***


“apa... pertarungannya masih berlangsung?” tanyaku setelah aku sadar dan mulai mengingat peristiwa yang terjadi.


“pertarungan apa, sayang? Di luar orang-orang  masih berdansa. Pestanya belum berakhir” Ibuku membelai pipiku. Geraknya santai dan tenang.


Tapi aku tahu dia membohongiku.


“...aku minta maaf, Ibu. Aku tahu ibu berbohong. Dan juga tentang alasan kenapa ibu berbohong padaku. Tapi aku harus keluar dan membantu” aku bangkit berdiri dari tempat tidurku.


“April, anakku. Kau tidak bisa keluar untuk saat ini. Kondisi mu sekarang masih..” ia mencengkram lenganku, demi menahan ku bangkit dari tempat tidur. “kau putriku, kau masih belum kuat” Ibu meletakkan tangannya dengan lembut di pipiku. Perlahan, air mata yang selama ini ia pendam kini tumpah. “aku mungkin saja akan kehilangan Dessy, dan aku tidak akan kehilangan mu juga, anakku. Lihat dirimu. Kau masih sangat muda. Kau tidak akan sanggup melawan mereka sendirian.”


“April, masih belum terlambat untuk kabur dari kehidupan ini. jika kau mau, aku dan  ibu bisa menjaga rahasia kekuatan mu.” Ujar Hilla sambil menghalangi jalanku. “Tidak ada siapa-siapa di sini. tidak akan ada yang mengetahui hal ini selain ibu dan aku. Yang harus kau lakukan sekarang adalah, diam di sini. Berpura-puralah bahwa kau tidak mendapatkan kekuatan ini. Pokoknya, kau tidak boleh menjadi seorang Spring. Tidak boleh”


Aku mengusap air mata di pipi ibu. Bahkan Hilla yang berada di samping Ibu terlihat sudah hampir menangis. Padahal, dari yang ku tahu tentang Hilla, ia memiliki perangai seperti Shida. Pribadi yang suka melucu dan terlihat ramah, tetapi suka menyimpan perasaan pribadi untuk diri sendiri. Dan tentu saja, ia jarang menangis.


“maafkan aku, Ibu. Tapi, aku tidak bisa. Aku.... sekarang bukanlah anak kecil yang biasa kau rangkul dan kau manjakan lagi. Sekarang. aku adalah seorang Putri. Ya. Aku tahu bagaimana tugas seorang Spring itu. Memang tidak mudah, tapi inilah jalan kehidupan yang ku inginkan. Aku tidak akan menyesali jalan yang ku pilih. Meskipun menjadi seorang putri bukanlah pilihan, tetapi,  bukankah seorang putri tidak boleh mengeluh?”


Aku mencoba tersenyum. Sekarang aku mengerti. Alasan kakakku, Dessy tidak menginginkan ku menjadi seorang putri. Seorang Putri Spring, adalah pusat dari penyerangan. Dengan mengendalikan angin, Spring bisa mengubah arah petir, mempengaruhi serangan api, membuat perisai terkuat, melelehkan es, bahkan memanipulasi alam. Singkatnya, seorang Spring bisa menyabot kekuatan Putri lain. Itu sebabnya, posisi seorang Spring sangat rentan. Ia selalu menjadi yang pertama yang di incar oleh musuh. Meskipun punya potensi yang paling besar, bisa jadi Spring menjadi putri yang lemah jika tidak di latih dengan baik. Dan tetntu saja aku tidak mau menjadi putri yang ‘tidak di latih dengan baik.


Ibuku meremas kedua tanganku “kau tetap tidak boleh pergi. Ku mohon... ku mohon... jika kau keluar, semua orang akan mengetahui kekuatan mu. Lalu kau akan bernasib sama seperti kakak mu. Tolong de----“


“ibu. Biarkan April pergi.” Kata Hilla dengan air mata yang kini menggenang di matanya. Aku sedikit kaget mendengar Hilla membujuk ibu. Karena tadi dia berniat menyembunyikan kekuatan ku. Matanya menatapku denngan yakin, dan memberiku dukungan keberanian. 


Sedangkan ibuku terlihat terluka, dan tidak percaya kata-kata Hilla. “apa? Apa katamu?” 


“ibu, membiarkannya pergi adalah jalan terbaik. Ibu tahu itu. Aku.. juga mengerti rasa kehilangan, bu. Tapi.. bukankah keluarga kita memang selalu hidup seperti itu? “


Ucapan Hilla membuat isakan Ibu terhenti. Ibu menatap wajah Hilla yang kembali terlihat tenang seperti biasanya.


“bukankah sejak dulu kita memang bukan keluarga pada umumnya? Kita memang sejak dulu tidak pernah memiliki kehidupan sendiri. Hidup kita hanya untuk orang banyak. Seperti para Putri lainnya. Tidak ada gunanya menahan April di sini. Pada akhirnya, mereka akan tahu apa yang terjadi pada April. Dan ketika itu terjadi, April akan semakin merasa bersalah akibatnya. Kita tidak bisa menghilangkan kodrat April sebagai pelindung negeri ini”


Hilla memeluk ibuku yang masih belum mampu mengendalikan diri. Aku sendiri juga memendam tangis. Entah mengapa, aku seperti mengerti perkataan putri lainnya. Begitu terbangun dan  sadar bahwa aku adalah seorang putri, sekaran perasaan seperti kekhawatiran, takut, dan hancur masuk ke dalam dadaku. Pikiran ku menjadi jernih, meski perasaan ku sedang berkecamuk. Rasa takut, benci dan ingin melindungi bercampur dalam tiap tarikan nafas yang ku ambil. Mungkin seperti inilah jiwa seorang gadis yang di hinggapi roh seorang Putri pengendali.


Jika di fikirkan secara logis, sangat mustahil untuk bocah berusia 9 tahun untuk mencapai kedewasaan seperti yang saat ini sedang kurasakan.


Aku sangat ingin tetap tinggal dan menyembunyikan diri seperti yang di katakan oleh ibu sebelumnya. Tapi di satu sisi lain, aku tidak bisa mengabaikan perjuangan kakak-kakakku. Bahkan, rasa ingin bertarung juga muncul dari dalam benakku yang terdalam.


“kak Hilla, tolong kau jaga ibu.”


Setelah itu, aku berlari menuju jendela, dan melompat keluar.[]