The Winter Stories

The Winter Stories
Reuni Yang Menjengkelkan



Kami semua kecele.


Pasalnya musuh kami datang tiba-tiba di tengah pagi buta. Aku masih menikmati tidur indah yang nyenyak ketika mereka datang di sertai ledakan. Mereka kembali membuka portal.


“hei, putra ketua dewan. Kau tidak melihat yang di sana? Itu Lord Hyno yang datang bersama pasukan besar. Jika kau tidak mau kita terbinasakan dengan begitu mudahnya, bangun sekarang!”


Seseorang menarik kakiku, dan tetap mengguncang-guncang tubuhku.


“kau masih mau tidur?” tanya orang tadi.


Aku berdiri,  lalu menarik pedang dari bawah bantalku. “okedeh.. aku ikut dengan mu. Ngomong-ngomong namamu sama?”


“panggil saja Igor. Cepatlah. Kau bergabung dengan para putri, seperti biasa. Kau tahukan, tugas mu melindungi siapa dan melawan siapa?”


“jelas. Para putri yang harus ku lindungi. Pastikan mereka tidak tewas. Harus berapa kali ku ulang??? Aku tahu tugasku. Tapi mereka sangat kuat. Jadi jika aku dekat-dekat, mereka malahan akan kesulitan karena harus melindungiku.”


“untuk apa mereka melindungimu?”


“karena, aku pangeran mereka.”


Igor tidak bereaksi. Ia hanya diam.


“lupakan saja. Negomong-ngomong, semoga beruntung dengan tugas mu” ujarnya sambil berlalu.


Aku mengerutkan kening. Memangnya aku salah bicara? ada apa sih?


Aku segera mencari-cari sosok ketiga putri yang katanya sedang bertarung. Dan aku lumayan terkesiap ketika menyadari siapa yang mereka lawan. 


“Lord Meus?”


Ku kira dia sudah mati. Bukankah butuh beberapa bulan untuk membangkitkan dirinya? Kenapa dia masih hidup dan bertarung? Dan yang lebih buruknya lagi, ada Lord Hyno di sana. Menonton pertarungan dari jauh


Jadi aku memutari tempat tersebut. Dengan lihai menyelinap di antara pepohonan. Dan sesuai dugaan ku, tumbuhan-tumbuhan ini seolah-olah siap menyembunyikan aku.


“kalian menyembunyikan si putri Es itu dariku. Atau mungkin dia sudah mati” Lord Hyno kelihatan geram. Meus sedang bertarung melawan Shida sendirian. Sedangkan Eve membantu April melawan Lord Hyno. Namun usaha kedunya sepertinya kurang berhasil.


Lord juga menguasai kekuatan Api, maka baik serangan April maupun Eve tidak akan efektif melawannya. Namun keduanya tidak nampak kehabisan cara untuk mengalahkan Lord Hyno.


Aku mengendap-endap ke arah Shida dan Meus.


“kau tahu, bahwa sejak awal aku sudah tertarik padamu. Menyerahlahh. Ikut denganku, dan ku biarkan teman-teman mu hidup sebagai gantinya.”


“hehhehh.. sambaran petirku yang tadi sepertinya tidak cukup untuk mu. Kau mau ku panggilkan petir seperti apalagi supaya kau sadar bahwa sampai kapanpun aku tidak akan menyerah dan ikut bersamamu.”


“cepat atau lambat kau akan menyesali semua ini”


“tidak perlu menunggu masa depan jika untuk menyesali ini semua. Sekarangpun aku merasa menyesal”


Kaki Shida sudah terpincang-pincang,, dengan tangannya yang menutupi sesuatu di perutnya. Sesaat kemudian, ku sadari bahwa yang ia tutupi sejak tadi adalah luka di bagian kanan perutnya. Darah mengalir dari luka tersebut.


Meus menerjang ke arahnya dengan pedang yang teraliri listrik. Yang sepertinya jika Shida menyambarnya akan menjadi sesuatu yang percuma. Shida mencoba menangkis dengan pedangnya. Namun akibat luka di perutnya, ia jadi kewalahan. Dapat kulihat ada butiran air mata dari mata gadis itu.  Ia menggertakkan gigi, berusaha bertahan.


“mati kau!!!!” ujarnya Meus Dingin.


Aku melompat dari arah pepohonan, dan menusukkan pisauku tepat ke arah dada Lord Meus. Meus nampaknya sangat kaget, tapi tidak dapat menangkis lagi. Aku menusuknya, lalu mendorongnya menuju salah satu pohon terdekat, dan menancapkan tubuhnya di sana.


“percuma, bocah. Pada akirnya aku akan bangkit”


“tidak sekarang!”


Ketika Tubuh Meus mulai terbuyarkan, Aku sudah setengah berlari mengampiri Shida yang sudah tergeletak tidak berdaya di atas tanah. Darah mengalir dari lukanya. Ia mengernyit menahan perih.


Rasa ngeri menjalariku ketika menyadari bahwa cairan merah yang  jatuh dan menodai putihnya pada salju ini adalah darah Shida.


Aku segera menarik beberapa daun dari pohon dan merapalkan mantra yang aku sendiri sebenarnya tidak tahu apa. Tapi yang ku tahu, guru kami dulu sering menggunakan mantra itu ketika mengobatiku. Aku menaruh daun tersebut di atas luka menganga milik Shida untuk memastikan pendarahannya berhenti. Aku memberinya  minum dari botol yang sempat ku bawa dari tenda tadi.


Keadaan Shida jelas tidak memungkinkan untuk bertarung lagi. Ia sudah kehabisan banyak darah. Sementara keadaan Eve dan April juga tidak begitu baik. Lord Hyno menyerang mereka membabi buta setelah menyaksikan anaknya yang baru saja ia bangkitkan, kini mati kembali.


“kalian ini benar-benar anak yang menyusahkan. Tidak ada lagi kata ampun untuk kalian, makhluk lemah!”


Entah mengapa, aku yakin saat ini adalah saat terakhir kami.


Aku merebahkan tubuh Shida yang kaku tidak bergerak. Air mataku menetes menyaksikan keadaan Shida. Matanya yang senantiasa menyorot jahil, kini terpejam. Menjadikan wajah yang dulu khas dengan senyum nakal itu kini seperti sedang berada dalam damai.


Aku meraih tangannya, yang terasa sedikit kasar di usianya yang begitu belia. Lalu tangan itu ku genggam, lalu mencium punggung tangannya. Tangannya masih terasa hangat. Dalam hati aku berharap bahwa ia masih bisa bertahan hidup. Tapi mustahil untuk bertahan setelah kehilangan darah sebanyak ini.


Aku meletakkan jubahku, dan ku sampirkan ke seluruh tubuh kak Shida.


Setelah mendengar perkataan Lord, baik Eve maupun April baru menyadari apa yang terjadi pada Shida. Mereka segera berlari ke arah kami untuk memastikan keadaan Shida.


“hei.. apa yang terjadi pada Shida?”


Eve menatapku, mencari jawaban. “aku tidak tahu. Aku berusaha menghentikan darahnya, tapi sudah terlambat. Ia telah kehilangan banyak darah saat melawan Meus.”


“tidak mungkin.... dia pasti bisa bertahan! Ayo kita bawa dia ke tenda medis. Kita harus menyelamatkannya!”


“aku minta maaf, tapi tidak mungkin membawanya sekarang sementara kita sendiri sangat sulit untuk kabur. Munkin,.. inilah saatnya. Tidak ada jalan lain. Shida akan mati dalam kejayaannya. Ia mati setelah berjuang, kak Eve. Dia seorang pahlawan besar” April menghapus air mata yang turun di pipinya.


“kau betul sekali, putri angin. Tidak hanya si putri petir, akan ku pastikan bahwa kau juga akan segera menyusulnya, mati”


Kali ini, tidak satupun dari kami yang mampu melawan kata-kata Lord Hyno. Kami semua semata-mata yakin, inilah akhir dari kami. Inilah saatnya.  Eve masih memeluk Shida yang terbaring kaku. Dan April menatap keduanya sambil menangis. 


Aku menghembuskan nafas dan menutup mataku.


Seumur hidupku aku selalu yang paling lemah di antara mereka. Aku yang paling selalu di lindungi ketika seharusnya aku melindungi mereka. Mereka bahkan beberapa kali mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan ku. 


Tidak. 


Kali ini aku yang akan melindungi mereka. 


Aku berdiri, menantang Lord Hyno. 


“menantang ku berduel, hah? percuma nak. Aku adalah Dewa yang kekal. kau tidak bisa membunuhku” tanyanya dengan sombong. 


"aku tahu itu.. tapi kalau aku mundur, teman-teman ku akan mati. Tapi sebelum salah satu dari kita menyusul aku ingin menanyakan satu hal padamu”


“oh.. tentu saja. Permintaan terakhir?”


“selama kau menawan Ibuku, apa yang kau lakukan?”


Hening sejenak sebelum Lord Hyno menjawab “kau mau tahu, bagaimana caraku membangkitkan putraku, Meus? Itu dengan cara mengambil kekuatan ibumu. Seharusnya kaulah yang harus berkorban dan membiarkan Meus menyedot habis daya hidup mu, tapi Ibumu keras kepala. Jadi sebagai gantinya, aku menyedot kekuatannya untuk membangkitkan putraku. Tidak ku sangka ternyata dia kuat. Lalu aku menyadari dia adalah salah saeorang dari kerajaan alam.  Itu sebabnya Meus mampu bangkit kembali dengan cepat, karena kehidupan yang ia ambil adalah kekuatan sihir murni, yaitu salah satu dari 5 sihir Zhadeka. Sayangnya aku tidak menyaksikannya mati. Ia di ambil kembali oleh dua orang wanita di belakangmu itu. Percuma sih.. karena wanita itu tidak mampu bertahan lama”


Kami semua terdiam cukup lama. Jadi itu sebabnya Meus mampu di bangkitkan. Kurang ajar.. ku putuskan jika aku selamat dari ini, lain kali aku benar-benar harus memukul Meus lebih keras. Sementara itu, aku harus mengurus si kakek abadi di hadapanku ini dulu. 


“minggirlah nak. Aku sedari tadi tidak membunuhmu karena terkesan dengan mu. Dulu bahkan aku hampir mengambil mu sebagai anak angkatku. Tapi karena satu dan lain hal, tidak ku lakukan. Aku melakukan kesalahan.  Dulu seharusnya aku tidak membiarkan mu hidup. Sekarang minggir, karena aku tidak akan segan lagi”


Meskipun tatapan tajam dan begis Lord Hyno mengarah padaku, aku sama sekali tidak takut. Entah sejak kapan rasa takut sudah meninggalkan ku, dan berganti menjadi kemarahan yang meneguhkan ku untuk bertahan.


“apapun yag terjadi, aku tidak akan membiarkan mu lewat.. tak akan ku biarkan kau menyakiti orang-orang ku” 


Angin berembus kencang, hingga dapat ku lihat beberapa pepohonan bergoyang kepayahan akibat terjangan angin. 


Pepohonan. 


Pohon-pohon kemudian merespons perintahku. Aku sebenarnya tidak terlalau mengerti yang terjadi, tapi pohon-pohon sepertinya bergerak sesuai keinginan ku. Setelah beberapa detik, aku menyadari bahwa aku telah membuat pagar pelindung antara aku dan teman-teman ku yang sedang tida sadarkan diri. Di seberang, April menatapku kaget. 


Aku meminta agar akar-akar pohon itu menjerat Lord Hyno, dan si kakek tua yang masih kaget dan tidak mempercayai penglihatannya terjebak oleh akar-akar pohon. “hebat juga kau. Jadi kau benar-benar mampu menggunakan sihir alam? Seharusnya memang ku bunuh kau dari dulu” 


Aku akhirnya memanggil kekuatan ku. Kekuatan yang ku fikir tidak perah ada. Kekuatan yaang ternyata di wariskan oleh ibuku dan selama bertahun-tahun telah di latih oleh Tuan Leo. 


Aku mengangkat pedangku, bersiap untuk menyerang sebelum Lord Hyno dengan mudahnya menebas akar-akar pepohonan, lalu melemparkan ku menggunakan lompatan energi dan menjatuhkan ku ke tanah. 


“kau hebat, tapi masih belum cukup untuk membunuhku” Lord Hyno berjalan menghampiriku, dengan pisau panjang yang meneteskan racun di tangannya. Aku berusaha bangkit, tapi sudah merasa payah sehabis mengontrol pepohonan tadi. Sementara di balik pagar pepohonan, April berteriak memanggil-manggil ku dengan frustasi. 


“tidak, Tory. Bangun!! Lawan dia! tidaaaaaaakkkkk!” 


Ketika Lord mengangkat tangan kanannya, sebuah cahaya menyilaukan muncul. Ia menoleh pada April “berisik!!” April berusaha membuat perisai angin, namun percuma. Ia malah jatuh terlempar sejauh 3 meter dari Eve dan Shida.  “Aprill!!” Eve berteriak memanggil nama April. Matanya kini bagai api yang menyala-nyala. 


Ku fikir, sepertinya ini adalah saat di mana emosi Eve memuncak. Ia berdiri, dan berteriak marah pada Lord Hyno.


Ia membakar pepohonan yang menghalangi jalannya,  lalu melemparkan api yang ia miliki pada Lord, dan mencoba menyudutkannya. Ia membakar sekeliling kami dengan api besar, karena di kuasai oleh rasa putus asa.


“tidak akan ku biarkan kau hidup bahagia atas apa yang kau lakukan terhadap kami! aku akan membalas semuanyaaaaa!!”


Lalu tiba-tiba, di belakang  Lord Hyno, sebuah portal terbuka, dan darinya keluarlah putranya, Lord Meus. Sial. Orang ini sungguh tidak  bisa mati. Membuatku semakin optimis saja.. bahwa kematian kamilah yang memang sudah dekat. 


Tawa Lord Hyno menggelegar di seluruh padang, mengirimkan gelombang ketakutan dan kepanikan dalam batinku. “dengan cara apa kau membinasakan aku? Aku juga memiliki kekuatan api, sama sepertimu. Seranganmu tidak akan berdampak apa-apa padaku. Sebaliknya, teruslah marah padaku, dan berputus asalah atas mimpi-mimpimu. Rasakan derita tak terperi dalam hatimu, lalu kau akan menyadari bahwa ini semua tidak berguna. Kau tidak pernah mencapai sebuah kebahagiaan, melainkan kekecewaan dari orang-orang terdekat mu. Dengan begitu, kau akan datang padaku, dan menjadi abdi setiaku. Abadi bersamaku!!!!”


Aku meraih April yang berusaha untuk berdiri. Bagaimanapun itu, aku sudah berjanji pada Tuan Leo untuk melindungi Dessy dan apa yang ingin di lindungi Dessy, yaitu April. Aku berlari secepat mungkin menuju April yang masih belum bisa bangkit. Begitu sampai, aku menutupi tubuhnya dengan tubuhku tepat sebelum ledakan supernova itu terjadi.


“BOOOOOMMMM!!!!”


Lalu api putih membakar tubuhku[].