
Begitu tersadar, orang pertama yang ku lihat adalah ibu. Wajahnya yang semula cemas berubah menjadi lebih rileks ketika melihat aku sudah terbangun. Ibu membantuku untuk duduk di atas tempat tidurku. Ketika kepala ku sudah terasa lebih ringan, ku sadari bahwa selain ibu, ada kak Eve. “kau sudah bangun. Syukurlah.” Ucapnya.
“kak Eve... sudah baikan?” tanyaku.
“ya. Aku sudah merasa lebih baik sekarang. Aku sepenuhnya telah sembuh, berkat minuman herbal Tuan Leo. Ini, kau juga harus minum”
Aku menerima segelas ramuan herbal dari Eve. “terimakasih...” ujarku.
“apa yang terjadi padamu? Bagaimana perasaan mu?” ibu menatapku cemas.
“ibu, aku baik-baik saja. Tidak usah cemas. Mungkin aku sangat shock saat melihat letusan pertarungan tadi. Oh iya, apa aku pingsan terlalu lama?”
ibuku membantuku duduk. “kau tertidur hampir seharian ini. sekarang sudah sore. Malam ini akan di laksanakan sebuah pesta untuk menghormati kakakmu yang telah lulus masa pelatihan. Lusa, ia akan ikut dengan para Dewan ke markas utama.”
“apa? Kenapa pergi secepat itu?”
Di sofa, Eve bergerak gelisah. “perang tidak bisa menunggu kita, dik.”
“jadi, dimana kakakku?” tanyaku.
“ia masih di kamarnya. Sedang bersiap-siap untuk pesta malam ini.” tanpa menunggu lagi aku segera bangkit dan menghambur menuju pintu. Di belakang, terdengar suara ibu yang memanggilku untuk kembali.
“Heiii~ April, kau belum sehat betul!!”
Tapi aku tetap berlari menuju kamar kakakku.
Apa ini serius? Dia akan berangkat besok! Seandainya aku tahu dia akan pergi, aku akan memaksa Dessy agar menolak pertarungan uji coba kemarin. Sedihnya, Tidak ada seorangpun yang datang untuk memberitahukan ini padaku.. Kenapa mereka kejam sekali? Seharusnya aku di beri tahu, biar bagaimanapun dia kakakku!
Setibanya aku di sana, aku langsung masuk, tanpa mengetuk.
“April! Kau sudah sadar? Syukurlah... kemarin aku kaget sekali. Astaga, aku punya banyak pertanyaan untuk mu,.. Kenapa kau bisa pingsan kemarin?” kakakku menghampiriku lalu memelukku. Dalam pelukan hangatnya, aku tidak sanggup menahan tangis.
“ada apa ini? kau.. menangis? Apa.... kau sudah mendapatkan kekuatan mu?”
“tidak. Bukan itu penyebabnya aku menangis”
“jadi apa? Kau sudah sebesar ini April. Bukannya kakak sudah menyuruhmu untuk menjadi sedikit mandiri?”
“apa.. kakak tidak bisa tinggal di sini lebih lama?”
tidak ada jawaban. Kakakku hanya diam.
“kakakk! Jawab aku”
“... seandainya kakak bisa, kakak akan tinggal bersama mu. Tapi rakyat di seluruh negeri ini tidak hanya membutuhkan Shida dan Eve, tetapi juga aku. Aku harus pergi. Sudah tiba waktunya untuk aku memenuhi takdir sebagai De Winter. sekarang, aku ingin kau hapus air matamu. Kau sudah lebih dewasa. Kau harus kuat. Jika saja ini semua cepat berakhir, kakak berjanji akan kembali kepadamu, suatu hari nanti. Sekarang, sebaiknya kau bergegas kembali ke kamarmu. Para tamu sudah mulai berdatangan. Jangan sampai ada yang melihat mu dalam keadaan berantakan seperti ini”
Kakak menyembunyikan wajahnya dariku. Ia langsung membimbingku keluar dari kamarnya. Meski jarang marah, aku sangat mengetahui kebiasaan kakak jika ia sedang tidak ingin di ganggu, ia akan mengusir siapa saja yang menganggunya. Terus terang saja, perlakuannya yang sekarang sedikit kasar. Ia membuka pintu, dan mendorongku keluar. Tapi aku masih bersikeras untuk tetap tinggal.
“apa aku tidak bisa ikut dengan mu?”
“kau bercanda? Di sana sangat berbahaya! Lagipula, kau masih kecil. Dan aku sangat berharap kau tidak mendapatkan kekuatanmu. Cukup aku saja yang pergi!”
“tidak. Jika kekuatan itu bisa membawaku untuk bersama kakak, aku akan menerima segala konsekuensinya! Tanpa kakak, aku jelas bukan siapa-siapa”
“April, kenapa kau keras kepala sekali? Bukannya kau juga tahu, bahwa tanggung jawab seorang Putri sangat besar dan berbahaya! Sekarang, keluar dari kamarku. Aku tidak ingin mendengar kata-kata itu keluar dari mulut mu lagi!”
“cukup, April!!! Bukankah tadi aku sudah menyuruhmu keluar?”
Aku menatap matanya dengan seluruh permohonan ku. “apa kakak bahkan merasa... bahagia?”
“aku bisa menemukan kebahagiaan ku di manapun, dan bagaimanapun itu, bukan urusanmu! Sekarang, keluar dari kamar ini!”
Ia menciptakan dinding Es di atas lantai, lalu mengarahkannya padaku. Tubuh ku terdorong, dan akhirnya aku terjatuh dengan keras di lantai. Pintu kamarnya kemudian menutup sendiri.
Aku menarik nafas panjang untuk menenangkan diriku. Mataku perih, dan tahu-tahu saja air mata sudah mulai menggenang di mataku. Kenapa kakak bersikap sekasar ini? semarah apapun kakak, ia tidak pernah memperlakukan ku sekasar ini sebelumnya. Kakak tidak pernah berlaku kasar pada siapapun -kecuali pada Pangeran Tory tentu saja- Di satu sisi, memang kesalahan ku karena tidak berhenti bicara ketika ia masih memintaku baik baik.
Aku baru saja hendak berdiri ketika merasakan seseorang merangkulku dari belakang. Aku terlonjak keget, berusaha untuk melepaskan diri. Namun tangan ini sangat kuat. Ia mengangkatku, dan membantuku berdiri. Aku baru saja hendak berteriak ketika menyadari siapa yang merangkulku tadi dan menyadari siapa orang tersebut.
“Paman Leo? Bikin kaget saja!”
“maafkan saya jika saya mengagetkan anda.”
“sudahlah.. ngomong-ngomong, apa paman kesini untuk menemui kakakku?”
“tidak. Aku tadi hanya kebetulan saja lewat.”
Aku terdiam. “apa.. Paman melihat semuanya?”
Dengan hati-hati paman Leo mengangguk tanpa berkata apa-apa. Ia menatapku prihatin. Ia kemudian memelukku untuk menenangkanku.
“ini semua salahku.” Ujarku, masih sesenggukan.
“kau tahu, kakakmu sangat menyayangimu. Seandainya tadi adalah orang lain yang memasuki ruangannya tanpa mengetuk, pasti akan ia... kau tahulah. Kakak mu sedang memiliki waktu yang sulit. Kau harus memahami dia. Kau tentu tahu kebiasaannya. Meski dia bilang bahwa dia baik-baik saja, pada kenyataannya ia sangat tertekan akan keputusan meninggalkanmu dan yang lainnya menuju markas militer.”
“justru karena itu, aku tidak ingin dia merasa tertekan. Aku tahu di sana sangat berbahaya. Aku tidak ingin kehilangan kakakku. Itu sebabnya, jika menjadi putri dapat membuat ku bersama dengan kakak, akan ku terima segala resikonya”
“bukannya selain Tory, kau adalah orang yang paling tahu bahwa menjadi seoarng putri sangat tidak enak?”
“tentu saja aku tahu. Tapi menurutku lebih baik berjuang bersama dalam perang dari pada hidup dalam kesendirian seperti ini.”
“wow. Aku terkesan.. berapa usia mu? Ku harap masih 10 tahun..”
Tuan Leo melepas pelukan. Ia berlutut demi menatapku saat ia berbicara “menjadi seorang putri tidak akan membuatmu bisa bersama dengan kakakmu selamanya. Bisa saja salah satu dari kalian menempuh ‘jalan lain”
‘jalan lainn?
“maksud paman?”
“lupakan perkataan ku. Sekarang bersiap-siaplah. Para tamu sudah berdatangan. Meskipun masih belum 100% di pastikan kau adalah seorang putri, Kau tetap 100% putri dari seorang Dewan. Orang-orang tidak boleh melihatmu dalam keadaan kacau.”
Paman Leo mengantarkan ku hingga tiba di depan kamarku. Ia membukakan pintu untukku dengan senyum manis di wajah beliau. Aku sempat berfikir. Bagaimana bisa wajahnya nampak tidak mengalami perubahan sejak dulu? Dia sangat awet muda. Padahal, kata Ibu, Paman Leo seumuran dengan ayah, dan merupakan sahabat ayah sejak dulu.
Aku memasuki kamarku dengan pelan. Peristiwa tadi masih terngiang-ngiang di kepalaku. Di dalam ruangan ku, tidak ada siapa-siapa lagi. Syukurlah. Sebelum menutup pintu, Paman Leo memanggilku.
“April, tenang saja. Jika menjadi seorang Putri adalah takdirmu, maka kau akan menjadi seorang Putri yang tangguh. Tetap semangat, ya?”
Setelah mengatakan hal itu, ia segera menutup pintu kamarku.[]