
Seseorang yang ku duga Tory mengetuk jendela kamarku.
Dulu, saat masih tinggal di sini, kami biasanya duduk sambil menikmati indahnya pemandangan malam hari di atap kamarku. Terkadang kami bahkan sampai tertidur di sana.
“kau sudah merasa baik?” tanyanya sambil meraih tanganku.
“yah.. lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana denganmu?’
“aku selalu baik-baik saja di tiap kesempatan. Ayo, bergabung bersamaku. Jangan bilang kau sudah lupa bagaimana caranya memanjat ke atap”
“kenapa harus memanjat kalau ada cara yang lebih mudah?”
Aku menciptakan tangga dari Es, yang dapat membantuku menaiki atap kamarku. Tory menatapku dengan senyum jahil yang sangat mempesona. Sangking manisnya senyumnya, aku hampir saja kehilangan keseimbangan dan melelehkan tangga yang ku ciptakan.
“hati-hati, gadis manis. Jika aku juga sedang tidak sigap, kau bisa saja jatuh tadi.”
Aku mengerjapkan mataku. Oh tuhaaan.. apa benar seleraku buruk? Apa menurut orang-orang Tory itu jelek? Tapi kenapa bagiku dia tampan sekali? Aku tidak pernah di perlakukan selembut ini oleh orang-orang sebelum ini.
“kenapa melihatku seperti itu? Apa kau baru saja tersipu malu karena kebaikan hati dan ketampananku?”
Ugh.
Dia juga satu-satunya orang yang memperlakukanku se-semberono begini.
“kau pria yang sangat menyebalkan.”
“tapi juga imut dan menyenangkan”
“oh.. tuhaann... sudahlah. Apa yang akan kita lakukan di sini?”
“kita akan menghabiskan waktu piknik di sini. waktu kia tidak banyak. Tersisa sekitar dua jam lagi menjelang sore.”
“kau tidak mau piknik di tempat yang lebih indah dan bagus?”
“tidak perlu. Bukannya yang terpenting bukanlah tempatnya, tapi dengan siapa kau menikmatinya”
“memangnya kau bisa sepenting apa? Jangan membuat alasan aneh”
“ bagimu aku ini yang terpenting, dan bagiku kau juga yang terpenting. Kita saling membutuhkan, dan mencintai...”
Aku sebenarnya sangat senan mendengarnya mengoceh hal-hal seperti ini. tapi demi menjaga gensi ku, aku malah memunculkan reaksi yang bertolak belakang. Aku membuang muka sambil mendengus bosan. Melihat reaksiku yang menyebalkan, Tory menarik tubuhku hingga tidak ada jarak di antara kami. Ia menatap mataku intens. Aku mulai curiga. Apa dia punya kekuatan api? kenapa sentuhan dan tatapannya selalu membuat wajahku terasa panas?
Tory membelai pipiku lembut. “apa yang kau lakukan?” tanyaku bingung.
“aku hanya tidak sabar membuatmu menjadi milikku. Aku ingin semua ini cepat-cepat berakhir. Lalu kita bisa mengumumkan tanggal pernikahan kita. Dan tinggal hingga tua di sini, menjaga perpustakaan, dan bersama kita membesarkan anak-anak kita. Seperti Tuan Leo membesarkan kita”
Sebelum melepaskan pelukannya, Tory mengecup dahiku. Ia lalu mengambil makanan dari kotak bekal yang ia bawa. Dalam hati aku sedikit kecewa. Ku fikir tadinya dia mau menciiumku.
“buka mulutmu, aaaa”
Di detik-detik terakhir, ia memutar tangannya dan memakannya sendiri.
“apa yang kau lakukan? Ishh... kau menyebalkaaann~”
“ahahaha.. sudah, ayo cepat makan. Lalu kembali ke markas utama”[].
***
“sayangnya tidak. Di sini ada banyak buku”
“kalauu begitu beritahu aku bagaimana ciri-cirinya.. mungkin aku bisa membantumu”
“aku tidak yakin. Tapi... apa kau tidak pernah mendapat mimpi tentang sebuah buku yang seperti memanggil mu? Meminta agar kau menemukannya”
“aku.. rasa tidak.. aku sudah lupa”
“biar ku beri tahu. Warna sampulnya tidak begitu jelas, tapi kuperkirakan warna cokelat kehitaman, juga ada gambar bunga di depannya,,, ku fikir, jika menemukannya, kau akan merasa ada sesuatu dari buku itu. Kau akan mengenali buku itu”
“apa buku itu sangat penting?”
“ya.. aku dan Shida yakin. Ngomong-ngomong, kau benar tidak pernah bermimpi tentang sebuah buku? Aneh.. April bahkan juga pernah bermimpi beberapa kali.”
“oh ya? apa tepatnya isi mimpi kalian?”
“mimpi kami tidak semuanya sama. Kesimpulannya, buku itu seperti merealisasikan keinginan kami. Seperti aku yang menginginkan Dave kembali, Shida bermimpi tentang keluarga dan desanya. April bermimpi tentang seorang anak laki-laki yang bahkan tidak ia kenal. Lalu visi tentang buku itu muncul. Pertama kali bermimpi tentang buku itu, buku itu yang memusnahkan seluruh hal yang kami cintai. Namun, kali lain bermimpi tentang buku itu, ia menyelamatkan seluruh hal yaang kami cintai. Aku dan Shida tidak tahu apakah buku ini pertanda baik atau tidak, tapi intinya, kami harus menemukan buku tersebut.”
“dan.. kenapa kau memilih mencari di sini?”
“yah.. inikan perpustakaan yang usianya sudah ratusan tahun. Barangkali buku tersebut ada di sini. Tapi aku sudah mencari ke suluruh tempat. Dan aku hampir saja berhenti mencari”
Tiba-tiba aku mengingat sesuatu. Ada satu bagian yang tidak di buka untuk umum.. “kurasa, belum semua tempat”[].
***
Aku memberanikan diri memasuki perpustakaan terlarang demi buku aneh yang di cari Eve. Karena Eve sudah mencari-cari di seluruh sudut ruangan dan masih belum menemukan apa-apa. Jika saja seandainya buku itu ada, mungkin tempat satu-satunya untuk mencari adalah perpustakaan terlarang milik Tuan Leo. Aku dan Eve berpencar mencari buku tersebut.
Menurut Eve, pemilik kekuatan yang sebelumnya sebagian besar pernah bermimpi buku itu mendatanginya. Itu berarti bahwa buku itu sudah lama. Jadi aku mencoba mencari ke bagian terdalam. Aku menelaah buku nya satu-persatu.
Tepat pada bagian paling gelap, aku berhenti. Yah, hanya sekedar ingin bernostalgia sih. Soalnya, di sinilah aku dan Tory pertama kali bertemu. Inilah barisan terakhir buku-buku yang masih di terangi oleh cahaya sore yang masuk dari jendela kecil.
Di hadapanku, lorong bertambah gelap, dan aura misterius yang kuat terpancar. Ingin rasanya aku berbalik, tapi yang kulakukan adalah memanggil Eve. Di belakang Eve, ada Tory yang terlihat masam. Dari gerak-geriknya, mereka seperti habis bertengkar.
“ini sudah hampir malam. Ayo kita pulang. Lagi pula, di sini, tidak.. pokoknya, Tuan Leo sejak dulu tidak mengizinkan kita untuk datang ke sini.”
“Paman sudah mati, Tory. Aturannya juga ikut mati. Sekarang, ada hal penting yang harus kita cari tahu. Kau mau ikut atau tidak?” ujarku.
Tory tidak membalas, melainkan hanya mengikutiku.
“gelap sekali. tidak mengherankan kalau ada sesuatu yang jahat tinggal di sini” ujar Eve. Ia lalu mengibaskan tangannya, lalu api mulai menyala pada obor-obor penerangan.
Aku jalan yang paling dulu. Dan segera masuk lebih dalam untuk mencari buku tersebut. Eve mengikuti, tapi agak jauh di belakang, ia dan Tory mengecek barisan buku-buku yang sengaja ku lewati.
Ketika sedang sibuk mencari, mataku menangkap sebuah buku dengan sampul bunga di halaman depannya. Buku tersebut terletak di bagian paling atas dari rak, tanpa ada buku lain yang menemaninya. Ku putuskan agar menciptakan balok es untuk ku jadikan pijakan untuk mengambil buku tersebut.
Seperti deskripsi Eve, buku ini berwarna kehitaman. Debu tebal telah menutupinya, namun tidak membuat mawar merah yang tersulam pada sampulnya tertutupi. Lalu, aku melakukan tindakan gegabah. Aku menyentuh buku tersebut.
Baru saja aku mencoba memanggil Eve, namun dari buku tersebut keluar cahaya berpendar putih. Aku kaet, dan segera menarik tanganku dari buku tersebut.
Lalu aku menyadari bahwa cahaya putih itu seperti sedang menelanku [].