
-Tory’s POV-
Sebelum acara ini di mulai, aku menyempatkan diri untuk mengunjungi kamar Dessy. Tapi aku berniat untuk mengagetkannya, jadi aku akan masuk lewat jendela. Kekekeke.... sayangnya, obyek kenakalan ku sedang tidak bernafsu. Walaupun aku muncul dengan tiba-tiba, Dessy sama sekali tidak kaget. Ia hanya memprotes kebiasaan ku sejak kecil. Tapi tidak apa-apa. Membuatnya mengomel sudah membuat moodku menjadi lebih ceria.
"bagaimana penampilan ku? Apakah aku terlihat bagus?” tanyanya setengah berharap.
“hm.. kau cantik. Biar dibagaimanakan pun, kau tetap cantik” Biasanya, kebanyakan wanita akan tersipu malu jika mendengar seorang pria memujinya seperti ini. tapi tidak bagi Dessy. Dahinya semakin berkerut ketika mendengar jawabanku. Ia menyipitkan matanya dengan curiga, membuat ku risi saja..
“ayolah, kenapa kau menatapku seperti itu?” protesku.
“berhenti bercanda! Aku serius! Bagaimana penampilanku sekarang?” ujarnya sambil menatap pantulannya di cermin dan membelakangiku.
“bukannya sudah ku bilang tadi? Atau apakah kau ingin mendengarnya berulang kali? Kau sudah sangat cantik! Kau cantik, sungguh cantik, kau terlihat anggun, bajunya pas untuk mu, kau terlihat luar biasa... Memangnya jawaban macam apa yang ingin kau dengar? Kau ingin aku mengataimu jelek?” aku berdiri di belakangnya.
“euurghhhh!...” Dessy menyikutku. Namun aku justru menarik lengannnya agar berbalik menghadapku. Ketika akhirnya mata kami bertemu, ku dapati diriku tersenyum. Ia menatap ku saat ia memanggil namaku.
"Tory..."
mendengarnya menyebut namaku, aku akhirnya menarik tubuhnya untuk lebih dekat. "kata cantik masih kurang menggambarkan dirimu, putri De Winter” ujarku.
Aku melingkarkan tangan di tubuhnya. Dan melihat ia bahkan tidak menolak, ku tebak ada sesuatu yang mengganggu dirinya. "ada satu hal yang mengganggumu?"
Alih-alih menjawab, ia malah menyandarkan kepala di bahuku. Seolah berkata, bukan satu, tapi beberapa hal..
Oke, aku tahu tidak boleh mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tapi kalau dia masih memelukku selama lima detik setelahnya, ku putuskan untuk menciumnya.
iya.. HARUSSS.
lagi pula hanya satu ciuman, tidak ada salahnya. otakku sekarang sedang bekerja menerima stimulan-- baiklah.. hanya satu ciuman.. tidak ada salahnya
tentu saja salah, dasar otak kotor.. ku dengar mata hatiku berhasil mendebat.
hei~ apakah sudah 5 detik?
BRAKK
Mendadak, pintu kamar Dessy terbuka. Dan masuklah si pengacau no.1. yang tidak lain dan tidak bukan adalah Shida. Di belakangnya, ada Eve dan April. Oh.. lengkap sudahh...
Aku menggeram sambil menatap para pengacau dengan jengkel. “bisa tidak sih, kalau kalian masuk ketuk pintu dulu?”
“kau sendiri tidak pernah mengetuk, Tory” ujar Dessy.
“dasar Tory bodoh..” ku dengar Shida mencemooh.
Aku sempat terperangah, ku akui. Pasalnya, gadis-gadis ini mendadak nampak sangat berbeda dengan keseharian mereka. Eve mengenakan gaun berwarna krem dan madu. Mirip warna susu jeruk, menurutku. Sementara Shida mengenakan gaun berwarna putih keperakan yang sangat kontras dengan rambut hitamnya yang terurai. Wow. Aku hampir saja tidak mengenali mereka.
Malam ini, Eve sangat cantik. Memangsih, banyak yang bilang, di antara para putri lainnya Eve adalah yang paling cantik. Rambutnya berwarna oranye dan panjang. Kulitnya juga putih, meskipun tidak seputih De Winter. Wajah sehari-harinya saja sudah sangat manis, apalagi jika di tambah dengan riasan. Begitu pula para Putri lain. Mungkin aku terbiasa melihat mereka di balut dengan baju perang yang biasa mereka kenakan setiap harinya.
“yah.. terimakasih pujiannya” ujarnya ringan. Ia kemudian memberi kode pada Dessy. “kau sudah siap? Ayo jalan bersama”
Dessy menggigit bibir bawahnya sebelum mengangguk dengan antusias. Ada sesuatu yang mengganggunya, fikirku. Sekilas gerakan kecil darinya menandakan ia sedang merasa tidak nyaman, dan aku bertanya-tanya apa yan terjadi. Lalu ku sadari ada sesuatu yan salah denan April juga. Hmmm apa yang terjadi diantara mereka?
“ayo kita jalan bersama” ujar ku.
“eitss! Tidak boleh. Kali ini khusus cewek-cewek. Kau turun saja duluan. Pergi, sana!” Shida menepis tangan ku yang hendak mengandeng Dessy. Ia lalu mendorong ku menjauh sambil memaksaku jalan lebih dulu. Ku lirik Dessy yang tidak menampilkan ekspresi apa-apa. Hufftt... padahal aku berharap dia mau jalan bersamaku.
Jadilah, aku jalan duluan menuju aula dansa.
Aku lumayan kaget ketika acara di buka. Ku fikir jumlah tamu mungkin hanya ratusan orang saja. Karena undangannya bahkan baru di sebar semalam. Ku fikir, hanya warga kota ini yang hadir. Ternyata orang-orang dari desa terdekat juga turut hadir. Alhasil, cukup membuat koki Perpustakaan bekerja ekstra.
Para warga bergantian ingin berjabat tangan dengan para Putri. Bahkan April sampai kabur sangking banyaknya warga yang juga ingin berjabat tangan dengannya. Sekitar satu jam setelah di buka, Dessy, Eve, dan Shida baru bisa sedikit longgar. Ketika musik untuk dansa di putar, Ayah Dessy segera menggamit tangan Dessy sebelum ada pria lain yang menggamit tangannya. Wajar saja ayah Dessy berlaku sedikit posesif, Pasalnya, musik bahkan belum terputar, tapi tangan Eve sudah di tarik paksa untuk berdansa dengan seorang pria asing.
Shida segera menarik panglima termuda dari tiga orang panglima yang datang, kalau tidak salah namanya Daniel. Dari ekspresi wajahnya, aku tahu bahwa dia juga ngeri melihat Eve yang sudah jadi rebutan. Sebelum ada orang lain yang menarikya untuk berdansa, ia lebih memilih menari dengan orang yang ia kenal.
Dari jauh aku memperhatikan wajah Dessy. Aku tadinya hendak mengajaknya berdansa dengan ku. Tetapi melihat Ayahnya datang dan mengajaknya berdansa, aku jadi mengurungkan niat. Aku tersenyum menatap mereka dari kejauhan. Sangat jarang Dessy dapat berkumpul bersama dengan keluarganya. Ayahnya adalah seorang Dewan. Dan sama sepertiku, sangat sulit baginya untuk meluangkan waktu untuk Dessy. Wajah Dessy terlihat benar-benar bersinar. Mungkin sangking bahagianya ia berdansa dengan ayahnya.
“kau sepertinya sedang senang sekali, ya?”
“eh.. April. Sejak kapan kau di sini?”
“sejak tadi.. Kenapa kau tidak mengajak kakakku berdansa?”
“ayahmu sedang berdansa dengannya” wajahku berubah masam ketika melihat ekspresi aneh di wajah April. “Bukannya sudah ku katakan padamu, perasaanku pada kakakmu hanya sekedar sahabat yang saling menyayangi. Bukan perasaan khusus yang sering kalian bicarakan itu.”
“siapa yang tanya mengenai hubungan kalian? Akukan, cuma bertaya kenapa kau tidak mengajaknya berdansa. Tapi berhubung aku keburu dengar, aku jadi penasaran,.. perasaan mu benar-benar bukan karena rasa cinta?”
“ada apasih dengan semua orang? Urus saja urusan kalian sendiri”
“jangan begitu.. orang-orang tertarik karena hubungan kalian menarik”
“... umur mu berapasih? terkadang aku lupa”
“masih 9 tahun kok tapi awal bulan nanti aku akan berusia 10.. ngomong-ngomong bukannya kemarin kau masih mengejekku bocah manja?”
“ya.. terkadang kau memang seperti itu”
April mengernyitkan dahi. Lalu ia memperbaiki posisi duduknya sambil menenggak minuman entah-apa-yang-diminum-anak-berusia-9-tahun-di-pesta-dansa “oh iya, ku dengar kau akan ikut bersamanya besok. Selamat ya! Wah.. aku cemburu. Lagi-lagi kau menang “
“menang apanya?? Jangan cemburu, nanti juga kau akan menyusul. Lagi pula, kami akan sering-sering berkunjung.”
o-oow.
Sepertinya aku salah bicara. Ekspresi April berubah drastis. Ia sepertinya hendak menangis, tetapi ia tidak mau sampai ada yang melihat, sehingga ia lebih memilih kabur.[]