The Winter Stories

The Winter Stories
Penyerangan Pertama



Begitu mendengar suara ledakan, kami bangkit berdiri.


“Hei... Kau dengar itu?” ujar Dessy kaget.


“kau yakin yang tadi bukan suara kentut mu?”


“Tory, aku serius”


Lalu ledakan kedua menggema.


BUUUUMMMMMMM!!!


Tidak salah lagi, ledakan dan kobaran api kedua tersebut berasal dari taman belakang. Oke, kalian mungkin akan jadi sedikit bingung dengan pembagian taman di perpustakaan kota sekaligus perpustakaan pribadi milik Tuan Leo ini. yang pertama, taman Depan yang terletak di depan pintu masuk perpustakaan, Taman belakang, tempat dimana aku dan Dessy biasa berlatih, Taman rahasia, atau taman danau, yang hanya dapat di akses melalui ruangan kerja Tuan Leo (taman yang sedang aku dan Dessy tempati), dan taman kecil di tengah, yang menghubungkan gedung belakang dengan bangunan utama perpustakaan.


Tanpa pikir panjang, kami berdua segera berlari menuju taman belakang, asal suara ledakan tadi. Sialnya, di pintu masuk taman sudah banyak warga yang datang untuk mengecek keadaan, dan bahkan tertarik menonton pertarungan antara Eve dan Tuan Leo melawan ... pasukan kegelapan... 


Kenapa pasukan kegelapan bisa menyerang sejauh ini?


Di belakang mereka, tergeletak tubuh April yang sama sekali tidak bergerak. Aku melirik Dessy, dan dari maanya aku tahu bahwa sanagat mengkhawatirkan April. 


Eve dan Tuan Leo mati-matian melindungi April yang sepertinya tengah pingsan. Namun jumlah musuh kian bertambah.


Ketika kami akhirnya mampu menembus kerumunan dan tiba di lokasi, Dessy segera mengibaskan tangannya dan membuat barikade dari Es setinggi 5 meter demi menghalau musuh mendekat untuk sementara waktu.


“ada apa ini?” tanyanya sambil mendekati Eve dan Tuan Leo. Tiba-tiba, Ibunya Dessy menyeruak dari kerumunan, dan mendekati April. “apa dia terluka?” tanya Ibunya panik.


Eve menggeleng. “aku yakin ia baik-baik saja. Ia tidak terluka akibat serangan tadi” ujarnya.


“Reina, ada baiknya jika kau membawa April pergi dari sini. Berbahaya, cepat bawa dia masuk. Kami akan sulit bertarung sambil melindungi orang tidur” ujar Tuan Leo.  Ibu Dessy menurut dan segera membopong tubuh kecil April masuk ke dalam gedung.


Tepat setelah kepergian Ibu Dessy, Shida dan para panglima datang. Shida datang seperti biasa, dari atas langit, dengan petir yang menyambar-nyambar. Sedangkan para panglima bergabung setelah berhasil menguak kerumunan. Astaga, apa tepatnya yang di fikirkan warga-warga ini? bikin repot saja...


“aku sudah memerhatikannya dari atas tadi. Mereka menggunakan portal, seperti biasa” ujar Shida.


“portal?” tanya ku bingung.


“yah.. situasi yang biasa terjadi. Tunggu dulu..Apa yang kau kenakan itu, bocah?” mendengar ucapan Shida, aku bagai orang di sambar petir.


Aku memerhatikan dandananku, dan baru menyadari bahwa aku masih mengenakan rambut palsu milik Dessy. Aku tadi tidak sempat melepasnya. 


Segera setelah menyadari rambut palsu itu masih di kepalaku, aku segera melemparnya jauh-jauh.


Hadeu.. merusak suasana saja...


“jadi. Bagaimana caranya menutup portal itu?” Dessy mulai nampak cemas sekaligus antusias.


“aku bisa menutupnya dengan petir ku. Tapi hal itu cukup sulit. Aku harus mendekat, juga harus ada yang menjadi pelindungiku dari belakang selama aku berfokus untuk mengunci portal.”


“kami akan ikut bersamamu.” Ujar Daniel. Shida tersenyum sambil mengangguk.


“aku juga akan ikut” Tuan Leo mengangkat suaranya.


Eve menyahut. “ya. Tuan juga harus ikut. Tidak ada yang lebih tahu tentang taman ini di banding beliau”


“kalau begitu, aku juga akan ikut  bersama Guru” ujar ku.


Daniel kemudian berbicara “baiklah. Dengarkan aku semuanya. Tim penyerang adalah aku dan dua Panglima lainnya,  bersama Tuan Leo dan Shida. Kita akan bertarung langsung di garis depan. Sedangkan Eve, Dessy dan Tory jaga di barisan belakang, untuk mencegah bila ada yang berhasil lolos dari serangan kami. Kita kekurangan penjaga. Jumlah yang ada hanya cukup untuk melindungi dan membantu mengungsikan warga. Jadi kemungkinan tidak ada bantuan. Pastikan unuk selalu fokus. Mengerti?” tanya Daniel. Kami semua mengangguk mengiyakan.


“yep. Aku akan membawa kalian berempat melewati dinding Es ini. Dessy, tunggu aba-aba dariku, ya? Hitung dalam hati selama 10 detik. Setelah itu, bersiaplah. Mengerti?”


Dessy mengangguk mendengar perintah Shida. Shida kemudian meminta empat orang yang akan di bawanya untuk meyambung tangan agar nanti tidak terlempar jatuh.


Seketika, mereka berlima menghilang dalam sekali sambaran petir. Dalam diam, aku menghitung. Kulirik  Dessy yang sedang berusaha untuk rileks. Eve menatap risi pada kerumunan warga di belakang kami. “Dessy, bisa kau buatkan dinding barikade seperti ini untuk mereka? Sepertinya sudah banyak orang yang datang untuk menonton pertarungan kita. Sial. Apa yang mereka lakukan disini? Dimana para penjaga? Seharusnya mereka sudah membantu warga berlindung. Bukan membiarkan mereka menonton pertarungan! Aku tidak ingin konsenterasiku goyah, sehingga kehilangan bidikan. Belum lagi kalau ada yang terluka”


Dessy mengibaskan tangannya, dan terbentuklah dinding Es raksasa yang menyelimuti setengah gedung perputakaan yang sangat besar. Para warga yang melihat langsung berhasil di buat takjub. Tatapan mereka antara percaya dan tidak.


“6...8.. okee.. mari bersiap” ujarku. 


“10... Sekarang Dessy!!!” Tepat setelah hitungan, petir menyambar di seluruh bagian taman di balik dinding Es. Sangking dahsyatnya serangan petirnya, udara di sekeliling kami terasa bergetar. Bahkan menghancurkan tembok es milik Dessy.


Ketika tembok itu runtuh, Dessy segera membekukan pasukan kegelapan yang mencoba menerjang kami. beberapa yang sedang berlari berhasil di bekukan kakinya oleh Dessy. Melihat hal itu, aku segera melemparkan alat peledak yang tadi sempat ku tarik dari lemari senjata Tuan Leo. 


“Eve!!!” aku memberi tanda pada Eve untuk menambah kekuatan peledak yang kulempar tadi. Dan berhasil. Pertempuran berjalan sangat sengit. Kami telah di kepung musuh dalam hitungan detik.


Ketika tembok itu runtuh tadi, dapat ku lihat panglima pertama dan kedua sedang bertarung sengit. Sedangkan Shida, Daniel dan Tuan Leo sepertinya sudah bergerak semakin dalam ke hutan. Petir yang di gunakan Shida memberikan kami tanda kemana pergerakan mereka.


Dessy dan Eve membakar dan membekukan hampir semua yang berhasil lolos dari Shida dan dua Panglima lainnya. Aku kemudian bergabung bersama ke dua panglima yang berada tidak jauh dari kami.


“kenapa tidak ikut bersama Shida?” tanyaku ketika berhasil mendekat.


“kau tidak akan menyangka berapa banyak musuh di balik dinding itu tadi. Jadi, kami memutuskan untuk berada di barisan tengah.” Panglima pertama menyahut.


“kami juga akan maju untuk membantu Daniel dan Tuan Leo untuk melindungi Putri Shida.” ujar Panglima kedua.


Eve dan Dessy bergabung bersama kami setelah medan pertempuran kami bersih. Keduanya nampak sangat kelelahan. Apalagi Dessy yang belum memulihkan 100% staminanya setelah melewati ujian kemarin. “kau kebanyakan membekukan orang” ujarku.


“tidak. Aku baik saja. Jadi, apa kita akan bergerak menuju taman tengah?”


“jangan. Inti dari seorang Putri Es adalah menjaga dan melindungi. Kau harus tetap di sini untuk bertahan. Aku merasa ada sesuatu yang sedang bersembunyi. Eve, kau juga tinggal. Kau juga, pangeran. Sebaiknya tetap berjaga di sini. jika ada masalah, kami pasti akan mengirim sinyal bantuan. Eve, kau tahu sinyal itu, kan?


Eve mengangguk setuju. “ada sebuah kejanggalan dalam penyerangan ini. Biasanya Lord Hyno tidak menyerang kota yang jauh dari markasnya. Ia menyerang secara perlahan, berpindah dari satu kota ke kota lain yang bersebelahan. Sedangkan kota ini sangat jauh dari pusat peperangan sebelumnya.  Selain itu.. Lord tidak menyerang tanpa rencana sebelumnya. Eve, kau tahu maksudku. Kau harus berhati-hati” Panglima kedua berpesan kepada kami.


Setelah mengatakan pesannya, mereka berdua kemudian berlari menuju hutan. Kami segera jatuh terduduk di tanah. Bagaimana tidak. Kami tadi mungkin telah mengalahkan ratusan pasukan sekaligus. Mungkin kedengaranya mudah, tetap saja, berbeda jika kau mengalaminya langsung. Aku yang hanya manusia biasa harus berlari kesana-kemari untuk menyelamatkan diri dan menyerang. Kebanyakan dari mereka berfikir bahwa aku adalah mangsa paling mudah, makanya aku berjuang mati-matian untuk bertarung.


“ada apa dengan kakimu?” Eve yang paling pertama menyadari perubahan pada kakiku. Padahal aku berusaha menyembunyikannya. “tadi sempat tersayat oleh pedang.  Bukan masalah” ujarku.


“kau tidak sedang ‘tidak apa-apa! Lihat darah yang mengalir dari luka mu. Kau bisa saja mati kekurangan darah! Aku yakin, pasti bukan hanya itu luka di badan mu. Kembalilah” Eve menegurku.


“tidak. Aku akan bersama kalian di sini.”


“jangan keras kepala! Ibumu menitipkan mu padaku! Kembalilah. Kau lihat sendiri bahwa disini sudah aman! Ku mohon kembalilaahhhh!” Eve masih  berusaha membujukku.


“percuma membujuk si Pangeran Tory. Ia tidak akan mengubah pendiriannya. Sudah.. biarkan saja dia. Nanti juga kembali sendiri” Dessy bahkan kelihatan tidak tertarik. Ia mengusap-usap wajahnya, mulai merasakan kantuk. Ia selalu seperti itu kalau sudah mulai lelah.


“terimakasih sudah memperhatikanku. Tapi aku belum bisa beristirahat dulu. Bukannya tadi Panglima kedua berpesan untuk tetap waspada?” ujarku.


“tentu saja kalian harus tetap waspada”


Suara berat tadi jelas sekali bukan berasal dari kami. Maka, kami melirik ke asal suara, yaitu pepohonan. Perlahan, keluarlah seorang pria dengan tubuh tinggi-tegap dari sebuah pohon tidak jauh dari kami.[]