The Winter Stories

The Winter Stories
December De Winter



Tory’s POV


Beberapa Malam terakhir ini tidak seperti biasanya. Orang-orang dari berbagai penjuru seperti berlomba-lomba untuk mengunjungi rumah sahabat ku, December De Winter. Tapi aku lebih sering memanggilnya Dessy, atau cewek Es. 


Rumah besar itu kini menjadi sangat sesak oleh orang-orang yang hendak mengunjungi dan mengucapkan selamat untuk kelahiran adik baru December, yang di duga juga seorang Controller, putri penguasa salah satu dari 4 elemen seperti halnya sahabatku, December.


Sangking banyaknya orang yang datang, bahkan halaman depan dan belakang merekapun  penuh sesak. Dalam kerumunan orang-orang itu, aku mencari-cari sosok Dessy. Sosoknya akan sangat mencolok dengan rambutnya yang sangat jarang bagi orang-orang kebanyakan, yaitu biru ke perakan.


Setelah lama berkeliling mencari sosoknya, aku menyadari bahwa December memang tidak di sini. Jadi aku memutuskan untuk mencarinya ke tempat yang paling ia sukai selain Perpusatakaan Kota, yaitu tempat biasa kami berlatih jika sedang berlibur di rumah Dessy. Jadi aku langsung saja menuju tempat latihan kami. Setelah berjalan selama kurang lebih 45 menit, aku akhirnya sampai di Sebuah lapangan rumput yang di sediakan ayah Dessy untuk kami berlatih ketika kami sedang berlibur. Di tengah-tengah lapangan, terlihat nyala api unggun dan seorang gadis kecil duduk menghadapnya. Aku langsung mengenali sobat ku itu meski ia membelakangi ku.


“sedang apa disini?” tanyaku. 


Punggung Dessy menegang mendengar suaraku. Ia menoleh untuk memastikan siapa yang datang. “Tory?” tanyanya. 


Tanpa menyahut, aku mengambil inisiatif untuk duduk di sampingnya. “menurutmu siapa lagi? Memangnya ada orang lain yang mau repot-repot mencarimu sampai sejauh ini?”


Kami duduk bersama di depan api unggun. Sesaat, hanya ada kebisuan yang menggantung di antara kami.  Aku dapat melihat tatapan dalam milik Dessy. Tatapannya selalu menatap jauh kedepan, seperti berfikir keras akan sesuatu.


Tentu saja, tatapannya hampir terlihat terlalu murung.


Tidak tahan dengan kesunyian ini, aku akhirnya bertanya “ngomong-ngomong, siapa nama adikmu?” 


“karena dia lahir di bulan April, ayah dan ibuku memanggilnya April.”


“kabarnya dia juga akan memiliki kekuatan, sama seperti mu. Apa iya?”


“menurut perkiraan sesepuh, begitu. Keluarga kami memang berasal dari klan yang menguasai angin.. yang aneh adalah kenapa aku bisa terlahir menjadi putri penguasa air? Ngomong-ngomong tentang kekuatan adikku, aku masih tidak tahu pasti. Yang jelas, ada yang dewan sembunyikan dariku. Dan aku tidak suka itu. Juga...”


Dessy menatap padang yang terhampar, lalu menghembuskan nafas berat sebelum akhirnya ia kembali melanjutkan.


“...coba bayangkan kalau adikku menanggung beban yang sama dengan ku. Kau tahu kan, menjadi seorang Controller itu sangat menyusahkan.”


“yaahh... Juga sangat membingungkan” ujar ku. Untuk sesaat, pandangan kami bertemu. December menatapku dengan pandangan aneh. Lalu sedetik kemudian membuang muka ke arah lain. Jika saja aku tidak mengenalnya dengan baik, aku mungkin akan mengira dia sedang marah.


“kau kenapa? Ada yang salah?” tanyaku.


Ia membuang pandangannya ke arah lain. Seorang Putri tidak boleh terlihat lemah di hadapan siapapun. Kalimat tersebut kembali terngiang di  benakku.


“hei, tidak usah malu padaku. Kalau kau mau menangis, menangis saja. Akukan bukan Dewan petinggi, ataupun rakyat yang menaruh harapan hidupnya padamu, aku bukan salah satu dari pemegang kekuatan, aku hanya bocah biasa untuk mu. Tapi hanya di hadapan orang biasa inilah kau bisa menangis dan terlihat rapuh”


Dessy menatap api unggun yang di buatnya.


Di sela-sela tangisnya, ia mulai berbicara,  “kau betul. Ini juga sangat membingungkan. Aku seorang Controller dengan kekuatan air, es, dan apapun di antara keduanya. Tapi setelah setahun mendapatkan kekuatanku, kekuatan ini terus tumbuh. Tidak seperti pengendali lain, aku juga memiliki Api! Hal yang sangat tidak lazim, karena seharusnya setiap satu orang pengendali hanya punya satu kemampuan.Tapi kenapa api itu juga dapat muncul dari tangan ku?” 


Dessy menangkupkan kedua tangannya di muka. Bertahun-tahun kecemusan ia tuangkan. “ Aku.. takut, dan bingung.  Bagaimana kalau sampai Dewan tahu hal ini? Aku pasti akan di kurung, karena di anggap sebagai reinkarnasi kegelapan!” tangannya masih menutup wajahnya, membuatnya nampak sangat frustasi.


“...tenang saja, tidak ada orang lain yang mengetahui ini selain aku dan guru. Juga yang terpenting, kau tidak akan menjadi reinkarnasi kegelapan” aku menarik tubuhnya dalam pelukku. Hanya demi membuatnya menjadi lebih tenang.


Masih dalam pelukku, ku tepuk bahunya demi menenangkan Dessy  yang masih menangis. “.. Aku takut.. bagaimana kalau suatu saat nanti aku berbuat keliru? Kalau sudah seperti itu, ramalan akan menakdirkan aku dan adikku harus bertarung. Aku Tidak ingin melukainya”


“Dessy.. jangan terlalu mengkhawatirkan ramalan.. kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi. Bukan ramalan yang menentukan takdirmu, tapi dirimu sendiri. Dan aku pecaya pilihan mu pasti tidak akan mengecewakan ku. Kenapa? Karena aku mengenalmu. Kita saling mengenal. Kita percaya satu sama lain”


Yaah.. ini memang bukan adegan yang biasa di lakukan oleh gadis kecil 9 tahun dan bocah laki-laki berusia 12 tahun. Tapi, memang segalanya yang datang kepada kami sejak bayi tidaklah normal. Kehidupan dan pendidikan keras yang di terapkan oleh orang tua kami telah menjadikan kami agar berpikir dewasa lebih cepat.


“ sampai kapan aku bisa menyembunyikan fakta kekuatanku yang terus bertambah? Aku takut. Takut pada Prajurit Kegelapan, Lord Hyno, para Dewan, bahkan pada diriku sendiri. Kau juga sebaiknya berhati-hati, mungkin sekarang aku tidak berbahaya karena aku masih bocah. Tapi tidak ada yang bisa menjamin, akan menjadi siapa aku kedepannya. Jangan sampai aku melukai mu juga.” Isak December dalam pelukku.


Tubuh Dessy mendadak berubah dingin. Tidak hanya tubuhnya, tapi perlahan juga cuaca dan udaranya ikut berubah. Tanpa Dessy sadari, sebenarnya di saat-saat tertentu dia juga dapat mengendalikan suhu cuaca. Kedengarannya hebat? Ya. Semua orang tahu Dessy sangat hebat. Tapi juga karena kehebatannya, dia di anggap ancaman besar bagi para Dewan. Kenapa?


Karena sejak awal kehidupan dunia kami, tidak pernah baik. Kehidupan sebelum kami sepertinya memang sudah rumit sejak awal.


“semua kekhawatiran ini tentang masa depan, bahkan di usia yang masih beberapa hari, adikku telah di desak untuk di pertemukan dengan warga. Itu artinya harapan warga sangat tinggi kepadanya. Tanpa di beri tahupun aku tahu, beban adikku di kemudian hari akan lebih berat dari ku. Akan jadi lebih gawat lagi jika dia benar seorang Spring yang notabene sangat jarang muncul, bahkan dalam 100 tahun. Sekali seorang Spring terlahir, ia adalah yang pertama di incar oleh musuh”


“sudah Dessy.. Sebaiknya kita pulang”


“aku... tidak mau pulang.”


“kenapa? Karena orang - orang itu?” Aku bisa merasakan Dessy menganggukkan kepala dalam pelukku. 


“aku heran. Kenapa Dewan mau mengadakan pesta kelahiran putri baru yang jelas sekali mengancam kedudukan mereka? Bukankah biasanya mereka sangat menjaga jarak dan mengekang putri pemegang kekuatan?”


“entahlah.. siapa yang tahu pikiran Dewan? Mereka kan sangat rahasia. Ngomong-ngomong, Dessy, bukannya tidak mau mengerti dan peka terhadap keadaan mu saat ini, tapi aku hanya manusia biasa yang masih merasakan dingin. Karena kau tidak mau pulang, kita perlu mencari tempat berteduh. Kau sepertinya tidak sadar barusan membuat cuaca menjadi lebih dingin. Aku saja hampir  mati beku. Atau mungkin kau bisa membuatnya sedikit lebih hangat?”


“memangnya udaranya jadi dingin, ya? Maaf..tunggu sebentar..” Dessy melepaskan diri dari pelukan ku. Ia lalu berdiri, sambil menutup matanya, dan perlahan menghirup nafas dengan rileks. Ketika ia membuka mata, ia kemudian melompat sambil tertawa-tawa. 


Selanjutnya, ia mulai berlari-lari, masih sambil ketawa ketiwi tidak jelas. 


“..apa yang baru saja kau lakukan?”


Ia berhenti sejenak, lalu menatapku dengan bingung “aku sedang berusaha mengembalikan cuaca. Kau tidak lihat?”


“tentu saja aku melihat! Aku lihat kau mendadak bertingkah aneh. Sepertinya memang semua kekhwatiran mu telah berhasil membuat mu gila, ya? Baru 5 detik yang lalu kau menangis tersedu-sedu di pelukan ku, sekarang sudah melompat kesana-kemari tidak jelas. Lagipula, apanya yang ‘mengembalikan? Cuacanya malah semakin dingin”


“.. tidak berhasil ya? Padahal aku sudah berusaha menaikkan mood agar cuacanya menghangat... ck. Sepertinya tidak berhasil”


“sudah~ anggap saja kebetulan. Ayo, kita berlindung. Tubuh ku rasanya makin mati rasa”


“ cuacanya memang sampai sedingin itu?” tanyanya.


Aku mengangguk.


“Menurutku tidak ada apa-apa. Tapi... baguslah kalau cuacanya memang sedingin yang kau bilang. Itu berarti, Dewan tidak akan menyuruh orang untuk mencari kita di tengah badai ini.” ujarnya kembali senang.


“iya, bagus untuk mu. Tapi tidak bagi ku. Ayo, cewek Es. Kita cari tempat berlindung.”[]