The Winter Stories

The Winter Stories
Tuan Leo #2



Tolong katakan padaku bahwa aku baru saja salah dengar


“.. saat Nyonya sedang menyusul Putri Eve dan Putri Shida, Tuan Leonardo datang kemari, lalu berusaha membunuh adik anda. Sekarang, kami berkumpul untuk menyaksikannya di hukum mati karena telah berkhianat”


*


*


Aku... tidak tahu harus bagaimana. Apa aku harus memercayai perkataan si arogan Ares atau tidak... tapi, terbersit sedikit keyakinan bahwa yang ia katakan adalah benar, menilik reaksi orang-orang yang sejak tadi berusaha menghindariku.


Entah mengapa, langkahku terasa semakin berat. Bahkan untuk bernafaspun sangat susah. Rasanya seperti menghirup pisau.


Terompet yang berbunyi berhasil menyadarkanku. Aku segera berlari seperti orang kesetanan  ke area lapangan, tempat asal suara tadi. Lalu segera menyibak kerumunan orang-orang yang menutupi pandanganku. Perasaan ku kacau balau di tengah lautan orang yang berteriak menuntut agar si pembunuh segera meminum racunnya. 


Aku seperti kehilangan bobot badanku. Usahaku untuk mencapai tempat eksekusi sepertinya juga nihil.


Tiap langkah yang ku ambil terasa berat. Bahkan aku merasakan sensasi dingin yang aneh menerpa diriku. Semuanya nampak memelan. Dan sangat sulit untukku menentukan arah. Sorak sorai prajurit bergema ke seluruh markas,  menggentarkan ku untuk melangkah maju. 


“bunuhhh! Bunuh si pengkhianatt!” teriak mereka. 


Sahut-sahutan para prajurit semakin bersemangat, dan segala kebisingan ini membuat aku tidak mampu menentukan orientasi. Fakta bahwa aku masih bisa berdiri tegak adalah sebuah keajaiban.


Ketika jarakku kian mendekat, dapat ku rasakan bahwa mereka mendirikan sebuah panggung kecil khusus di sudut lapangan. Kurang ajar. Mereka fikir ini semua hiburan? Biadab sekali! aku harus menghentikan kegilaan ini. Ini tidak masuk akal. Tidak mungkin Paman Leo melakukan hal yang di tuduhkan padanya.


Amarah berhasil mendorongku untuk maju lebih jauh lagi. Aku mendorong orang-orang yang menghalangi jalanku. Hingga akhirnya aku sampai di barisan terdepan.


TENG! TENGGG! TEENGG!!


Bunyi terompet tadi kini berganti menjadi bunyi lonceng yang bergerak memekakkan telinga. Kali ini, aku benar-benar sudah kewalahan. Kesadaranku hampir saja terenggut. Dengan susah payah aku memegangi sisi dari panggung. Ketika aku berusaha memanjati panggung, seorang pria di giring naik ke atas, lalu duduk di atas sebuah kursi. Mata si pria paruh baya seperti menyapu orang-orang yang menonton. Ketika pandangannya bertemu dengan ku, air mataku langsung menetes.


Tidak mungkin. Dia benar-benar Paman  Leo ku.


Kenapa?


Saat ia akhirnya melihatku, seulas senyum berikan padaku,. Saat aku masih bingung dengan apa yang harus ku lakukan, Paman Leo lalu mengambil cangkir yang telah di siapkan untuknya di atas meja kayu. 


“JANGAN DI MINUM!!!!!!!” aku berusaha memperingatkan. 


Tapi suara ku tenggelam, tertutupi oleh sorak-sorai orang-orang yang makin antusias. Ini gila! Benar-benar... lebih baik ku bekukan saja orang-orang ini...


Seorang pemuda menaiki panggung dengan terseok-seok. Bajunya kotor, dengan beberapa robekan kecil. Wajahnya pucat pasi, dengan ekspresi memohon dan menderita di. Pandangan Tuan Leo teralih dariku. Ia menatap pria muda yang kini berjalan terseok-seok berusaha menggapainya.


Tuan Leo mengucapkan sesuatu, tapi aku tidak dapat mendengarnya. Dari  gerakan bibirnya, aku tahu apa yang ia katakan, Tory.


Ya.. pemuda yang berusaha menggapai Tuan Leo adalah Tory, dan ia nampak sangat kacau. Rambutnya acak-acakan, di terpa angin pagi yang meniupi tiap helainya. Tory mencoba mempercepat langkahnya, namun kakinya terasa berat. Sudah terlambat baginya untuk mencegah Tuan Leo meneguk racun di tangannya.


“TIDAAAAAAAAAAAKKK!!!!!”


Tanpa pikir panjang, dan entah kekuatan dari mana, aku memanjati panggung yang tingginya kira-kira dua meter itu, lalu dengan garang, aku menatap orang-orang dengan penuh kebencian [].


***


Aku menciptakan sebuah dinding es untuk mencegah para penjaga menaiki panggung.


Hatiku remuk. Hanya air mata yang mengalir dari mataku. Aku berdiri membelakangi lelaki tua yang kini berbaring lemah di pangkuan Tory. Aku tidak berani melihat Tuan Leo,  karena aku tahu, jika berbalik, aku akan semakin hancur.


“Dessy... sayang ku”Aku dapat merasakan tangannya berusaha menggapai-gapai diriku. Suaranya terdengar lirih menahan sakit.


Kini Tuan Leo masih berbaring di pangkuan Tory. “apa yang terjadi sebenarnya selama aku tidak ada?” tanyaku.


Air mata Tory menetes semakin deras melewati pipinya. Beberapa malah jatuh ke wajah Tuan Leo. Sementara Tuan Leo mulai kejang-kejang, ia berusaha menghapus air mata di pipi Tory.


“.. Putra-putri ku, alangkah tenangnya aku mati di pangkuan kalian”


“tolong jangan berkata seperti itu, guru. Guru adalah seorang ahli ramuan. Tolong katakan pada kami dimana kami dapat mendapatkan penawar racun yang guru minum tadi!”


“sudah.. biar bagaimanapun, aku harus mati. Sudah terlalu lama hidup..aku.. sangat mencintai kalian, sangat menyayangi... Putra-putri kebanggaanku”


“Paman... kenapa paman seperti ini?” Tory membelai pipi Tuan Leo.


“kau akan mengerti saat waktunya tiba” jawabnya susah payah.


“Putriku,.. Dessy. Beranikan dirimu. Selalu lakukan hal yang menurut mu benar, dan kau akan... menjadi putri terhebat, berjanjilah kau akan menghentikan perang ini...percayalah .. kau bisa melakukannya”


Tory meremas tangan Tuan Leo, sambil terus berucap “paman... ku mohon.. jangan pergi.. aku.. aku tahu bahwa selama ini bahwa kau adalah salah seorang pengguna kekuatan Alam, kau tidak usah khawatir, aku tidak membencimu, aku tidak akan membencimu, dan aku akan selalu mendengarkan perintah mu,.. asalkan kau jangan pergi.. ku mohon bertahanlah, demi kami....”


“syukurlah.. kau tidak kecewa. Tapi.. Tory, Dessy,,,waktuku sudah tidak banyak. Ku harap aku masih memiliki waktu untuk menjaga kalian, tapi... untuk mati sekarang akan menjadi lebih baik dari pada tetap hidup dan membuat kalian semakin tersiksa.”


“Guru.. a..aku minta maaf karena tidak bisa menyelamatkan guru.. dan juga... ak..aku minta maaf atas kelakuan ku selama ini. aku sering melawan perintah, senang melanggar, tidak patuh, dan.. pokoknya semua kesalahan ku”


“apa yang kau katakan Tory? Paman akan tetap bersama kita. Dia tidak akan mati!”


“Dessy.. aku tahu sudah terlambat untuk menghindari takdir, tapi tolong jangan kau cari buku itu. Aku masih berharap agar kau melupakannya seperti ini..”


“paman! Kau pasti berpura-pura, kan? Kau tidak benar-benar meracuni April! Tolong katakan padaku!”


“ka.. lian.. ber..janjilah untuk selalu ada untuk satu..ssama lain. Berjanjiah.. bahwa walau... jalan terasa.. sulit, kalian akan tetap.. bertahan dan menemukan kebahagiaan. Meski jalan yang akan kalian tempuh akan sangat berbahaya dan sulit, tetaplah tegar dan jaga harapan di hati kalian, bahwa semua ini akan segera berakhir.. “


Tuan Leo berhenti sejenak, ketika gelombang rasa sakit menjalar di tubuhnya. Air mataku kembali tumpah. Tidak sanggup melihatnya menahan sakit.


“mulai saat ini, kalian akan menemui banyak rasa sakit, orang-orang mungkin akan... membenci kalian.. dan kalian mungkin akan terusir, dan kalian akan melihat orang-orang yang kalian cintai pergi..Dessy..Putriku yang paling berani. Kau akan di tempa dengan penderitaan bertubi-tubi,,, jangan kau berkecil hati. Di tempat terjauh dan tergelap sekalipun, kau akan memiliki aku, ayah mu...”


“jangan bicara lagi. Setelah semua ini, kau akan selamat. Kita bertiga akan kembali seperti dulu lagi” Aku memeluk Tuan Leo, se-erat mungkin. Selagi kehangatan jiwanya masih melekat, selagi nafasnya masih menderu, dan jantungnya masih memompakan darah. Selagi mata itu masih menatapu dengan lembut. Selagi aku masih memiliki sosok panutan, sosok yang menjadi sandaran..


Sebelum semuanya berubah menjadi hitam


Tory mengusap air matanya. “guru.. kau adalah ayah terbaik kami.. kami tidak akan membiarkanmu mati dengan nama buruk di belakangmu. Suatu saat nanti, kami akan membersihkan namamu”


“putraku.. seperti biasa, aku menitipkan putriku yang cengeng ini padamu.. aku.. akan menunggu dan mengawasi kalian dari sana.. aku...sa..ngat mencin...*** kalian..” Tuan Leo mengangguk kecil. 


“Ayah, beri tahu kami harus berbuat apa.. kami mmbutuhkan mu untuk menuntun kami...” ujarku.


“haha.. akhirnya kalian memanggilku ayah. Anak-anakku... aku amat bersyukur karena bertemu kalian...


...Aku.. sangat mencintai kalian”


Setelah menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Tuan Leo berhenti bergerak. Tidak ada tarikan nafas yang ku rasakan. Semuanya mendadak sunyi.


Aku mendongak, demi menatap matanya. Namun, mata itu kini terpejam, dan takkan terbuka lagi. Aku meraung penuh derita. Aku berusaha  memompa jantungnya, nmun aku tahu upaya ku tidak akan berhasil. Karena Tuan Leo telah pergi,, menitipkan dunia yang gelap ini pada kami.


Saat itulah, aku merasakan tubuhku tidak kuat lagi. Aku ambruk. Tory juga jatuh bersamaku. Dengan sisa tenaga, aku mendekati Tuan Leo, dan menciumi tangan beliau. Dapat ku rasakan bahwa Tory juga melakukan hal yang sama. Lalu aku meletakkan kepalaku di dada beliau, dan memeluk tubuhnya yang perlahan berubah dingin..


sedingin es yang membekukan [].