The Winter Stories

The Winter Stories
Lady Winter #2



***


-EVE’s POV-


Aku memejamkan mataku ketika ledakan api putih itu menyambar.


Saat itu aku berharap, aku tidak memiliki kekuatan anti api ini. Aku... menyerah.


Karena rasanya akan jauh lebih baik untuk mati sekarang. Ketimbang harus tertatih-tatih untuk hidup yang belum pasti ini. Aku lelah di atur oleh sekelompok organisasi egois dan zalim seperti ini. Aku juga sudah capek dengan seluruh tanggung jawab menyebalkan ini.


Aku rindu pada orang-orang dari masa laluku, yang kini telah pergi dariku.


Dave. Seandainya mati bisa mempercepat pertemuanku dengannya sekarang, maka aku akan memilih jalan itu.


Api putih itu merambat melewati kulitku. Memberiku sensasi aneh yang menenangkan dalam tiap tarikan nafasku. Aroma ini... terasa sangat familiar.


Tepat sebelum pendar putih itu menghilang,, aku berhasil membuka mataku.


Dalam sepersekian detik, aku melihat penampakan wanita dengan gaun putih indah yang menyatu dengan putihnya salju. Laksana kristal. Sangat memikat. Namun mematikan.


Ketika pendar putih itu lenyap, alih-alih menghilang, sosok wanita tersebut semakin nyata di mataku. Perlahan, sosoknya berubah menjadi sosok yang aku kenal. Rambutnya yang berwarna perak kebiruan terulur hingga ke pinggang, kulitnya seputih salju, dengan postur tubuh langsing, dan tinggi rata-rata.  Gadis itu melangkahkan kakinya yang telanjang di atas salju.


Mungkin khayalanku, tapi sepertinya salju tersebut melindunginya seperti sepatu yang melapisi kulit kakinya. Ekspresi di mata gadis itu sebeku Es. Cara ia berjalan sangat tenang, tanpa sedikitpun keraguan dan takut dalam tiap langkahnya.


Aku kemudian melirik Lord Hyno, yang ternyata menderita luka bakar di kedua tangannya. Ia melemparkan tatapan kesal padaku, sbelum ia beralih pada sosok  di hadapan kami. 


“December De Winter. Ku fikir kau sudah lama mati” dari perkataan Lord Hyno, aku tahu, bahwa gadis yang ku lihat dan kini berdiri tegak di antara aku dan Lord Hyno adalah Dessy.


Dessy tidak menyahut. Tatapannya tetap sedingin Es, mengawasi gerak-gerik Lord Hyno yang kini berjalan mengitari kami.


“ku fikir kau akan tersesat untuk waktu yang lama sejak kematian gurumu. Seandainya tidak ada bocah pengganggu itu, aku pasti akan berhasil membisiki mu untuk datang padaku. Tapi tidak apa-apa. Berkat kau, aku bisa berpindah ke dalam hati saudara-saudaramu.”


“kau tidak punya hak untuk membicarakan Tuan Leo. Kau memperalatnya, membuat Dewan membunuh Tuan Leo lebih cepat, membisikkan rencana balas dendam padaku, lalu menyerang kami semua. Kau iblis”


Nadanya luar biasa tenang, dan saat ia berbicara, matanya menusuk tajam ke arah lawan bicaranya. Aku mulai dapat merasakan keraguan Lord Hyno. Matanya berkedut, meskipun ia berusaha menutupi kegugupannya itu.


“aku tidak peduli. Akan ku buat kau mengalami hal yang sama dengan rekan-rekan mu!!!” Lord Hyno meju untuk menyerangnya dnegan kecepatan luar bisa. 


Namun, sedetik sebelum pukulan Lord Hyno menyentuhnya, Dessy menghilang. 


Aku terperangah. Sejak kapan Dessy bisa berpindah secepat itu?


Ia tiba-tiba saja berdiri di belakang Lord Hyno, yang belum sembuh dari rasa kaget akan kemampuan Dessy. Ketika Lord membaalikkan badan, Dessy mengulurkan tangannya. Jari-jarinya menyentuh lembut bagian jantung Lord Hyno yang nampaknya berdetak semakin kencang.


Lalu kristal es mulai merambat keluar dari jemari Dessy, dan masuk ke jantung Lord Hyno. Mata Dessy menyorot tajam ketika ia melepaskan tangannya dari tubuh Lord Hyno, yang langsung jatuh menahan sakit.


Dessy menunduk dan berjongkok demi menyaksikan langsung ekspresi ngeri di wajah Lord Hyno yang kini sedang meronta kesakitan.


“kau lihat? Seluruh dataran ini adalah daerah kekuasaanku.”


“kau tetap tidak akan bisa membunuhku, tidak peduli seberapa kuat dirimu. Kau butuh kekuatan lain selain dirimu sendiri.”


“percayalah, aku hanya menggertakmu kali ini. Dan ngomong-ngomong, salju yang ku masukkan ke dalam jantungmu bukan salju biasa. Itu akan membuat mu merasakan sakit selamanya, meskipun tidak dapat membuat mu menuju kematian”


Dessy bangkit dari posisinya, dan berjalan menjauhi Lord Hyno yang kini berusaha bangun dari rasa sakitnya. Ketika Lord berhasil bangkit berdiri, ia menyerang Dessy dengan Api.


“Dessyy! Awass!” aku berusaha memperingatkannya, namun sudah terlambat bagi Dessy untuk menghindar. Api sudah menjalari kulitnya ketika ia hendak menoleh.


Namun ada yang aneh dengan api tersebut. Alih-alih membakar Dessy, Api itu seperti... menyerap ke dalam kulit Dessy. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Kenapa bisa begitu? Selama ini ketika simulasi pertempuran bersama, ia seringkali mendapat luka bakar karena terkena api ku.


Tapi kenapa sekarang api itu malah tidak melukainya?


Apa karena kemampuannya dalam pengendalian air dan Es yang menjadikannya kebal tehadap api? Ya.. mungkin saja. Ia kini sudah bertambah kuat sejak terakhir kali kami bertarung bersama. Syukurlah kalau  begitu.


“apa yang kau lakukan pada penguasa kegelapan, gadis muda?” teriak Lord Meus.


“ah.. aku tidak mengenal mu.. siapa dirimu?”


Bak terhipnotis, Lord Meus menjawab dengan patuh “aku Meus, Putra Lord Hyno, sekaligus panglima tertinggi pasukan Ayahku.”


Dessy tersenyum sinis “satu lagi tokoh yang tidak berguna..”


“apa tadi kau bilang?” tidak terima lantaran Dessy sama sekali tidak tertarik padanya, Meus melemparkan Api pada Dessy. Secepat itu juga, Es tercipta untuk melindungi Dessy dari serangan.


Dessy menatap kami semua, dan dapat ku lihat air mata yang turun di pipinya. “kau melukai orang-orangku. Kau akan membayar” dengan kata-kata itu, Dessy mengibaskan tangannya, dan Lord Meus berubah menjadi Es yang membeku.


“yah.. membekukan dia akan membuatnya sulit bangkit kembali, bukan?” tanyanya pada Lord Hyno yang sedang berjuang menahan sakit.


Lord Hyno menatap Dessy penuh benci. “Aku akan membiarkan mu pergi kali ini. seperti yang kau katakan tadi, aku membutuhkan unsur kekuatan lain untuk melenyapkanmu tanpa sisa, beserta seluruh pasukan mu. Sampai saat itu, tunggulah aku. Jadi.. pergilah..” ujar Dessy.


Lord Hyno menatap tidak percaya pada Dessy. Dengan susah payah Lord Hyno merangkak untuk mendekati putranya yang kini beku. “Putri Es. Kita akan bertemu lagi” ujarnya. Lalu denan satu sapuan tangan Lord Hyno, keduanya terbuyarkan. 


Pertama kalinya dalam hidupku aku menyaksikan Lord Hyno kabur dari pertempuran. 


Dessy cepat-cepat menghampiriku. Ia menanyakan keadaanku, lalu setelah memastikan bahwa aku tidak apa-apa, ia buru-buru menghampiri April dan Tory.


April nampaknya pingsan, sementara Tory perlahan menemukan kesadarannya. Dessy menangis, lalu memeluk tubuh adiknya, sambil bersyukur bahwa April tidak terluka berat, meskipun pakaiannya jadi compang-camping. Lalu, ekspresinya kembali membeku ketika menemukan tubuh Shida yang tertutupi jubah Tory. Tapi tidak ada sorot mata kebencian di matanya. Yang ada adalah sorot kekhawatiran dan kepedihan.


“kita harus membawanya menuju tenda medis. Aku bisa merasakan jantungnya masih berdetak, meskipun sangat lemah.” [].