
Tubuhku terasa mati.
Aku bahkan tidak bisa merasakan telapak kakiku. Rasa lelah dan tegang masih terasa di bahuku. Ku fikir tadi kak Eve akan bersikap lembut sedikit untukku. Tapi dia malah menyerang mati-matian.
Faktanya, aku masih hidup adalah sebuah keajaiban.
Bukannya aku mengada-ada. Tapi aku tadi memang hampir saja mati. Kaki dan tanganku penuh luka bakar. Terasa sakit sekali. Rasanya aku bukan berlatih perang, tapi menjadi korban dari kebakaran. Berkat ramuan yang di bawa kakak, aku masih mampu berdiri tegak. Meskipun agak terpincang-pincang.
Sedangkan tidak nampak wajah penyesalan di wajah kak Eve. Ia bahkan penuh dengan keceriaan yang tidak biasa. Membuatku semakin kesal.. Aku ini bukan penyihir jahat. Kenapa mau di bakar hidup-hidup? Sepetinya aku memunculkan ekspresi merenggut kesal yang sangat jelas, sehingga Kak Shida tertawa melihatku.
“Eve jadi senang karena ini berarti, pertahanan mu tergolong sangat baik, April. Tidak usah merenggut seperti itu” ujarnya sambil membantu memerban lukaku.
“ sangat baik apanya? 40% tubuhku terkena api. Aku bahkan sudah tidak sanggup berdiri tadi. Hampir saja aku menyerah pada tes tadi”
“kau harusnya bersyukur. Dulu aku mendapat luka yang lebih parah dari pada kau. Saat itu, setengah tubuhku terbakar api milik Eve. Itu artinya, kau memiliki kemampuan yang lebih baik dalam hal bertahan dari pada aku. Wah.. benar-benar produk unggulan Tuan Josh dan Nona Rheina. Berbangga hatilah.” Kak Shida mencoba menghibur.
“kau bohong. Lalu kenapa tidak ada bekas luka di kulit mu?”
“kita para putri punya kemampuan berregenerasi lebih cepat dari pada manusia biasa. Luka mu akan hilang dalam seminggu. Tapi karena ramuan Tuan Leo bisa jadi 3-4 hari.”
“jadi, apa aku harus beristirahat selama 3 hari ini?”
“kau bercanda? Tidak ada istilah istirahat bagi seorang putri. Kecuali kau baru saja pulang dari perang. Besok kau akan mulai berlatih bersama kakak mu, lalu lusanya dengan ku. Setelah itu akan di gilir. Kau akan berlatih dengan banyak orang berpengalaman”
“jadi, besok aku tidak akan libur?”
Di sampingku, kak Dessy mengelus lembut punggungku. “sayangnya, iya. Jika kau memang terlalu lelah, kau bisa langsung tidur setelah makan malam”.
“tidak. Kembalilah ke kamar sekarang. Aku yang akan mengantarkan makanan padamu” kak Eve menarik tanganku, dan membantuku berdiri. Ia lalu membawa ku menuju perapian.
“ka..a.a.. aku..mau kakak apakan? Kau tidak akan membawa ku melintasi api ini kan?”
“kau memang pintar. Iya. Aku akan membawa mu ke kamar dengan cara tercepat, yaitu berteleportasi. Tapi dengan media api. Ayolah, tidak akan sakit. Aku janji.”
Kak Eve mempererat genggaman tangannya di tanganku. Lalu ia menuntun ku memasuki perapian. Bersamanya, aku melangkahkan kakiku, membiarkannya menuntun kemana aku akan pergi.[].
***
-TORYs POV-
Tak terasa, waktu telah menunjukkan 3 tahun semenjak kami meninggalkan perpustakaan kota. Masing-masing dari kami kini telah mendapatkan kesibukan masing-masing.
Eve dan Shida masih sering di tugaskan bersama. Mereka memimpin pasukan Kohort I dan II. Lalu aku, Dessy dan April di tugaskan bersama Kohort III dan IV. Meski begitu, terkadang para putri saling bertukar tugas. Kadang Eve dan April, sedangkan Dessy bersama Shida. Pokoknya mereka sebisa mungkin membiasakan diri mereka untuk saling bekerja sama.
Markas utama terdiri lebih dari 230 Kohort. Masing-masing terdiri atas 200 hingga 300 orang pasukan. Khusus pasukan kelompok I-IV, bersisi pasukan paling telaten dan handal. Dewan segera membagi konsentrasi serangan para Putri dengan membagi mereka ke dalam tim agar penyerangan dapat di lakukan ke banyak tempat. Gunanya untuk membebaskan kawasan yang telah di rebut oleh pasukan kegelapan.
Dan tetap saja, orang yang paling mendapatkan perkembangan terbanyak adalah Dessy. Kemampuan pengendalian Esnya sudah secepat pengendalian petir miik Shida. Tidak kalah dengan kakaknya, April kini sudah setingkat dengan para pendahulunya.
Dalam duel melawan panglima, April selalu menang tanpa menggunakan kekuatan anginnya. Bagaimana? Aku mengajarinya dengan baik, bukan? Tidak hanya kemampuannya, tapi fisiknya juga berubah. Tingginya tumbuh lebih tinggi dengan cepat. Ia jadi semakin mirip kakaknya yang kedua yaitu Hilla, tapi lebih gemuk. Hilla secara kasat mata adalah sosok wanita anggun dan cantik yang dapat membuat hati para lelaki jadi meleleh. Aslinya, sikapnya hampir sama menjengkelkan dengan Shida. Ya memang sih, menurut orang banyak, Hilla lebih cantik dari pada Dessy. Tapi di mataku, tetap Dessy adalah yang tercantik.
Maaf, lagi-lagi aku subyektif.
Love is Blind. Everyone know it.
Di tahun pertama, Tuan Leo ternyata benar-benar menepati janji. Ia selalu berkunjung sebulan dua kali untuk sekedar melepas rindu. Meskipun hanya untuk 2-3 hari menginap, tapi bagi kami sudah cukup. Jika sedang tidak ada perang, dan Tuan Leo datang menemui kami, kami akan menyusup keluar untuk berkemah dekat danau di samping markas utama.
Perang demi perang berlangsung. Kemenangan dan kekalahan datang silih berganti. Tetapi setidaknya, jumlah korban yang jatuh akibat perang perlahan berkurang desngan bergabungnya April dan Dessy ke dalam satuan pasukan.
“bagus. Pertahanan mu sudah semakin baik. Kau yang paling banyak mengalami perkembangan, April. Aku sungguh kagum. Tidak ku sangka kau akan menguasai semuanya dalam dua tahun. Putri Spring memang berbeda.”
Entah sejak kapan, aku mulai mengagumi si bocah menyebalkan ini.
“aku tidak mendapatkan semua ini dengan Cuma-Cuma. Tapi berkat ajaran dari orang-orang yang telah mengajariku, termasuk Pangeran Tory sendiri”
April tersenyum dan mengakui bahwa memang akhir-akhir ini ia sudah meningkatkan kualitas kekuatannya. Waduh, baru ku sadari, sepertinya dia juga tidak pernah menanggapi guyonan nakal dan aneh ku untuknya. Dia kini telah tumbuh lebih dewasa, bersamaan dengan tumbuhnya kekuatan dan fisiknya.
Namun meskipun punya kekuatan super dan menjadi sangat kuat dan mematikan, April sangat mudah jatuh sakit karena tubuhnya tidak sanggup menahan lelah. Setelah perang berlangsung, ia bahkan akan membutuhkan waktu selama 3 hari untuk memulihkan diri seperti semula.
Benar-benar tipikal seorang Putri.
Seorang putri tidak boleh mengeluh tentang perang. Bahkan jika mereka bisa, mereka tidak akan sanggup. Sudah menjadi bawaan sifat bagi seorang putri untuk bertarung di garis depan dan melindungi orang-orang. Bahkan untuk ukuran Putri dengan sifat ceplas-ceplos dan sulit bertanggung jawab seperti Shida sekalipun.[]
***
Aku meletakkan handuk dengan sembarangan di tempat tidur. Sambil mengenakan baju kaos biasa ku, aku melangkah keluar dari kamarku. Para tentara berlalu lalang melewati kamarku dengan hati-hati. Banyak dari mereka masih belum sempat melepas baju zirah mereka yang mereka gunakan saat perang pada hari kemarin. Salah satu pertarungan terpendek dan termudah, karena kami bisa kembali sehari setelahnya.
April melewatiku, sudah nampak setengah sadar. Yah.. wajar saja. Di pertempuran terakhir pada kemarin malam, bocah itu bahkan hanya menyisakan kurang dari seperempat dari pasukan kegelapan untuk kami lawan. Sepertinya, gagasan perang sangat membuatnya girang sampai-sampai ia menggunakan banyak kekuatan untuk pertempuran kecil.
Dia sudah dewasa, tapi nafsu membunuhnya juga semakin berkembang.
“kau lihat kakakmu, tidak?” tanyaku sambil menghadang jalannya.
“minggir. Aku sangat mengantuk. Aku tadi belum sempat istirahat gara-gara masalah angin ribut yang melanda kota terdekat semalam. Jika kau mencari kakakku, bukannya kau adalah orang yang paling tahu dimana kakakku? Sekarang menyingkir atau aku terpaksa menyingkirkan mu”
Oke, aku mulai takut.
Jadi, ku putuskan untuk menyingkir dari jalan si bocah haus darah, dan mencari jalan menuju Dessy. Begitu jarakku sudah sedikit jauh dari bocah pengering itu, aku menatap ke arah luar. Dan untungnya, langit sepertinya sedikit mendung di Utara meski tidak segelap ketika hujan akan turun.
Tandanya, Dessy sedang galau dan banyak pikiran. Dan ia berada di slah satu tempat nongkrong ilegal kami.
Saat ini, mungkin satu-satunya alasan Dessy menjadi seperti ini adalah karena Tuan Leo yang belum juga muncul, atau kabar tentang alasan ketidak hadiran si pria tua itu. Sudah berbulan-bulan, dan bahkan firasatku yang payah ini tahu, ada sesuatu yang tidak beres.
Kami berdua sangat ingin menyusul, akan tetapi markas utama selalu melarang dengan dalih, berbahaya di luaran sana.
Ewh. Memang kami ini siapa? Anak kecil?
Singkat kata, aku menuju gerbang utara, yaitu gerbang yang biasa di kenakan Tuan Leo untuk masuk ke markas. Pada pintu gerbang setinggi 7 meter tersebut, duduk seorang gadis yang berbalut baju zirah yang masih sangat bersih dan mengilap. Serius deh, gadis itu nampak sangat ‘mengkilap dalam balutan baju zirah tersebut. Meskipun ia baru saja pulang dari dalam medan perang.
Aku dengan cekatan memanjati pohon terdekat untuk memanjati tembok agar bisa sampai di puncak. Saat pertama kali melakukannya, ku akui memang cukup sulit untuk memanjat tanpa suara untuk mengagetkan Dessy. Tapi, ketika kau sudah sering melakukannya. Kau akan menjadi ahli. Aku bahkan bisa mencapai puncak tembok dalam hitungan beberapa detik. Serius, deh.
“harus ku akui kau memang termasuk cewek yang paling perkasa yang ku temui. Adikmu bahkan sudah tidak sanggup berdiri lagi. Kau.. yakin tidak mau istirahat dulu?”
“wajar kalau April kelelahan. Anak itu terlalu memaksakan diri. Belum lagi tadi malam ia terpaksa mengurus angin ribut di kota Zoro”
“tapi tetap saja, kau kelelahan. Di tambah lagi kau belum tidur semalaman karena menunggui Tuan Leo”
Dessy menatapku lama sekali. Dia memang terlihat masih sangat bersih, tanpa sedikitpun luka, bahkan debu yang menempel di kulit putihnya. Tubuhnya terlihat masih sangat prima, tapi matanya cukup layu.
“kau butuh tidur. Istirahat saja untuk sementara waktu ini”
“tidak. Aku mau menunggu paman Leo. Aku merasakan sesuatu yang aneh”
“Dessy, tolong jangan kau katakan bahwa penyebab ‘perasaan aneh mu itu adalah kau ingin buang air besar.”
“Tory, aku serius. Apa kau tidak merasakan apa-apa?”
“tentu saja aku merasakannya! Tapi aku juga merasakan bahwa kau butuh istirahat. Lagi pula, jika terjadi sesuatu, ia pasti mengabarkan ini pada kita. Bukannya diam-diam kau meninggalkan patung Es-mu di perpustakaan kota?”
“tentu saja. Tapi... patung itu tidak begitu berguna. Aku tidak dapat melihat dengan jelas keadaan perpustakaan kota. Jelas sekali ada sesuatu yang terjadi pada paman Leo. Lagipula, kondisiku masih sehat-sehat saja, kok”
“kau mengantuk karena tidak tidur selama hampir 2 hari ini. sudah, jangan membantah, akan ku biarkan kau tidur untuk beberapa jam, jika ada sesuatu, aku pasti membangunkanmu.”
“kalau begitu, aku akan tidur di sini saja. Bisa, kan?”
“apa apaan ini.. kau ingin tidur dengan ku?” tanyaku bercanda.
Dahi Dessy sedikit berkerut. Ia menatapku bingung, lalu berucap“bukannya biasanya memang seperti itu? Aku sampai lupa kapan aku tidak tidur bersamamu” setelah ia mengucapkannya, matanya berbinar jail.
Ouch. Serangan balik yang menggoda dari seorang Dessy. Sebaiknya aku berhenti sebelum leluconnya berubah jadi lebih.. ya kau tahulah..
“dasar gadis aneh. Ya sudah sini, tidurlah di pangkuanku”[]