
-TORY’S POV-
Kukira, dengan perginya Lord Hyno, keadaan akan semakin membaik. Tapi, bukannya semakin terkendali, keadaan makin tidak karuan. Entah apa yang terjadi di hutan tengah, pokoknya, tiba-tiba terlihat petir mengerikan yang menyelimuti langit.
Datang tidak untuk berperang apanya?
Setelahnya, musuh datang menyerbu ke taman belakang dengan membabi buta. Padahal Eve dan Dessy baru saja membopongku untuk mengungsikan ku karena kaki ku yang semakin banyak mengeluarkan darah.
Dessy segera membekukan musuh yang berjarak terdekat dari kami. Namun rupanya, musuh dari hutan di belakang taman masih belum habis.
“kenapa yang lolos banyak sekali?” gerutu Dessy sambil terengah-engah. Ia mencoba membekukan beberapa pasukan musuh, namun, sepetinya kecepatan Es milik Dessy semakin lambat.
“kau tidak bisa terus membekukan musuh, kekuatanmu masih belum pulih sejak kemarin.”
“aku masih bisa menggunakannya sedikit-sedikit.”
“aku mengerti kondisimu. Aku juga begitu. Dari pada kau kelelahan berlebihan, dan menjadi tidak mampu bertarung langsung, lebih baik jika kau menyimpan sedikit energi yang tersisa untuk kau gunakan bertarung jarak dekat ketimbang menghabiskannya dan membuatmu tidak mampu bertahan lama”
“lalu bagaimana dengan Tory? Dia sudah kehilangan banyak darah. Jika aku membekukan mereka, akan memberi cukup waktu untuk mengungsikannya ke dalam.”
“hei ratu es. Kau meremehkan ku? Meski kehilangan banyak darah, aku masih bisa bertahan. Memangnya aku ini apa? Rakyat jelata? sampai harus diungsikan?”
Aku mencabuti rumput di bawah kakiku, lalu ku usapkan ke sumber lukaku. Dulu, tiap kali mendapat luka besar setelah berlatih, Tuan Leo selalu menyuruhku menggunakan rumput untuk mengusap luka menganga di kulitku dan menghentikan pendarahan sementara.
“dengan begini, akan mencegah pendarahan ku. Ayo, kita habisi para bedebah ini”
Dessy menatapku takjub. “sejak kapan kau bisa melakukannya? Dan kenapaa—“
“ tidak usah berfikir yang tidak tidak. Guru yang mengajariku” ujarku.
“kenapa hanya kau yang di ajarkan ilmu seperti tu? Padahal aku mungkin lebih butuh..”
“tanyakan sendiri pada guru. Ngomong-ngomong, kita jadi bertarung atau tidak sih? Kenapa malah berdebat panjang lebar begini?”
“yang tadi berdebat panjang lebar itu kalian, bukan aku” ujar Eve dengan wajah tanpa ekspresi.
Berbeda dengan Dessy yang terkejut setengah mati, dan iri setengah mati juga, Eve nampak biasa-biasa saja. Seharusnya aku memperatikan kenapa Eve tidak nampak terkejut dengan kemampuan ku saat itu.
Meski terihat sedikit ragu, kami kembali menerjang musuh dengan tebasan pedang kami. Sesekali Eve menggunakan kekuatannya dengan cara menggumpalkan api miliknya sehingga menjadi ledakan bom besar. Kmai bertarung seperti orang ke setanan. Apalagi aku. Bukannya menyombng sih,.. tapi setelah menggunakan tanaman untuk luka ku, aku merasa lebih bugar.
Akhirnya, kami berhasil memukul mundur musuh kembali menuju hutan. Tanpa menghiraukan rasa nyut nyutan di kakiku, aku berlari mengejar pasukan kegelapan yang berusaha melarikan diri.
Dan betapa kagetnya kami ketika mengetahui apa yang terjadi di hutan tadi.
Shida sepertinya telah berhasil menutup portal, akan tetapi, karena kurang berkonsenterasi, Shida sempat membuka celah portal semakin besar tepat sebelum ia menutup portal tersebut. Kesalahan yang fatal, tapi menurutku lucu, seandainya kita sedang dalam situasi yang berbeda.
Pertarungan di area taman tengah juga masih berlangsung sengit. Namun, ada yang aneh dengan formasi mereka. Aku sedari tadi mencari sosok dua panglima yang lain, akan tetapi tidak mendapati mereka.
“April?” Dessy memicingkan mata. Tadi dia memanggil April? Heh? Apa aku tidak salah dengar? Aku mencari-cari sosok yang sedang di tatap Dessy, dan benar saja. Ada April di sini.
“April? Itu benar-benar April?” tanyaku kaget.
Dessy segera menghampiri sosok gadis kecil di sebelah Shida yang sedang menyudutkan pasukan musuh bersama.
“hei.. apa itu benar-benar April?” tanyaku pada Eve.
Melihat reaksi Eve yang hanya diam, akupun tahu. Bahwa April telah menjadi seorang putri pelindung. Baru saja aku hendak menyusul Dessy yang kini telah memasuki area pertempuran, Eve menahanku untuk tetap tinggal, dan menunggu di taman belakang.
“kita tidak bisa mengambil resiko. Jika kita terfokus bertarung di sini, siapa yang tahu bahwa Lord Hyno tidak akan membuka portal baru langsung kesana?” ujarnya sambil menunjuk taman belakang. “.. Lebih baik kita menunggu sambil berjaga-jaga.”
Sebenarnya, aku masih tidak peduli. Di fikiranku, aku hanya ingin ikut bergabung bersama Dessy untuk melihat April. Tapi... seakan-akan tahu dengan jawaban ku, Eve segera mengirimkan tatapan apinya untuk mengancamku jika saja aku berani kabur dan bergabung ke hutan .
“aku sebenarnya sudah tahu bahwa April mendapatkan kekuatan. Tepat sebelum dia pingsan, dia... menggunakan angin untuk melindungi kami dari hujan panah”
“...jadi kau sudah tahu?”
“untuk apa merahasiakan kekuatan April?” tanyaku sinis. Memangnya apa yang harus di sembunyikan? Cepat atau lambat pasti akan kketahuan juga, kan? Terkadang sulit menerima logika perempuan.
Eve masih nampak santai, tapi aku tau dia sungguh-sungguh khawatir dari gerak geriknya yang gelisah dan pandangan matanya yang terus menyorot pertarungan di hutan belakang. “aku tidak tahu. Yang ku tahu aku punya firasat buruk dengan hal ini.”[]
***
Berdasarkan kesepakatan dan hasil rapat darurat dewan kemarin malam, April akhirnya terpaksa di ikutkan bersama para Putri lain untuk di bawa ke markas. Akibat ancaman dari Lord Hyno bahwa ia akan segera kembali, perpustakaan terpaksa di tutup untuk umum. Namun Tuan Leo tetap tinggal bersama para pelayannya untuk menjaga perpustakaan setelah ia menolak tawaran untuk menjadi guru berlatih untuk April.
Tepat sebelum keberangkatan kami menuju markas, Tuan Leo mengajakku dan Dessy untuk berkeliling di sekitaran perpustakaan pribadi Tuan Leo. Akmi membicarakan banyak hal, mulai nostalgia masa kecil kami, saat-saat kami berlatih...
Akhirnya kami tiba juga di pekarangan depan. Di depan perpustakaan, telah rapi berjejer kereta-kereta, siap untuk berangkat. Semua orang sepertinya sudah naik. Tinggal aku dan Dessy yang tersisa.
“apa kau sudah memastikan tidak ada lagi barang yang tertinggal?” tanyanya padaku.
“tentu saja tidak ada. Kau fikir aku masih bocah?”
“pastikan untuk menjaga Dessy, Tory. Berhentilah bersikap sok kekanakan”
“iya. Aku tahu.”
“Paman Leo, apa paman betul-betul tidak ingin ikut bersama kami? di sini tidak ada siapa-siapa. Selain pelayan maksudku. Aku takut kau akan kesepian” ujar Dessy sambil menggenggam tangan Guru.
“kesepian bagaimana maksudmu?”
“paman, ayoolaahhh.. ikut saja bersama kami” Dessy tetap bersikeras.
“tidak, sayangku. Aku punya tugas penting di sini. Ada sesuatu yang harus ku jaga”
Dessy mengerucutkan bibir sambil menatap memelas pada Tuan Leo. Biasanya, jika Dessy sudah bersikap imut seperti itu, Tuan Leo tidak akan sanggup berkata ‘tidak lantaran tidak tega membuat Dessy sedih.
“hei kalian bertigaaa! Masih ada kesampatan lagi untuk berkunjung. Saat ini bukan perpisahan kalian yang terpenting. Sekarang kita harus sampai ke markas dalam waktu 2 hari, jadi harus berangkat secepatnya. Ayo, perjalanan ke markas utama memakan waktu sangat lamaaaa” Shida berteriak dari atas keretanya.
“baiklah. Kalian sudah di tunggu-tunggu. Kembalilah ke kereta. Aku berjanji akan sering berkunjung ke markas mulai sekarang” Tuan Leo mendorong kami menuju kereta secara paksa.
“tunggu dulu. Apa guru benar-benar akan menepati janji? Gurukan, paling tidak suka dengan markas. Mana mungkin kau akan sering mengunjungi kami” ujarku.
“iya. Paman juga sangat malas keluar dari rumah. Tidak mungkin akan repot-repot mau mengunjungi markas yang waktu tempuh tercepatnya saja bisa sampai 2 hari” Dessy meraih tangan ku untuk membantunya naik ke kereta kami.
Kereta yang kami naiki adalah kereta terakhir. Dan hanya ada dua orang penjaga selain kami di atas kereta ini. Baik aku maupun Dessy duduk di ujung dekat jendela.
“mungkin kalian akan menganggap perkataan ku ini berlebihan dan lucu. Tapi dengarkan saja aku. Bagiku, kalian berdua adalah orang terpenting dalam hidupku. Kalian sudah seperti... anakku sendiri. Aku membesarkan kalian di sini, sambil mengajari kalian pertahanan militer. Aku telah merawat kalian sejak kalian masih sangat kecil. Jujur saja, aku masih belum terima kalian berdua akan pergi secepat ini. Kalian ternyata telah berkembang jauh lebih baik dari yang ku duga. Jadi, sudah saatnya untuk kalian meng-aplikasikan pelajaran yang telah kalian dapatkan dariku. Kalian berdua jadilah pelindung yang baik. Jangan pernah menyerah, jangan berpisah. Tory, sekali lagi ku katakan, tolong jaga Dessy. Dan Dessy...”
Tuan Leo menyentuh pipi Dessy dengan lembut bagaikan seorang ayah. Dessy tak lagi kuat untuk membendung air matanya. Hingga akhirnya tangisnya pecah.
“kau masih saja cengeng. Kau ini sudah dewasa. Kau adalah putri, jangan mengumbar tangis di depan umum seperti ini” Tuan Leo menghapus tiap tetasan air mata yang mengalir di pipi Dessy. Dessy segera memeluk Tuan Leo.
“jaga kesehatan Paman baik-baik. Sering-seringlah keluar untuk bersosialisasi dengan masyrakat. Jika kau sedang kesepian, kau boleh kapanpun mengunjungi kami di markas”
“ingatlah Dessy. Aku hanya minta satu permintaan padamu. Aku tidak akan memintamu untuk menjaga Tory, atau menjaga adikmu atau para putri lain, bahkan dewan dan pasukan kita. Tetapi, satu hal saja, yaitu... jaga kebahagiaan mu. Berjanjilah padaku bahwa kau akan selalu bahagia, mengerti?”
Tuan Leo melepas pelukan Dessy, lalu memberikan tanda pada pemimpin rombongan di kereta kuda terdepan untuk segera berangkat. Begitu kereta mulai bergerak, Dessy berusaha untuk tetap menggenggam tangan Tuan Leo, namun tidak berhasil.
Meski berat, Tuan Leo tetap tersenyum sambil melambaikan tangan.
Dessy kembali menangis. Kali ini, aku yang di jadikan pelampiasannya. Ia menyuruh penjaga yang duduk di sebelahku untuk pindah ke tempatnya. Lalu ia menciptakan es pembatas antara kami dan mereka, agar para penjaga tidak melihatnya menangis. Setelahnya, ia menangis di pelukanku. Yang membuat ku prihatin adalah, ia bahkan tidak bersuara, takut akan terdengar oleh para penjaga. Dasar tukang jaga image.
“aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Aku tahu bahwa dia pasti akan mengunjungi kita, dan kita akan sering bertemu. Tapi... kenapa ada secercah keyakinan waktu kita bersama beliau tidak lama lagi? Aku takut.. takut kehilangan Tuan Leo. Bagaimana ini? Bagaimana jika saat kita semua di markas, Lord Hyno kembali ke perpustakaan, dan membunuh Paman?”
“itu hanya prasangka buruk. Sudahlah... berhenti menangis. Aku jadi heran lho. Kau tidak sesedih ini saat berpisah dengan ayah mu dulu. Juga dengan saudara-saudaramu dan ibumu tadi. Tapi kenapa kau sampai menangis meraung-raung untuk Tuan Leo?”
“karena bagiku dia adalah orang yang menyelamatkanku dari kesepian untuk pertama kalinya. Dia lebih dari sekedar guru. Dia adalah pembimbing, juga pengganti sosok orangtua dan saudara yang tidak pernah ada untukku sejak dulu.”[]