
Dalam perjalanan menuju kamarku, aku terus memikirkan perkataan Shida sebelum aku meninggalkannya di taman belakang. “aku dan Eve biasa memimpikan sebuah buku tua. Apa... Dessy pernah mengalami serupa? Bagaimanapun, buku itu sangat aneh bagi kami, karena buku tersebut seolah memanggil-manggil kami.”
“.. aku tidak tahu. December tidak pernah menceritakannya padaku. Memangnya buku itu terlihat seperti apa?”
“ya terlihat seperti bukulah..”
“maksudku bagaimana warnanya, apakah tebal dan memiliki gambar mungkin?”
“ku beri tahu kau. Buku itu lumayan tebal, dengan gambar bunga yang tumbuh di atas batu. Soal warnanya, aku kurang tahu karena.. itukan di dalam mimpi. Memangnya siapa yang peduli dengan warna ketika kita berada dalam alam mimpi? Aku sulit mengingatnya”
Sebuah buku, ya? Aneh.. kenapa sebuah buku bisa memanggil-manggil? Memangnya buku itu hidup? Apa Dessy juga pernah mengalami hal semacam ini dan memilih untuk tidak memberitahuku? Tanpa sadar, aku sudah sampai di kamarku. Begitu masuk, aku segera merebahkan diri di atas kasur.
“dari mana saja?” tanya sebuah suara.
Aku berjengit menyadari ada seseorang yang duduk di sofa dekat jendela kamarku sambil bergaya-gaya keren ala superhero.
“ayah? apa yang ayah lakukan di kamar ku?”
“apa salah jika seorang ayah mengunjungi kamar anaknya?”
Aku mendengus. “jika yang mengatakan hal itu seorang ayah dan anak yang dekat, mungkin iya. Ada apa ayah? Apa ini tentang Dessy?”
“kau ini masih suka sekali bereaksi berlebihan. Sepertinya kau belum tumbuh sedewasa Dessy. Kau lebih cocok di sandingkan bersama adiknya, April”
“aku bersikap seperti ini agar Dessy tidak sepenuhnya menjadi orang serius seperti Ayah”
“... bisa ku lihat seberapa besar kau menyukai anak itu.”
“ayah, saat ini aku dan Dessy hanya dua orang sahabat biasa. Jadi tolong berhenti mempermalukanku seperti tadi.” Mendengar ucapanku, ayah ku tertawa. Ketika ia menertawakan ku seperti itu, amarahku semakin menjadi-jadi. Amarah berahun-tahun semakin membuncah. “apa menurut ayah ini semua lucu?” aku menatapnya marah.
“hahahhahaha.. aku tidak menyangka hidup kita semua begitu lucu. Hidup adalah sebuah lelucon besar”
Seketika itu, hentakan emosi menguasaiku. Aku marah pada ayahku. Ia mengasingkanku, dan bahkan bersikap seolah aku ini anak yang tidak di inginkan. “apanya yang lucu? Apa hidup seperti ini yang ayah impikan?” Bagaimana mungkin dia bisa tertawa begitu mudah seolah-olah tidak ada yang terjadi di antara kami?
“aku tertawa karena takdir kita ini memang benar-benar lucu, nak.. satu hal yang ku ketahui, waktu terdiri dari serangkaian pola yang pada akhirnya akan berulang. Tidak peduli siapa dan kapanpun itu, rangkaian takdir yang sama senantiasa menghampiri siapa saja. Tidak peduli bagaimana caranya, takdir kita akan selalu berulang.. kita-kau dan aku- . terjangkit pola yang sama”
“ kau salah. Bagaimana takdir dan hidup seseorang berlangsung, bergantung pada keputusan yang di ambil orang itu”
“maka, aku berharap kau bisa mengambil pilihan lain yang berbeda dengan ayah. Kau tahu, gadis itu sangat mirip dengan ibumu. Dia -ibumu- adalah pribadi yang sabar, lembut, namun tetap tegas. Dia adalah teman bermainku sejak kecil. Dia selalu sendirian, karena orang tuanya yang menghilang sejak ia masih kecil. Maka dari itu, aku mengasihaninya, dan selalu menemaninya. Sampai akhirnya, entah sejak kapan aku menyadari aku menyukainya.”
Tatapan ayah jatuh pada keindahan bulan di langit. Dan ku tahu tatapan itu adalah duka. Aku telah melihat hal yang sama dimata Shida dan Dessy.
“Aku tidak berani mengakui perasaanku, dan akhirnya, aku tidak pernah menyatakan aku mencintainya langsung. Ketika kami menikah, bahkan bukan aku yang melamarnya, tapi kakakku yang melamarkannya untukku. Aku sampai sekarang masih heran. Mengapa ibumu menerima lamaran tersebut? 2 tahun setelah pernikahan kami, akhirnya lahir kakak-kakakmu. Ya, ibumu melahirkan anak kembar, yang di beri nama Kevin dan Sahira. Lalu lima tahun kemudian, kakakmu yang ketiga, Rio terlahir. Saat Rio lahir, aku telah di angkat menjadi ketua dewan. Aku tidak ada di saat proses persalinan Rio. Tapi ibumu sangat sabar, dia tidak marah. Kami kemudian melanjutkan hidup kami seperti biasa, begitu terus selama hampir 12 tahun.”
“wow. Ayah memang sejak dulu bukan ‘idaman siapa-siapa, ya? Aku sekarang mengerti kenapa kau tidak bisa berperan menjadi ayah yang baik”
Ayah tidak menggubris pernyataan menyindirku yang barusan. Ia tetap fokus untuk menceritakan kisah hidupnya. “Suatu malam, Ibumu di culik oleh pasukan kegelapan. Ia di sandera untuk di jadikan alat pertukaran antara ibumu dengan kota Aletta. Tentu saja ini adalah pilihan yang sangat berat. Aku sangat ingin mendapatkan ibumu kembali, tapi nyawa orang banyak sedang di pertaruhkan. Sebuah pilihan yang sangat berat. Aku harus memilih salah satu antara ibumu atau kota itu.”
Aku tercekat.. begitu terkejut dengan fakta baru ini. “lalu... apa yang ayah pilih? apakah ayah memilih ibu?” tanyaku.
“....aku... terpaksa memilih kota Aletta”
Tanpa pikir panjang, aku segera menerjang dan meraih kerah baju ayah. “BRENGSEK! Kenapa ayah melakukan itu? Mengapa ayah tega menelantarkan ibu? Apakah ayah bahkan pantas di sebut seorang suami? Ayah bilang ayah tidak pernah meninggalkannya, tapi-------------“
aku tidak menyahut, maupun mengangguk. Aku hanya diam terpaku.
“ibu mu adalah salah seorang dari kerajaan alam. Ia bilang, ia mampu bertahan dan menyembuhkan dirinya sendiri, juga melindungi putra yang sedang di kandungnya”
pu..putra?
Wow. Ini semua adalah jenis pengetahuan baru, dan aku cukup yakin aku tidak akan siap mendengar cerita lainnya. Ibuku telah diculik oleh pasukan kegelapan. Dan masih belum cukup segala kengerian itu, ia juga sedang mengandung. Bagaimana anak yang dikandungnya?
Butuh beberapa datik bagiku untuk mulai berbicara.“ jadi, saat ibu di culik, ibu sedang mengandung?”
“ ya. Saat itu dia sedang... mengandung mu. Saat itu usiamu masih 5 bulan.”
Aku?
Jokes receh macam apa ini?
“aku? jangan bercanda. Bagaimana bisa? Jika benar aku yang sedang di kandung oleh ibu, kenapa aku masih hidup?”
“kami berusaha sekuat tenaga bertempur hingga menyusup ke dalam benteng tempat ibumu di culik. Bahkan kakak-kakak mu, Kevin dan Sahira ikut membantu dalam penyerbuan, namun mereka tidak cukup kuat, dan akhirnya tewas. Lalu akhirnya, setelah 6 tahun, 2 putri baru hadir, yaitu Shida dan Eve. Keduanya berhasil menggempur benteng pertahanan Lord Hyno. Mereka menyelamatkanmu dan ibumu, dan membawanya padaku. Tapi saat itu, ibumu sudah sangat kritis, begitu pula dengan mu. Demi melihat mu tumbuh normal, ibumu menghapus semua ingatan mu tentang benteng kegelapan, dan menyembuhkan luka-luka mu, dengan sisa kekuatan terakhirnya. Hanya sedikit yang menyaksikan ini. Saat itu, hanya ada aku, Rio dan 2 putri yang telah meyelamatkanmu. Di saat terakhirnya, aku menggenggam tangannya. Ku fikir, sudah terlambat untuk menyatakan padanya bahwa aku mencintainya” ayahku mendesah pelan ketika air matanya mulai bercucuran.
“... Tapi, ibumu meletakkan tangannya di pipiku. Ia berpesan padaku agar jangan terlalu bersedih atas kematiannya, dan merawatmu dengan baik. Aku saat itu hanya dapat menangis.. ku rasa, rasonalitas terenggut dariku. Yang aku lakukan adalah menciumi tangannya terus-menerus, sambil bermohon padanya untuk tidak meninggalkan aku, dan... akhirnya aku menyatakannya. Perkataan yang tidak sempat ku ucapkan selama 25 tahun pernikahan kami. Aku berhasil menyatakan bahwa aku mencintainya. Ibumu hanya tersenyum, bahkan di saat terakhirnya, ibumu masih sempat bercanda dengan cara mengejekku. Ibumu adalah sosok yang sangat luar biasa. Bagiku, dia adalah hidup dan matiku. Ketika ia meninggal, aku bahkan hampir membunuh diriku, namun Eve menghentikan ku dengan cara membakar pisau di lengan ku. Saat tanganku tebakar, rasa sakit di tanganku juga sakit atas kehilangan ibumu bercampur aduk. Tak lama setelahnya, aku pingsan, tak sadarkan diri. Sedangkan kakak mu Rio, setelah pemakaman ibumu ia memutuskan untuk pergi bertempur. Setelahnya ia tidak pernah lagi kembali padaku. Beberapa rekannya yang selamat melihatnya terkena sabetan pedang....entahlah.. tubuhnya tidak pernah ditemukan. Pada akhirnya kaulah satu-satunya keluargaku yang tersisa”
Hening.
Baru beberapa menit yang lalu aku sudah siap memukul pria tua di hadapanku ini, namun sekarang, ketika mendengar cerita tentang ibuku, cerita yang tidak pernah di beritakan kepadaku..
Benakku tercampur aduk. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap fakta baru yang sangat mengejutkan ini. Jujur saja, aku merasa seolah-olah tidak mengenal diriku lagi. Ibuku meninggal demi menyelamatkanku...
Dalam keheningan, aku dapat mendengar isak pelan ayahku. Tangannya mencengkeram pinggiran jendela kuat-kuat, menggambarkan betapa ia masih merasa kehilangan atas ibuku hingga tak mampu berdiri tegak.
Aku merasakan tubuhku begitu ringan, dan kepalaku begitu sakit dan yang paling membuatku terluka adalah fakta tentang betapa beratnya hidup ayahku. Ia kehilangan ibuku, lalu menyaksikan anak-anaknya mati.. dan di atas semua itu, ia harus berdiri tegar sebagai pemimpin. Dan aku tidak melakukan apapun untuk membantunya. Selama ini ku fikir beliau tidak pernah peduli padaku karena tugas-tugasnya...
“...kenapa baru sekarang ayah menceritakan hal ini padaku? Selama 16 tahun, ayah menyembunyikan hal ini”
“maafkan aku. Tapi aku tidak sanggup, nak. Sampai sekarang pun, aku masih sangat mencintainya. Aku belum bisa menerima fakta bahwa ia telah tiada. Aku menyalahkan diriku, tetapi percuma. Karena apapun yang ku lakukan, tidak akan membawanya kembali. Aku menceritakan hal ini agar kau tidak jatuh pada keputusan yang sama dengan ku. Semua ini menimpaku begitu aku menjabat sebagai Ketua Dewan. Begitu menyentuh peperangan, tidak ada jalan kembali. Lord Hyno akan menghabisi semua yang menghalaginya. Jatuh cinta adalah sesuatu yang wajar, nak. Tapi, jika kau mau, aku bisa membuatnya tinggal disini, apapun caranya, demi melihat mu bahagia.”
“apa maksud ayah?”
“demi dirimu nak. Aku bisa mengatur agar Dessy dan dirimu terhindar dari perang. Kau satu-satunya putraku yang masih hidup. Sahira, Kevin dan Rio.. ketiganya tewas di pertempuran. Aku bersedia mengorbakan segalanya demi kebahagiaanmu. Bahkan melepaskan kursi ketua dewan”
”ayah, Dessy adalah seorang De Winter. Ia di takdirkan untuk bertempur. Apa yang hendak ayah lakukan demi melawan takdirnya?”
“ku fikir takdir seseorang berlangsung sesuai keputusan yang di ambil orang tersebut”
aku menatap ragu pada ayahku. “dengan cara apa ayah akan membuatnya tetap tinggal?”
“banyak hal yang bisa kulakukan sebagai ketua Dewan”
Aku bisa melindungi Dessy. Aku akhirnya bisa menyelamatkannya! Tapi, sanggupkah aku menghalangi Dessy dari rasa bersalah setelah membuatnya lari dari takdirnya? .[]