
-Tory’s POV-
Setelah capek berputar-putar mencari sosok Dessy, aku memilih untuk berjalan-jalan di luar. Tak ku sangka, aku bertemu Tuan Leo yang sedang jalan-jalan sendirian. Sebelum aku sempat berbalik arah, celakanya Tuan Leo sudah menyadari kehadiranku. “kemari nak, aku ingin duduk dan bicara sebentar dengan mu” Tuan Leo menunjuk pada kursi di pekarangan Perpustakaan.
Begitu kami duduk, aku langsung bertanya. “ada apa?”
“aku tidak tahu harus memulai dengan apa”
“itu tepatnya yang selalu kau akui ketika kau berbicara mengenai masalah pribadi. Jadi ada apa?”
“... kau tentu tahu bahwa aku bukanlah orang yang mudah untuk mengumbar perasaan ku” Dengan kalimat pembuka itu, Paman Leo mulai berbicara panjang lebar.
Selama Tuan Leo berbicara, aku kebanyakan hanya merespons hm..iya.. , benar..,iya..., aku tahu... bukannya tidak menghormati pria ini, bahkan, aku dan Dessy sudah menganggapnya sebagai pengganti sosok ayah yang sangat jarang menemui kami. Tapi, sayangnya guruku ini memiliki sifat khas kakek tua, sering berbicara tentang hal-hal membosankan dan sulit di mengerti. Dan kalau berbicara, pembukaannya panjang sekali.
“intinya, aku mengajakmu bicara di sini adalah untuk menitipkan anakku, Dessy padamu.”
“guru sepertinya lebih menyayangi Dessy ketimbang aku.”
“tentu saja, dia murid ku”
“asal guru tahu saja ya, aku juga murid mu. Mungkin kau sudah lupa karena penuaan dini. Waaahh.. guru ini benar-benar pilih kasih.”
“yaya.. aku menyayangi kalian berdua” ujar Tuan Leo malas.
“ck.. dasar kau ini.”
Tuan Leo tertawa. “aku memercayaimu lebih karena satu hal. Suatu saat nanti, akan aku beri tahu padamu, mengenai sebuah ‘rahasia kecil yang mengikat takdir pertemuan antara kita. Hahah.. aku jadi ingat saat kalian masih kecil, kalian sangat tidak bisa mendengar kata rahasia. Jika kalian mendengar aku berkata tentang rahasia, kalian malah semakin tertarik. Kau tahu? Kalian persis seperti orang tua Dessy saat masih muda dulu” ia mencubit pipiku keras-keras.
Astaga.. jadi gara-gara nostalgia, dia mencubit-cubitku begini?
Ingin rasanya aku protes, tapi ku urungkan berhubung tidak ada gunanya. “ya... guru sudah mengatakannya berkali-kali. Jadi intinya guru mau mengatakan apa? Rahasia apa?”
“bocah nakal. Bukannya tadi sudah ku bilang akan memberitahumu nanti?”
“makanya kalau belum mau memberitahu, tidak usah di ungkit sekarang!”
“hei, bocah kurang ajar! Kau sepertinya bahkan tidak menganggap ku gurumu. Kau semakin kurang ajar saja.”
Ck. “ya sudah, intinya guru mau mengatakan apa? Dari tadi berputar-putar terus.”
Lalu tiba-tiba guruku berdiri. Ia menghela nafas sebelum menjawab “ aku mungkin akan segera pergi, ketika itu terjadi, aku punya satu permintaan. Tolong jangan sampai kau membiarkannya menemukan sebuah buku. Aku ingin memberitahumu sekarang.. Ada banyak hal yang ingin ku katakan, tapi masih belum waktunya.”
Beliau mengusap lembut kepala, lalu bahuku. “Sampai bertemu di saat itu ” []
***
Tolong jangan sampai kau membiarkannya menemukan sebuah buku..
Sambil memikirkan kata-kata Tuan Leo tadi, aku berjalan menuju danau. Aku selalu menyelinap ke sini jika sedang memikirkan jawaban dari sesuatu sejak kecil. Tidak terasa bahwa aku dan Dessy telah menghabiskan banyak waktu di sini. Lusa nanti, aku akan ikut bersama Dessy dan para putri lainnya untuk tinggal di markas.
Aku masih ingat pertemuan pertama kami di ruangan rahasia. Saat itu, aku sangat membenci Dessy yang suka se-enaknya. Namun lambat laun, kami malah semakin dekat, dan menjadi sahabat, sampai sekarang. Kini, setelah 12 tahun tinggal disini, rasanya banyak sekali kenangan yang terkubur di sini. Bagi kami, maksud ku, aku, Dessy dan Tuan Leo, masa-masa selama 12 tahun ini adalah masa terbaik bagi kami. Perpustakaan ini mengingatkan kami akan rumah. Di rumahku dulu, aku selalu di kekang dan di awasi, tapi di sini, aku bisa bebas tanpa penjagaan ketat. Dessy yang mendapat tuntutan atas banyak nyawa dapat mengekspresikan keluh-kesah dirinya, sedangkan bagi Tuan Leo, adalah tempat ia membesarkan anak-anaknya, yaitu aku dan Dessy.
Tuan Leo tadi mengingatkan aku tentang ‘buku. Tapi buku apa? Apa nama buku tersebut? Terlihat seperti apa? Apa mirip dengan yang di mimpikan Eve dan Shida? Belum lagi, kalimat tentang melarang dia menemukan ‘buku itu maksudnya apa? Jelas ‘dia yang di maksud guru adalah Dessy. Tapi, bagaimana aku akan mencegah Dessy menemukan buku aneh dan misterius itu?
Masalahnya, ini adalah perpustakaan. Banyak buku di sini.
Apa mungkin Tuan Leo menduga kalau Dessy akan membaca buku 17 tahun ke atas?
eh?
Tidak mungkin seorang putri bermartabat seperti Dessy melakukan itu, kan?
Tapi.. dia...usianya telah... mencukupi... aarrgghh~ apa yang ku fikirkan sihh? Sepertinya aku perlu belajar lebih baik lagi demi kedewasaan ku ini.
“boo!”
Aku hampir saja melompat dari tempatku gara-gara mendengar suara misterius yang mengejutkan tadi. Begitu sibuknya aku memikirkan perkataan Tuan Leo aku tidak menyadari kalau ada orang yang mengendap-endap di belakangku.
“hei~ siapa--” ocehan ku berhenti tatkala menemukan seorang gadis di sampingku. Gadis itu berjengit, dan membungkukkan badan cepat-cepat saat menyadari sosoknya.
Aku terus memandangi wanita aneh ini dari atas hingga kaki. Rambut cokelatnya yang sepertinya tadi telah tersanggul rapi, kini nampak sedikit kendor dan berantakan. Kulitnya juga putih bersih seperti susu. Dengan bibir memikat berwarna merah yang nampaknya sangat manis jika tersenyum. Di balik topeng yang di kenakannya, hidung mancungnya semakin nampak. Aku membayangkan wajah wanita ini. Pasti cantik sekali. Jujur saja, aku tadi mengira wanita ini adalah Dessy. Tapi rambutnya jelas berbeda. Dia bukan Dessy.
Tapi dari gelagatnya, aku merasa seperti mengenal wanita ini. Siapa, ya? Entah kenapa gadis ini terasa sangat familier. Aku memutuskan untuk mendekat untuk memastikan.
“maaf mengganggu anda. Saya fikir anda adalah teman saya. Maaf.” Wanita bertopeng itu segera berjalan pergi.
“tunggu nona. Kalau kau memang tersesat, biar bagaimanapun kau tidak akan menemukan jalan ke sini. Tempat ini hanya dapat di akses lewat satu tempat,” yaitu ruangan pribadi Tuan Leo, batin ku. “...intinya, tempat ini rahasia. Jadi tidak bisa di akses oleh sembarang orang. Jangan bilang kau tidak sengaja menemukan tempat ini. Karena ruangan itu bahkan lebih sulit untuk ditemukan”
Mata gadis itu terbelalak kaget, membuatku dapat melihat dengan jelas warna matanya. Sayangnya, warna mata gadis itu sama dengan warna ambutnya, yaitu cokelat kehitaman. “maaf jika kau salah paham, aku tadi mengira kau adalah teman ku, kau dan dia sangat mirip” ujar ku.
Apa aku tidak salah lihat? Gadis itu mengalihkan tatapannya dariku. Hmm.. gestur yang mencurigakan.
Si gadis hanya mengangguk canggung, lalu mulai berjalan pergi. Sesaat, aku mash rau membiarkan gadis itu pergi atau tidak, jadi ku putuskan untuk mengamatinya sedikit lebih lama. Ketika jarak kami sudah cukup jauh, tiba-tiba saja gadis itu mengangkat tangan, lalu menyentuh pelan bibirnya.
Astagaa!!! Apa dia.. jadi dia benar-benar...Dessy?
Aku segera berlari menghampiri gadis itu. Dengan tidak sopan aku menghalangi jalan gadis itu.
“permisi, saya harus kembali pada teman-teman saya, permisi!” ketika ia berbicara, aku tahu bahwa ada sedikit perasaan gugup yang ia rasakan.
“kalau begitu,, anda akan keluar lewat mana?”
“saya akan keluar melewati ruangan tadi. Ada apa?”
Aku bisa merasakan ekspresi wanita ini di balik topeng yang ia kenakan, sedang mencela betapa bodohnya pertanyaan ku. Jelas saja aku akan pergi melalui ruangan yang tadi, kan? Gadis di depanku mendengus.
ck. Dasar Dessy bodoh...
“percuma kau berlagak seperti orang lain. Aku mengenal kebiasaan mu” aku memegang lengannya dan mendekatkan diriku padanya.
“permisi, kelakuan anda kasar sekali. Hei hei heeeeiii~” seketika nada suaranya berubah panik saat aku memaksa membuka topeng yang ia kenakan.
Dan seperti yang ku duga, wajahnya sama persis dengan wajah Dessy.
Wkwkwkwk.. apa yang sedang ia coba untuk lakukan?
“kau ketahuan....” tunjukku dengan gaya dan suara menggoda.
Wajah Dessy nampak sangat kesal. Ia mengambil paksa topeng yang ia kenakan tadi dari tangan ku. “kau ketahuaaannn~~ hahahaha” ujar ku sombong.
Ia mendorongku dengan kasar. “ck. Kalau ku tahu kau akan mengenaliku secepat ini, mending aku tidak usah ke sini. Padahal aku bahkan tidak di kenali orang-orang di depan. Bahkan Ayah dan Tuan Leo kesulitan mengenaliku.”
Aku mengangguk menyetujui pernyataan Dessy. Memang sih, dia terlihat sangat berbeda. Dengan rambut cokelat seperti itu, ia nampak sesuai dengan usianya. Tidak seperti biasanya. Karena rambutnya berwarna perak, ia terlihat seumuran dengan ku. Kesimpulannya sehari-hari ia terlihat Lebih tua sih, tapi ku perkirakan bukan itu respons yang di inginkan Dessy .
Selain itu, meski sebenarnya dengan rambut perak ia juga terlihat sangat cantik dan menawan, tapi dengan rambut berwarna gelap, ia jadi nampak.. lebih anggun. Kesan yang ia timbulkan jadi berbeda. Rambut perak dan baju lapis baja yang ia kenakan sehari-hari membuatnya terlihat cantik, tegas dan tangguh. Tapi saat ini, kesannya ia seperti gadis biasa. Membuatku ingin melindunginya.