
-DESSY’s POV-
“...Aku akan bersamamu. Bukan karena rasa simpati dan kasihan terhadapmu. Bukan juga karena kita teman satu guru, tapi karena aku telah menghabiskan hampir seluruh waktu hidupku bersamamu, dan aku tidak mau menghabiskannya dengan orang lain. Mungkin karena kau satu-satunya wanita yang mengerti diriku, sama halnya dengan aku mengerti dirimu...”
Kata-kata Tory masih terngiang di telingaku.
Tory menyatakan perasaannya padaku, tepat di saat aku sedang hancur. Tepat waktu? Sebenarnya, tidak juga. Malam itu aku sedang tidak dalam mood untuk urusan percintaan. 90% dari diriku ingin tetap marah pada sekelilingku. Namun teringat sosok Tory, aku seperti mampu menghadapi apapun. Ngomong-ngomong soal Tory, bukan kata-katanya yang membuat ku ingin bertahan. Tapi kesungguhannyalh seperti menyihiriku.
Kami berdua sama-sama kehilangan. Kami berdua sama-sama di abaikan oleh orang tua kami, kami berdua juga punya tanggung jawab besar terhadap negeri kami. Selain itu, dia juga orang terdekatku. Ketika mendengarnya mengucapkan semua kata-kata yang hampir membuat jantungku berhenti berdetak itu, aku tahu bahwa dia mengatakan yang sejujurnya. Meskipun ia mengatakannya dengan sedikit guyonan, tapi aku tahu bahwa itu sudah lebih dari cukup, untuk membuat ku mampu menemukan jalan ku kembali, membuang segala kemarahan yang ku pendam untuk dunia.
Seperti menyatukan kembali aku yang pecah menjadi aku yang seutuhnya.
Aku juga mencintaimu. Aku ingin sekali mengatakan kalimat itu padanya. Aku ingin ia juga mendengar hal yang sama dariku. Tapi... aku tidak sanggup. Bukan karena aku tidak mencintainya sepenuhnya, tapi karena satu alasan...
Aku tidak pernah mendengar seseorang mengatakan hal itu sebelumnya. Seumur hidup ku.
“Tory... a.. aku... ingin mengatakan bahwa aku... a..aaku..”
“tidak usah kau katakan, Aku sudah tahu. Aku tahu kau itu gadis polos, yang hanya terkurung di dalam perpustakaan terus-menerus. Jadi tidak pernah mendengar seorang pria tampan apalagi setampan aku, mengatakan cinta”
Oh... sudah, lupakan kata-kataku barusan tadi bahwa aku mencintainya. Ku tarik kata-kataku. Soalnya, cowok ini super menyebalkan. Kok bisa sih, aku menyukai cowok centil seperti dia?
Kami berdua sedang duduk-duduk di gerbang dekat makam guru kami. Sambil menikmati pemandangan langit malam. Semua penjaga di gerbang tadi sebenarnya sudah datang untuk bertugas jaga, tapi Tory memerintahkan mereka untuk kembali. Hal yang biasa ia lakukan ketika kami sedang tidak ingin di ganggu.
Sekarang, tinggal kami berdua.
Oh.. aku harus bagaimanaaaaa aku tidak pernah berada dalam situasi canggung seperti ini. Aku tidak seperti Tory yang selalu percaya diri, sehingga tidak merasa canggung sama sekali. Sejauh ini, ia tetap bertindak menyebalkan seperti biasa.
Aduuhh.. aku jelas tidak boleh seperti ini terus! Bukannya aku dan Tory sudah ribuan kali nongkrong berduaan sambil melihat pemandangan? Tapi kenapa sekarang wajahku terasa sangat panas? Bahkan aku tidak sanggup menatap wajah Tory langsung.
“kau manis sekali saat tersipu malu. Biar ku tebak... kau pasti senang sekali, kan? Wahh.. aku tidak tahu betapa kerennya aku ini, bisa membuat Putri Es seperti mu tersipu malu hanya dengan melihat wajahku”
Bahkan di saat seperti ini pun, aku tidak sanggup menyahutinya atas perkataannya tadi.
Tuhaan apa yang terjadi padaku ini?Aku berusaha mengalihkan pembicaraan. “ ngomong-ngomong soal perkataan mu ‘melanjutkan hubungan kita ke tahap yang selanjutnya itu apa?”
“waahh.. kau sudah bisa bicara.. Ini sebuah kemajuan! Kau sudah sembuh dari kemalu- eh maksudku rasa malumu, rupanya. Hahaha... “
Ia mencubit lembut pipiku, yang sukses membuatku memerah lagi. Sepertinya aku harus mendinginkan diri demi mencegah rasa panas di wajahku ini.
“tentang melanjutkan ke tahap selanjutnya ya? Aku sih terserah padamu. Jika kau merasa kau belum siap untuk dua tahap setelahnya, aku tidak keberatan jika kita hanya ‘berpacaran seperti ini”
“dua tahap selanjutnya? Apa maksudmu?”
APAAAAA? “yang benar saja Tory! Jangankan jadi istri orang, jadi pacar seseorang saja, aku belum siap!”
“tuh kan, aku tahu kau akan menunjukkan ekspresi lucu seperti itu. Jadi, jika kau mau kita pacaran atau bersikap biasa, aku tidak masalah”
“per.nikahan.. kau ingin kita berdua menikah?”
“tentu saja. Memangnya kau tidak mau? Aku pribadi sih, sekarang sangat menginginkan mu.. kalau kau tidak ingin menikah siih, tidak apa-apa.. yah kecuali..”
“kecuali?..”
“sudahlah.. tidak usah di bahas. Nanti kau makin salah tingkah, atau memukul ku. Kaukan suka begitu. Kau tahu, aku bisa mengaturnya agar kita bisa menikah minggu depan, seandainya jika kau mau”
“tapi apa tidak apa-apa jika kita menikah di tengah-tengah perang seperti ini? kau tidak mau menunggu hingga perang ini selesai? Aku tidak enak dengan putri lainnya. Jangan sampai ada tanggapan bahwa kita tertawa di atas penderitaan orang lain. Belum lagi, Tuan Leo baru saja .... meninggal.”
“percayalah.. masing-masing dari mereka akan mendapatkan kebahagiaannya sendiri. Kau tahu, hubungan kita ini sebenarnya mirip dengan hubungan Shida dan Daniel. Dan menurutku, selagi kita masih mampu, dan ada waktu, kenapa tidak? Aku tidak mau menunggu hingga perang ini usai. Bisa-bisa kita sudah tua saat perang bodoh iniberakhir. Lebih jelek lagi, kita meninggal sebelum perang berakhir. Jika usia kita tidak sampai ketika perang ini berakhir, setidaknya kita masih mendapatkan kebahagiaan”
“memangnya seperti ini tidak bahagia?”
“tapi dengan memiliki sebuah keluarga akan menjadi kebahagiaan lain” Tory menjawab dengan riang.
Keluarga. Mendadak lidahku kelu mendengar kata tersebut. “jadi.. kita harus menikah? Di usia muda begini?” ujarku ragu.
“kau yang mengatakannya padaku. Dan aku tidak mau terdengar ada sedikitpun keraguan di kalimat itu. Lebih baik menundanya hingga kau siap dari pada mendengarmu dengan ragu seperti tadi” tidak ada kalimat dengan nada menggoda kali ini. Dan keheningan kembali menggantung di antara kami. Namun tidak dalam kondisi dan situasi yang buruk, karena dengan saling menatap dalam diam seperti ini, Tory menyalurkan sebongkah keberanian untuk menyuarakan keinginanku.
“iya. Aku mau.”
Tory menatapku lama. Tidak ada sedikitpun binar jail yang selalu terlihat di matanya. Seluruhnya berganti menjadi tatapan serius, kaget dan.. Senang? Bahagia? Aku tidak berani menginterpretasikannya. Silahkan tanyakan ke Tory bagaimana perasaannya, jangan tanya aku.
Lalu tiba-tiba Tory mencium dahiku. Kemudian menatapku dengan senyum lebar. Senyumnya itu, masuk dan tersimpan rapi dalam memoriku. Tidak hanya senyumnya, tapi seluruh peristiwa di malam ini. Akan tersimpan dalam memoriku, sehingga jika tiba saatnya ketika aku berubah nanti, aku masih memiliki potretnya, dan bayangan kebahagiaan dan harapan kami.
“terimakasih, December” ujarnya.
Di bawah sinar rembulan, sosok tampannya nampak makin memesona. Selamanya, senyumnya adalah hal terindah yang pernah ku saksikan. Aku menatapnya dengan penuh syukur dan rasa mendamba, dan ku tahu bahwa ia melakukan hal yang sama dengan ku, memikirkan hal yang sama dengan ku, dan menginginkan hal yang sama denganku.
Ya. Bersamanya aku tak akan pernah kesepian.
Aku memberanikan diri untuk menggenggam tangannya, lalu perlahan aku mencium punggung tangannya.
Tory tersenyum, Lalu perlahan ia mendekatkan wajahnya padaku, dan kami berdua berciuman[].