The Winter Stories

The Winter Stories
Angin Tak Tentu Arah



-TORY’s POV-


Kondisiku sudah payah sekali ketika matahari menjelang terbenam di hari kedua serangan. Padahal, malam adalah saat dimana kekuatan Lord Hyno memuncak. Sejauh ini, Shida belum menemukan tanda keberadaan Lord. Ketika awal pertempuran pagi tadi, ku fikir kami bisa menang sebelum matahari terbenam hari ini, tapi sayangnya kini tinggallah sebuah harapan.


April yang kehilangan fokus hampir terkena tebasan seorang musuh. Untungnya Eve datang tepat sebelum April terbelah dua. Eve menangkis serangan tersebut, namun berhasil melukai organ dalam Eve yang belum pulih sejak pertempuran terakhirnya.


Eve segara di bawa ke tenda pengobatan, dan kini masih di tangani oleh dokter jaga. Sementara Shida melancarkan serangan menuju portal penghubung dari atas langit. Namun, portal-portal tersebut kembali terbuka di tempat lain, dan semakin bertambah dari waktu ke waktu.


Dalam hati, aku bertanya-tanya bahwa daam keadaan seperti ini saja aku rasanya sudah hampir mati.  Bagaimana kalau sampai Lord benar-benar datang berkunjung?


Aku berharap, aku sudah mati saja ketika saat itu datang.


April bertarung sambil sempoyongan. Ia menyerang membabi buta setelah Eve terluka. Meskipun begitu, sepertinya usaha untuk membalas dendam ala April bekerja, meskipun pola serangannya acak-acakan. Dan jujur saja, tanpa khadiran si bocah pengering ini, pasukan kami mungkin akan habis sebelum matahari terbenam.


Seseorang mengambilkan aku air minum. Perang sedang terhenti. Untuk saat ini, kami bisa meluruskan kaki sejenak. Pergerakan musuh sedang terhenti. Mereka mundur. Ada apa dengan mereka? 


Sudahlah. Lebih baik aku memikirkan Dessy. 


Apa aku masih bisa menemuinya? Bisakah dia merasakan hatiku memanggilnya sejak tadi? Seandainya aku juga punya kekuatan seperti itu, aku berharap bahwa dia juga merasakan kehadiranku dalam tiap tarikan nafasnya.


Mungkin akan sedikit memalukan karena aku mulai berharap ia bisa datang ke sini, dan menyelamatkan kami semua.


Aku menggunakan dedaunan untuk menyembuhkan luka-lukaku. Karena ibuku seorang anggota klan tersembunyi dari alam, aku dapat sembuh dengan cepat jika bersentuan dengan dedaunan, pohon, rerumputan,dan lainnya. Yang jelas, aku tidak akan mau menggunakan bunga untuk bersembunyi dan menyembuhkan diri. Aku tidak ingin ada yang melihat ku sebagai tidak 100% pria.


Dulu, aku pernah sekali di jarkan untuk membuat ramuan penyembuh ala Chef obat-obatan, dan makanan herbal, Tuan Leo yang tersohor. Tapi aku berhenti di hari berikutnya karena menurutku pengobatan, sungguh bukan gayaku. Tapi aku tahu sedikit obat yang kubutuhkan untuk menyembuhkan orang yang terluka.


Shida sedari tadi menjaga Eve di tenda, untuk memastikan gadis itu bisa beristirahat. Mataku mencari-cari kehadiran April. Ia tidak berada di setiap tenda, bahkan tenda Eve. Ketika aku sudah menyerah mencarinya, tiba-tiba aku merasa perlu mencarinya di balik hutan, meskipun saat itu langit sudah gelap.


Dan seperti dugaan ku, firasatku benar.


April sedang duduk di atas batu besar yang mengarah ke pegunungan. Pandangannya jatuh pada tiap lekuk gunung yang kini berselimut salju. Ia nampak kaku, maksudku benar-benar kosong. Namun siluetnya yang tertimpa cahaya bulan memancarkan aura kuat dan berbahaya, meskipun di saat yang sama ia terlihat rapuh.


Seperti satu sentuhan saja sudah bisa membuatnya pecah berhamburan.


“April, sepertinya kita butuh bicara” [].


-APRIL’s POV-


Perang yang membosankan.


Setelah memastikan keadaan Eve, aku memutuskan untuk menyendiri sejauh-jauhnya dari pasukan. Sebenarnya aku merasa bersalah atas apa yang menimpa Eve, tapi karena sederetan peristiwa yang menimpaku belakangan ini, ku fikir rasa bersalah lain tidak akan membantuku memperbaiki fokusku dalam pertempuran.


“April, sepertinya kita butuh bicara”


Aku tahu bahwa yang menggangguku tadi adalah Pangeran Tory. Aku memilih tidak menoleh dan hanya merespons dalam diam.


“aku tahu kau mendengarkanku. Jadi tolong kau jawab pertanyaanku”


Aku tetap tidak menggubrisnya.


“sikapmu berubah akhir-akhir ini. Aku tahu kau sedang banyak fikiran. Aku hanya ingin memastikan apa salah satu dari masalah yang kini beputar-putar di benakmu sekarang ini ... apa karena kematian guru ‘kami?”


Kematian guru kami, jelas ‘kami yang ia maksud adalah ia dan Dessy.


“...bukan urusanmu” jawabku ketus.


“hei, aku cuma ingin membantumu. Kau tidak bisa bersikap terus-terusan seperti ini. fokusmu mulai terpecah, kau tidak lagi fokus dalam melakukan pola menyerang. Aku hanya membantumu agar kejadian seperti Eve tidak terjadi lagi”


“kau fikir dengan cara menyendiri seperti ini kau bisa mengatasinya? April, jangan sampai ka—“


“biarkan aku menemukan sendiri jawabanannya! Kau..  kau selalu bisa mempercayai kakakku, tapi kenapa dengan ku tidak? Bahkan di saat kegelapan hampir memakannya, kau datang menyelamatkannya. Kenapa? Kalian semua membiarkannya mendapatkan waktu untuk menyendiri dan menyadari kesalahannya, tapi kenapa tidak dengan ku? Oh.. tentu saja perlakuan mu berbeda. Bukankah kau menyukainya sejak dulu? Sudahlah, Kau sama saja dengan semua orang, selalu membanding-bandingkan aku dengan kakakku!”


“April, maksudmu apa sih? Tenangkan dulu dirimu, ya? Jangan kau ikuti emosi dalam hatimu. Jika kau menurutinya sekarang, kau akan berakhir pada situasi yang sama dengan kakakmu”


“siapa yang peduli? Kau semua tidak pernah memberikan ku perhatian asli. Semuanya penuh kepalsuan. Kalian selalu beranggapan aku tidak lebih baik dari pada kakakku, padahal, lihatlah.. aku adalah yang terkuat dari semua putri yang ada! Bukankah kalian harusnya memperlakukan ku setingkat lebih tinggi dari putri lain? Tapi.. kalian malah memperlakukan ku seperti barang?!”


“April!!! Sadarlah! Buka matamu! berhentilah seperti ini. kau sedang di manfaatkan! tidakkah kau ingat bahwa kami kakakmu selalu menyayangi mu dan berusaha melindungimu? Aku, Shida, Ayahmu, Eve, dan kakakmu, Dessy.”


“kasih sayang kalian palsu. Pada akhirnya, aku hanya tetap menjadi pilihan terakhir. Aku hanya akan terus di salahkan dan berakhir sebagai orang buangan! Aku tidak mau seperti itu! Tidaaaakkk!”


Aku menutup mata, dan hendak meninggalkan tempat tapi tangan Pangeran Tory yang besar dan kokoh kini mengguncangku hebat. Dalam sorotan matanya, tercermin luka. Sebuah luka yang dalam. Namun ketika aku menyadarinya, aku ternyata sedang menatap bayangan diriku sendiri yang terpantul di bola matanya.


Ya ampun..apa aku semenyedihkan itu?


“kau tidak pernah sendirian. Sejak awal, kau sudah memiliki Dessy dan kami semua di samping mu. Mungkin jika menurutmu kasih sayang orang terhadapmu saat ini itu palsu, kau salah. Kami semua menyayangimu. Kami tidak akan membiarkan diri kami kehilangan mu. Kau tahu itu. Jika seandainya kami tidak mencintaimu, tidak mungkin Eve bersedia mengorbankan dirinya untukmu. Dan juga, Kenapa kau harus cemburu pada Dessy?  Bukannya Kau adalah orang yang paling mengerti perasaannya? Selain aku, kau yang paling tahu sebesar apa rasa kehilangan yang di rasakan kakak mu saat ini.”


Sosok kakakku kini terbayang di kepalaku. Seluruh kenangan indah yang telah kami lewati bersama, sejak aku kecil, hingga kebersamaan kami selama di markas, dalam tiap pertempuran, segala perlindungannya..


Tapi mendadak kenangan indah itu berganti ketika kakak menatapku dengan tatapan benci, marah dan jijik ketika ia terbangun dan menyadari kematian Tuan Leo. Kata-kata yang ia ucapkan, dan tiap tudingan yang ia berikan padaku. Kata-katanya bagaikan pisau, menusuk.


“kau.. tidak mengerti.. harusnya kau juga membenciku saja. Kenapa masih mau berteman dengan ku?”


“tentu saja karena aku peduli. Meskipun kau adik yang menyebalkan, kau tetaplah adik kami. Tentu saja aku tahu kau seperti ini karena kematian Tuan Leo. April, apapun yang kakakmu katakan waktu itu, percayalah, bukan seperti itu maksudnya. Sama seperti kau, saat itu ia menuruti emosinya. Kegelapan dalam hatinya akan mengambil alih, dan membuat kekuatannya melebur bersatu menjadi sebuah bencana.”


“lebih dari itu.. aku menyebabkan Tuan Leo mati terbunuh. Seharusnya aku tahu Ia mungkin hanya memberikan aku obat. Tapi kenapa ia malah di hukum mati? Kakakku benar, aku dan prasangka ku  yang membunuhnya.”


“itu tidak benar. Semua orang tahu itu. Kakakmu juga tahu itu, hanya saat itu dia sedang dalam keadaan kacau, dan bingung sepertimu. Aku berhasil menariknya kembali, sehingga ia tidak kehilangan arahnya dan tidak menyerah seperti harapan guru kami. Aku akan melakukan hal yang sama untukmu, dan beruntungnya kau, karena bukan hanya aku yang bersedia menarik mu kembali, tapi juga ada kakakmu, Eve, dan Shida yang ada.”


“tidakk.. sudah terlambat bagiku. Kakakku kini membenciku. Semua orang juga. “


“kau salah, dik. Kau akan selalu memiliki kami. kau tidak lupa, iya kan?”


Suara lembut itu tentu saja bukan milik Pangeran Tory.


Aku menengok pada sosok di belakang Pangeran Tory yang sedikit terseok-seok menuju ke arah kami. Aku segera siaga, berjaga kalau yang datang bukanlah teman. Ketika cahaya bulan menerangi wajahnya, aku menyadari bahwa bayangan tersebut adalah Eve.


“Eve... kau sudah bisa berjalan?”


Eve langsung berlari untuk memelukku. Rasa hangat di tubuhnya tiba-tiba mengalir dalam tubuhku, menghantarkan ketulusan hati miliknya ke sudut hatiku yang terluka.


Aku membalas pelukannya.


Saat itulah aku merasakan ada sesuatu yang terhempas dari ku. Pandangan serta fikiran ku menjadi jernih, dan seluruh beban yang ku tanggung kini runtuh. 


Astaga.. apa yang telah ku lakukan? Kenapa aku bisa memiliki pemkiran seperti tadi? Aku memiliki orang-orang hebat seperti ini di sekelilingku, kenapa aku bisa merasa tidak bahagia? Bukannya selama ini hidup seperti inilah yang aku inginkan?


“maaf” 


“aku minta maaf.... “ isakku.


 “maafkan aku... karena jadi menyebalkan seperti ini... maafkan aku....”


Semilir angin hangat menerpa kami semua, dan aku tahu, masalah yang menggerogotiku selama ini  kini telah hanyut bersama dengan perginya angin tersebut [].