
-TORY’s POV-
Setelah mengetahui inti dari pertempuran kali ini, aku langsung mengadakan protes. Enak saja memperlakukan calon istriku dengan semena-mena begitu! Apapun alasannya, Dessy tetap seorang putri, dan lebih dari itu, dia adalah pejuang. Setelah semua yang ia lakukan demi negeri ini, dan kini negeri hendak membuangnya? Hanya karena ke curigaan bodoh yang berlebihan?
Aku penasaran, apakah Dessy mengetahui tentang hal ini atau tidak? Atau jika ia tahu, akan seperti apa reaksinya? Sudah pasti ia akan kecewa. Tidak peduli dengan cara seperti apa ia meminta maaf, sepertinya untuk sementara waktu ini Dessy akan tetap di perlakukan seperti itu.
Aku menangkap butiran salju yang turun di hadapan ku.
Meskipun tidak tahu apa yang sedang ku lakukan, aku menghirup rasa dan aroma dingin dari salju tersebut. Entah bagaimana berhasil membuatku merasa mengenali aroma ini. Dessy. Dingin, angkuh, tangguh, tapi sarat akan harapan.
Oh, sial. Aku jadi semakin merindukannya.
“hei, bocah. Kau tahu tujuan sebenarnya dari perang ini?” suara Shida memecah khayalan manis akan Dessy. Ketika menatap matanya, ku temukan kilatan marah yang menggantung.
“ya. Para dewan baru saja memberitahuku.”
“dan kau menerima keputusan mereka dengan lapang dada? Wah.. “
“tentu saja tidak. Tindakan mereka jelas sangat bodoh. Memangnya, mereka bisa sepercaya diri apa untuk menahan Lord Hyno?”
“Lord Hyno menginginkan April. Jadi dewan semakin yakin bahwa Lord akan datang. Aku sendiri bingung. Bagaimana jika Lord benar-benar mendapatkan April? Maksud ku, menculiknya, lalu memaksanya agar berpihak pada kegelapan?” Eve yang berdiri di belakangnya juga nampak khawatir.
“kita membutuhkan Dessy. Bagaimana menurutmu, April?”
April tidak berkomentar. Entah kenapa dia jadi dia begitu dingin. Mungkin semenjak kematian Tuan Leo. Apa... Dessy kemarin mengucapkan kata kasar padanya? Seperti... menyalahkannya atas kematian guru kami?
Oh. Tentu saja itu.
Saat Dessy kemarin mengamuk, aku dengar ia bahkan memaki ibunya sendiri. Sesuatu yang sangat bukan Dessy. Karena Dessy sangatlah sopan dan ramah kepada semua orang, apalagi orang tuanya.
“tentu saja kita membutuhkan bantuan Dessy. Tanpa kekuatannya, kita akan sulit bertahan dari serangan. Kita tidak akan mampu untuk mengalahkan Lord tanpa bantuannya.” Eve seperti mewakili April.
“jadi, bagaimana caranya menghubungi Dessy? Di antara kita semua akulah yang dapat berteleportasi paling cepat. Tapi kepergianku akan sangat kentara. Sementara aku tidak ingin mengambil resiko bahwa Dewan tahu rencana kita. Eve juga tidak bisa membuat elang pengantar pesan di tengah hujan salju begini. Jika menyusupkan seorang tentara biasa untuk kembali, juga kurasa sudah terlambat.”
Kami terdiam cukup lama.
Kondisi Eve jelas tidak sebaik yang kini gadis itu tampakkan. Luka di pelipisnya memang sudah pulih, tapi tidak berarti kondisinya sudah 100% baik. Terkadang Eve harus menahan rasa nyeri akibat luka dalam serangan Lord Hyno.
Sedangkan Shida yang terlihat tangguh juga sepertinya masih sedikit trauma dengan apa yang terjadi pada pertempuran sebelumnya. Yah.. dia sempat histeris ketika melihat keadaan Daniel yang sudah secompang-camping saat itu.
April juga semakin lama semakin diam. Ia nampak sangat tidak bersemangat untuk pertempuran ini. Dan aku ragu ia akan menyerang membabi buta seperti pertempuran sebelumnya. Yahh... aku kenal April. Ketika kondisi moodnya sedang buruk, jangan coba-coba mendekat, ataupun meminta sesuatu padanya. Selainn kemungkinan kau akan dibunuh olehnya, mungkin saja ia malah akan semakin menghancurkan situasi.
Aku memandang sekitarku. Mencoba menemukan kehadiran Dessy di antara salju-salju.
Salju turun semakin deras di sepanjang kawasan ini. dan semakin dingin. Baik aku dengan ketiga putri lain merasakan sesuatu. Lalu terbersitlah suatu firasat bahwa Dessy sedang bersedih. Aku dapat merasakannya lewat sentuhan butiran salju yang turun.
Dan sepertinya bukan hanya aku, tapi seluruh orang juga merasakan kepedihan yang sama. Aku menggenggam salju yang jatuh di tanganku. Sekali lagi aku merasakan kehadirannya.
Mataku bertabrakan dengan Shida. Tiba-tiba saja ada perasaan duka yang mengguyur diriku, dan aku tahu Shida merasakan hak yang sama. Ia sudah tahu. Bahwa Dewan mencurigainya dan sengaja mengucilkannya. Itu sebabnya cuacanya semakin dingin saja di sini.
Aku menghirup aroma dari Es di genggaman ku.
“Dia semakin hebat. bahkan setelah membuat salju turun di seluruh tempat, kendalinya masih sangat kuat” Daniel memecah keheningan di antara kami.
“wah.. tidak di ragukan lagi. Terimakasih kepada dewan-dewan dan seluruh paglimanya yang bodoh, kita harus mengulur waktu dan bertahan sampai Dessy bergabung bersama kita. Bah, tidak pelak lagi, dia adalah putri terkuat di antara kita semua” Shida mendelik jengekel pada Daniel, lalu melemparkan pisaunya ke langit, dan menghilanglah senjata tersebut.
Aku mengambil salju lagi, kali ini menggenggamnya erat, sampai tangan ku memerah. “tidak usah khawatir. Seluruh padang ini adalah Dessy. Dia akan melindungi kita” [].
***
-SHIDA’s POV-
Segera setelah mendengar kata-kata sok kuat dan tegar dari Tory, sebuah letusan terdengar dari tengah-tengah padang.
Yah.. tanpa harus berfikir, orang bodohpun tahu kalau pertempurannya sudah dimulai.
Tapi karena aku sedang tidak berselera, jadi aku sengaja melambatkan jalan. Beberapa prajurit dan dewan menatap kami gemas. Yang dapat ku baca dari ekspresi mereka hanyalah ya ampuun! Padahal musuh sudah mulai berdatangan. Apa mereka benar-benar seorang manusia super? Melihat tatapan mereka, aku jadi geli sendiri.
Aku semakin melambat-lambatkan pergerakanku. Biarkan saja. Mereka memaksaku untuk hadir dan berperang melawan si kakek tua dari masa lalu yang gemar membisikkan kejahatan ke dalam hati orang-orang, yang padahal tanpa harus di bisikkan kejahatanpun, hati beberapa orang memang sudah busuk dari dulu. Sebuah tindakan yang sia-sia menurutku.
Tapi meskipun aku menjulukinya kakek menyebalkan dari masa lalu, tetap tidak mengubah kenyatan bahwa orang ini super kuat, dan super tampan. Aku sendiri baru bertemu dengannya sekitaran 3 kali. Tapi percayalah, meski sosoknnya sangat tampan, orang itu bukan orang yang bisa membuatmu senang jika berpapasan dengannya di tengah perjalanan menuju rumah.
Dia sukses membuatku trauma. Mungkin aku berhasil menyembunyikan sedikit ketakutan ku di depan banyak orang, tapi rupanya upayaku sama sekali tidak berpengaruh untuk orang-orang terdekatku.
“kau baik-baik saja? Bagaimana jika kau harus bertarung dengan Lord lagi? Ku kira kau mengalami sedikit.. anu.. tegang mungkin?”
Mendengar pertanyaan Tory, aku sadar bahwa aku tidak bisa menahannya lagi. Diam-diam, aku menggenggam lengannya lembut. Tory sedikit kebingungan dengan tindakanku yang tidak ia duga. Ia semakin menatapku prihatin.
“sepertinya traumamu memang lebih besar dari pada yang ku bayangkan. Pasti berat ya? Kalau begitu, menangis saja. Tidak apa-apa. Wajar kalau kau bisa sampai setakut itu pada si pria jahat itu. Kau sudah di lukai berkali-kali dengannnya AAAWWWWWW!”
Dia bilang tadi tidak apa-apa jika aku mengeluarkan emosiku. Jadi sekalian ku remas saja lengannya. Aku bukan orang yang suka ataupun gampang menangis. Jika aku sedang merasa sedih, terkadang aku akan naik kelangit, dan tidak sengaja membuat petir di daerah tertentu.
“oh.. sudah, lupakan saja perkataan ku yang tadi.” Ujar Tory sambio meringis kesakitan.
“haha.. maafkan aku. Tapi ku rasa aku sekarang sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Terimakasih, dik.”
Kenangan indah dari masa laluku mulai muncul dalam bayang-bayangku. Aku berusaha keras untuk tidak melupakan ingatan itu. Karena aku ingin jika seandainya aku atau salah satu dari teman-teman seperjuanganku benar-benar mati di tempat ini, kenangan indah itu tidak akan terlupa. Sehingga ketika saat dimana aku menyesali takdir dan kehidupanku, aku masih punya harapan dan sesuatu yang dapat ku kenang sebagai tanda bahwa aku ... dulu pernah meraih kebahagiaan.
Tiba-tiba seseorang menggamit tangan ku, dan membawaku menjauh dari rombonganku yang tadi. Ku fikir Tory sengaja menggangguku, tapi ketika mendapati Tory menatap kepergianku, aku segera menghentikan langkah.
Pria di hadapanku menoleh.
“kau lagi?” protesku.
“aku minta waktumu sebentar saja. Tolong kau dengarkan penjelasanku dulu”
“Daniel, tidak ada yang harus kau jelaskan... kita juga sekarang sedang dalam pertempuran, jelas sekali aku tdak punya waktu untuk mendengarkanmu bicara yang tidak perlu. Minggir..”
Daniel menahan lenganku, aku sontak mengaliri lenganku dengan listrik, membuat Daniel terkejut, sampai-sampai dia jatuh ke tanah.
Aku sebenarnya cukup kasihan melihatnya. Tapi karena egoku, aku memutuskan untuk mendiamkannya. Membiarkannya meresapi rasa sakit dalam kejutan listrik bertenaga tinggi itu. Aku baru saja hendak meninggalkan tempat ketika ia kembali bangkit dan menghalangi jalanku.
“aku tahu bahwa sejak awal kau sangat menyayangi Dessy, juga putri lainnya. Aku tahu bahwa kau tidak setuju dengan tanggapan Dewan terhadap Dessy, dan betapa bencinya kau terhadap dewan petinggi”
“demi Argus yang menciptakan negeri ini beserta orang-orang bau di dalamnya, maumu apasih? Berhenti mengikutiku seperti parasit, dasar pembohong”
“aku tahu kau kecewa berat denganku sejak kejadian yang menimpa Dessy. Aku mengaku salah karena ikut menyalahkan Dessy atas kejadian waktu itu,, dan menuduhnya sebagai reinkarnasi Aletta, yang berakhir dengan larangan keikutsertaan Dessy di kegiatan apapun, tapi ku mohon, aku minta maaf atas itu semua. Aku membuatnya berada dalam situasi sulit tanpa peduli perasaannya, juga segala pengorbanan yang gadis itu lakukan untuk kita, juga seluruh negeri”
“baguslah kalau kau sadar atas kebodohan kalian. Ku fikir kau baru akan menyadarinya setelah semua ini terlambat. Asal kau tahu saja, mungkin memang benar tentang ramalan terkutuk itu akan jatuh di antara kami para Putri, tapi satu hal yang aku tahu pasti. Dessy, adikku tidak akan menjadi reinkarnasi Aletta. Camkan itu baik-baik di kepalamu, prajurit.”
“Shida, ku mohon... maafkan aku. Aku sedari kemarin sudah mencoba membujuk ketua dewan untuk mengubah keputusannya, tapi percuma. Dewan tetap tidak megubah keputusannya”
“memang sudah terlambat untuk mengubah keputusan ini. Sudahlah... kau tahu benar bahwa aku bukan orang yang suka berlarut-larut dan menyesali sesuatu yang sudah terjadi. Jika kau mau terus-terusan berdiam diri di tempat ini, silahkan. Aku mau ke garis depan.”
Aku segera meninggalkan Daniel di belakang dan menghampiri Tory yang masih setia menungguku di tempat tadi. Ia sedikit khawatir melihat kerutan di wajahku yang semakin menjadi.
“kau.. habis menangis?”
Oh.. sialan, bocah ini..
“bukaan! Itu tadi kerutan. Ayo kita jalan!”
Aku tahu bahwa seorang Putri tidak boleh menyimpan dendam dalam hati mereka, tapi aku tentu saja tidak bisa berdiam diri melihat Dessy di perlakukan seperti ini. Tunggu saja hingga kami kembali dari pertempuran kali ini. Jika kami berhasil, aku akan membuat para Dewan itu sendiri yang berlutut di hadapan Dessy.
April yang juga ikut menunggu berjalan mendahuluiku dengan wajah yang bahkan lebih masam dari pada wajah Daniel. Ugh. Kenapa aku malah menyebut nama Daniel lagi...
Yah.. beberapa hari lalu, kami bertengkar hebat. Saat itu, propaganda untuk mengucilkan Dessy mulai terdengar di telinga prajurit kami. Sebagian besar dari mereka setuju untuk menghukum Dessy atas tindakannya membakar panggung hukuman, dan mengamuk sambil melepaskan salju dan mengubah cuaca di setengah bagian negeri kami.
Dan celakanya, Daniel berpendapat sama dengan prajurit dangkal itu. Tidak ingatkah dia bahwa Dessy adalah satu-satunya alasan bahwa kami masih bisa bertahan hidup dari pertempuran terakhir kami?
Untuk menolong kami, Dessy tidak perlu melapor pada Dewan, dan hanya memanggil orang-orang yang sudah berpakaian rapi yang ia temui dalam perjalanan ke istal untuk menemaninya menolong kami.
Dan,
Wajar saja jika Dessy marah dan mengamuk karena kematian Tuan Leo. Seharusnya, Tuan Leo tidak perlu di hukum mati. Apapun yang ia berikan pada April pada malam itu, tidak membuat April terbunuh, bahkan kondisinya jauh lebih prima dari biasanya. Meskipun kepribadiannya yang cerah kini nampak gelap dan tidak bersemangat.
Seperti bersiap untuk menyambut kematiannya.
Aku bukannya membanding-bandingkan antara Dessy dan April, tapi sejak dulu aku lebih menyukai kepribadian Dessy yang tetap sabar, manis, ramah, lucu dan bersemangat meskipun ia hidup di kekang ekspektasi orang-orang.
Iyadeh.. sepertinya aku sudah membanding-bandingkan Dessy dan April.
“kenapa tingkahmu jadi semakin aneh dari biasanya?” Tory yang berjalan beriringan dengan ku menatapku curiga.
“kau juga. Sejak kapan berbicara sopan dan sok perhatian padaku?” tanyaku balik.
“hei.. bukannya wajar memerhatikan orang lain?”
“wajar, jika yang melakukannya bukan kau.”
“sudahlah, kalian berdua memang aneh” Eve melerai kami.
“tidak ada seorangpun dari kita yang normal, lebih tepatnya” cetus April cuek.
“oh.. kau percaya itu? Menurutku, sangking tidak normalnya kehidupan kita, ku fikir bukan kita yang abnormal, tapi mereka. Setuju tidak?”
Ujarku pada Tory. Tory megangguk setuju. “jangan terlalu bayak main. Fokus, musuh kita berjarak kurang dari 2 kilometer ke depan. Bersiaplah” April melangkah maju kedepan barisan, sambil mengambil ancang-ancang.
“baiklah. Ayo kita buka gerbang kematiannya”
Bersamaan dengan kata-kataku, aku mengulurkan tangan ke atas, memanggil petir dari atas langit. Mungkin terpengaruh dengan kondisi batinku yang sedikit kacau, guntur menggelegar di sepanjang wilayah pertempuran.
Pasukan musuh sempat terdiam menatap langit yang kini bergemuruh di atas mereka.
Melihat reaksi mereka, aku menyunggingkan seringai lacik di bibirku.
“ingat, ini masih serangan pertama. Jangan buang terlalu banyak energi kalian. Lakukan sesuai kesepakatan kita tadi, mengerti?” Eve meletakkan tangannya di bahu April, untuk mengatasi ketegangan di pundak April.
“ya sudah. Aku akan mulai dari atas. Sampai bertemu saat serangan ini berhenti” Dalam satu kedipan mata, akupun menghilang dari pandangan mereka [].