
-April’s POV-
Aku sudah capek salaman terus. Kenapa mereka terus berfikir kalau aku ini adalah salah satu dari 4 putri? Padahal kekuatanku belum pasti muncul. Seenaknya saja. Belum lagi, tidak sedikit dari mereka yang terus-terusan membanding-bandingkan para putri, yang sialnya aku di kategorikan hal yang sama.
"Masih muda sudah seangkuh itu. Coba lihat tingkahnya! Kalau saja orang tuanya tidak memberitakan kelahiran bocah itu, aku tidak akan mengira dia dan Dè Winter bersaudara kandung. Lihatlah Lady Dè Winter… sungguh anggun, cantik dan memesona" ujar seseorang yang tidak jauh dari tempat ku duduk.
"Tidak juga. Justru gadis seperti De Winter adalah tipe yang paling memuakkan. Di depan ia selalu bertingkah menyenangkan, sabar dan seolah-olah para putri adalah gadis terbaik.ch.. aku benci para putri!”
Oke. Biasanya aku bukan tipe yang mudah menahan emosiku. Tidak terkecuali malam ini.. aku jelas bukan tipe yang seperti kakakku yang memang sangat sabar itu. Jadi tanpa banyak berfikir, aku menyambar kerumunan gadis-gadis bodoh itu dan sengaja menjatuhkan minuman, membuat beberapa dari mereka terkena cipratan minuman ku dan mengotori pakaiannya.
Mereka menatapku sengit, dan hendak berteriak dan mencaci makiku, lalu buru-buru menghentikan ucapannya ketika menyadari siapa yang barusan menabraknya. “oops baju mu yang jelek itu jadi basah. Aku minta maaf. Jika kau membutuhkan pakaian baru, silahkan hubungi pelayan terdekat untuk mendapatkan gaun baru” ujarku ketus.
Ketika berjalan pergi meninggalkan kerumunan gadis-gadis itu, dapat ku rasakan lirikan kesal dan beberapa cibiran yang jelas di tujukan padaku. Cih.. Jangan harap aku bisa bersabar menghadapi ocehan merendahkan seperti itu. Yang seperti itu, adalah kakakku. Dan aku jelas tidak.
Dengan santai aku berjalan menuju kursi di pojok ruangan yang agak jauh. Setelah dansa pertama mereka selesai, kakak dan Eve serta Shida bergabung denganku yang duduk di sofa pojok pasca perdebatan dengan gadis-gadis tadi. Setiap dari kami menatap kerumunan orang di hadapan kami yang sedang asyik berdansa.
Lalu pandangan kami semua jatuh pada satu titik, yaitu pada sosok Pangeran Tory. Banyak sekali gadis-gadis yang mengelilinginya. Tapi yang menyebalkan adalah, dia sepertinya tidak nampak kewalahan. Malahan dia semakin senang ketika melihat gadis-gadis tersebut tertawa. Ewh. Dasar pangeran tidak berguna.
Lalu aku teringat percakapan kami tadi. Sontak perutku berubah mulas.
“kau sepertinya senang sekali. Ada apa?” perlu beberapa detik bagiku untuk menyadari bahwa Eve bertanya kepada Shida. Eve menatap Shida sambil memicingkan mata.
kak Shida yang sejak tadi tersenyum terus jadi tergagap mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Eve “eh. Eve.. tidak kok, aku biasa saja”
Dan seperti mengerti gelagat sahabatnya itu, Eve geleng-geleng kepala sambil tertawa. Shida merenggut ketika melihat Eve “memangnya kenapa? Memangnya kau tidak pernah begini?”
“hahahahah.. iya deh. Aku juga pernah.” Ujar Eve sambil cengengesan. Mereka berdua lalu bertukar pandang. “ah.. sudahlah.. kau hanya menggoda ku” ujar Shida lagi sambil membuang pandangan ke arah lain. Wajahnya terlihhat memerah.
“akui saja” Eve mengangkat bahunya.
Lalu pandangannya beralih ke kakakku. “Ngomong-ngomong, kau tidak berdansa dengan Tory?” kak Eve bertanya pada kakakku. Sedangkan yang bersangkutan langsung kaget mendengar pertanyaan Eve yang tiba-tiba. Kakakku yang sedang meneguk minumannya tersedak, dan tidak sengaja menyembur seorang pelayan yang sedang lewat.
“apa kau bercanda? Kenapa aku harus berdansa dengan si aneh itu?”
“kan, hanya berdansa. Ayolah.. kau jauh lebih cantik dan pantas untuk seorang Pangeran seperti Tory. Dia tidak akan menolak”
“Eve.. Sudah berapa kali ku beritahukan kepada mu, hubungan kami berdua hanya sebatas sahabat yang saling menyayangi”
“kami akan berkonsentrasi pada bagian ‘saling menyayangi” Eve menatap kakakku dengan tatapan jahil.“mungkin sekarang kalian masih bingung dan menganggap rasa di hati kalian itu hanya jalinan persahabatan. Tapi untuk kedepannya, tidak akan ada yang tahu. Ouuhhh... romantis sekali” ujar Eve.
“kita lihat saja nanti, setelah perang ini berakhir. Setelah prioritas ku tercapai”
Di sebelahnya, Shida menggeleng-gelengkan kepala. “ckckck...benar-benar tipikal putri Es. Sangat Perfeksionis, dan ambisius”
Kakakku mengernyit bingung. “bukannya yang ambisius itu kau?”
Shida hanya tertawa kecil. “benar juga. Tapi menurutku, kau harus mendengar saran wanita tua seperti aku dan Eve. Jatuh cinta itu sangat wajar. Kata siapa cinta itu tidak penting? tanpa rasa cinta, kita tidak mungkin berperang. Kau fikir aku rela berkorban sebanyak ini hanya karena tanggung jawab? Yang benar saja, memangnya aku terlihat sebertanggung jawab itu? Yang menahan ku bertahan, lebih dari sekadar tanggung jawab. Aku berperang untuk memperjuangkan kebebasan negeri yang ku cintai” Shida meneguk minumannya sekali lagi.
“jangan tunggu sampai perang ini berakhir. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi nanti. Sebelum kau terlambat, tidak ada salahnya. Biar ku beri tahu kau. Kau ini sangat beruntung. Kau memiliki orang seperti Tory yang akan selalu berdiri di sana untuk mu. Tidak seperti kami, yang sejak awal sudah sendirian. Menurutku, tidak ada salahnya jika kalian mencoba untuk... menjalin hubungan yang lebih serius”
Mendengar nasihat dari Shida yang tiba-tiba bijak, kakakku tertawa keras. Sangking besarnya suara tawanya, Tory yang berdiri jauh di sana bahkan kaget, dan menoleh ke arah kami. Kak Shida membekap mulut kakakku yang masih juga tidak bisa berhenti.
Setelah mampu mengendalikan diri, kakak meminta maaf pada kak Shida. “aku tidak menyangka akan mendengar hal ini dari mulut Shida. Maaf”
“April. Aku ingin bicara dengan mu” tak kusangka, kakakku yang duluan mengajakku bicara. Padahal aku fikir tadi dia masih marah. Melihat tatapan matanya, aku seperti tahu apa yang akan ia katakan.
“apa kakak mau meminta maaf? Tidak. Aku tidak mau”
“kalau begitu apa yang harus kakak lakukan demi mendapat maaf dari mu?” tanyanya khawatir.
“bukan kakak yang harusnya minta maaf, Tapi aku. Aku minta maaf karena tadi membuat kakak marah”
kak Shida yang duduk di sebelah ku bertanya. “memangnya apa yang terjadi?”
melihat aku salah tingkah, kakakku akhirnya menjawab. “...aku tadi lepas kendali. Aku... sengaja mendorongnya keluar dari kamar ku setelah kami berdebat tadi.”
Seketika perasaan bersalah kembali melandaku. Membuatku semakin menundukkan kepala.
“wwaah.. yang kalian perdebatkan tadi pasti seru sekali. Sampai-sampai si sabar ini jadi menunjukkan kemarahannya. Memangnya apa yang kalian bicarakan?” tanya Shida penasaran.
Kak Eve meneguk minumannya. Kemudian ia tertawa kecil. “tadi aku sempat menyusulmu, lho. Jadi aku dengar-dengar sedikit tentang topik perdebatan kalian.” Ujarnya.
“oh, ya? Masalahnya apa sih?” Shida menatap kami bertiga bergantian.
Menilik reaksi kakak dan Eve yang diam, aku tahu kali ini aku yang harus menjawab. “aku.. meminta ikut ke markas. Dan juga.. aku tadi juga bilang bahwa aku mau menjadi seorang putri”
Setelah aku mengucapkannya, mendadak semua orang terdiam.
“April, kenapa kau mau menjadi seorang putri?” tanya Eve.
Aku menundukkan kepalaku. Tidak tahu harus menjawab apa. Kalau alasannya karena tidak mau ditinggal sendiri, selama ini aku memang tidak tinggal bersama mereka, kok. Kakakku tinggal di perpustakaan bersama Paman Leo dan Pangeran Tory, baik Eve maupun Shida juga tinggal di markas utama. Tapi... kenapa ya? Rasanya ada sebagian diriku yang menolak menjadi seorang putri, tetapi sebagian dari diriku juga menginginkan kekuatan itu.
Konyol, ah.. ujarku pada diriku sendiri.
Kak Eve kemudian melanjutkan, “menjadi seorang putri bukan hanya membicarakan tentang bakat, kekuatan dan kemampuan. Tetapi juga tentang tanggung jawab atas banyak kelangsungan hidup di negeri ini, kewajiban terhadap warga, segala tuntutan dan beban, bahkan harapan, cinta, dan kasih sayang”
Kak Shida ikut angkat bicara. “ aku pribadi sebenarnya tidak memandangnya serumit itu. Tapi yah.. memang sulit untuk menanggungnya sendirian. Kau lihat saja sendiri. Kemanapun kau melangkah, banyak pria yang selalu memperhatikan kita. Sedangkan di mata gadis-gadis, kita bagaikan kecoak beracun yang menyebalkan sekaligus menyedihkan.. intinya, beberapa perhatian memang palsu. Itu sebabnya sulit bagi kita untuk membiaskan diri dengan kehidupan orang-orang normal” ia kemudian merangkulkan lengannya di bahuku. “kakak mu bukan hanya Dessy. Tetapi juga kami. Dan jelas seorang kakak tidak meginginkan adiknya terancam bahaya.”
“kami akan sering berkunjung. Jadi kau tidak akan merasa kesepian terlalu lama.” Kakakku mengelus pucuk kepala ku. Hal yang selalu ia lakukan jika ia hendak mengajariku sesuatu. Aku.. mencoba untuk menahan tangisku yang sepertinya sudah berada di ujung mata.
Dengan berat hati, aku berkata “aku mengerti. Terimakasih” jawabku.
Seketika, saat itu juga, kak Eve memelukku, juga Kakakku dan Kak Shida. Berada dalam pelukan mereka, rasanya seperti membuatku ingin menangis sekencang-kencangnya. Mereka adalah kakak-kakakku, mereka adalah milikku.
Lalu ibuku muncul. Saat belliau tersenyum, ada binar jahil di matanya. “ikutlah bersama ibu. Kita akan memerlukan sedikit perubahan” []
***
Dessy’s POV
Ibuku membawa kami semua menuju salah satu kamar tamu. Di dalam, sudah tersedia berbagai baju dan peralatan berhias. Kami semua langsung terperanjat. “kapan ibu menyiapkan semua ini?”
“yah.. kira-kira baru seharian ini. Aku sudah memprediksi bahwa kalian pasti akan sulit bergerak di pesta yang sebenarnya di adakan untuk kalian. Jadi, ibu memutuskan untuk melakukan sesuatu” ibu menggiring ku menuju sebuah meja rias. Sosokku terpantul dengan jelas pada cermin.
“kita akan melalukan sedikit eksperimen... pilih apapun yang kalian sukai” ujarnya dengan mata berbinar-binar.