The Winter Stories

The Winter Stories
Konfrontasi Besar



Jadi seperti ini rasanya di tinggal sendirian.


Tadi pagi, Eve, Shida, April dan bahkan Tory sedang maju ke medan perang.


Dimarkas utama hanya ada beberapa panglima yang semuanya tidak ku kenali. Dan tentu saja pasukan yang tersisa  tidak ku ketahui siapa namanya.


Dan meskipun  aku sudah meminta maaf atas tindakan bodohku kemarin, mereka masih saja menghindariku. Sekarang aku mengerti, kenapa seorang putri di larang mengeluarkan emosi, karena begitu emosi buruk dan kepedihan mereka keluar, kegelapan akan langsung mengambil alih.


Aku hampir saja berakhir seperti Aletta. Jika saja aku tidak memiliki orang seperti Tory yang selalu memberikan ku kesadaran untuk kembali dan melenyapkan kegelapan dalam hatiku.


Terlepas dari perlakuan pasukan di sekitarku ini terhadapku, yang terpenting sekarang hubungan ku dengan Ayah, Ibu, para Dewan, Shida, Eve dan Hilla  kini membaik. Meskipun aku dan April masih sangat canggung. Nampaknya adikku jadi semakin pendiam sejak aku meneriakinya seperti itu.


Yah.. aku tahu bahwa dia jelas tidak punya salah apa-apa terhadap kematian Tuan Leo. Tapi saat itu aku meneriakinya, dan menyalahkannya atas kematian Tuan Leo. Aku mengikuti amarahku, dan hampir menghancurkan semuanya. Aku sungguh brengsek.


Dan yang membuatku  semakin sulit untuk di maafkan adalah sekarang, para pasukan itu harus berperang sambil kedinginan. Karena aku telah mengubah cuacanya menjadi bersalju saat marah beberapa hari lalu. Beberapa dari panglima menatap ku jengkel. Ya... untung saja saat itu aku kehabisan tenaga, jadi aku langsung pingsan setelah menciptakan musim dingin tambahan bagi daerah terdekat markas. Bahkan menurut Eve, saljuku juga menyelimuti sampai ke medan perang mereka.


Aku tidak tahu bahwa aku punya kekuatan seperti ini.


Yang pasti, aku sudah berusaha untuk menarik kekuatan ku kembali, tapi tidak terjadi apa-apa. Aku juga tidak tahu kenapa Dewan melarang ku ikut bersama pasukan besar ini. Mereka memintaku untuk bersitirahat. Mungkin juga untuk menyeimbangkan mentalku. Mereka berfikir bahwa kekuatan ku sekarang ini mungkin sedang kurang karena terbagi dengan salju ini. tapi sebenarnya tidak. Aku merasa jauh lebih kuat dengan salju ini.


Oke, mungkin lain kali, sebelum melakukan pertempuran, ada baiknya jika aku menurunkan salju dulu demi menambah efektivitas seranganku. Atau aku harus berlatih membuatnya turun hanya di sekelilingku.


Berlatihnya nanti sajalah.. aku akan menunggu Tory pulang dari perang ini, lalu kami akan menuju Perpustakaan Kota Tuan Leo, dan menghabiskan waktu untuk berlatih dan bernostalgia bersama. Membuat api unggun, makan tangkapan ikan kami dari danau, menyanyi dengan suara jelek,.. dan begitu banyak kegiatan bodoh nan menyenangkan untuk ku lakukan! 


 Dalam hati, aku bertepuk tangan. Calon suamiku memang jagonya dalam membuat rencana aneh dan bodoh.


Harusnya dia menjadi ahli strategi kami saja. Meskipun strateginya mungkin agak.. aneh, menggelikan dan konyol. Soalnya, dia bukan tipe orang yang suka serius. Ia lebih sering bercanda dan melontarkan guyonan bodoh yang bahkan musuh-musuhnya akan tertawa tiap kali mendengarnya menyumpah dengan konyol seperti itu.


Ya.. karena salju adalah sebagian dari kekuatan ku, sebenarnya aku dapat mengintip dari salju-salju tersebut. Bisa di bilang, bahwa salju adalah sebagian dari tubuhku. Hanya saja, kalau di ibaratkan, salju ini lebh mirip kulit, dan tidak mungkin kau untuk melihat melalui kulit. Tapi jika aku beruntung, aku dapat melihat sedikit sekali tentang apa yang terjadi. Tapi tetap saja, sulit bagiku untuk mengendalikan Es jarak jauh.  Aku hanya dapat menggunakannya untuk mengawasi dan berteleportasi. Meskipun menggunakan Es untuk mengawasi bukan berarti aku bisa mengawasi semuanya. Terkadang visi yang kulihat kabur, dan tidak jelas. Dan bahkan bisa terbalik jika melihatnya dari arah yang berbeda.


Hari ini adalah hari kedua. Pasukan kami sedang beristirahat. Aku tidak tahu apakah kami sudah menang atau tidak, soalnya aku baru bangun. Tapi yang jelas pasukan kini sedang beristirahat.


Apakah kami menang? Jadi, dimana Tory? Dia tidak apa-apa, kan? Bagaimana dengan 3 orang putri yang menyertai mereka? April tidak terluka, kan? Oh... kenapa perasaanku tidak enak lagi??


Mungkin karena kebanyakan tidur... bisa jadi sih.


Tapi ini jelas. Ada sesuatu yang datang menuju medan pertempuran. Aku yakin.  Tapi aku tidak tahu apa. Aku hanya dapat berharap yang datang bukan Lord Hyno. Karena jika benar-benar dia yang datang, maka April berada dalam bahaya.


Aku harus menyusul.


Aku mulai bersiap-siap untuk menuju ke medan pertempuran. Ku putuskan akan lebih baik jika aku ke sana bukan dengan teleportasi. Karena teleportasi akan membuat kekuatanku berkurang, sementara jika harus melawan Lord, aku butuh kekuatan penuh.


“anda mau kemana, Lady De Winter? Dewan memerintahkan kami untuk menjaga anda” seseorang  dengan baju bertanda panglima maju menghalangi jalanku.


“aku hendak menyusul ke medan depan. Ada apa?”


“.. apa yang harus ku lindungi disini? Hanya ada kalian, sekumpulan pasukan yang bersyukur atas hari libur kalian. Tidak. Aku akan maju ke garis depan. Mereka sekarang sedang terancam bahaya”


“tidak. Kami tidak bisa membiarkan anda pergi dari sini. Di luar terlalu bebahaya. Lagipula, pasukan kita di sertai oleh 3 orang putri, 8 orang Dewan, 15 Panglima, dan 12.000 pasukan.  Mereka akan baik-baik saja. Tidak ada gunanya anda keluar sekarang. Anda akan lebih aman di markas di banding di—“


“jadi, Dewan sudah tahu, ya? Bahwa mereka akan bertempur melawan Lord. Hyno” 


Lalu satu pemikiran gila terbersit di benakku. “


... jadi.. itu sebabnya aku di tahan disini. Aku di larang maju karena Dewan khawatir aku masih menyimpan dendam atas kematian Tuan Leo. Mereka menduga aku akan menjadi reinkarnasi kegelapan. Bukan begitu?”


Panglima di depanku tidak mengatakan apa-apa. 


Itu berarti tebakan ku benar.


Astaga.. apa mereka sudah tidak percaya padaku lagi? Ingin sekali rasanya aku melawan, dan membekukan semua penjaga disini. Bisa-bisnaya mereka mih berfikiran seperti itu!rasa sakit mulai kembali menusuk hatiku. Perlahan dapat ku rasakan udara bergetar akibat emosi kemarahanku. 


 Tapi aku sudah berjanji, tidak akan mengikuti amarahku. Demi Tory, demi adikku, demi kehidupan ku di masa depan nanti. Aku tidak akan berakhir seperti Aletta!


Jadi, aku mengambil langkah mundur.


“sekali lagi, kami minta maaf atas tindakan kami. Kami hanya melaksanakan perintah”


“ perintah, ya? Aku mengerti... tapi jangan harap aku akan berhenti, dan aku tidak akan duduk tenang di sini. segera jika aku mendapat sinyal bahaya, aku akan pergi. Terserah apa kata kalian. Karena aku tidak akan membiarkan Adikku dan orang-orang yang kucintai mati karena perintah bodoh semacam ini.”


Dengan begitu, aku kembali menuju kamarku.


Perasaan ku berkecamuk. Rasanya batinku tersiksa sekali dengan kenyataan ini. Aku kehilangan kepercayaan mereka. Dan terkurung seperti ini.  ini tidak adil. Sungguh tidak adil!


Bahkan Tuan Ares, salah seorang anggota Dewan yang berperangai menjengkelkan tidak di perlakukan seterasing ini. Tuan Ares sering memulai pertikaian sejak dulu, bahkan membunuh orang-orang yang tidak mau patuh pada perintahnya. Ia sangat berniat menjadi ketua dewan, sayangnya tidak ada orang yang cukup gila untuk memilihnya. Keahliannya bermain dengan cara liciklah yang membantunya berhasil bertahan selama ini.


Tapi, meskipun terkenal licik, dia tidak pernah di perlakukan seperti aku.


Ck, dunia ini benar-benar tidak adil!


Para dewan itu berfikir aku ini adalah tipe wanita halus dan lembut yang akan menuruti perintah. Tapi mereka salah besar. Mereka jelas tidak mengenal aku dengan baik. Aku seorang putri, dan memiliki status yang jauh lebih penting dan tinggi dari pada dewan-dewan lemah dan bodoh ini.


Maaf jika seandainya aku berkata kasar. Soalnya, aku sudah terlalu lelah di kekang peraturan. Apalagi jika peraturannya menyangkut nyawa orang-orang yang ku sayangi.


Maaf saja,  aku akan tetap berangkat, setuju ataupun tidak setuju.


Aku yakin saat ini mereka sedang menunggu kehadiran sang penguasa kegelapan, dan bersiap untuk meregang nyawa. Seandainya saja mereka tidak berfikiran bodoh seperti ini, padahal ini adalah kesempatan yang baik untuk melawan Lord. Karena saatnya ke empat putri berkumpul [].