The Winter Stories

The Winter Stories
Perpustakaan Kota - Bagian Terlarang #2



Ketika membuka mata, semua yang dapat kulihat hanyalah putih. Seluruh benda terlihat putih. Bahkan perabotnya juga. Ruangan ini sangat luas, sampai-sampai terlihat tidak berujung. 


“dimana ini?” tanyaku pada diriku sendiri sambil setengah bergumam.


“akhirnya kau datang mengunjungiku lagi. Selamat datang, Putriku.”


Suara seorang wanita yang amat familier. Aku berusaha melihat sekelilin, dan terkejut ketika menyadari ada orang lain selain aku di ruangan ini, dan semakin kaget ketika menyadari  bahwa orang itu bukan Eve. Ia berdiri di balik jendela, sambil mengamatiku. 


Aku lama melihat wanita di hadapanku. Matanya sekelam larutan kopi, dan berbentuk indah. Rambutnya berwarna hitam dan panjang, kulitnya putih susu dan sangat bersih. Kau akan merasakan kesan anggun dan kuat, dan sedikit rasa tidak mengenal ampun. Setiap kali ia menyapukan matanya, kelentikan bulumatanya yang indah itu terlihat sangat sangat indah, menambah kecantikannya.


Benar-benar perpaduan yang sempurna.  Aku tidak tahu harus mengatakan apalagi tentangnya. Soalnya, wanita ini cantik sekali. Aku hampir saja tunduk karena  kecantikannya.


“kau akhirnya datang. Padahal aku menunggumu lama sekali. Leonardo tidak memberitahumu apa-apa? Kau tidak mengenaliku?”


Aku terkesiap. Ya.. wajahnya terasa tidak asing.


“kita pernah bertemu sebelumnya. Karena aku adalah orang yang memberimu kekuatan tambahan itu. Kau bisa menggunakan api, iyakan?”


Aku.. pernah kesini? Kapan?


Aku mengamati baju yang ia kenakan. Gaunnya berwarna ungu kehitaman, dan menggunakan mahkota indah di puncak kepalanya.


Menurut ahli sejarah kami, wajah kedua dewi, Aletta dan Zhadeka sangat mirip. Menurut legenda, wajah Lord Hyno juga memiliki kemiripan dengan istrinya.


Dan, tentu saja aku pernah bertemu dengan penguasa kegelapan.


Tiba-tiba segala keindahan yang sedari tadi ku rasakan kini berganti dengan rasa was-was. Aku perlahan melangkah mundur. “siapa kau? Jangan bercanda bahwa aku pernah bertemu dengan mu. Aku cukup yakin kita tidak pernah bertemu sebelumnya!”


“kau mengenaliku..” ia kemudian melangkah maju. Matanya berbinar ganjil, dan membutku merasa tidak aman. Aku berusaha memanggil seluruh kekuatanku, tapi percuma. Tidak ada yang merespons. Baik air, maupun api.


Seolah mengetahui isi kepalaku, ia tersenyum. Senyumnya yang tadi ku fikir sangat cantik kini terasa mengancam. Aku mundur lagi beberapa langkah. Lalu tanganku memegang permukaan dinding yang agak kasar.


Wanita tersebut berhenti melangkah. Dan hanya diam mengamatiku. Matanya tertuju pada sesuatu di belakangku.


Perlahan, aku berbalik. Lalu melihat lukisan besar seorang wanita bergaun merah di tembok. Dan entah bagamana caranya,  aku mengenali sosok wanita pada lukisan itu. 


“kau.. Dewi Aletta”[].


***


-Eve’s POV-


Aku berkeliling di sekitaran buku-buku tua di dalam ruangan ini. Menurut Dessy, buku itu bisa saja ada di sini. ia sempat heran, kenapa aku mau mencari buku tersebut yang sepertinya mempunyai aura jahat yang terpancar kuat. Tapi bukan untuk mendapatkan kekuatan tersebut, Aku hanya ingin memusnahkankannya, atau menyembunyikannya.


Aku pernah bertanya pada Tuan Leo, namun ia enggan menjawabnya. Dia bilang, bukan takdirku untuk menemukan buku itu. Jadi orang lain yang akan mendapatkannya untukku. Entah kenapa yang terfikir langsung di benakku adalah Dessy.


“Dessy? Kau dimana?”


Sialnya, Tidak ada sahutan. Bahkan rasanya aku dan Tory adalah satu-satunya makhluk hidup di ruangan ini. Aku memaksakan untuk  melangkah lebih dalam lagi sambil terus memanggil Dessy. Di belakanku, Tory mulai panik. Ia berjalan mendahuluiku, lalu segera mncari sosok Dessy.


Tepat di sudut ruangan terdalam, aku akhirnya menemukan Dessy yang sedang menangis sesenggukan. Rambutnya sudah acak-acakan. Wajahnya yang putih kini memerah akibat emosi. Aku segera mendekatinya, dan memeluknya untuk menenangkannnya. Aku lalu mencoba mengalirkan kehangaatan dari tanganku. Tapi nihil. Dukanya begitu kuat. Dan mustahil bagiku untuk menyembuhkannya.


Kau kenapa?tanyaku dalam hati. 


Di pelukanku, Dessy terguncang hebat. Ia berusaha untuk menahan tangisnya dan tetap terlihat kuat. Tapi aku tetap memeluknya.


Apa yang ia dapatkan sampai membuatnya menangis sesenggukan seperti ini?


Mendengar keributan kami, Tory seera menghampiri kami. 


“Dess? Apa yang terjadi? Kau tidak apa-apa?”


Mendadak, Dessy melepaskan pelukan ku, dan berdiri. Ia menghapus air matanya sendiri dengan menggunakan punggung tangannya., lalu berucap “aku sudah berjanji, aku akan tetap kuat. Tidak peduli apapun yang akan terjadi”[].


***


Begitu kami melewati pintu air yang telah di buka Dessy, kami segera memasuki pintu dengan tergesa-gesa. Kami takut jika seandainya acaranya sudah di mulai, dan mereka menemukan fakta bahwa kami bertiga kabur.


Namun sepertinya Dessy kurang konsentrasi.


Karen ia meneleportasikan kami di tengah badai api.


Rasanya seperti melewati ruang teleportasiku sendiri. Apa aku yang memindahkan kami semua? Rasanya tidak mungkin. Jelas Dessylah yang membawa kami. Tapi tiba-tiba saja kami sudah keluar dari perapian... kenapa dia bisa membawa kami di tengah-tengah api begini?


Ada sesuatu yang tidak beres. 


Seluruh orang terkejut melihat kehadiran kami. beberapa pasukan terdekat bahkan samapi jatuh terjerembab di tanah. Aku segera membantunya berdiri.


“kenapa kalian bisa ada di sini? Kemana saja kalian seharian Ini? Tanya Ayah Dessy sambil menghampiri kami. Lalu mengarahkan kami untuk masuk. Kami semua mengikut sambil menunduk malu. Sial... mereka semua tahu bahwa kami tidak ada di sini.


“seluruh orang tahu kalian bertiga telah kabur. Gara-gara kalian, acara malam ini terpaksa di tunda. Malam ini, kalian menghadap kepada Ketua Dewan. Beri dia penjelasan atas tindakan bodoh kalian hari ini.” Ayah Dessy menempuk lembut punggung putrinya itu. Lalu kemudian meninggalkan kami di sepanjang koridor ini.


“jadi...” baru saja aku mulai angkat bicara, Desyy tiba-tiba pergi. Ia tidak mengucapkan sepatah katapun, dan bahkan menolehpun tidak. Sikapnya berubah drastis. Matanya terlihat kosong, seperti sedang berfikir tentang sesuatu. Dugaanku,  ia menemukan buku tersebut, dan bersikeras untuk menyimpan buku itu untuk sendiri. Entah apa yang telah terjadi padanya, tapi apapun itu membuatnya begitu terpukul.


Berhubung aku tidak punya hak apapun tentang buku itu, jadi ku fikir akan meminjamnya lain kali saja. Setelah perasaan Dessy membaik. Karena tidak mudah meminjam sesuatu pada gadis yang penuh dengan kekuatan seperti Dessy di saat moodnya jelek. Kami membiarkan Dessy pergi. Yah.. sepertinya ia butuh banyak istirahat untuk menenangkan diri. Ia nampak sangat terpukul, dapat ku lihat dari bagaimana  ia berjalan. Jalannya sangat lemas sekali.


Aku menatap Tory sekilas lalu menyuruhnya istirahat “kau juga, istirahatlah...”


Tory mengangguk. Ia kemudian kembali ke kamarnya[].