
-DESSY’s POV-
Mataku perih setelah menangis 24 jam non-stop.
Yah.. aku panik sekali ketika mengetahui keadaan Shida. Akibat kehabisan banyak darah, ia hampir saja mati. Untungnya, ia masih bisa di selamatkan. Namun kondisinya masih kristis, dan butuh penanganan lebih lanjut. Aku membawa Tory, Eve, Shida dan April berteleportasi ke markas utama untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik. Yah.. meskipun kegiatan ini menguras banyak tenaga, aku tetap bersedia melakukannya demi saudara-saudaraku.
Seperti biasa, April memerlukan tidur yang cukup. Sementara Eve tetap beraktivitas seperti biasa. Meskipun ia jadi sedikit lebih diam dari biasanya. Maksudku, diamnya Eve ini benar-benar mengganggu konsentrasiku, soalnya maksud dari ‘lebih diam dari biasanya itu buruk sekali, karena Eve yang Biasanya saja sudah cukup pendiam, apalagi di tambah dengan makin diam...
Ah.. sudahlah.. aku sendiri tidak tahu apa maksud dari omonganku.
Apa karena ia melihat api itu tidak membakar ku?
Apa dia curiga aku bisa mengendalikan api?
Oh.. bagaimana ini?
Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana jika seandainya ia bertanya. Apa aku harus tetap bohong? Atau jujur saja? Sebgai pengendali api, dia pasti bisa merasakan bahwa api iu menuruti kehendakku. Ohh harusnya aku tidak sok keren di depan Lord Hyno!
“apa ‘diam kini memang selalu menjadi tren di kalangan kalian para putri? Soalnya kalian senang sekali berdiam-diam ria. Jika di adakan sebuah kontes untuk diam, aku yakin kalian berturut-turut yang akan menjadi juara.” Ujar Tory menyadari kebisuan di antara kami.
Aku menyandarkan kepalaku di bahu Tory yang langsung menegakkan dadanya tiba-tiba. Aku mengernyit terhadap reaksinya yang berlebihan ini.“ kau tidak suka aku menyandarkan kepalaku di bahumu?” tanyaku.
“tentu saja aku suka. Aku hanya mencoba membuatmu nyaman saja. Bukankah wanita suka bahu yang tegas dan kuat?”
“bersikap biasa saja. Bukan yang terkuat yang aku butuhkan, tapi yang dapat membuatku nyaman.”
“ya sudah.. biar ku tebak masalahmu. Apa gara-gara Eve? Dia melihat api mu itu, kan?”
“ya. Dia menyaksikan seluruh pertarungan kami. Pada awalnya, Eve tidak curiga, tapi akhir-akhir ini dia jadi diam. Aku juga tidak tahu apa yang ia fikirkan”
“Dessy, berpikir positif, ok? Kau terlalu lama berada dalam mode ‘serius’ jadi akan lebih baik jika seandainya kau mendapat libur piknik untuk sementara waktu”
“yah.. para dewan tidak akan mengizinkan”
“memangnya kau mau pergi kemana?”
“entahlah.. memangnya kau mau kemana?”
“aku yang bertanya padamu, kenapa bertanya balik?’
“akukan tadi bilang tidak tahu.”
“ya sudah, memancing di danau belakang saja kalau begitu.”
“tidak mau! Memangnya tidak ada tempat lain yang bisa kita kunjungi?”
“memang tidak ada.”
“kalau begitu kenapa mengajak kalau tidak tahu mau piknik kemana. Tory, kau sangat menjengkelkan.”
“... sebenarnya aku terfikir satu tempat.”
“apa? Di mana?”
“perpustakaan kota. Tapi akan membutuhkan waktu 6 hari untuk perjalanan pulng-balik ke sana. Kemungkinan kita pergi selama 1 minggu kalau begitu”
Mendengar Perpustakaan Kota, aku segera menegakkan tubuh. “baiklah.. dewan tidak mungkin membiarkan kita pergi berdua. Jadi, pastikan saja bahwa hanya kita berdua yang tahu rencana kita”
“tunggu dulu. Kau benar-benar mau berangkat? Aku tidak bisa membuat pengalih perhatian selama 1 minggu! Jangan konyol.”
“tapi bukannya salju mu tidak sampai ke sana? Maksudku, aku tahu kau bisa berteleportasi kemanapun tanpa media kekuatan utamajmu itu, tapi membawa orang lain? Memannya kau bisa?”
“aku ini pengendali air. Air juga sumber kekuatanku. Percayalah padaku. Kau hanya perlu memastikan bahwa besok kau kan membuat pengalih perhatian yang keren” [].
***
Malam ini dewan akan mengadakan pesta malam untuk merayakan kemenangan mereka atas Lord Hyno. Aku sebenarnya tidak antusias dengan pesta malam tapi lebih tertarik dengan persiapannya. Kenapa? Karena aku dan Tory akan menyelinap menuju Perpustakaan Kota. Jujur saja aku tidak tahu kejutan apa yang akan Tory lakukan. Apapun itu aku berharap bahwa rencananya cukup gila sehingga membuat para dewan ini lengah dan mengurangi penjagaan dan pengawasan mereka atas aku.
Berpura-pura tidur saja, sambil menunggu Tory datang menjemputku.
Ketika mendengar suara ribut-ribut dari luar jendela, aku langsung buru-buru membuka jendela. Aku tahu bahwa yang datang pasti Tory. Karena orang lain pasti tahu bahwa ketika aku beristirahat, jangan coba-coba mendekati kamarku. Karena kalau tidak, tahu sendiri akibatnya....
“wah.. sepertinya ide untuk kabur ini membuat mu kegirangan dan bersemangat sekali. Aku baru saja meletakkan pantat di batang kayu ini untuk berpose seksi, dan kau mengejutkanku karena membukakan jendela 2 detik kemudian.”
“sudah, jangan banyak bicara. Masuklah sebelum ada orang yang melihat”
Aku menarik tubuh Tory yang sedang setengah duduk di atas ranting pohon terdekat. Ya ampuun.. aku sudah tegang setengah mati karena rencana bodoh ini, dan dia masih terpikir untuk bermain-main layaknya bocah laki-laki yang pecicilan.
Tory menatapku sekali, lalu memicingkan matanya padaku. “tolong jangan katakan badaku bahwa kau sedang gugup”
“maksudmu? Tentu saja aku gugup! Sekarang, ayo kita bersiap. Aku tidak mau dewan sampai tahu rencana kita, dan semakin mencurigaiku. Kalau rencana ini ketahuan, bisa-bisa aku mungkin akan di kawal ke kamar mandi juga”
“jangan khawatir, kalau seandainya kau di kawal ke kamar mandi juga, aku yang akan ikut masuk ke kamar mandi.. Oke? Lagi pula, jangan berfikir rencana kita akan gagal... kan aku sudah bilang, mereka akan sibuk untuk beberapa waktu. Aku yakin”
“memangnya jebakan apa yang kau siapkan?”
“kita lihat saja nanti. Sekarang, ayo kita berangkat”
“tunggu dulu. Aku mau menyimpan pesan untuk dewan. Untuk berjaga jika saja rencana kita ketahuan, agar mereka tidak panik.”
“tenang, semuanya sudah ku atur. Aku sudah memberitahukan Eve tentang rencana ini. tidak usah khawatir”
Aku mengangguk, dan membuka jendelaku.
BRAK!
Lalu pintu kamarku tiba-tiba menjeblak terbuka. Aku maupun Tory terlonjak kaget. “hai, kawan-kawan..aku berubah fikiran. Aku juga ingin ikut. Dan aku janji tidak akan mengganggu piknik romantis kalian. Aku hanya ingin mencari sebuah buku...”
Eve masuk sambil menggendong tas kecil di puggungnya. Kemunculannya yang tiba-tiba membuatku kaget dan terjungkal.
“aduhh.. aku minta maaf Dessy, Tory.. sepertinya aku mengagetkan kalian. Maaf.. seharusnya aku tadi mengetuk pintu dulu”
“tidak. Tidak apa-apa. Tadi kau bilang mau ikut?” aku akhirnya berkata.
“ya. Dan tenang saja, aku sudah memberitahu Shida bahwa aku akan ikut. Dia bilang juga mau ikut, tapi karena ia masih lemah, dia bersedia tetap tinggal dan akan memberi dewan penjelasan seandainya rencana kalian ketahuan.”
“.....” Tory masih belum bisa menyembunyikan kejengkelan di wajahnya. Bibirnya masih mengatup dan sedikit di kerucutkan.
“...oh ya sudah, aku senang kau bergabung. Ayo, berkonsentrasilah dan bayangkan tempat tujuan kita,... ke perpustakaan kota.” aku menghampiri Eve yang masih berdiri di pintu, lalu menggiringnya ke jendela.
Aku menoleh pada tumpukan salju di bawah jendela kamarku. Setelah meramalkan mantra tertentu, salju tersebut berubah menjadi sebuah lingkaran besar dan di tepinya ada cahaya berpendar keunguan. Aku tersenyum simpul.
Oke, persiapannya sudah selesai.
“ikuti aku”
Aku melompat melewati jendelaku, menuju lubang kebiruan itu danbersiap membawa kenangan masa lalu yang semakin jauh, dan tidak mungkin untuk ku dapatkan kembali [].