
“tentu saja kalian harus waspada”
Mendengar suara tersebut, memberikan kami sensasi yang jauh lebih buruk dari pada disambar petir.
Seorang pria keluar dari sebuah pohon tidak jauh dari kami. ia melangkah santai mendekati kami. Tubuhnya tinggi, kekar dan tegap. Rambutnya berwarna keabu-abuan, dengan matanya yang sekelam malam. Jubah hitam yang ia kenakan menjuntai hingga menyentuh tanah. Ia memancarkan aura kematian dan ketegangan dalam setiap langkahnya.
Keheningan mengambil alih di tengah-tengah kebingungan kami. Entah mengapa, kehadiran orang ini terasa seperti dapat membungkam apapun. Setiap langkah yang ia ambil, terkesan mengancam kehadiran siapa saja. Gerakannya terlihat santai, meskipun tatapan matanya tetap awas dan berbahaya.
Meskipun tidak mengenali pria ini, aku dan Dessy memasang radar bahaya dan waspada terhadap pria ini. Jelas sekali dia bukan pria sembarangan.
Tapi, Sepertinya aku pernah bertemu dengannya di suatu tempat.
Di samping kami, Eve tergelak ngeri. “kau.. Lord Hyno”
Kata-kata yang keluar dari mulut Eve membuat kami tercengang. Satu kalimat dari Eve, berhasil menjelaskan seluruh perasaan takut yang tiba-tiba kami rasakan tadi. Jadi, pria di hadapan ini adalah Lord Hyno, pemimpin pasukan kegelapan,, sang raja kegelapan itu sendiri.
Wah~ Seorang raja datang menemui kami. Aku tidak tahu harus merasa beruntung atau mungkin sebaliknya.
Dessy yang paling pertama bereaksi. Ia segera menyerangnya dengan Es yang ia miliki, namun, Lord Kegelapan berhasil menghindarinya dengan sangat mudah. Aku pun menerjang maju. Ketika Dessy tadi menyerangnya, aku sempat mengendap-endap di balik pepohonan untuk memberinya kecupan pedangku dengan tiba-tiba.
Tepat ketika ia berpindah untuk menghindar, aku menerjangkan pedang ku. Pedang tersebut berhasil menyayat punggungnya, namun karena refleks yang baik, pedang ku tidak memberinya luka besar. Menyerang dengan seluruh kekuatan sangat sulit di lakukan, apalagi ketika di kakimu ada luka basah bekas sayatan pedang. Segera setelah menyerang, aku jatuh.
“kau lumayan juga,, nak. Tapi pengalaman berpedangmu sepertinya masih sangat kurang” dengan begitu, ia menendangku.
Aku tidak pernah membayangkan akan pernah merasakan tendangan orang sekuat ini. Aku yakin bahwa terbang dan melayang mungkin setinggi 2 meter di udara.
“Tory!” Kak Eve berlari mendekat, dan segera membantuku berdiri. Ekspresi wajahnya sangat cemas. Ia bahkan hampir menangis.
“tenang dulu... Aku kemari hanya untuk melihat jelmaan para putri dewi Zhadeka yang munafik.”
Ia berjalan mendekati Dessy yang berdiri sedikit jauh dari kami. “Jadi, si pengendali Es ini adalah putri yang baru?... hm.. kutebak bukan. Ia sudah lama menjadi seorang putri, tetapi kau tidak membawanya padaku. Benarkan?” ia menatap mata Eve, dan merasa puas ketika mendapati kebenaran di balik matanya. Ia melihat sekeliling kami, dan tertawa sebentar ketika melihat kekacauan di sekitar kami.
“tentu saja, kau seorang putri yang kuat. Dapat di lihat dari berapa banyak pasukanku yang berhasilkau bekukan, nak. Kau berhasil membuatku kagum di pertemuan pertama kita.”
“tutup mulut mu, berengsekk!” ujar ku.
“oohhoo~ pangeran kecil rupanya. Kau tahu? Kau dulu pernah berkunjung di rumahku saat masih kecil. Seandainya saja kau tinggal lebih lama, aku bisa saja membuatmu menjadi pangeran ku. Tapi ibumu selalu berhasil membuatmu terlindungi dari jangkauan ku. Sayang sekali. Padahal kau sangat mirip dengan salah seorang putra ku”
“diam kau!”
“kau masih ada nyali untuk melawan, padahal hampir sekarat seperti itu. Kau hampir kehabisan darah. Mau saran dariku? Sebaiknya kau tetap duduk tenang, setidaknya dapat menunda kematianmu.”
“kenapa kau berkunjung kesini?” Eve menatap Lord curiga.
“bukannya di sini ada pesta?”
Yang lebih mengejutkanku adalah aku tidak pernah tahu Eve punya selera humor. Karena di antara segudang komentar yang dapat ia katakan, ia justru bilang “ironis, kau tidak dapat undangan ya?”
Mau tidak mau, aku tertawa kecil.
“ Oh.. Sudahlah. Kedatangan ku disini hanya untuk putri baru. Aku sedang tidak berniat berperang. Aku akan membiarkan kalian dulu untuk hari ini. karena hari ini aku hanya berkunjung, bukan untuk memulai perang. Oh iya, dan jangan harap aku tidak akan kembali lagi. Kalian sebaiknya bersiap..” ia melangkah pelan pada Dessy yang berdiri sendirian, jauh dari kami. Lord menyentuh pipi Dessy dengan lembut. “kita akan segera bertemu lagi, Putri”
Lord Hyno menjentikkan jarinya, lalu secepat kedipan mata, tubuhnya menghilang di balik kegelapan. Kami semua kaget bukan main. Bersamaan dengan menghilangnya Lord Hyno, tubuh pasukan kegelapan yang semula beku kini hancur bagaikan beling dan debu yang berserakan.
Hanya ada sunyi yang mengerikan. Api masih menyala dan membakar pohon dan rerumputan. Angin malam berembus dengan cara yang ganjil.
“Bagaimana mungkin ia bisa menghilang secepat kedipan mata? Apa dia benar-benar seorang manusia? Maksudku, ia menghilang begitu saja di hadapan kita. Dan Bukan hanya kita saja yang melihat langsung kedatangan Lord Hyno, kan?”
“jangan banyak omong dulu. Kau butuh pertolongan, Tory.” Dessy kini menghampiri kami. Dapat ku lihat betapa dia merasa terguncnag. Eve sepertinya masih belum pulih dari kekagetannya karena Lord Hyno tadi. Tatapannya menjadi kosong, seolah-olah ia tidak tahu sedang berada dimana, bahkan siapa dirinya.
“aarrggh!” aku terjatuh di tanah, kaki kiriku sudah tidak sanggup menahan beratku.
sial! Sepertinya, aku sudah kehilangan banyak darah.
“kau tadi hebat, Tory. Kau mengalahkan begitu banyak musuh, bahkan sempat melukai Lord Kegelapan. Aku bangga sekali”
“Des, kenapa tiba-tiba memujiku? Apa kau berfikir aku akan segera mati?”
“jangan bicara sembarangan! Aku memang sangat bangga padamu.”
“tentu saja kau harus.”
“tapi..bagaimana dengan Shida dan yang lainnya?” tanyaku.
Tiba-tiba Eve berdiri. Entah mengapa, matanya terlihat seperti berapi-api. Tak ku sadari, aku menelan ludah karena takut.“biar aku saja yang menyusul mereka. Dessy, kau bawa saja Pangeran Tory ke dalam. Perintahkan pada orang-orang yang menonton tadi, suruh mereka pulang”[]
***
-April’s POV-
Ketika kesadaran ku mulai pulih, aku langsung mengenali wajah seseorang di hadapanku.
IBU.
Entah mengapa terfikir olehku bahwa Ibu selalu nampak cemas. Maafkan aku, ibu.
Ketika aku tersadar, hanya ada Hilla dan Ibu di ruangan. Sementara keadaan di luar nampaknya sangat kacau. Samar-sama aku mendengar bunyi ledakan beberapa kali. Aku mengusap-usap wajahku. Sambil mencoba mengingat apa yang terjadi sesaat sebelum aku pingsan.
Perlahan, aku mulai mengingat runtutan peristiwa yang terjadi.
Sesaat sebelum aku pingsan, aku mengingat bahwa aku sedang berjalan-jalan bersama Eve. Eve merapihkan rambut palsu yang juga ku kenakan bersama para putri lainnya.
“menyenangkan bukan, menjadi seorang gadis biasa?” tanyanya.
“iya. Menjadi orang biasa juga tidak apa-apa. Aku akan menjadi seseorang seperti Ayah, Ibu, Dave, Hilla, dan juga pangeran Tory. Mereka semua tidak memiliki kekuatan khusus. Tetapi mereka masih bisa dan mampu untuk melindungi hidup orang banyak.”
“kau sudah mengerti, rupanya. Aku berdoa demi kebahagiaanmu, April”
“aku akan hidup seperti pangeran Tory. Seorang manusia biasa, tetapi selalu ada untuk kakakku, Dessy. Kalau begitu, aku akan selalu ada untuk seluruh putri, apalagi kak Eve. Aku akan tumbuh besar dan menjadi dewasa, lalu menjadi pelindung yang kuat dan terbaik bagi kalian. Aku akan menjadi tameng kalian.”
“ohhoo~ barusan kau menjiplak kata-kata itu dari mana? Kau keren.”
“hehe.. aku tidak menjiplak kata-kata barusan. Ini semua murni berkat belajar dari kalian.”
“wow. Untuk ukuran gadis berusia 9 tahun, kau sangat mengesankan, April. Aku di saat seusiamu sangat tidak dewasa. Aku sering di jauhi oleh teman-temanku karena aku dulu sangat sok. Saat itu aku masih bocah yang tidak tahu apa-apa. Pokoknya, segala yang ku ketahui adalah keluarga ku adalah keluarga yang terhormat. Karena kami keturunan langsung dari beberapa putri sebelumnya.”
“bukannya di antara semua putri saat ini, kau adalah yang pertama?”
“ya. Saat itu usia ku masih 10 tahun. Huh.. kau tahu, aku hampir saja mengalami trauma. Reaksi Dewan ketika mengetahui pengendali api telah terlahir, mereka semua datang, untuk menjemputku. Lalu mereka mengarantinaku. Beberapa bulan kemudian, Shida bergabung bersama ku. Kami melewati masa latihan berat bersama selama kurang lebih hampir dua tahun. Lalu kami mulai terjun ke medan perang.”
“benar-benar masa yang berat. Apalagi bagi bocah usia 12 tahun.”
“hahah.. usia ku bahkan belum genap 12 tahun saat perang pertama ku. Setelah berhasil dalam beberapa perang, aku dan Shida di beri misi untuk membawa istri ketua dewan yang sedang di sandera. Aku berhasil menyelamatkannya, beserta putra yang telah di lahirkannya”
“istri ketua dewan? Oh.. jadi ibu dari pangeran Tory pernah di culik sebelumnya? Waahh..”
“sehari setelah di selamatkan, Istri ketua Dewan meninggal akibat luka yang terlalu parah”
“memangnya berapa lama istri ketua dewan di sandera?
“5 tahun lebih beberapa bulan. Yang ajaib, saat di culik, nona Shania sedang mengandung Tory. Sampai sekarang, aku dan Shida masih takjub dengan bagaimana cara Ibu Pangeran Tory menyembunyikan kehadiran anaknya hingga bertahun-tahun di benteng mengerikan itu.”
“wanita yang hebat”
“yup.. begitulah. Beliau adalah wanita yang keren. Kita semua harus sekeren itu nanti”
“percayalah, kalian yang sekarang ini bahkan sudah sangat keren. Mau di keren kan seperti apa lagi?” Tuan Leo ikut bergabung bersama kami di taman belakang. “maaf yah.. aku tadi sempat mencuri dengar percakapan kalian. April, pikiran mu sudah sedewasa Dessy sepertinya. Aku kagum, tapi juga khawatir. Kenapa tidak kau nikmati saja masa kecil mu yang tenang ini, sebelum semuanya terlambat.”
“maksud paman ‘terlambat apa?”
“ya sudah jelas masa muda mu. Kaukan, tidak mungkin melewati masa kecil mu dua kali”
“oh, iya. Astaga..malam ini aku sudah terlalu serius. Ayo kita masuk ke dalam lagi. Aku ingin bermain lag--”
Aku kehilangan keseimbangan, dan jatuh. “oh.. maaf. sepertinya kau jatuh karena kakiku” ujar Tuan Leo.
“tidak. Aku jatuh sendiri, kok.” Aku menyambut uluran tangan Tuan Leo untuk membantuku berdiri.
Namun, ada sesuatu yang terasa aneh. Dan sepertinya, bukan hanya aku yang merasakannya. Tetapi juga Eve. Senyum ramah di wajahnya kini sirna, berganti dengan wajah serius dan khawatir, yang sepertinya sudah menjadi tren untuk kalangan putri.