
-April’s POV-
Sebelum menyusul kakakku, Ibu menyuruhku masuk ke dalam. Meski tidak suka di suruh menunggu, pada akhirnya aku menurut. Saat sedang duduk di ruang penjamuan, begitu kagetnya aku ketika api di perapian membesar, bahkan hampir menyambarku yang sedang duduk di sofa.
“aaaaahh!” teriakku kaget sambil berusaha menghindar.
Sesaat sebelum api menciut kembali, keluarlah dua sosok yang ku kenal.
“Kak Eve, Kak Shida! tunggu dulu... Ada apa dengan Kak Shida? Bagaimana kau bisa membawa kak Shida ikut masuk ke sini lewat api ini? oh.. apa kalian berdua baik-baik saja? Tunggu, akan ku ambilkan air. Kalian duduk dan luruskan kaki kalian, ya?”
Eve segera membaringkan Shida yang nampak sangat kelelahan. Aku bergegas menuju dapur, dan mengambil air, juga beberapa potong kue yang tergeletak di meja. Fikirku, Mereka sudah bertarung selama 5 jam, mereka pati lapar.
Begitu aku kembali, Kak Shida sudah sadar. “ini, habiskan kuenya. Kalian butuh banyak energi”
“terima kasih, April. Kau sangat pengertian sekali” ujar kak Shida sambil bersandar pada sofa. “ahh.. otot-ototku terlalu pegal sampai-sampai hampir mati rasa”
“apakau benar berusia 9 tahun? Kau sangat cerdas” Eve mengacungkan jempolnya.
“kalian berdua sangat berlebihan. Oh, iya. Bagaimana dengan kakakku?”
“maaf, aku tadi tidak sempat ikut membawanya bersama kami. pasalnya, aku dan Shida terpaksa bekerja sama untuk menguji kemampuan Dessy. Itu sebabnya jarak kami jauh, Tapi tenang saja, kemungkinan ia telah di selamatkan oleh Tuan Leo”
“.. syukurlah”
Eve dengan susah payah menyempatkan diri menyuapi Shida yang bahkan tidak mampu berbicara lagi. Jadi, aku mengambil piring makanan milik Shida dari tangan Eve. “kau makan saja, biar aku yang menyuapi kak Shida”
Eve tersenyum sambil mengangguk. Ia kemudian memperbaiki posisi duduknya, lalu mengunyah kuenya dengan lahap. Mereka nampaknya sangat kelelahan, akan tetapi, mereka masih sempat untuk mengkhawatirkan teman mereka. Dalam diam, aku menebak-nebak seberapa parah keadaan kakakku. Kalau Eve dan Shida saja yang bergabung melawan kakakku sampai begini parah, bagaimana dengan kakakku? Apa dia baik-baik saja?
Pertanyaan tolol. Tidak mungkin ada orang yang baik-baik saja jika telah bertarung sepanjang hari?
Tidak lama kemudian, pintu ruangan di buka, dan masuklah para Dewan dan juga kakakku. Kakakku terlihat baik baik saja. Ia bisa berjalan tanpa di papah oleh orang lain, hanya saja kakinya sedikit pincang. Wajah dan penampilannya nampak berantakan, tapi kakakku selalu berhasil menjadi cantik dan berwibawa, walau dalam keadaan berantakan seperti itu.
Tuan Leo yang terakhir masuk, menutup pintunya dengan pelan. Ketika orang terakhir memasuki ruangan, entah mengapa walau hanya sebentar, tiba-tiba aku merasa waktu di sekeliling ku melambat . Ketika waktu terasa normal kembali, aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Semuanya nampak normal.
Namun, ada yang aneh dari kakakku. Entah apakah orang lain melihatnya juga, tetapi aku mulai melihat ada pendar ke biruan di balik sosoknya. Tidak hanya kakakku, tetapi juga Eve dan Shida meskipun cahaya mereka sedikit redup.
“ada apa?” Tory yang berdiri di sampingku sepertinya menyadari kejanggalan yang kurasa.
“tidak apa-apa. Aku.. sepertinya agak pusing.”
“huh.. bagaimana bisa? bukan kau yang ikut bertarung tetapi kau yang pusing sementara kakakmu yang bertarung tidak apa-apa?”
“ibuuu! Kepala ku terasa agak sedikit pusing. Ibu punya obat tidak?”
“obat? Kau kenapa?”
“tidak apa-apa, bu. Pandangan ku hanya...” aku melirik kakakku sekali lagi.
“kau kenapa April?” kak Dessy menghampiriku, lalu duduk di sampingku.
“apa kau merasa tidak enak badan? Ayo, biar ku bawa kau ke kamar mu”
“tidak usah kak. Aku masih kuat untuk jalan sendiri.”
Namun, ketika aku berdiri, kepala ku malah semakin sakit, dan ku rasakan sekujur tubuhku menggigil. Apa karena kekuatan Kakak Dessy? Yah.. ini pernah terjadi sebelumnya. Kekuatannya terlalu kuat sehingga sulit bagiku untuk beridri di sampingnya karena pengaruh energi yang di milikinya.
Tidak masalah apapun penyebabnya. Yang penting sekarang aku harus kembali ke kamar. Aku memaksa kaki ku untuk tetap berjalan seperti biasa. Dan tiap lagkah yang ku ambil betul-betul menyiksa. Begitu sampai di pintu, aku merasakan secara perlahan aku mulai kehilangan fokus, dan kesadaran ku perlahan terenggut.[]
Aku yakin sekali bahwa aku sedang bermimpi. Karena kalau tidak, aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Kilasan masa kecil ku muncul dalam mimpiku. Tubuhku seolah-olah berada dan melihat kenangan diriku di masa lalu.
Aku melihat diriku sedang duduk di atas ayunan di taman kota. Kala itu aku masih berusia sekitaran 6 tahun. Waktu itu sedang ada parade di kota. Aku datang kemari bersama kak Dessy dan Pangeran Tory. Mereka berdua mengajakku kabur dari latihan. Selama ini mereka jenuh karena setiap hari yang mereka lakukan hanyalah berlatih dan terus berlatih. Karena Tuan Leo melarang mereka ikut, keduanya akhirnya sepakat kabur untuk ‘mengintip kehidupan normal orang biasa di kota. Aku pasrah saja di bawa pergi oleh mereka.
Karena merasa bosan dan capek berkeliling, aku memilih menunggu kedua orang yang datang untuk melepas stress itu di taman anak-anak. Banyak anak-anak seusiaku bermain di taman kota. Aku sebenarnya ingin ikut bergabung, namun segera ku urungkan. Aku takut mengacau. Bagaimana kalau mereka menyadari kalau akulah putri angin yang sering di sebut-sebut? Aku tidak ingin merusak suasana bahagia anak-anak itu.
Aku sedang duduk tenang seorang diri ketika kak Dessy menghampiriku “April, sedang apa kau di sini sendirian?”
“aku.. hanya ingin melihat pemandangan di sekitar sini” ujarku.
“...kenapa tidak bergabung dengan teman-teman seusiamu?” tanya Dessy. Demi menatap mataku, ia membungkukkan badannya sedikit.
“kemana Pangeran Tory? Kenapa ia tidak bersama kakak?”
“dia pergi untuk mengambilkan kita semua minuman.”
“ohh..bagaimana jalan-jalan kakak? Apa mereka mengenali kakak?” seketika saat itu tatapan ramah kakakku perlahan sirna. Ia menatapku dengan sedikit tegas, seolah-olah sedang mempelajari ku.
“kakak kenapa?” tanya ku gugup.
Kenapa melihatku seperti itu?
“kau.. sangat cantik” jawabnya sambil mengelus lembut rambutku yang nampak sedikit berantakan. Kemudian ia beranjak pergi entah kemana, dan kembali sambil menyembunyikan sesuatu di tangan kanannya.
Ketika ia menyodorkan benda yang ia sembunyikan di tangan kanan itu, ia berkata “Ta-daa! Ini, untuk mu”
Aku menatap pada benda di tangan kakakku dengan bingung. “apa itu? Maianan?” tanyaku.
“ini Lolypop! Makanlah, semua anak kecilkan suka lolypop.. waktu seusiamu aku sangat menyukai permen seperti ini. Jadi, kau pasti akan suka juga, cobalah!”
Ia membukakan bungkusan permen yang baru saja ia belikan untukku. Jujur, karena bingung hendak bereaksi seperti apa, aku hanya diam.
“...... makanan seperti ini tidak baik untuk gigi” ujarku.
Mendengar jawabanku, kakakku tertawa. “aku mengerti kenapa kau merasa sungkan bergabung dengan mereka”
“aku tidak sungkan, kok. Aku hanya membatasi diri. Aku ini lebih dewasa dari pada anak seusia ku pada umumnya.” Aku bersuaha membela diri. Namun lagi-lagi kakakku hanya tertawa kecil
“kakak tahu.” Ujarnya.
Mendengar nada tawa dari ucapan tersebut, aku berusaha membela diri lagi. “aku bukan bermaksud pamer tapi----“
“kakak tahu. Seorang putri memang tidak pernah senormal orang lain. Aku dulu jauh lebih cepat mencerna apa saja yang aku pelajari. Semua itu menjadikan ku terkadang bersikap sok dewasa, dan suka mengatur. Itu sebabnya pengasuhku tidak tahan untuk menjagaku ketika orang tua kita sedang bertugas. Ketika kakak mendapatkan kekuatan, usiaku persis sama dengan mu sekarang. Aku mendapatkan kekuatan es ku ketika hampir berusia 6 tahun. Kau tahu, apa yang kakak rasakan? Rasanya sama seperti yang kau rasakan pula. Meski kekuatan angin mu belum kuat, dan tidak pasti, orang sekitar mu sudah memperlakukan mu seperti seorang Putri Spring, bukan seorang anak perempuan berusia 5 tahun. Mereka menaruh harapan tinggi di pundakmu, dan berharap kau bisa mewujudkannya. Segala perhatian palsu dan permintaan kejam itu serasa membuat pundakku terasa lebih berat. Aku akhirnya mencoba bersikap sebagaimana seorang putri, seperti kak Eve. Hidupku ternyata malah semakin menyedihkan, karena bukannya mampu menerima keadaanku, aku ternyata semakin terbebani. Beruntung aku punya Tory di sampingku. Ia memberiku pemahaman menjadi seorang Putri bukan berarti aku hanya hidup demi orang lain, tapi juga demi diriku sendiri. Meskipun punya masalah yang sama, bukan berarti aku harus menghadapinya dengan cara yang sama. Di banding meniru Eve, aku akhirnya mencoba untuk menjadi lebih diriku. Sudah cukup kita di kekang oleh ekspektasi sosial masyarakat.. jangan sampai kita sendiri juga mengekang diri kita dengan ekspektasi lain. Akhirnya aku mulai menemukan kebahagiaan, dan menerima takdirku dengan santai dan tidak peduli dengan tekanan orang lain lagi.”
“kau adalah adikku. Dan aku tahu kau. Kau bukan orang yang seperti ini. Kau berjiwa bebas, sama sepertiku. Cari jalan mu sendiri. Jangan takut mencoba hal baru. Jangan takut penilaian orang lain. Setelah semua yang terjadi, kita juga berhak untuk bahagia”
Kakakku mengambil nafas sejenak, sambil membiarkan ku mencerna perkataannya. Setelah terdiam cukup lama, ia mengalihkan pandangannya dari ku, lalu menatap wajah bahagia anak-anak yang sedang asyik bermain.
“kakak tidak ingin kau menyesali masa lalu mu nanti, seperti kakak. Kau memang belum bertemu dengan orang seperti Tory di samping mu, tetapi kau punya aku. Kakak ingin mulai sekarang, kau tidak canggung dan sungkan lagi, bersikaplah sesuai usia mu. Jika kau tidak punya teman untuk melampiaskan apapun yang kau inginkan, datanglah pada kakak. Sekarang pergilah, bermain dengan teman baru mu. Perkenalkan dirimu seperti biasa, tidak usah kau ungkit kekuatanmu, ikutilah permainan mereka, maka kau juga akan tertawa seperti mereka. Bukankah senyum di wajah mereka itu.. indah sekali?”
Aku menatap wajah-wajah polos di depan ku yang sedang asyik tertawa dan bermain. Senyum mereka... entah kenapa aku juga merasa ikut tertawa bersama mereka.
Perlahan tapi pasti, aku mulai melangkahkan kakiku menuju salah satu dari kumpulan anak-anak yang sedang asyik bermain. Aku masih ingat saat itu tangan ku sangat dingin. Aku gugup sekali. Namun, aku mengikuti saran kakak, dan mencoba berbaur sebisaku. Meski awalnya mereka nampak tidak terlalu peduli, akhirnya mereka mengulurkan tangan mereka untuk mengajakku bergabung. Saat itu, seolah-olah, ada aliran hangat yang mengalir dari sentuhan mereka. Dan aku, merasa sangaaaaatttt bahagia.[]