The Winter Stories

The Winter Stories
Titik Balik #2



-Shida’s POV-


Aku baru saja selesai makan ketika Daniel mengendap-endap untuk mendekatiku. Begitu ia sampai, ia melemparkan kertas padaku. Lalu aku tersenyum kecil. Ayah Dessy yang duduk berhadapan denganku memergoki kami, dan langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku mengangkat sebelah alis, menentangnya. Melihat Ayah Dessy yang diam saja, ku putuskan untuk beralih pada kertas kecil yang jatuh di atas mejaku. 


Aku mengambil kertas itu, dan segera menyingkir. Dari ujung koridor, sosok Dessy muncul. Aku melambaikan tangan padanya, dan memberi isyarat bahwa aku pergi dulu, untuk kencan ahahaha... dia hanya mengangguk, lalu duduk di kursinya sambil tersenyum.


‘Temui aku di tempat penyimpanan makanan’


Begitu yang tertulis pada kertas itu. Sebenarnya, aku agak bingung. Soalnya, Daniel tidak pernah mengajakku kencan di gudang tempat menyimpan makanan.


Begitu mendapati sosoknya yang sedang sibuk berkemas, aku langsung berlari dan memeluknya dari belakang. Ia kaget, dan menoleh ke kiri dan kanan, seolah memastikan tidak ada yang mengikuti kami. Aneh.. semua orang sudah tahu akan hubungan kami. Apa yang harus di tutup tutupi lagi?


“tidak ada yang mengikutiku, kau kenapa sih?”


Daniel menatap mataku denan sanat-sangat serius, sampai sampai aku berfikir dia munkin sedang bercanda. “tempat ini tidak lagi aman, Shida. Beberapa letnan pengintai mengirimiku pesan, bahwa akan ada serangan Lord Hyno, tepat di jantung markas utama.”


“jangan bercanda. Lord Hyno tidak akan menyerang. Ia tidak akan mampu melumpuhkan markas utama.” Ujarku sambil cengengesan. 


“Shida, ini situasi gawat. Dan aku tidak main-main.”


Aku mengambil apel yang tadinya hendak di masukkan Danel ke dalam tas, dan menunyahnya. “kau tidak mengerti, Daniel. Tapi ada Dessy di pihak kita yang mampu mengalahkan Lord”


“.. bagaimana kalau... bagaimana kalau Dessy-lah yang menjadi senjata utamanya?”


Oh sial. Jangan ini lagi.. tolong...


“maksudmu? Daniel, kau sudah berjanji untuk tidak menuduh Dessy dengan pernyataan bodoh. Nah, kalau ini yang membuat mu memanggilku, sebaiknya kau pergi saja”


“Daniel benar. Kita harus pergi” [].


***


“Daniel benar. Kita harus pergi” 


Di pintu, berdirilah Tory. Ia menyandang tas besar di punggungnya dan tali yang melilit di tangannya. Matanya terlihat merah, dan bengkak. Dan rambutnya acak-acakan. Aku tidak tahu apa yang terjadi sehingga mampu membuatnya terlihat kacau seperti ini.


“oh tidak,.. jangan kau juga. Sekarang, kalau kalian semua sudah bersekongkol untuk menjebakku dalam permaianan kalian, kalian salah besar karena aku tidak tertipu, meskiun kau muncul dengan wajah bengkak seperti itu Tory” ujarku.


“Dessy.. menyerang April. Sekarang April dalam keadaan pingsan. Dessy telah berubah. Itu kenyataannya. Ia berpihak pada Lord Hyno, dan akan menyerang markas ini. Sekarang, kalau kau bersikeras untuk bertahan di sini, kau bisa mati”


Tory melangkah masuk, dan begitu ia lewat, matanya menatapku serius.


“aku.. tidak mungkin Dessy melakukan itu!”


Tory tidak menanggapiku, dan membantu Daniel berkemas. Aku tidak percaya ini. Kalau memang seandainya Dessy sudah berubah, dan kalau ia benar - benarr menyerang April, kenapa tadi masih tersenyum ketika aku pamit? Dan aku yakin senyum itu masih senyum tulus yang sama dengan yang dulu.  Kalau seandainya dia telah berubah jahat, maka aku dan dia adalah musuh. Dia tidak mungkin membiarkan ku pergi. Tidak mungkin..


Tentu saja, mungkin aku sedang di tipu oleh Tory.


“Eve dan April sudah berada di luar tembok. Kuda-kuda juga sudah siap. Yang perlu kita lakukan adalah pergi mengendap-endap—“


Aku sudah tidak menyimak lagi. Aku segera berlari menuju aula makan, tempat tarakhir kali aku melihat Dessy. Di belakang, Daniel dan Tory berusaha untuk menghentikanku.


Aku memanggil kekuatan ku, dan membuatku berteleportasi lebih cepat ke aula. Sementara itu, Daniel memanggil-manggil namaku dengan putus asa. Terdengar nada suaranya ya pernah ku dengar sekali sebelumnya, yaitu takut. 


Aku berteleportas langsung ke ddepan pintu masuk aula, lalu membuka pintu. Namun begitu aku memasuki ruangan, yang ku dapati adalah kesunyian.


Aku menebar pandangan untuk mencari sosok Dessy. Lalu aku tersadar akan sesuatu. Situasi ruang makan malam sungguh sangat.. ganjil. Seharusnya pesta tidak sesunyi ini.  ku sadari adrenalin ku mulai mengambil alih, dan instingku menyuruhku untuk bersikap awas. Sesuatu yang jahat telah hadir. 


Aku menelaah kembali seluruh ruangan, lalu aku melihatnya. Di hadapan para dewan, berdirilah Lord Hyno.


“wah.. satu lagi bergabung dengan kita di sini”  ujarnya.


“kau tidak di undang makan malam di sini,  kau tidak di terima. Pergilah” ujarku.


“oh.. tapi aku tidak datang untuk berkelahi dengan mu. Aku datang untuk menjemput sang putri, December De Winter” [].


***


.... Aku datang untuk menjemput sang putri, December De Winter”


Aku baru saja hendak menertawakannya keras-keras, soalnya caranya berbicara begitu yakin, dengan wajah yang terlalu berggembira.  Lalu tawa ku langsung lenyap ketika Dessy melangkah pelan, dan menuju Lord Hyno. Begitu berdiri di hadapan Lord Hyno, ia berlutut untuk mengatakan sumpah setianya.  Aku yang melihatnya tidak mampu bereaksi dan melakukan apa-apa untuk mencegah Dessy. Seluruh orang terkesiap. Bagaikan tersihir, tidak ada seorangpun yan mampu bergerak saat itu. 


“selamat datang, wahai tuan yang menguasai kegelapan.” Ujar Dessy dengan tenang.


“kau akan menjadi panglima ku yang berguna”


Dessy mengedarkan pandangan, lalu padangannya jatuh padaku yang masih mematung di depan pintu. Tatapannya kemudian beralih pada orang-orang di belakangku. Tory dan Daniel berdiri siaga di belakangku.


“ragu, ya?” tanya Lord pada Dessy.


Dessy tidak melepaskan tatapannya dari Tory, yang juga menatapnya dengan tatapan memohon.  Lama kemudian Dessy baru menjawab. 


 “tidak. Ayo kita pergi. Benteng seperti ini, tidak perlu kita yang harus turun langsung. Para putri juga tidak akan sanggup melawan untuk sementara ini. Kirim pasukanmu”


Di depan perapian, Lord Meus mempersilahkan ayahnya, Lord Hyno untuk pergi terlebih dahulu dengan Dessy di belakangnya.


“Dessy tunggu, jangan pergi dengannya!”  Ayah Dessy berusaha menghentikan Dessy, dan berlari mengikutinya ke perapian.


“peduli apa kau? Mulai sekarang, aku bukan anak mu. Kau membuangku. Aku milik Aletta sekarang”


“tidak. Hentikanlah kegilaan ini. Kau seperti ini karena marah padaku. Kau menyalahkanku atas kematian Leonardo. Aku bersalah Des. Ayah bersalah. Kau boleh menghukumku, tapi tolong jangan ikut bersamanya. Kau tau bahwa ini semua salah”


“baguslah kalau ayah sadar. Ini semua adalah kesalahan. Semua yang terjadi dalam kehidupanku selalu berupa kesalahan. Ayah membuang ku, itu kesalahan ayah. Aku menyayangi keluarga kita, itu kesalahanku. Aku lebih dari sekedar tukang pukul kalian. Aku bisa jadi lebih baik. Aku adalah yang terhebat, tapi kenapa selalu aku yang di asingkan?”


“bagaimana dengan kami? Apa kami juga kesalahan?” tanyaku.


“...tergantung dari sisi mana kau berpihak. Bergabunglah denganku, Shida. Kau akan jadi lebih dari berguna.”


“tidak. Kami tidak akan bergabung dengan mu” Tory menjawab mewakili ku.


Lama Dessy terdiam. Lalu ia melanjutkan “ terserah kalian. Kita akan bertemu dalam perang-perang ke depannya. Sampai saat itu, cobalah untuk bertahan” ujarnya.


Dengan kata-kata itu, api-api merintih, dan ledakan kuat energgi telah melemparkan kami yang terdekat dari pintu, keluar dari gedung aula. Aku merintih kesakitan, dan Daniel berusaha membantuku berdiri. Lalu setengah detik kemudian, seluruh aula meledak dengan kekuatan yang maha dahsyat. [].


***


Kepalaku terasa berat. Seseorang sedang menguncang-guncang tubuhku. Samar, terdengar suara  membangunkan ku dengan putus asa. Perlahan, aku berusaha membuka mata. Begitu berhasil, yang pertama ku liat adalah wajah seorang. Aku mengenali wajah ini. Seorang laki-laki. Ekspresinya menahan tangis. Dengan lega, ia mencium keningku. Masih dalam keadaan bingung dan kacau, aku beralih pada orang selanjutnya. Seorang wanita. Wajahnya yang cemas tidak menyembunyikan fakta bahwa dia sangat cantik. Rambutnya yang kemerahan berkilau memantulkan cahaya api.


“Evelyn?” tanyaku..


“syukurlah.. kau baik-baik saja. Kepala mu tadi terantuk batu.” Ujarnya.


Di sekeliling kami, pertempuran telah pecah. Pepohonan di makan api, pedang-pedang saling menebas, orang-orang yang berlarian, dan.. di sekeliling kami ada tubuh yang tergeletak tak bernyawa lagi. Banyak kematian. 


“musuh.. kita di serang.. markas utama..”


“tenang, Shida. Kau tidak boleh lepas kendali” ujar Tory.


Melihatnya, aku langsung teringat akan Dessy. “Dessy.. kalian benar..seharusnya aku mendengarkan kalian.. ”  


Lalu aku mulai terisak. Aku tidak percaya yang baru saja ku alami. Rasanya aku tahu aku tidak boleh berharap banyak atas kehidupan yang sempurna, tapi beberapa waktu lalu aku merasa takdir akan semakin cerah pada kami. Orang sebaik Dessy.. bagaimana mungkin bisa berubah menjadi jahat seperti ini.? Dia membunuh ayahnya sendiri, dan bahkan menyerang adiknya.. 


Daniel menggenggam tangan ku. Lalu aku menghambur dalam peluknya.


“tidak apa-apa.. April selamat.. kita juga baik-baik saja” ujarnya.


Dave dan Hilla, kakak kandung Dessy menghampiri kami. Mereka berdua telah menghalau musuh sementara kami semua duduk dan menangis.


Tidak bisa begini...


Kami semua adalah petarung. Kami tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Aku seharusnya bisa lebih baik.


Jadi, ku putuskan untuk berhenti menangis.


“kita harus pergi dari sini. Kita harus menyembunyikan April. Mencegahnya mendapatkan seluruh kekuatan April adalah satu-satunya harapan kita.” Ujarku.


Mereka semua setuju, dan mulai bergerak. Daniel membantuku berdiri dan naik ke salah satu kuda. Tory membantu Eve untuk menaikkan April ke atas kuda terbesar bersama Eve. Hilla juga naik ke atas salah satu kuda. Sedangkan kuda terakhir di tunggangi oleh Tory yang akan berkendara sendirian. Tak lama berselang kami siap berangkat. Aku dan Hilla menunggu untuk Daniel dan Dave naik ke atas kuda kami. 


“Dave.. Daniel? Ayo naik. Kita harus berangkat, sekarang!” ujarku.


Yang membuatku semakin bingung, tidak ada respon dari keduanya. 


Hening.


Mereka menatap pada medan pertempuran. Di sekeliling kami, api membakar gedung, tenda dan pepohonan. Orang-orang saling bunuh, dan ledakan serta tembakan terdengar bersahutan. Aku turun dari kudaku, dan menghampiri mereka.


“ayo, kalian berdua. Kita tidak bisa berdiam di sini. Musuh akan mengepung kita, dan kita sudah terlalu lemah untuk melawan”


Aku berusaha menarik Daniel menuju kudku, namun ia tetap bergeming. “pergilah. Tory akan membimbing kalian menuju tempat teraman, yaitu rumah Tuan Leo. Tory sudah punya rencana. Pastikan kau membantunya agar rencana tersebut berhasil. Kau dan putri-putri lainnya harus selamat dari ini. Pastikan April tidak terluka. Aku punya firasat bahwa pihak kita akan bersandar pada April. April akan menjadi kunci dari perang ini.”


Daniel meletakkan kedua tangannnya di bahuku. Ia menatapku lekat-lekat sambil berkata “kau mungkin belum dengar mengenai ramalan.. dulu, ada ramalan besar yang memberitakan akhir dari perang ini. Pusatnya akan bergantung pada putri yang bersaudara. Aku dulu selalu berharap semoga nasib kita tidak sejelek itu untuk Dessy dan April sebagai putri yang di maksud. Mereka memang tidak kembar, tapi ada jalinan persaudaraan, yang tidak pernah terjadi sepanjang sejarah. Bagi ramalan, itu sudah cukup.  Dan sekarang, April satu-satunya harapan”


Daniel menggiringku untuk kembali naik ke kudaku.


“lalu bagaimana dengan kalian berdua?” tanyaku.


Daniel menatap medan pertempuran. “kami adalah prajurit. Hidup mati kami, telah kami serahkan pada pertempuran.  Tugas kami adalah menjaga agar benteng ini tidak di renggut. Bahkan kalau seperti itu, kami harus membuktikan diri, bahwa setidaknya kami telah berusaha”


“pergilah, akan kami tahan pasukan disini, agar kalian bisa kabur dengan selamat” Dave menghampiri kuda Hilla, dan mencium kening adiknya itu. Seketika suatu pemahaman muncul di benakku.


Ini salam perpisahan.


Aku menepis tangan Daniel dari pundakku. “tidak, aku akan bersama dengan kalian. Setelah pertempuran di sini selesai, aku akan menyusul rombongan. Aku tidak mau berpisah dari mu” ujarku.


Lalu tangannya sekali lagi menggenggam tanganku. Matanya memancarkan keteguhan hati dan tekadnya. Dan  aku menyadari, sikapku hanya akan membuatnya lebih berat untuk tinggal. Ia mengusap-usap kepalaku dengan lembut, seperti yang biasa ia lakukan ketika menenangkan ku.


“sekali saja dalam hidupku..” tatapnya lembut dan sedikit memohon. Ia terdiam sebentar, lalu ia melanjutkan “..Aku tidak ingin bertarung bersamamu. Kali ini, biarkan aku berjuang dengan segala kemampuan yang aku miliki. Biarkan aku yang menyelamatkan mu. Tidak peduli seberapa kuat dan saktinya kau, bagaimanapun, kau tetaplah wanita. Dan kau adalah Wanitaku.”


Air mata kembali berlinang di mataku. Aku mengedipkan mata cepat-cepat, demi menahan air mata itu menetes. Percuma. 


“tapi bagaimana kalian bisa bertahan? Pasukan kita jelas kewalahan. Ku mohon, ikutlah bersamaku. Kau masih akan tetap berguna. Kita bahkan bisa menyusun rencana untuk mengambil alih benteng ini kembali.”


“itu sebabnya, kau tidak boleh menahanku lama-lama. Kami harus kembali ke medan pertempuran”


“tidak ada gunanya mempertahankan markas utama. Lebih baik berlindung di markas lain” ujar Hilla.


“tidak. Kami berdua telah sepakat. Kami adalah pasukan khusus. Kami adalah kaum elit militer. Kenapa kami malah mundur dari pertempuran?” Dave mengeluarkan pedangnya. Sama seperti Dave, Daniel juga memiliki kobaran semangat yang sama. Akhirnya aku sadar apapun yang kulakukan, tidak akan mampu untuk meminta keduanya ikut bersama kami. Saat mereka di ikrar untuk menjadi pasukan, mereka telah bersumpah untuk selalu melindungi markas utama. Bahkan jika harus mati, mereka akan mati.


Apa yang salah dengan ku? Tidak biasanya aku begitu merasa terpuruk seperti ini. Bukan sifat ku untuk bersikap merajuk seperti ini. Aku selalu tahu mengenai arti penting tanggung jawab dan pengorbanan.. tapi kenapa rasanya berat sekali untuk pergi? Kenapa sulit sekali untuk melepas Daniel?


Cukup lama aku bergemul dengan batinku. Sekeras apapun aku berusaha untuk melangkah pergi, sekeras itu pula tekad ku untuk tinggal.


“yah.. ini mungkin terakhir kalinya kita bertemu..” Daniel kemudian menarikku dalam dekapannya. 


“kau tahu aku mencintai mu, kan?” bisiknya. 


Aku menyadari bahwa telah tiba saatnya bagiku dan Daniel untuk berpisah. Ku putuskan untuk membenamkan wajahku dalam peluknya. Untuk terakhir kalinya, aku merasakan tubuhnya. Tangannya yang mendekapku, tarikan nafasnya, dan aroma Daniel untuk terakhir kali. Aku berusaha menahan tangis, karena tidak inin daniel malah melihat tangisku di saat-saat sepeerti ini. aku tidak boleh terlihat lemah. Karena lemah bukanlah aku. 


“kalau begitu, aku akan menunggu. Ingatlah.. kau harus kembali padaku. Berjanjilah” aku melemparkan tatapan galak padanya.


Melihat ku seperti itu, ia terkekeh. “sulit untuk menepatinya. Kau tahu itu”


“janji” ujarku bersikeras. Akhirnya, ia berjanji, lalu mencium keningku sekali lagi.


Diam-diam, aku mengalirkan petir pada pedangnya, juga pedang Dave. Mereka akan membutuhkannya seandainya mereka bisa menutup portal nanti. Sekali lagi, Daniel membantuku naik ke atas kudaku.


“aku mencintaimu” ujarnya.


Mendengarnya mengucapkan itu, malah semakin merobek hatiku. “hentikan, bodoh. Tanpa kau katakanpun aku tahu”


Daniel menyeringai. “senang menjalin percakapan biasa dengan mu lagi”


Ia kemudian menoleh pada yang lain. “kalian ingat larik terakhir ramalan? Mengenai pangeran yang hilang.. kalian harus menemukannya. Menurutku siapapu pangeran itu, ia pastinya akan berasal dari Klan Alam. Tory akan tahu jalannnya.”


“Tory, berjanjilah kau akan menuntun mereka” 


“aku.. akan berusaha.” 


Terakhir, ia mengangguk pada Eve, Hilla dan Tory, lalu berlari bersama Dave menuju medan pertempuran dan menebas musuh-musuh kami.


Untuk beberapa detik terlama dalam kehidupanku, aku mulai menimbang keputusan ku kembali. Haruskah aku tinggal bersama Daniel? Atau aku harus pergi dan bersembunyi demi April?


“ayo pergi Shida. Jangan sampai musuh menyadari kita dan mengikuti kita tanpa sepengetahuan kita.”


Aku menaiki kudaku, lalu sekali lagi, menatap pada bayang-bayang markas yang telah hangus. Duduk di atas pelana kuda sambil menyaksikan kehancuran di depan mataku membuatku menyadari sesuatu. Inilah saat titik balik kehidupanku. Semua yang dulu terasa sempurna kini habis sudah, yang tersisa tinggal harapan, yang kian menyusut. Meski begitu aku memaksakan  memutar kudaku, lalu berkendara menjauh. 


Fikiran ku mengelana hingga membawaku pada ramalan besar terakhir. ------.jika memang pangeran yang tidak diketahui itu benar-benar mampu menjadi haarpan kami, kemanapun itu akan ku cari dia. 


Baiklah, pangeran dari elemen kelima.. Aku datang. []