The Winter Stories

The Winter Stories
Persiapan Ujian Dessy



Ketika malam tiba semua orang sudah berkumpul di Perpustakkaan Kota. Rupanya, Dewan benar-benar serius akan ujian December. Pasalnya, selain para Dewan, panglima tertinggi juga ikut hadir. Ini artinya, Dessy harus bertarung dengan baik besok. Jika tidak, Tuan Leo akan diberi hukuman karena tepat 12 tahun yang lalu, Tuan Leo yang meyakinkan Dewan agar Dessy tetap menetap di kota ini.


Ayah beserta rombongannya tiba sebelum jam makan malam tiba. Selain  empat orang dewan yang ikut serta bersama ayah, hadir pula 3 orang panglima Dewan, ibu Dessy, juga saudara-saudara Dessy.


“bagaimana perjalanan anda, tuan?” tanya Dessy sopan di tengah makan malam kami yang menegangkan. 


“biasa saja. Tapi perjalanan kali ini adalah perjalanan yang cukup menyenangkan” jawab ayah ku. 


 “apa anda menemukan sesuatu yang menyenangkan hati tuan?” tanya Dessy lagi.


“maksudku, setelah menempuh perjalanan panjang selama dua hari, alangkah senangnya hati saya ketika menatap wajah Putri De Winter yang tumbuh dari hari ke hari semakin cantik. Berapa usia anda, Putri De Winter?”


apa-apan itu? Gerutuku dalam hati. 


 “18 tahun tuan.” Dessy menjawab. 


“waahh. Anda sudah dewasa sekarang. Rasanya waktu terlalu cepat berlalu. Baru kemarin aku mendengar Putra ku menjelek-jelekkan mu, sekarang yang terdengar dari mulutnya hanyalah pujian terhadapmu. Kalian sudah tumbuh besar rupanya.”


Gara-gara mendengar perkataan ayah tadi, aku tersedak nasi. Dessy yang duduk berhadapan dengan ku segera menyodorkan segelas air padaku.


“jangan makan sebanyak itu sekaligus, Tory.. Makan harus pelan-pelan!” ujarnya.


“hmph!!!”


Aku menengok, mencari asal suara tersebut, dan menemukan Shida yang  terlihat sedang menahan tawa dengan susah payah. Dia kenapa lagi sih? Aku memolototinya, berusaha membuatnya  berhenti tertawa.


“ada yang lucu?” tanyaku padanya. Ia tidak menyahut, melainkan melanjutkan makan malamnya. Meski begitu, aku bisa melihat dia masih berjuang menahan tawa. ck. Dia pasti sedang mengejekku. 


Di kursi tengah, Tuan Ares bergabung dalam percakapan. “yang mulia De winter, hamba panasaran dengan latihan anda selama ini. Apakah Tuan Leo mengajarimu dengan baik? Bagaimana caranya? Selama ini yang  ia lakukan hanya membaca dan membaca, tidak pernah keluar dari perpustakaan, hamba penasaran, ilmu apa yang di ajarkannya kepada Nyonya?”


Mendengar pertanyaan tersebut, serta merta Dessy menghentikan makan. Aku dapat melihat tangannya sedikit bergetar, lalu dengan halus ia menyamarkannya dengan meminum minumanya dengan anggun. Yah, aku tahu gestur itu. Dia sangat membenci si keparat Ares, lebih benci lagi ketika orang tua itu menyinggung-nyinggung Tuan Leo. Meski begitu, Dessy menampilkan wajah tanpa ekspresi demi menyembunyikan amarahnya.


“Ares, kau ini seorang Dewan, jaga mulut dan etikamu. Kita sedang bertamu di rumah orang. Lagipula, ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan latihan” Ayah Dessy menegur tuan Ares.


“tutup mulut mu, aku tidak bertanya kepada mu”


“Ares, apa yang di katakan oleh Josh memang benar. Bukan saatnya kau mengatakan hal ini. Kau merusak suasana” barulah saat ayahku menegur, Tuan Ares akhirnya diam  meski nampak belum puas.


Kemudian, suasana kembali hening, sampai Dessy kembali menyahut, “dia mengajariku segalanya. Sebagai seorang guru, dia adalah sosok yang sempurna” Dessy menjelaskan sambil berusaha tersenyum untuk menyembunyikan emosi. Pasalnya, Dessy sangat membenci orang yang mengejek Tuan Leo. 


Dari ujung meja, si Tua Ares kembali menyahut “oh.. benarkah? Aku sangat penasaran dengan hasilnya, Putri.”


“kau lihat saja besok” ujarnya singkat. Ia menoleh kepada Tuan Leo. Dan begitu ia menemukan senyum di wajah lelaki paruh baya itu, senyum tersebut juga mengambang di pipi Dessy.[]


***


Makan malam telah selesai. Tapi aku belum mau kembali ke kamar, jadi aku memilih singgah dan mengahabiskan waktu di taman belakang. Soal ini, karena aku punya sesuatu yang harus di lakukan.


Begitu tiba di taman belakang, aku segera memanjati sebuah pohon, lalu duduk di atas salah satu dahannya. Setelah 5 menit kemudian, seorang gadis terlihat berjalan ke pekarangan belakang. Meski samar-samar, aku tahu bahwa bayangan tersebut adalah Dessy. Dalam hati, aku tersenyum.


Dia pasti datang untuk berlatih.


“kau nampaknya senang sekali”


Tanpa harus menoleh, aku tahu bahwa si pemilik suara ini adalah Shida. “pergilah, aku sedang tidak ingin di ganggu” ujarku.


“heheh.. kau tahu, itu tidak akan membuatku pergi. Jadi... kau suka dia ya?”


“APA??? TENTU SAJA TIDAK!“


“reaksimu berlebihan sekali... Kau pasti sangat menyukainya”


Percuma meladeni si senter. Dia selalu menang dalam hal apapun. Jadi, aku lebih memilih memerhatikan Dessy lagi yang sedang berlatih.


“apanya yang beruntung? Jauh di dalam, dia sama seperti kalian, para gadis jagoan yang kelebihan tanggung jawab..  gadis-gadis beruntung yang malang”


Shida mendelik jengkel ketika mendengar stereotype ‘Gadis malang. Yah.. Shida memang bukan tipe orang yang senang meratap dan berlarut-larut dalam kesedihan. Ia kemudian berdeham sedikit sebelum melanjutkan kalimatnya. “dia sangat beruntung, masih memiliki orang-orang yang ia cintai, dan menyayanginya dengan tulus.”


Shida menoleh padaku. Dalam matanya, kini tidak nampak binar jail seperti biasanya. Aku tahu maksud tatapan tersebut, tatapan yang sama dengan milik Dessy. Ada rasa sedih, marah, takut, ragu, tetapi juga berisi harapan


Apa memang seperti itukah jiwa seorang putri? Batin ku. 


“mau dengar sebuah rahasia?” tanyanya. Biasanya, Shida selalu menatap orang-orang dengan tatapan jahil maupun tatapan menusuk dan mematikan khas miliknya. Tapi sekarang aku tidak menemukan ketiganya. 


“aku tidak suka mengungkit ini, karena beberapa alasan. Dan alasan terbesar adalah fakta ini terlalu menyakitkan.  Tapi lambat laun aku menyadari bahwa lebih menyakitkan untuk memendamnya. Aku.. sejujurnya punya kenangan buruk. Segera setelah kekuatan petirku terekspos, aku dibawa dewan ke markas untuk dilatih. Segera setelah aku dibawa, Lord Hyno mengirim panglimanya untuk  menghabisi keluargaku, dan seluruh warga yang tinggal di kotaku. Tidak ada satupun yang tersisa. Tak satupun orang yang selamat.”


“apa.. Eve jua tahu mengenai hal ini?” tanyaku.


“kau bercanda? Tentu saja. Soalnya, hal-hal yang terjadi padaku biasanya juga menimpa Eve. Yah.. mungkin kedengarannya tidak masuk akal, tapi seperti itulah adanya. Kami selalu saja kekurangan peruntungan baik. Setidaknya Eve sedikit lebih beruntung untuk kasus itu. Ia juga mengalami hal yang sama. Namun, penduduk kota berhasil melarikan diri. Yah.. lingkunan kota tempat Eve tinggal memang berbeda dengan ku. Eve berasal dari keluarga terhormat dan kaya raya, begitu pula seluruh warga yang tinggal di kota yang sama dengannya. Jadi, ketika penyerangan berlangsung, mereka punya cukup senjata dan tentara melindungi mereka. Hanya saja, tetap banyak korban yang berjatuhan. Setengah dari penduduk kota tewas, termasuk keluarga Eve.”


Mendengar cerita masa lalu Shida dan Eve, aku mendapati diriku bersyukur bahwa Dessy tidak menglami hal serupa yang dialami kedua putri lain. “bagaimana dengan markas? Kenapa tidak mengirim bantuan?” tanyaku lagi. 


“serangan itu begitu tiba-tiba. Meskipun kota ku sendiri cukup dekat dengan markas, tetap saja sulit untuk tiba di sana dalam hitungan detik. Saat itu aku belum sekuat sekarang. Aku bahkan belum tahu caranya berteleportasi.” 


Shida menoleh padaku, dan mengenyit ketika menemukan ekspresi simpati di wajahku. “tragis? Memang. Tapi santai saja. Kalau kau sudah membaca beberapa sejarah tentang putri, kau tidak akan kaget mendengar hal ini. santai saja. Semuanya jua sudah berlalu. Tidak ada gunanya terus-terusan mengingat masa lalu yang tidak menguntungkan” 


“wow.. daftar riwayat hdup mu sangat... tidak biasa. Aku tidak tahu kau bisa sesabar itu” 


“sabar? Kalau kau melihat aku dan Eve saat itu, kau tidak akan mengira kami sabar, dik. Bahkan untuk Eve sekalipun. Kami tidak bisa menerima kenyataan bahwa kami seorang putri. Yahh..itu sebabnya kami-aku dan Eve- berpendapat bahwa  Dessy berbeda. Kau tahu, ketika terpaksa ikut ke markas utama, baik aku maupun Eve, sempat berfikir untuk bunuh diri. Saat itu, kami masih muda, dan tiba-tiba di paksa untuk berperang demi kelangsungan hidup orang banyak. Kami memang memiliki kekuatan, tapi harga yang di bayar terlalu mahal. Baik aku maupun Eve sama-sama kehilangan keluarga.  kami kehilanganan banyak hal. Semua ini, membuat kami perlahan kehilangan akal kami. Ketika kami menang dalam suatu pertempuran, rakyat mengadakan pesta untuk kami, tetapi, ketika kami kalah, kami akan di anggap gagal. Orang-orang itu tidak tahu, betapa sulitnya kehidupan di medan perang. Kami harus siap mati tiap waktu”


Meski nada suaranya datar, aku dapat melihatnya menggigit bibir, lalu berusaha keras agar membuat garis  melengkung, membentuk senyum di wajahnya. Ya, aku tidak akan pernah lupa peraturan no.1 bagi seorang putri, yaitu seorang putri memang tidak di  izinkan untuk menangis. Ku ira peeraturan ini tidak akan berlaku bagi Shida yang ceplas-ceplos. 


“tapi.. setidaknya dari kekuatan ini aku mendapatkan keluarga baru. Jadi aku akan bersyukur saja. Seperti yang tadi ku bilang, tidak ada gunanya mengingat-ingat perisitwa payah yang sudah terjadi. Kau harus terus melaju”


“hei, kalau sedih, kau boleh datang padaku, aku akan mengizinkan mu menangis, tidak usah menyiksa diri dengan menahan, karena semakin keras kau menahan tangis, nanti hatimu akan semakin keras. Jangan sungkan, Dessy juga sering datang padaku”


Shida menghembuskan nafas dengan berat, lalu mengalihkan tatapannya. “anak itu.. menjalankan perannya dengan sangat baik. Aku sangat kagum padanya. Tapi kalau dia memang menangis di hadapanmu, berarti dia memang percaya dengan mu. Kau adalah sosok yang berarti baginya.. Kenapa  tidak kau nyatakan saja kalau kau suka dia? yang kau lakukan hanya selalu menatapnya, lalu Dessy menyadarinya, dan kalian saling bertatap tatapan. Memangnya apa bagusnya bertatapan terus? Sekalian bertatapan saja sampai kembar”


“aku.. masih belum mengetahui perasaan macam apa ini. Apakah aku menyukainya atau tidak, aku.. tidak mengerti. Hanya saja,..”


Mendengar ucapanku sempat terputus, dan aku terdiam cukup lama, Shida kembali memancingku untuk berbicara. “hanya saja?...”  tanyanya. 


Dalam hati aku sedikit bingung dengan mudahnya perubahan perasaan gadis itu. Tadi dia seperti hendak menangis, sekarang tampangnya luar biasa kepo.


Ah, sudahlah. Dia memang bukannya pernah normal sih..


Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu merebahkan diri pada dahan pohon di belakangku. Lebih baik petanyaan Shida tidak di gubris. Jangan sampai besok aku di jadikan target leluconnya yang tidak lucu. Aku mengambil buah terdekat, lalu memakannya. 


Menyadari bahwa aku baru saja mengabaikannya, Shida mencubit kecil lenganku. Aku berjengit ketika aliran listrik merambat dan menyetrum kulit ku. Teriakanku terdengar hingga ke tempat Dessy. 


Ia menoleh, dan mengangkat pedangnya dengan waspada. Melihat hal itu, Shida segera memberi tanda. Ia melambaikan tangannya yang telah di aliri listrik sehingga terlihat oleh Dessy.


Dessy hanya diam, lalu melanjutkan latihannya.


“hei, aku menunggu jawabanmu bodoh” ujarnya.


Aku mengernyitkan dahi sambil mengusap-usap lenganku.


“hanya saja...?” Shida memancingku berbicara lagi. Aku mendesah jengkel.


“ckck... aku tidak mengerti. Ia di beri julukan De Winter, sebut saja ia seorang Putri es.  Maksudku, aku pernah membaca mengenai sejarah putri Es, dan kesemuanya mengatakan kalau putri Es memiliki karakter dingin, persis seperti kekuatan yang ia miliki. Tapi gadis itu berbeda. Dia begitu.. hangat. kepribadiannya sehari-hari, ia tidak pernah mengeluhkan takdirnya, dan menjadi matahari bagi orang-orang di sekelilingnya. Ia bukan orang yang dulu mendapat kasih sayang oleh orang tuanya, tapi ia selalu bisa menjadi pengganti sosok orang tua yang baik bagi adik kecilnya, April. Dia sangat membenci dewan, termasuk ayahku. Tetapi ia masih menyempatkan diri untuk  menyenangkan hati ayahku. Jika ini berbicara soal tangunggung jawab, menurutku, tidak. Karena selama ini, sifatnya bila di bandingkan dengan dirimu dan Eve, sangat jauh berbeda. Dan semua sikapnya itu,...”


Sekali lagi, ku pandangi Dessy yang sedang  berlatih. Sosoknya jatuh ke tanah. Sambil berbaring, ia menyeka keringatnya. Aku baru saja hendak menyuruhnya masuk dan beristirahat, namun urung ketika ia kemudian kembali berdiri, untuk berlatih.


“aku ingin lebih dari sekedar teman, aku juga ingin lebih dari sekedar kekasih.. karena bagiku dia lebih dari itu. Dia seorang teman, panutanku, dan aku tahu duniaku hanya berputar untuk mengelilingi dia. aku... aku mengaguminya lebih dari apapun.”[]