The Winter Stories

The Winter Stories
Evelyn dan Shida



Malam itu juga, berita kehadiran seorang Putri baru menyebar ke seluruh pelosok negeri. Ke esokan harinya, sudah banyak rakyat yang menunggu di Perpustakaan Kota untuk bertemu dengan ku. Sangking banyaknya, sejauh mataku memandang, masih lautan manusia yang terlihat. Aku mengintip dari tirai dan menyaksikan para warga datang dengan berbagai hadiah. Dulu, mungkin aku akan sangat senang menerima hadiah. Tapi sekarang, sejak bangun dari pingsan ku kemarin, aku merasa ada yang berubah.


Ketika aku terbagun, seluruhnya aku menjadi pribadi yang berbeda.


“ada apa?” tanya Shida, Putri yang memiliki kekuatan petir. Ia menatapku yang masih bingung dengan keadaan ini. Di sampingnya, Kak Eve tersenyum hangat padaku seraya berbisik “jangan kaget. Ini baru permulaan saja, adikku. Mereka ke sini untuk bertemu dengan mu, memberimu harapan mereka, sekaligus menyambut kehadiran pengendali Air dalam dirimu.”


Begitu jemarinya menyentuh ku, aku merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhku, membantuku merasa berani.


“a..aku.. kurang mengerti” ujar ku, sulit untuk mempercayai ini semua. Kedua putri salin melirik, lalu mencoba tersenyum.


Akhirnya, Shida yang duluan membuka pembicaraan. “tenangkan dirimu. Kami sangat mengerti apa yang ada dibenakmu sekarang. Tidak ada yang lebih mengerti dari pada kami. Memang kedepannya akan sangat sulit menanggung beban ini. Apalagi, kau mendapatkan kekuatan mu di usia yang sungguh masih sangat muda.” 


“akan sangat wajar jika kau masih belum mengerti. Yang tidak wajar itu kalau kau sudah mengerti semua ini.” ujar Shida. Mereka berdua mengajakku menepi di sebuah balkon yang menghadap taman belakang. Membuatku dapat mengamati dengan jelas pohon beku hasil kerja ku kemarin. Keduanya mengajakku berbincang, dan kami menjadi lebih akrab.


Sejak saat itu, keduanya telah menjadi mentorku. Mereka menceritakan ketika pertama kali menemukan kekuatan mereka, sekitar tiga  tahun lalu. Eveline yang pertama kali mendapatkan kekuatannya, ia berusia 12 tahun saat itu. Eveline adalah gadis pemilik kekuatan api. Sebelumnya, keluarganya sangat di hormati di kota asalnya. Memang berdasarkan garis keturunan, Ia berasal dari keluarga keturunan pengendali api. Rambutnya pendek sebahu, dan berwarna oranye kemerahan. Matanya juga sewarna dengan rambutnya. Ia orang yang tenang, dan penyayang. Sejauh ini, Eveline adalah gadis tercantik yang pernah ku temui.


Sedangkan Shida, penguasa kekuatan Petir. Ia berasal dari keluarga biasa yang tidak memiliki aris keturunan putri manapun. Keluargaanya tinggal di sebuah desa dekat markas utama. Shida memiliki mata sewarna biru elektrik, dengan rambut berwarna hitam yang di ikat.  Shida berkepribadian sebaliknya dari Eve. Belum terlalu mengenalnya saja, aku langsung bisa menebak bahwa Shida adalah orang yang ceria, lucu, dan sangat sangat jahil. Namun begitu serius, wajahnya berubah menjadi super tegas yang lumayan membuat tekadku kendur. Ia menemukan kekuatannya di usia 14 tahun, di tahun yang sama dengan Eve.


Ketika malam datang, para Dewan membentuk sebuah rapat di ruang tamu milik Tuan Leo. Dalam rapat tersebut hadir 13 Dewan petinggi, Ibu dan kakak-kakakku, Tuan Leo, juga Eve dan Shida.  Ayah bersikeras menolak permintaan Dewan untuk membawa ku ke Camp Pelatihan militer untuk berlatih.


“Josh, dia bukanlah sekedar anakmu. Memang dia terlihat masih muda, tapi jiwanya kini telah terikat dengan roh pengendali, dia adalah simbol harapan. Kau tidak bisa menganggapnya sebagai putri kecilmu lagi. Dia bukan anak kecil lagi!” ujar salah seorang petinggi.


“mudah bagimu untuk mengatakannya! Seandainya kau yang berdiri di posisi ku, kau juga akan bersikeras menolaknya, Ares!”


“sekarang bukan waktu yang tepat untukmu menjadi egois karena takut kehilangan putri mu! Jika kita tidak melatihnya sekarang, bagaimana kalau pasukan kegelapan datang dan berusaha membunuhnya? Dan jika itu berhasil, kau malah akan kehilangan putrimu untuk selamanya! Dan tidak hanya itu, seluruh Dunia akan terkena dampak kehilangan Putri baru, membuat kita harus menunggu bertahun- tahun lagi untuk kedatangan pengendali es! Bisa kau bayangkan, akan berapa banyak nyawa yang  gugur untuk menunggu ruhnya bangun kembali?!” Orang yang bernama Ares itu berdiri.


“Ares benar Josh, sekarang bukan saatnya bagimu untuk melankolis! Banyak nyawa yang di pertaruhkan disini!” Ketua Dewan juga ikut berbicara. Tatkala Ketua Dewan sudah berbicara, para Dewan yang awalnya diam kini juga ikut mendesak ayah.


Tuan Leo berdiri dan menyerukan ketidak setujuannya untuk membawaku masuk ke camp militer. Saat itulah situasi jadi semakin tidak terkendali. Aku beringsut bersembunyi di balik ayahku. Tanpa sadar aku menarik lengan baju ayahku. “Ayah, bagaimana ini?? Apa aku betul-betul harus ke tempat militer? aku takut”


“... maafkan aku, Tuan. Tapi jika kalian tetap bersikeras membawa Putri, silahkan bunuh aku terlebih dulu!!” Paman Leo berdiri menantang para Dewan. Mendengar kata-kata Tuan Leo, para Dewanpun ikut tersinggung. Mereka berdiri secara bersamaan dan sudah bersiap untuk menerjang Paman. Keadaan menjadi semakin tidak terkendali. Para penjaga Tuan Leo dan  para dewan saling bentrok. Semuanya berusaha melindungi tuan mereka masing-masing.


Tepat saat keadaan semakin tidak terkendali, para putri memutuskan untuk mengambil alih. 


“DDUUAAARRR!!!!”


Gemuruh petir menggelagar dalam ruangan. Terdengar suara hantaman menggelegar di langit-langit disertai kilatan cahaya yang menyilaukan mata.


Ketika gemuruh petir berhenti, semua orang mematung. Kami semua refleks menatap Shida yang mengeluarkan petir tersebut, juga Eve yang berdiri tenang disampingnya.


Tatapan mata Shida yang setajam pisau menghujam seluruh ruangan menantang siapapun yang berani menyanggah. Di tangannya terdapat sebuah benda yang mengeluarkan listrik dengan petir-petir kecil di kelilingnya. Keheningan mengambil alih suasana cukup lama sebelum ia  mulai berbicara.


“aku minta kalian kembali tenang. Silahkan kembali ketempat kalian masing-masing” 


Entah bagaimana, meskipun ketegangan masih terasa di udara, orang-orang mulai kembali ke kursi mereka masing-masing. Tidak ada yang cukup gila untuk protes dan menyatakan keberatan pada Shida. Begitu seluruh orang kembali duduk dengan tenang, ia lalu mempersilahkan Eve berbicara.


Eve kemudian mengambil langkah agak maju ke depan, dan mulai bicara. “tidak peduli apa pendapat kalian para dewan, pada akhirnya keputusan kalian tidak selalu membuahkan hasil. Kami para Putri, bukan sekedar alat perang kalian. Kami seharusnya punya hak kendali lebih besar dari pada kalian. Kami mengerti kekhawatiran kalian akan korban yang akan terus berjatuhan, tapi meski dia adalah seorang Putri seperti kami, jelas tidak mengubah keadaan bahwa December De Winter masih kecil. Berbeda dengan kami yang sudah cukup dewasa ketika mendapatkan kekuatan kami, Tubuhnya tidak akan kuat jika kalian memaksanya jauh dari sumber kekuatannya. Kekuatan seorang putri pengendali adalah kekuatan yang besar. Kekuatannya muncul pertama kali di sini, dan pohon yang telah dia bekukan adalah tempat ia menyimpan kekuatannya sementara ini. kita semestinya bersyukur karena putri De Winter masih bertahan. Tubuhnya secara tidak sadar menyalurkan kekuatannya di pohon tersebut hingga ia cukup kuat untuk menampung kemampuannya.”


Shida menegaskan kembali maksud perkataan Eve “Tidak ada gunanya membawanya berlatih ke Camp militer. Lagi pula, di sana berbahaya karena musuh bisa saja menyusup ke markas seperti yang sebelumnya terjadi pada Istri Ketua Dewan. Di sini, ia akan aman di bawah pohon tersebut. tidak akan ada yang mampu menyerangnya selama pohon tersebut masih menampung kekuatannya” 


Tidak ada lagi yang berani berbicara. Bahkan ketua Dewanpun terlihat enggan menanggapi. Ia terlihat sedikit murung sejak Shida mengungkit kematian Istrinya. 


“aku akan melatih Putri bersama dengan pangeran Tory yang saat ini sedang ku latih” ujar Paman.


Eve menganggukkan kepalanya. “aku dan Shida juga akan bergantian datang untuk mengajarinya untuk menguasai kekuatannya. Setidaknya ia bisa mempelajari kekuatannya sedikit-sedikit.” Ujar Eve.


Dengan janji-janji tersebut, maka berakhir pula rapat bersama dewan. Satu-persatu dewan sudah melangkah meninggalkan ruangan, nyaris terburu-buru.[]