The Winter Stories

The Winter Stories
Phoenix



Serius, deh. Di ujung sana, melihat pemandangan matahari sore sambil di temani putri cantik dengan kekuatan magis yang sedang tidur.. mimpi apa aku semalam? Oh iya, aku kan, tidak tidur semalaman ini. Tapi.. apa mungkin sekarang aku yang sedang tidur dan bermimpi? Soalnya, saat ini terasa indah sekali.


Aku tidak pernah bosan menatap wajah Dessy yang sedang tertidur. Kulitnya yang putih pucat sewarna susu, dan tentu saja sangat lembut itu bersinar layaknya es kristal di terpa matahari. Aku lumayan tidak mengerti, setahuku pengendali Es memiliki suhu tubuh yang lebih dingin di bandingkan orang biasa. Tapi Dessy, kulitnya bahkan terasa sangat hangat.


Sayangnya, bahkan saat tidurpun, wajahnya tidak berhenti berkerut. Rupanya, tidurnya tidak setenang itu. Meski begitu, aku sangat meyukai wajah yang kini tengah tertidur pulas di pangkuanku tersebut. Kesalahan ku, ketika mulai meperkirakan kira-kira sudah berapa lama gadis ini tidur. Kalau di hitung-hitung, Dessy baru tertidur selama 3 jam lebih.


Lebih tepatnya, 3 jam paling lama dalam hidupku. Aku menyesal sudah menghitung waktu.


Soalnya, setelah memikirkannya lututku mulai kram.


Meskipun tidak mau membuat Dessy terbangun dari tidurnya, aku tetap berusaha bergerak sebebas mungkin untuk membuat rasa kram di lututku berhenti.


Hasilnya, lututku makin mati rasa.


Aku berusaha menahannya sedikit lebih lama. Tapi 5 menit kemudian, aku menemukan diriku meminta pertolongan. Kakiku mati rasa. Aku mulai banyak bergerak, dan celakanya lututku makin kebas. 


Seseorang, tolong aku!


“kau kenapa, sih? Dari tadi bergerak terus. Kenapa? kau butuh ke WC?” Dessy membuka matanya.


“astaga, sejak kapan kau bangun? Anu.. Aku tidak butuh toilet... lagipula untuk apa aku butuh ke toilet?”


“ku pikir kau ingin buang air tapi tidak enak hati untuk membangunkan ku.”


Akhirnya, Dessy bangkit dari tidurnya. Matanya nampak menyipit, di tambah rambutnya yang tadi terkucir rapi, kini nampak kendur dan sdikit berantakan.


Akhirnyaaaaa!!! Aku bisa meluruskan kakiiii!!!!


“waah.. sudah sore. Tidurku lama, ya?”


“tetap saja, tidur mu belum cukup. Kau harus pindah. Tidur di kamarmu saja, sana!”


“apa belum ada kabar dari Tuan Leo?”


“seandainya aku tahu sesuatu, aku pasti sudah memberi tahumu. Ayo, mataharinya sudah tenggelam. Tolong jangan katakan padaku kalau kau mau di sini sampai malam”


“tapi Tory.. aku merasakan sesuatu yang tidak beres! Ada sesuatu yang membuat Tuan Leo tidak datang mengunjungi kita untuk beberapa bulan terakhir ini”


“Dessy, usia kita sudah lebih dari cukup untuk ‘harus di kunjungi setiap 2 minggu”


“tapi ada sesuatu yang tidak beres, aku merasakan sesuatu yang aneh”


“yang aneh itu kita berdua. Lagi pula, Bukannya ‘keanehan senantiasa mendampingi kita di setiap waktu? Sudah.. kita bisa memohon pada Dewan untuk mengizinkan besok agar kita di beri libur beberapa hari untuk mengunjungi Perpustakaan Kota. Bagaimana?”


Dessy terdiam cukup lama, sambil menatap lautan pepohonan yang membentang di hadapan kami. Matanya nampak menerawang, dengan wajah sedikit berkerut.


“entahlah..  firasatku mengatakan kita tidak akan punya waktu pergi ke Perpustakaan Kota untuk sementara waktu ini.”


“tenang saja, jika Dewan tidak mengizinkan, kita lakukan dengan cara lama. Sekarang, yang perlu kita lakukan adalah mengikuti makan malam dengan baik, lalu kembali ke kamar untuk istirahat, oke?”


Mendengar kata cara lama, wajahnya sedikit lebih ceria. “ya sudah.. terserah kau saja. Ayo, kita turun”


Dessy melompat duluan dengan menggunakan Es untuk menangkap tubuhnya di bawah. Aku menatapnya penuh iri. Dasar curang! tukang pamer! Mentang-mentang punya kekuatan magis!


Aku baru saja mengambil ancang-ancang untuk melompat ketika tiba-tiba seekor burung yang bercahaya melewatiku.


Burung itu terlihat sangat gagah dengan sayapnya yang lebar. Dan sepertinya dia terbuat dari api.


API?


Aku membidikkan panah tepat ke arah si burung, namun si burung membakar habis panahku ketika panah tersebut menyentuhnya. Lalu burung tersebut bertengger di atas salah satu dahan yang di penuhi dedaunan. Dan  api mulai menjalar ke dedauanan yang ia hinggapi. 


oke, deh. Burung ini ternyata kurang pintar.


Aku turun dengan hati-hati  menggunakan dahan pohon yang cukup kuat untuk ku jadikan batu loncatan, atau kayu loncatan. Sesukamulah..


“apa yang di inginkan burung ini?”tanyaku bingung.


Burung tersebut masih berusaha untuk bertengger, namun hasilnya, dahan tersebut selalu terbakar. Dessy membekukan daerah dahan terdekat dari si burung, agar tidak mudah terbakar ketika si burung bertengger.


“kau sepertinya membawa sebuah pesan darurat. Kau di utus oleh kak Eve, kan? Apa yang terjadi? Dimana dia?”


Si burung mencoba mendekati Dessy, dessy sudah bersiap dengan Es yang ia kumpulkan di tangannya untuk mencegah burung utusan Eve membakar kulitnya. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Sebagian diri dari si burung utusan mulai menguap.


“Es tidak bisa bertemu dengan api, Dessy” ujarku. 


“tapi tadi Es yang di pohon tidak membuatnya menguap!”


“kau hanya memberikan tekanan Es rendah pada dahan tadi, dan juga, burung itu memang sudah beruap dari tadi, tapi kita mengiranya asap dari daun yang terbakar tadi.”


“jadi.. apa yang harus kita lakukan? Kita berdua tidak bisa menyentuhnya. Padahal untuk mengambil pesannya, kita perlu menyentuh burung ini”


“aku jadi bingung. Untuk apa Eve mengirimkan kita burung pembawa pesan jika tidak ada yang bisa mendekati burung ini untuk mengambil pesan yang berada dalam perut burung api ini? lagipula,  burung ini sepertinya hidup. Apa tidak masalah jika kita membedah perutnya?”


“tidak.  Burung hanyalah jelmaan phoenix. tenang saja, dia tidak hidup”


Dessy menatap lekat-lekat pada makhluk itu. “Jadi.. hanya Eve yang bisa menyentuhnya?”


“ku rasa begitu. Dia pengendali api, kan?”


“aku.... juga bisa mengedalikan api. Aku bisa mencobanya”


“tentu saja. Tapi kalau ada penjaga yang melihat...”


“situasinya pasti sudah gawat jika ia mengirimkan pesan melalui media seperti ini. Kita harus mencoba.” Dessy memejamkan matanya, lalu mengaturkan nafasnya agar jadi lebih rileks. Beberapa lama kemudian, Dessy membuka mata, lalu mulai memasukkan tangannya ke dalam burung api.


Dan burung tersebut tidak menguap.


Jadi, sihir api Dessy benar-benar bekerja?


Dessy perlahan mengambil secarik kertas yang anehnya tidak terbakar oleh api. Setelah berhasil mengambil selembar kain di dalam burung tersebut, Dessy segera membacanya.


“apa isinya? Ku harap hanyalah pertukaran buku harian yang biasa kalian para wanita lakukan. Tolong di baca keras-keras.”


“aku sudah baca. Isinya... mereka mebutuhkan bantuan. Mereka kalah dalam pertarungan kemarin dan sedang berusaha mundur. Sekarang mereka sedang dalam tempat persembunyian. Sementara pasukan musuh sedang mendekat”


“apa? Tapi bukannya Shida dan Eve itu kuat?”


“tentu saja. Tapi tiap kekuatan pasti punya batas masing-masing. Kau lihat April? Dia langsung butuh tidur untuk istirahat. Eve dan Shida sudah bertempur selama 5 hari. Sangat wajar jika mereka sudah sangat kelelahan”


“jadi... apa kau akan menyusul?”


“tentu saja. Terimakasih karena membuatku istirahat tadi. Sekarang aku sudah membaik. Aku akan berangkat bersama pasukan yang masih siaga. Kau tetap disini, jaga Adikku, dan awasi pasukan kita selama aku tidak ada”


“kenapa begitu? Tidak adil! Menurutku, kita harus menghadapinya bersama”


“tidak. Aku membutuhkanmu untuk menjaga adikku sementara adikku beristirahat. Jika ia terbangun, katakan saja aku pergi mencari Tuan Leo. Mengerti? Sekarang, bantu aku mencari pasukan yang masih siaga untuk menemaniku,  aku akan berangkat setelah makan malam.” [].