The Winter Stories

The Winter Stories
Tuan Leo



-APRIL’s POV-


Aku sungguh puas akan hasil dari latihanku selama ini. Soalnya, semua orang telah memuji kemajuan yang aku dapatkan selama tiga tahun terakhir ini. Sekarang, aku bisa menyertai kakakku dalam perang dan berjuang atas hal yang sama di medan pertempuran.


Tapi konsekuensinya, aku juga terkenal dengan julukan lain, Putri Tidur. Dan yang membuat julukan aneh ini tidak lain dan tidak bukan ialah Pangeran Tory. Si pria tua kekanakan.


Malam ini ketika aku bangun, ternyata satu malam telah terlewati.


Matahari pagi menyinari kamarku yang kebetulan jendelanya terbuka. Dan sangking parahnya, ku fikir aku bangun ketika masih sangat pagi, tapi ternyata aku bangun di saat jam makan siang baru saja lewat. Seorang pelayan masuk ke kamarku membawakan makanan.


“kau tahu saja kalau aku lapar”


Aku menyambut makanan tersebut dengan sangat antusias.  Sampai-sampai, aku menghabiskan porsi ke duaku dalam total waktu 10 menit.


Setelah itu, aku tidur lagi. Sampai saat sebelum makan malam.


Aku mencari sosok kakak, tapi aku tidak menemukannya. Tidak bahkan di samping Pangeran Tory. Pangeran Tory menyambut kehadiranku dengan sapaan bodohnya lagi.


“selamat pagi, Putri tidur. Kenapa bangunnya ‘pagi sekali? Bukannya kau butuh waktu 3 hari untuk memulihkan stamina mu? Wah.. bahkan gajah tidak tidur selama itu. Kau ini tidak hanya hebat dalam medan pertempuran, tapi juga dalam ajang ‘tukang tidur, ya?”


“tutup mulut. Sebelum ku terbangkan kau ke danau penuh buaya”


“ah.. bilang saja kau sangat menyukai julukan baruku untukmu. Iyakan?”


Orang ini, memang seorang pengacau nomor satu. Ck..


Jadi, kupilih untuk tidak menghiraukannya dan mulai fokus pada makan malamku.


Dan sumpah, seandainya ada orang di luaran sana yang bersedia bertukar meja denganku, aku akan sangat bersyukur. Sayangnya, bahkan parjurit biasa semuanya menghindari Tory, entah karena merasa lebih rendah dan menghormatinya, atau karena takut di beri julukan aneh.


Jadi, tidak ada pilihan lain untukku selain makan dengan cepat.


Begitu makan malam ku selesai, aku segera menuju balkon untuk melihat-lihat. Meskipun aku sendiri tidak yakin apa yang ingin ku lihat-lihat, soalnya, aku sudah bosan dengan pemandangan markas. Entahlah, aku tidak terlalu menyukai alam.


“hai.. April”


Aku mencari asal suara yang memanggilku, namun begitu melihat ke belakang, aku tidak menemukan siapa-siapa. Jadi, aku menghiraukannya. Jangan-jangan hanya Pangeran Tory yang masih belum puas menggngguku. Atau sebaiknya aku kembali tidur saja deh... mataku masih mengantuk.


Tapi ketika mendengar suara tersebut memanggilku untuk kedua kali, aku tahu bahwa yang tadi itu bukan Pangeran Tory. Aku menengok ke bawah.


“Tuan Leo? Wahhh apa kabaaarr?”


Aku melompat langsung menuju taman untuk menyambutnya.


“Tuan, kau nampak.. berbeda. Seperti tidak tidur berhari-hari. Ada masalah, ya? Itu sebabnya kau tidak mengunjungi kakak selama 6 bulan terakhir ini?”


“aku.. baik-baik saja. Meskipun iya... aku ada masalah sedikit. Maukah kau mendengarnya?”


“tentu saja iya. Dan jika aku dapat membantu, aku mau membantu”


“baiklah.. ikut bersamaku”


Tuan Leo mengajakku untuk berputar-putar sebentar di kebun kecil di dalam markas.


“anda tahu? Meskipun tidak terlalu menyukai keindahan alam, tapi kebun ini mengingatkanku pada Rumah anda” ujar ku.


“ya...” mata Tuan Leo menerawang pohon besar yang berada tidak jauh dari kami. “Bahkan jiwa para pohon ini pun, sangat mirip. Mereka bersaudara” ujarnya lagi.


“Permisi.. maksud Tuan apa?”


“tentu saja, setiap makhluk termasuk tumbuhan juga memiliki jiwa.”


Karena tidak tahu harus menyahut seperti apa, aku cepat-cepat mengalihkan topik. “...Oh iya, mengenai masalah anda, apa yang terjadi?:


“.... jadi beberapa waktu lalu, aku bertemu dengan seorang pria, yang mengetahui nasib dan masa depan seseorang”


“oh.. anda bertemu dengan seorang peramal? Kerenn.. apa saja yang ia katakan?”


“bahwa usiaku sudah tidak lama lagi. Dan nasib orang-orang yang ku sayangi...”


Aku tercekat ketika menyadari siapa yang Tuan Leo maksud. “termasuk kak Dessy?”


“terutama Dessy.”


“kehadiran mu saja bahkan akan membantunya. Tapi..”


“tapi?? Ada apa?”


“.. begini.. April.. a.. apa.... kau menyayangi kakakmu?” 


Untuk pertama kalinya, aku menyaksikan Tuan Leo begitu nampak rapuh, lemah, bimbang dan tak berdaya. Ia berkali-kali membuang tatapannya tiap kali ia berbicara. Sama skali bukan Tuan Leo yang biasa.


“tentu saja. Aku rela mati untuknya” jawabku spontan.


Tentu saja aku menyayangi kakakku. Memangnya aku menerima takdir sebagai ‘putri karena aku suka? Tidak. Akupun sebenarnya akan menolak, tapi... rasa tidak ingin kehilangan kak Dessy membuatku membuka mata. Dan ketika aku sadar bahwa menjadi seorang putri itu sangat berat,  aku tiba-tiba saja mendapat anugerah itu.


Menyebalkan tidak sih?


Untuk sesaat, hanya ada kesunyian di antara kami. Lalu aku merasakan ada sesuatu yang aneh dengan sikap Tuan Leo. Maksudku, keanehannya makin.. aneh...


“kenapa... anda menatap saya seperti itu?”


“apa kau yakin akan terus menyayangi kakakmu, bahkan jika seandainya ia berubah?”


“maksud Tuan?”


“seperti... ia berubah menjadi seperti orang yang.. berbeda. Dengan kata lain, sesuatu yang.. sedikit kelam”


“... kakakku tidak mungkin berubah menjadi sesuatu yang seperti itu. Tuan sendiri adalah orang yang paling dekat dengan kakakku. Kenapa Tuan meragukan kakak saya?”


“aku hanya berkata ‘seandainya”


“oh.. tapi Tuan kenapa ----“


“ku mohon, putri Spring. Jawab saja pertanyaan ku. Apa yang akan kau lakukan jika ia berubah menjadi seseorang yang tidak kau kenal?”


“... tentu saja aku akan tetap menyayanginya. Dia tidak hanya seorang rekan, atau senior. Tapi dia juga kakak sekaligus sahabatku. Aku tidak akan berpaling, meski dia mencampakkan aku”


Senyum samar terukir di wajah beliau. “ku harap kau bisa menepatinya. Oh iya April, aku membawakanmu sebuah pil. Itu akan membantu mengurangi efek keletihan mu. Setidaknya, tidak akan membuatmu tidur selama 3 hari. Cobalah..”


Meskipun sedikit ragu, aku mengambil pil tersebut. Lalu, ku telan.


“rasanya manis. Bagaimana bisa? Ku fikir pil tradisional seperti ini rasanya pahit”


“tidak semua pil tradisonal dari alam rasanya sejelek itu”


Tuan Leo tertawa melihat reaksiku. 


Euhh..


Sedetik kemudian, tawanya terdengar jauh sekali. Entahlah.. rasanya telingaku berdengung. Lalu rasa perih melanda seluruh tubuhku. Aku roboh ke tanah, dan ku rasakan tubuhku kejang-kejang.


Ada apa ini?


Aku berusaha mengendalikan diri, namun tidak mampu.


“to...long aku...to.looong!”


Aku merangkak untuk menggapai Tuan Leo, namun Tuan Leo tidak bergeming. Hanya menatapku. 


Ada apa ini? apa aku telah di tipu? Atau janan-jangan, dia bukan Tuan Leo yang asli?


Aku merasakan hentakan yang sangat hebat di seluruh tubuhku, dan gelombang rasa nyeri merambatiku, menyulitkan ku berfikir. Aku mengirimkan terpaan angin terkuat yang dapat kulakukan... hanya saja hasilnya tetap nihil. Kekuatan ku memang belum pulih, di tambah kondisiku yang kurang baik, jadi angin yang ku ciptakan sangat kecil. Lambat laun ku rasakan udara dan segala kekuatan ku terenggut dariku.


Ah ini pasti efek pil beracun ini.


“apa.. maumu? Kau siapa?” akhirnya aku berhasil berkata.


“maafkan aku, April. Tapi ini adalah satu-satunya jalan”


Kepalaku semakin sakit tiap aku bergerak. Ku fikir, aku sudah tidak mampu berbuat apa-apa. Aku tidak mampu berteriak karena jarakku dengan gedung markas utama sangat jauh. Mereka tidak akan mendengar.


Jadi, ku coba upaya terakhirku, dengan cara meniupkan bisikan kepada angin terakhir yang berhembus, satu-satunya yang dapat kulakukan. Setelahnya, mataku semakin berat, dan kesadaran terenggut dariku.


Hal terakhir yang dapat ku lihat adalah ekspresi dingin di wajah Tuan Leo di antara pepohonan.[].