The Winter Stories

The Winter Stories
Firasat



-DESSY’s POV-


Aku memacu kudaku agar tiba secepatnya di lokasi Eve dan Shida. Sambil mengikuti arah burung api Eve, aku sesekali menyesuaikan dengan pasukan yang ku bawa agar mereka tidak terpisah dariku.


Thus, panglima ke 12, berkendara di sebelahku. Pengelihatannya yang tajam dan pengalamannya dalam perang akan sangat ku butuhkan dalam perang ini.


Menurut surat yang di kirimkan Eve, pasukannya bersembunyi di sebuah kota terbengkalai bekas perang, yaitu Soloho. Menurut Thus, kota tersebut berjarak sekitaran 245 km dari arah timur markas utama. Jadi, jarak mereka cukup dekat dengan markas.


Ya, markas utama memang di bangun di tempat yang jauh dari peradaban kota-kota guna tidak membahayakan warga kota  terdekat. Kota aktif yang paling dekat dari benteng adalah Kota Ishra, itupun jaraknya sekitar 400 km dari kota. Sisanya, adalah kota-kota tak berpenghuni.


Langit sudah sangat gelap ketika kami berangkat tadi. Meskipun menggunakan penerangan berupa api obor, tapi kami masih harus berhati-hati. Jalanan menuju kota terbengkalai tersebut tidak begitu bagus karena harus melewati bukit terjal yang berbahaya.


Beberapa pasukanku sempat terjatuh dari kudanya, dan terpaksa kami membagi setengah pasukan yang jumlahnya sedikit ini menjadi dua. 70 orang ikut bersamaku, sedangkan 50 orang yang lain beristirahat di belakang untuk membantu pasukan yang terluka dan beritirahat untuk sementara. Ku serahkan 50 orang bersama Thus yang sepertinya enggan untuk tinggal, namun tidak memprotes.


Lalu kami melanjutkan pengendaraan kami menuju kota Soloho. Sekitar 2 jam kemudian, kami akhirnya tiba di dekat perbatasan kota Soloho. Samar-samar, terdengar suara ribut perkelahian.


Jadi, mereka sudah di temukan?


Ku fikir, kami tepat waktu. Kami langsung menuju ke medan pertempuran.


Lalu aku menyadari, bahwa yang sedang bertempur adalah pasukan kami melawan pasukan kami sendiri[].


***


“ADA APA INI?” tanya seseorang di belakangku.


mereka saling membunuh satu sama lain...


Sekitar 100 meter dari kami, orang-orang kami saling bertarung. Pemandangan di hadapan kami begitu seramnya sehingga kami tak kuasa bergerak dari tempat kami.


Aku mencari-cari sosok Eve dan Shida, namun kami tidak menemukan mereka. Kemana mereka di saat kacau seperti ini?


Aku mencoba membekukan kaki seluruh pasukan kami yang kini sedang saling bantai. Seketika, gerakan mereka berhenti. Aku memerintahkan pada pasukan di belakangku untuk tidak mengikutiku melangkah ketengah-tengah pasukan setengah beku.


Aku menghampiri seorang prajurit terdekat. “es itu akan menyegarkan fikiran kalian. Apa yang terjadi? Kenapa saling menyerang satu sama lain? Kita ini bersaudara! Kenapa saling membunuh seperti ini? kemana pemimpin kalian?”


“kami mengungsikan Eve bersama Shida. Eve terluka parah, dan tidak bisa melanjutkan perang. Dan ketika kami hendak mundur,... Lord Hyno membangkitkan teman kami yang telah gugur,, dan membuatnya bertarung melawan kami. Mereka semua adalah mayat hidup, kami tidak bisa membunuhnya, karena jika kami menikamnya, mereka tidak akan berhenti.” Seorang prajurit compang camping yang posisinya agak ajauh dariku menjawab. 


“Daniel? Apa ini benar-benar kau?”


Astaga.. Ya. Tidak salah lagi. Sosok tersebut memang Daniel. Hanya saja kini ia nampak sangat kacau. Keringat bercampur darah yang setengah mengering menempel di kulitnya, baju zirahnya entah bagaimana kini telah terlepas, bahkan bajunya kini telah robek.


Tak lama kemudian, guntur menggelegar, dan petir menyambar tanah kosong di sebelah kami. dari balik asap, muncullah Shida dan Eve.


apa yang terjadi? Sih? 


Aku segera turun dari kudaku, dan menghampiri Eve dan juga Shida. Eve nampaknya tak sadarkan diri, darah mengalir dari pelipisnya. “aku berusaha menyambar mereka dengan petir, tapi mereka tetap bangkit, sementara Eve tidak mampu bertarung lagi. Satu-satunya jalan hanyalah menunggu kehadiran mu, Eve menghubungimu karena ia tahu, mungkin jika kau membekukan mereka, gerakan mereka dapat berhenti”


Aku menatap satu persatu prajurit. Kesemuanya menatapku, menunggu agar es di kaki mereka di hancurkan. Bagaimana bisa setengah dari mereka adalah mayat hidup? Mereka semua nampak sama.


“aku tidak mampu mengenali prajut kita yang masih.. bertahan. Daniel, aku butuh kau untuk membantuku membekukan para mayat itu. Tolong konsentrasi”


Daniel mengangguk pelan. Ia kemudian mengambil nafas dalam yang nampaknya sangat sulit ia lakukan dengan kondisinya sekarang. Fikiran Daniel menuntun kemana perginya Es ciptaanku, dan membekukan seutuhnya tiap-tiap mayat hidup yang masih tersisa [].


***


Kami harus menunggu hingga Eve tersadar dan pulih kembali. Entah apa yang terjadi padanya, sampai-sampai mendapat luka sebesar itu. Bahkan Shida sendiripun enggan membahas.


Akhirnya, setelah hari ke dua, Eve siuman. Namun ia membawa berita buruk.


“kita harus segera tiba di markas. Ada masalah besar di markas selagi kita semua disini”


“sabar dulu, Eve. Kami tidak akan kemana--mana hingga kau sepenuhnya pulih” Shida membopong Eve kembali ke tempat tidur daruratnya.


“tidak. Kau tidak mengerti. Lord Hyno telah bergerak, dan ia menginginkan April.”[].


***


Mengetahui bahwa sekarang adikku sedang dalam bahaya, tanpa pikir panjang aku memacu kudaku. Terlalu lama jika harus menunggu seluruh pasukan untuk berangkat bersama. Biarlah mereka di belakang.


Aku bahkan menggunakan kekuatan rahasiaku, yaitu api yang selama ini ku sembunyikan. Aku membuat burung api seperti yang di buat Eve kemarin, untuk menuntun ku kembali ke markas. Tapi sepertinya kudaku juga cukup letih. Sehingga perjalanan ku sering kali harus terhenti selama beberapa waktu.


Semoga saja apa yang Eve katakan tidak benar. Semoga...


Sebelum ia mendapat luka di pelipisnya, ia bertarung melawan panglima Lord Hyno. Saat sedang bertarung, panglima tersebut terus-terusan bertanya tentang April,  dan ingin mengetahui seberapa kuat April sebenarnya. Sepertinya kehadiran April mulai di curigai sejak setahun lalu, ketika ia mendatangkan angin tornado untuk menyelamatkan pasukan kami di sebuah perang.


Di tambah lagi dengan pertempuran terakhir kemarin, April sendiri yang maju ke garis depan dan membinasakan pasukan musuh.


Aku sudah berulang kali memberi tahunya untuk tidak bertarung di garis depan, karena takut bahwa kehadiranya terekspos, dan Lord menandainya untuk di bunuh pertama kali. Karena seorang Spring berkali-kali merepotkannya di perang ratusan tahun sebelumnya.


Aku merasa sangat lega ketika gerbang markas utama kini berada di depan mataku. Namun, ada yang aneh. Tidak ada seorangpun yang menjaga gerbang. Ceroboh sekali! Aku mengikat kudaku di taman rumput terbuka, agar ia bisa beristirahat sambil makan.


Lalu aku mencoba memanjati dinding gerbang dengan tangan kosong, tapi aku tidak bisa. Yah.. biasanya aku menaikinya dengan Es ku. Tapi karena kondisiku sendiri juga sudah payah, ku rasa tubuhku sudah tidak kuat lagi.


Tapi.. inikan markas. Begitu aku sudah mengonfirmasi bahwa adikku baik-baik saja, aku bisa langsung beristirahat. Jadi, aku memaksa membuat balok Es dari bawah kakiku untuk membantuku memanjat.


Begitu aku sampai di puncaknya, mendadak ku dengar ada suara bunyi terompet di kejauhan.


Aneh... ada apa ini? ada apa dengan bunyi terompet tadi? Itu jelas bukan tanda bahwa ada serangan musuh. Tapi... aku tidak pernah mendengar bunyi seperti ini. lebih tepatnya, bunyi itu menandakan apa?


Jauh di tengah-tengah markas, aku melihat orang-orang berkumpul.


Aku tidak tahu itu apa, tapi perasaan ku tidak enak. Karena kondisiku sendiri sudah sangat payah, sampai-sampai memanggil es pun aku tidak sanggup. Jadi, aku melompat-lompat dengan menggunakan dahan pepohonan sebagai tumpuan. Sesuatu yang biasa di lakukan oleh Tory.


Ternyata, melakukannya cupuk sulit. Aku sampai jatuh terjerembab di tanah.


Huh..  untung saja tidak ada yang melihat.


Aku segera berlari menuju asal suara tersebut. Sambil melihat-lihat sekitar mencari sosok Tory. Aku mencoba menghentikan orang-orang yang pergi dari sumber keributan tadi, tapi mereka enggan menjawab.


“tuan Ares! Maaf.. saya baru saja pulang dari pertempuran. Dan tiba-tiba saya mendengar ada bunyi terompet. Apa yang terjadi? dan apa bapak melihat adikku? Putri Eve, ia mendapat firasat buruk mengenai...” bunyi nyaring terompet tersebut kembali berbunyi.


“Lord Hyno belum ke sini, kan?” tanyaku panik.


“tuan Putri... dengan segala maaf, saya sudah berjanji untuk tidak mengatakan ini langsung kepada nyonya. Tapi.. saya rasa anda perlu tahu...”


“.. adik anda, Yang Mulia April kini masih belum siuman dari efek racun yang di berikan langsung oleh... Tuan Leonardo”