The Winter Stories

The Winter Stories
Saat Terberat



-TORY’s POV-


Jujur saja, aku bersyukur bahwa panggung terkutuk itu kini terbakar habis.


Tapi untuk salju ini, jelas tidak.


Dan lebih hebat lagi, Dessy kini tertidur pulas di kamar ku, setelah sebelumnya dia tertidur selama dua hari. Tidak kusangka, kakak-adik sama saja, suka tidur.


Mungkin kalian akan merasa aneh atau berfikir yang tidak-tidak jika melihat tindakanku yang membiarkannya tidur di kamarku, bukan kamarnya. Jawabannya sederhana. Aku takut jika di kamar sendiri, Dessy mungkin akan mengunci diri. Setidaknya, jika bersamaku, dia mungkin akan sedikit membuka diri.


Saat membawanya ke kamarku, semua orang tidak berani mendekat. Mungkin sebagian merasa ngeri setelah melihat kekuatan Dessy saat marah. Untungnya, tidak ada yang curiga tentang bahwa Dessy memiliki kekuatan api.


Yah.. kematian guru memang membuat kami sangat terpukul, tapi aku cukup yakin  bukan reaksi seperti ini yang ia inginkan untuk kami tempuh. Ia ingin kami menjalankan hari-hari dengan biasa. Aku sedang berusaha, tapi Dessy... sepertinya tidak sanggup.


Ketika mendapati guru meracuni April lima hari lalu, aku tidak mampu berkata-kata. Saat itu, aku menyaksikannya secara langsung. Guru memberikan April sebuah pil. Lalu April tiba-tiba terjatuh, dan pingsan. Untungnya aku bersama 2 orang temanku dari pasukan biasa memang sedang berpatroli.


Dalam kekalutan ku, beberapa penjaga datang, dan menemukan tubuh April yang sudah dingin dan pucat. Bebeapa dari mereka membawa tubuh April ke dalam. Sedangkan sisanya menangkap Tuan Leo, yang bahkan tidak bergeming dan tampak pasrah saja.


Ketika terbangun dari pingsan ku saat kematian guru, aku sudah berada di kamar ayah. Dan ada kakak Dessy, yaitu Hilla yang membawa air penyembuh. Setelah meminumnya, kondisi tubuhku kembali normal setelah sebelumnya aku di tahan di penjara bawah tanah karena nekat ingin menemui guru.


Aku masih mendapat kesempatan untuk memakamkan Tuan Leo secara baik-baik, tidak dengan cara markas, yaitu di bakar. Aku menguburkannya tepat di samping gerbang yang biasa kami gunakan untuk menunggu Tuan Leo.


Dan waktuku selalu kuhabiskan di makam beliau. Aku menceritakan segala keluh kesah ku, dan menanyakan maksud dari tindakan bodohnya itu. Kenapa ia melakukannya? Apa ada alasan di balik itu?  Apa ia pernah di kunjungi oleh Lord Hyno?


Ketika aku kembali ke kamar, aku cukup kaget ketika mendapati tidak ada Dessy di kamarku. 


Kemana dia? Aku kemudian mencarinya ke segala tempat, bahkan ke tempat makan pasukan, dan semua orang mengaku tidak melihat sosoknya.


“sejak tadi, aku belum bertemu dengan dia” ujar April. Wajahnya terlihat serba salah. Mungkin ia juga merasa bersalah atas kematian Tuan Leo. Entah sejak kapan ia jadi tidak berani menatap mataku.


“kalau begitu, terimakasih ya”


Aku segera melesat pergi. Kemudian, aku menyadari bahwa ada kemungkinan ia sedang berada di gerbang tempat biasa kami menunggu. Yah.. tidak salah lagi. Langit lebih mendung di Utara, itulah sinyal untukku. 


Dan kedatanganku sepertinya tepat waktu. Dessy hampir saja membunuh dirinya dnegan melompat bebas dari gerbang setinggi 7 meter itu, tanpa bantuan Esnya.


“Dessy!!!”


Beruntung aku menangkapnya di bawah meskipun pendaratannya tidak sempurna. Ya.. aku tidak kuat menahan beban tubuhnya yang jatuh bebas, dan jatuh terduduk sambil menahan sakit.


“Tory?”


“iya?... kau tidak apa-apa, kan?”


“apa yang kau lakukan? Apa kau masih bisa berdiri?”


“yah.. aku masih bisa. Sepertinya ramuan guru masih bekerja”


“jadi.. kau juga mendapatkan obat dari pengkhianat itu...”


“hei.. siapa yang pengkhianat? Kau ini sudah hilang akal, ya?”


“bukan urusan mu. Minggir...”


Ia bangkit, dan hendak berjalan pergi. “Dessy, aku tahu kau sekarang sedang bingung, tapi aku ada disini. Aku akan menjagamu. Bukankah itu yang ku lakukan selama ini?” aku meletakkan tanganku di bahunya.  Tapi Dessy hanya terdiam, ia tidak berbicara. Ia menatap ke arah lain, tapi pandangannya terasa kosong.


“..bawa aku ke makam Tuan Leo” ujarnya pada akhirnya.


“hanya jika kau berjanji tidak akan bersikap seperti ini lagi, setidaknya tidak padaku. Kau tahu bukan hanya kau yang kehilangan dia. Tolong jangan perlakukan aku seolah aku sama dengan yang lain..”


Lalu tatapannya melembut sedikit. “aku. Hanya butuh waktu, maafkan aku Tory”


“kita semua butuh waktu, tapi bukan berarti kau mengabaikan aku”


“... baiklah. Aku minta maaf.. sekarang bawa aku menuju Tuan Leo”


“makam Tuan Leo” aku mengoreksinya. 


 Aku menunjukkannya makam guru kami, tepat di sebelah gerbang tempat kami biasa menunggu kehadirannya. Wajah Dessy terlihat semakin suram. Matanya menatap nanar tanah gembur di hadapan kami. Sementara itu, bunyi terompet tanda makan malam bagi pasukan berbunyi. 


BIPPPP BIIIPP


Dessy spontan menutup telinga, sambil menutup matanya.


“Dessy, kau baik-baik saja?” aku menghampirinya.


Namun Dessy menepiskan tanganku yang hendak menyentuhnya, dan memberi tanda untukku kembali mundur. Dari belakang, aku melihat sosoknya yang selama ini sekuat baja, kini nampak rapuh seperti kaca yang retak.


Ia menjadi sangat rapuh, dan itu membuatku juga merasa sama. Aku tidak sanggup melihatnya serapuh ini. Dalam hati, batinku juga tersiksa.. rasanya aku ingin sekali membuatnya berlari padaku, lalu menangs dan menumpahkan segalanya hanya padaku, satu-satunya orang yang pantas untuk melihatnya menjadi lemah, tapi tidak seperti ini.


Tidak seperti biasanya, tidak ada isak tangis yang terdengar. Tapi itulah yang membuatku semakin prihatin. Ia tidak menangis. Tak melakukan apa-apa, hanya diam.


Okedeh, maaf kata-kataku jadi sulit di mengerti. Tapi.. yah. Andai kalian melihat sendiri kondisi Dessy sekarang, kau akan paham.


“Tory, tinggalkan aku sendiri. Aku sedang tidak ingin di ganggu”


“tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu. Apalagi dalam kondisi seperti ini... ayo kita masuk saja. Aku tidak mau ada musuh yang sedari tadi  mengawasi kita. “


“ku mohon.. beri aku waktu untuk mencerna semua ini. Tory, aku ingin sendiri”


“kau sudah berjanjii”


“hanya beberapa menit, ku mohon Tory. Jangan meminta terlalu banyak padaku juga.”


Melihat tatapan memohonnya, hatiku melemah, akupun mengiyakan. Tapi aku sebisa mungkin masih berada di dekatnya untuk mengawasi. Siapa tahu ada yang datang dan hendak menyerang.


Dessy jatuh berlutut di atas tanah. Ia lalu menangis sekeras dan sekencang yang ia bisa. Ia meraba-raba pusara guru kami. Dengan air mata yang berlinang, Dessy meminta maaf pada Tuan Leo. Ia bahkan merebahkan badannya tepat di sebelah makam guru kami. Ia nampaknya membisikkan sesuatu. Aku mengalihkan pandangan, berusaha mengusir air mata yang menggenang.


Lalu, sesaat kemudian ia menghilang dari pandanganku.


Aku panik, dan berlari keluar dari persembunyian ku. Kemana dia? Bagaimana bisa ia menghilang dalam kejapan mata? Lalu ku sadari bahwa tepat di tempat Dessy berdiri tadi, ada tetesan air.


Oh... sial.


Dessy berteleportasi.


Salah satu perkembangan kekuatannya yang kami rahasiakan. Semua putri bisa berteleportasi, tapi melalui medium kekuatan masing-maisng. Seperti Eve yang berteleportasi melewati api. Tapi Dessy, ia mampu berteleportasi tanpa aturan itu.


Aku buru-buru kembali menuju markas, berharap menemukannya di kamarku, atau kamarnya. Namun, aku tidak menemukannya, atau pun mendapatkan tanda-tanda kehadirannya. Aku tidak berhenti sampai di situ dan mencarinya di setiap kamar orang-orang terdekatnya, misalnya, April, Eve, Shida, Ibu dan Ayahnya, tapi tetap tidak ada.


Ketika sampai di kamar itu, yang pertama aku lihat adalah tumpukan buku-buku di rak buku setinggi 2 meter. Bah.. Tuan Leo... bahkan di kamar tamu miliknya pun, sudah seperti perpustakaan kecil. Aku melangkahkan kaki, mencoba mencari tanda-tanda keberadaan Dessy.


Namun karena keadaan kamar yang gelap, sangat sulit untuk mencari bayangannya. Aku sengaja mengunci pintu, berharap bahwa seandainya Dessy benar-benar ada di dalam, ia setidaknya tidak kabur melewati pintu.


Ketika harapanku menemukannya mulai menipis, tiba-tiba saja aku mendengar suatu gerakan halus. Indra ku menajam. 


Ada orang disini. Aku yakin. 


Tapi.. sangat sulit untuk melihat dalam keadaan gelap seperti ini. Akhirnya aku memutuskan untuk membiarkan jendela kamar terbuka, membiarkan cahaya bulan masuk.


Cahaya yang masuk menyinari tempatku berdiri. Sesaat, aku terpesona oleh betapa terangnya bulan bersinar malam ini. Namun, tidak ada bintang di sebelahnya. Seketika aku teringat dongeng lama Tuan Leo tentang Bulan yang bersinar lebih terang, demi membuat bintang dapat melihat sinarnya, dan menemukan jalan pulang kembali menuju sisi sang bulan. Dulu.. aku menganggap dongeng tersebut hanyalah guyonan konyol, tapi sekarang, rasanya mulai memahami perasaan bulan yang kesepian tersebut.


Apa.. Dessy benar-benar pergi? Tapi kenapa? Bukankah aku selalu berusaha berada di sampingnya untuk membuatnya percaya bahwa aku selalu ada untuknya? Jika ia benar-benar pergi.. kenapa rasanya aku sangat kesepian? Apa... aku tertinggal sendirian?


Aku menjatuhkan diri di bawah jendela. Perlahan.. aku memejamkan mata. Samar-samar, aku teringat kembali bayang-bayang guruku. Pesan-pesannya sebelum ia meninggal, bahwa ia ingin aku meindungi Dessy, dan apapun yang ingin di lindunginya.


Guru.. maaf karena aku hanya menjadi murid bodoh tidak berguna.


Aku kemudian bangkit, dan berjalan menuju pintu. Jendelanya ku biarkan terbuka, untuk membiarkan udara segar masuk. Kamar ini terasa sangat lembab, dan berbau lembaran-lembaran buku tua yang sudah usang. Sepertinya guru sengaja membuang ke sini buku-buku tidak berguna dari perpustakaan miliknya.


Apa ini? genangan air?


Aku sepertinya tadi menjatuhkan segelas air di meja ketika sedang terseok-seok di tengah gelapnya ruangan ini. oh.. sudahlah.. akan ku panggilkan tukang bersih-bersih untuk membersihkan kamar itu.


Aku melangkah keluar, dan mengunci pintu dengan setengah hati.


Tapi baru beberapa langkah, terdengar suara ribut-ribut dari dalam.


Aku kembali membuka pintu, dan betapa kagetnya aku ketika melihat tumpukan buku-buku dari rak setinggi 2 meter tadi jatuh berserakan di lantai. Tidak hanya itu, bahkan meja dan kursi untuk membaca kini jatuh ke lantai, menindih buku-buku tua.


Seseorang terlihat sedang memporak-porandakan kamar tersebut.


“Des? Apa yang kau lakukan?”


Aku menghampirinya, dan ku rasakan jantungku berdetak lebih cepat ketika aku menyadari bahwa ia memegang sebuah pisau. Cepat-cepat aku menghentikan tangannya yang hendak menusuk jantungnya sendiri.


“lepaskan aku brengsek!! Lepaskan akuuu!!!”


“Dessy! Ku mohon, sadarlah! Berhenti menyiksa dirimu sendiri!” aku merebut pisau itu, dan melemparkannya entah kemana.


“kenapa kau membuang pisauku? Itu pemberian dari Tuan Leo! Aku akan menggunakannya untuk sesuatu yang berguna. Yaa! Aku memang akan membunuh diriku. Karena mati lebih baik dari pada tetap hidup seperti ini!”


“Dessy! Kenapa kau terus-terusan seperti ini? ku mohon jangan dengarkan sisi buruk dan menguasai mu. Bunuh diri tidak akan menyelesaikan segalanya. Bagimu mungkin akan segera selesai, tapi bagaimana dengan orang-orang yang kau tinggalkan? Orang-orang yang kau sayangi dan juga menyayangimu?”


“masa bodoh dengan orang-orang itu! Itu ganjaran yang setimpal karena membiarkan guru kita mati! Aku akan mati saja!”


“bagaimana dengan adikmu? Bagaimana dengan ‘Aku?..”


“untuk apa aku harus peduli... kenapa kau harus peduli padaku Tory?”


“ dengan mu? Tentu saja aku harus peduli! Apa waktu bertahun-tahun kebersamaan kita tidak ada apa-apanya?” 


Aku memeluknya erat, “Aku menyayangi mu, dan lebih dari sekedar teman. Aku rasa aku menyukaimu, mencintaimu, ahh.. asal tahu saja, kata  cinta saja tidak cukup. Kematian guru dan sikapmu belakangan ini juga hampir membuatku gila, Dessy. Ku mohon berhentilah..”


Dessy berhenti memprotes, kini matanya menatapku, seakan-akan tidak percaya apa yang baru saja ku katakan.


“..siapa yang mengajarimu kata-kata itu?”


“Ayah ku. Mungkin. Eh..Maksud ku, ayahku yang menyadarkanku bahwa aku sebenarnya menyukaimu sejak lama”


Dessy menggelengkan kepalanya. “....kau tidak mengerti, Tory. Dengan kematian ku, adalah satu-satunya cara agar aku dapat melindungi orang-orang yang ku sayangi! Aku, di besarkan oleh seorang pengkhianat!.. aku bahkan punya kekuatan ganda, dan aku juga punya saudara yang menjadi seorang putri. Bukankah sudah jelas, aku adalah reinkarnasi dari ratu aletta, dewi kegelapan!!! Aku takut... bagaimana jika di kemudian hari aku membunuh semua orang yang ku sayangi.. terutama KAU. Aku tidak ingin melukai mu. Ku mohon.. biarkan aku mati disini sekarang. Sebelum aku berubah menjadi jahat, dan membinasakan semuanya, bagaimana jika itu benar-benar terjadi? Aku bahkan dapat merasakan kegelapan mulai merenggut hati dan kesadaran ku.. aku tidak ingin berakhir seperti itu!!!”


Aku menarik Dessy ke dalam pelukanku sekali lagi. Meskipun ia kembali meronta, aku tidak peduli.  Aku akan memeluknya hingga ia merasa tenang. “kita bisa melakukannya bersama-sama. Aku yakin, kau tidak akan seperti itu. Yang terpenting sekarang adalah, jangan sampai kau mengikuti amarahmu terus menerus seperti ini.. biarkan semua ini berlalu. Semua beban itu, jangan kau tanggung sendiri. Karena, kau tidak sendiri. Aku  bukan orang asing untuk mu.”


“kenapa kau begitu yakin terhadapku? Aku.. tidak pantas untuk mendapatkan seseorang seperti mu. Sejak dulu, ku fikir, kita tidak mungkin bersama. Kau seorang Pangeran yang mungkin suatu hari nanti akan duduk sebaga ketua dewan. Tentu saja kau bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih  baik dan cantik dari pada aku yang selalu terancam bahaya dimanapun aku berada. Sebaiknya kau lupakan saja rasa suka mu itu. Carilah wanita lain selagi masih ada kesempatan.” Dessy menepis tanganku yang hendak menyentuhnya, dan membalikkan badan lalu beranjak pergi.


“December!”


Begitu aku berniat mengejarnya, tembok es menyeruak dari lantai. Aku segera melompati tembok es sebelum esnya bertumbuh semakin tinggi, dan menndarat persis di sebelah Dessy yang menatap nanar ke arah tembok Es yang ia buat.


“hei. Bukankah aku sudah mengatakannya? Apa perlu ku ulang lagi supaya kau senang? Aku akan bersamamu. Bukan karena rasa simpati dan kasihan terhadapmu. Bukan juga karena kita teman satu guru, tapi karena aku telah menghabiskan hampir seluruh waktu hidupku bersamamu, dan aku tidak mau menghabiskannya dengan orang lain. Mungkin karena kau satu-satunya wanita yang mengerti diriku, sama halnya dengan aku mengerti dirimu. Dessy,.. kau sebenarnya tahu perasaanku, kan? Begitu juga dengan ku. Aku tahu bagaimana perasaan mu terhadapku. Kita sudah dewasa sekarang”


“apa yang kau harapkan? Bahkan dengan ini semua, sepanjang hidup kita, hanya akan ada perang. Kau mungkin masih bisa memilih jalan hidup lain, tapi tidak dengan ku. Aku hanya punya satu pilihan, bertarung. Sampai aku mati.”


“kalau begitu, biar kita saja yang menghentikan perang ini”


“kau tidak pernah berubah. Bicara selalu lebih mudah dari pada kenyataan, Tory”


“kalau begitu, kau yang banyak berubah. Kau dulu begitu optimis. Kenapa sekarang jadi pesimis begini?”


“...Tory.. aku bukan pilihan terbaik. Aku, punya rahasia. Aku mungkin akan jadi reinkarnasi kegelapan. Bahkan sekarang pun, aku merasa kegelapan tengah bersarang di hatiku. Aku.. tidak tahu harus bagaimana lagi”


“Dessy, satu hal yang ku tahu pasti, kau bukan reikarnnasi kegelapan. Tidak akan. Semua orang punya sisi gelap dan terag masing-masing. Dan, bicara tentang rahasia, aku.. juga punya rahasia yang hanya segellintir orang yang tahu. Jadi tenang, bukan hanya kau yang punya rahasia”


Keningnya mulai bertaut. “rahasia? Kau bercanda? Tidak usah bohong demi menghiburku”


“sebelum Tuan Leo di eksekusi, aku sempat berbicara dengannya. Sebelum.. aku ketahuan telah bertindak ilegal, dan di kurung. Selama perbincangan kami, Tuan Leo berpesan agar kita sering ke perpustakaan, merawat buku-buku. Juga, dia bilang dia telah berbicara dengan seorang peramal. Dan ia yakin, kita berdua akan berperan penting dalam perang. Lalu segalanya akan jadi lebih baik.”


Dessy kembali terisak. “kenapa kau tidak menghentikannya? Kau bisa lari dan menyembunyikan tuan Leo”


“aku sudah berusaha. Tapi dia tidak mau. Lagipula, kalau dia memang berniat unutk kabur, akan sangat mudah baginya. Kau tahu.. Tuan Leo juga punya kekuatan””


Kali ini, Dessy tidak bereaksi. Dia hanya menatap lantai di bawah kakinya.


“luar biasa sekali, si pria tua itu. Teryata dia salah satu dari Klan Alam. Dia adalah saudara Ibuku. Itu sebabnya dia sangat pandai dalam bidang ramuan. Itu sebabnya dia bisa berada di mana saja dalam waktu dekat.”


“tidak terlalu mengejutkan...aku melihat kemiripan kalian berdua sejak dulu. Juga mengenai kemampuan Tuan Leo. Meskipun dia menyembunyikannya dengan baik, tetap saja terkadang ada satu dua hal yang benar-benar ganjil.”


“Dessy, aku tahu waktunya kurang tepat.. tapi..bagaimana kalau.. kita melanjutkan hubungan kita ke tahap yang lebih serius?”


“jangan bercanda. Kau sadar tidak sih, kita sedang dalam keadaan bagaimana?”


“tentu saja aku tahu. Tapi karena aku cukup gila, makanya aku berani mengatakan ini. oh.. benar juga. Kau mungkin sedang bingung dengan semua ini, maaf karena malah menambah kebingungan mu. Tapi aku hanya ingin kau tahu perasaan ku padamu, yang ngomong-ngomong, tidak akan berubah apapun yang kau lakukan. Aku sudah kehilangan guru, dan aku tidak akan kehilangan kau juga. Aku takut tidak memiliki waktu untuk mengungkapkannya, sama seperti ayahku dulu.”


Sesaat, hanya keheningan yang menggema di antara kami..Ia mengulurkan tangannya ke wajah ku. Aku meraih tangannya, lalu mencium lembut tangan tersebut. Saat itulah benteng pertahanan Dessy runtuh. Ia membenamkan wajahnya ke dadaku, dan menangis. []