
-TORY’s POV-
Semua orang pasti setuju, ayahku ini adalah ayah yang payah.
Oke, sebenarnya tidak payah-payah amat.
aku cuma mengucapkannya karena sedang kesal.
Soalnya, dia tidak mau menerima alasanku. Rencananya, ia akan menghukum kami, entah dengan hukuman apa. Memangya hidup seperti ini bukanlah hukuman? Enak saja mengatur kehidupan pribadi kami. Ia memperlakukan kami seolah-olah kami ini barang, tidak punya hak untuk menentukan.
Dasar diktator.
Lupakan tentang dewan-dewan ini.. mari berpindah ke sesuatu yang membuatku lebih resah. Dessy. Ia sudah murung sejak kemarin. Meskipun aku sudah bisa mengajaknya bicara dan tertawa, tetap saja. Aku rasa ada sesuatu yang ia sembunyikan.
Kami duduk menghabiskan waktu di danau tempat biasa kami berkemah dengan Tuan Leo. Hanya ada kami berdua. Tidak ada siapa-siapa. Aku merebahkan diri di atas rerumputan bersalju di sebelahnya. Mata Dessy menatap lurus ke arah danau. Ia sama sekali tidak memerhatikanku yang sengaja bertingkah manja demi menarik perhatiannya.
“hei.. kemarilah” Aku menarik tubuhnya untuk ikut tiduran di pelukan ku.
Dan diluar dugaan ku, Dessy tidak protes. Ia malahan langsung melingkarkan tangannya di pundakku. “Aduh.. kalau sudah begini, aku yang akan jadi salah tingkah.” Ujarku.
“kenapa? Memangnya ada apa?” tanyanya sambil tersenyum.
“bagaimana kalau kita menikahnya besok saja? Hmm???” Aku semakin mempererat pelukanku.
Lalu ia melepaskan tangannya dari ku. Dengan ekspresi penuh rasa bersalah, Ia menatap mataku saat bicara. “Tory.. aku minta maaf.. tapi soal pernikahan kita.. aku tidak bisa.”
Apa?
“aku bukannya ingin menolakmu. Tapi ada sesuatu yang ingin ku lakukan. Kau tunggu saja sampai semua ini berakhir, bisa tidak?”
Dessy menyandarkan kepalanya di bahuku. Sepertinya saat ini ia memang sedang sangat tertekan. Aku mengelus lembut kepalanya. Berharap bisa membagikan sdikit ketenangan di hati gadis itu.
“kenapa? Apa karena buku itu? Kau masih belum mau membicarakannya ya? Tidak apa-apa. Kau mungkin butuh waktu. Mengenai pernikahan, aku dari awal memang ragu kalau kita bisa menikah sih.. tapi yang namanya harapan, tidak apa-apa di tunggu”
Lalu aku meraih tangannya untuk kembali melingkarkan lagi tangannya di pundakku.. “aku tidak masalah, selama kau nyaman”
Ia tersenyum, lalu semakin memperbaiki posisinya. Tidak lama kemudain, sepertinya ia jatuh tertidur. Kali ini, Ekspresinya benar-benar manis. Aku berharap bahwa dia bisa menunjukkan wajahnya ini setiap saat. Bukan maksudku menyuruhnya untuk tidur. Aku hanya ingin dia terlihat nyaman seperti ini. Aku memeluknya semakin erat, hingga dapat ku rasakan wangi rambutnya tepat di hidungku yang mancung ini.
Aku menghirup aromanya sambil mencoba mengingatnya ke dalam memoriku. Aku mengelus rambutnya lembut dan ku ciumi dahinya.
Aku sangat menyayangimu, Dessy[].
***
-EVE’s POV-
Mataku tidak pernah lepas dari Dessy.
Aku tahu ia menyadari bahwa aku terus-terusan menatapnya.
Aku masih tidak percaya dengan kata-kata yang ia ucapkan padaku sore ini. dia bilang akan... berubah. Aku tidak tahu. Apa maksudnya. Apanya yang akan berubah? Keadaan? Sifatnya? Wajahnya? Kekuatan?
Aku terlalu pusing memikirkan kemungkinan yang ada. Lebih baik aku menyendiri saja, sambil menikmati waktu luang. Maka aku pergi ke salah satu balkon, yang untungnya lumayan sepi karena orang-orang di dalam sedang sibuk berpesta. Seandainya Deve masih hidup, aku pasti sedang menatap bulan bersamanya, seperti apa yang di lakukan Dessy dan Tory, bahkan Shida dan Daniel. Aku berharap aku masih bisa jatuh cinta lagi. Tapi tidak peduli seberapa keras aku berusaha membuka hati, wajah Dave terus-terusan membayang.
Sementara April, aku yakin ia akan bertemu dengan seseorang yang spesial untuknya suatu hari nanti. Entah dengan cara apa. Mungkin di antara sekian banyak pasukan di sini.
Ngomong-ngomong tentang April, aku belum bertemu dengannya hari ini. Menurut para pelayan, ia sudah bangun sejak sore tadi. Tapi aku hanya melihatnya saat pembukaan acara tadi. Ku putuskan untuk mencari April. Dari pada duduk sendiri, lebih baik mengajak April untuk duduk bersama.
Jadi aku berusaha mencarinya di dalam. Tapi hasilnya sama. Tidak ada.
“kau mencari siapa? Dari tadi ku perhatikan kau terus-terusan celingak-celinguk.” Tanya Daniel.
“anu.. aku mencari April”
Daniel melihat sekilar ke arah pintu, lalu berbicara “sepertinya ia bersama Dessy sedang ke suatu tempat. Soalnya tadi aku melihat mereka di pintu, dan sekarang sudah tidak adalagi.”
“Oh..ok, trimakasih”
Aku memutuskan untuk kembali lagi ke balkon sendirian. Dessy sedang bersama April. Mereka mungkin sedang jalan-jalan bersama di taman. Yahh sesuatu yang bagus demi menyambung kembali ikatn mereka yang saat ini sedang longgar dan canggung.
Tapi... ada sesuatu dalam diriku yang mulai cemas.
Jika melirik sikap Dessy belakangan ini, aku sedikit ragu ia akan menemui adiknya untuk meminta maaf. Aku... apa sebaiknya ku susul saja? Aku hanya ingin memastikan mereka akan baik-baik saja. Tapi ini kan, Dessy. Tidak mungkin ia akan mencelakai adiknya sendiri. Namun pada akhirnya aku tidak bisa menabaikan firasat burukku.
Jadi, aku melompat dari balkon, dan segera berkeliling di taman untuk mencari mereka. Aku mempercepat langkahku sambil berusaha untuk tetap waspada. Jangan sampai mereka tahu aku datang untuk menguping.
“.. aku tentu saja memaafkan kakak. Aku awalnya tidak terima atas perkataan kakak waktu itu. Tapi sekarang aku bisa memahami kenapa kakak mengatakannya padaku. Tidak apa-apa.”
“aku minta maaf sudah membuatmu repot-repot datang ke sini.. tapi selain itu, ada yang ingin ku lakukan. Dan ku harap kau bisa membantuku”
“apa? Apa yang bisa ku bantu?”
“tentu saja bisa. Kau pasti bisa.”
Dessy memeluk April yang nampaknya senang sekali di peluk lagi oleh kakaknya. Namun yg membuatku sedikit risih adalah ekspresi di wajah Dessy tetap sama, beku. Caranya menatap bahkan membuatku semakin waswas.
Sebenarnya, apa sih yang ia temukan dari buku itu? Kenapa dia jadi berubah sekali? dia berubah menjadi orang yang berbeda.
Lalu mendadak Dessy melepaskan pelukannya dengan kasar, dan menjatuhkan April ke tanah. Dessy mengucapkan sebuah mantra, yang membuat salju di sekelilingnya berputar bagai badai. Aku terperangah. Tanpa pikir panjang, aku segera menghampiri mereka berdua. Namun terlambat. Ketika aku sampai, Dessy sudah mengarahkan salju tepat masuk ke jantung April.
Sama seperti apa yang ia lakukan pada Lord Hyno.
“Dessy! Apa yang kau lakukan! Apa kau berniat membunuh adikmu sendiri? Apa kau gila?”
Aku cepat-cepat mengguncang tubuh April yang menjadi dingin dengan cepat, sedingin es. Astagaa apa yang telah dia lakukan? Apa dia sudah hilang akal?
Dessy menatapku tajam. “kenapa menatapku seperti itu?” tanyanya.
Aku segera bangun, dan menjadi penghalang baginya dan April. “aku tidak akan menuduhmu macam-macam. Tapi tolong jawab pertanyaaan ku dengan jujur. Apa yang kau masukkan ke dalam tubuh adikmu?”
“Es. Aku memasukkan Es ke dalam jantungnya.”
Semilir angin berhembus melewati kami berdua, mengisi kekosongan yang terjadi di antara kami. Aku tidak sanggup menatap mata Dessy yang tajam dan sinis. Aku tidak siap melihat salah satu dari kami seperti ini. kata-kata Lord Hyno terngian di kepalaku. Salah satu dari kalian akan berkhianat.
“aku.. tidak mengenali dirimu lagi. Apa kau yakin ini yang kau maksud berubah?”
“oh.. sudahlah.. dia tidak mati, kok. Dia hanya akan pingsan, dan menjadi seorang gadis biasa. Kenapa? Kau juga mau? Aku sebenarnya sudah memiliki api, jadi tidak membutuhkan mu. Tapi kalau kau mencari masalah, aku tidak masalah menghabisinya”
“jangan bercanda. Atas dasar apa kau melakukan sesuatu seperti ini?”
“hati-hati dengan ucapanmu, jangan mendorongku. Kau yang harus berhati-hati karena kau sedang berada di daerah kekuasaanku. Dimanapun kau berada. Sejauh manapun. Ketika kau berada di dekat salju ini.. ku rasa kau tahu apa maksudku”
“apa tepatnya yang kau temukan dari buku itu? Kenapa kau berubah seperti ini? Aku tidak mengenalimu sebagai Dessy!”
Dessy tidak menghiraukan ku. Ia membalikkan badannya, dan berjalan pergi.
Kesal karena Dessy malah menghiraukan ku, ku putuskan untuk meprovokasinya lebih jauh lagi. “fikirkanlah tentang Tuan Leo. Apakah ini yang ia inginkan darimu? Menjad jahat? Menyerang adikmu sendiri?”
“JANGAN MENYEBUT NAMANYA DENGAN LIDAH KOTOR MU! Kau tidak ada hak. Kau bahkan tidak mengenal Tuan Leo dengan baik. Tahu dari mana kau tentang apa yang ia harapkan atas aku?”
Ia menoleh padaku, dan matanya yang dulu menyorotkan keteduhan, kini berubah penuh benci, dingin dan angkuh. Ia berbalik kepadaku, dan menatapku tajam. “kau bertanya padaku, apa yang ku temukan dari buku itu? Aku menemukan kekuatan! Kekuatan yang sangat besar. Dan dengan itu, akan ku akhiri perang ini. Tapi tidak akan ada kemenangan atas nama dewan. Akan ku hancurkan gelap dan terang, dan hanya akan menyisakan aku, sebagai penguasa dunia ini. Lalu ku hancurkan seluruh kebohongan Hyno dan dewan. Mereka semua sama saja. Aku akan membebaskan dunia ini di bawah kehendakku. Dan tidak akan ada yang mampu mencegahnya dari itu! Bahkan kalian”
“lalu bagaimana dengan Tory? Kau mungkin bisa membuang segalanya, tapi tidak dengan dia, bukan?”
Langkah Dessy terhenti. Mendengar nama Tory telah membuat dirinya lengah. Aku mendatangkan api, dan menembaknya dengan penuh tenaga pada Dessy.
Letupan api membesar, dan menimbulkan ledakan yang lumayan.
Begitu ledakan mereda, Dessy masih berdiri diam di tempatnya. Tanpa luka.
“kau begitu lama menyadarinya. Aku punya kekuatan selain pengendalian Air dan Es, Eve. Sejak usia belia,, aku juga punya kekuatan Api. Dan sekarang, aku menemukan kekuatan Angin yang ku dapatkan dari adikku. Yah.. buku itu yang mengajariku. Ada cara untuk seseorang menerima kekuatan, Eve. Dengan mengorbankan daya hidup si pemilik kekuatan, aku bisa menyerap kekuatannya. Yang ku perlukan hanya restu dari pemiliknya. Dan April sebelumnya telah mengiyakan. Sayangnya, anak itu tidak mati. Aku pasti berhasil mengambil seluruh kekuatan April seandainya kau tidak mengganggu kami”
Hening terasa begitu mencekam. aku berusaha berujar, namun semua ini begitu sulit untuk diterima.
"kau iblis” akhirnya aku berkata.
Dessy mengangkat satu alisnya. “apa salahnya dengan menjadi Iblis? Di saat apa yang kalian sebut sebagai kegelapan dan kebaikan saja mirip satu sama lain. Yang membedakan kita, di pihak manakah kita?”
Lalu secepat kedipan mata, sosok Dessy melebur pada salju di bawah kakinya.
Aku sungguh tidak percaya apa yang terjadi. Api masih membakar pohon terdekat. Api. Benar dugaan ku. Dessy juga mampu mengendalikan Api. Kenapa tidak pernah terfikirkan sebelumnya? Bagaimana bisa aku tidak memerhatikan kemungkinan ini selama ini? Pada saat kami bertarung, dia adalah orang yang paling minim terkena luka bakar dariku.. Dia juga bisa meneleportasikan kami di pusaran api, dan berhasil mengambil dan membuka pesan pada burung api ku.
Ini semua salahku.
Kenapa aku begitu buta atas hal ini?
Kenapa aku menuntut mencari buku itu?
Aku menatap April yang pingsan di pangkuan ku. Aku segera menyelimutinya dengan jubahku. Aku berulang kali berbisik di telinganya, berharap bahwa ia baik-baik saja, memintanya untuk bangun [].