
Begitu terbangun, matahari langsung menyilaukan mataku. Tubuhku terasa remuk, namun aku tetap berusaha bangkit dari posisi tidurku, dan duduk di atas ranjang. Aku menatap sekelilingku, lalu ku sadari aku berada di kamarku. Di kamarku tidak hanya ada aku, tapi ada Eve.
“kau sudah siuman.. syukurlah..” Eve menyodorkanku segelas air.
Namun begitu aku meminumnya, terasa sedikit berbeda. Tubuhku langsung terasa segar, bahkan sakit di kepalaku menghilang. Sepertinya ini air obat. Buatan Tuan Leo. Aku menatap gelas yang ku pegang. Lalu aku mencoba air di dalamnya sekali lagi.
“kau tahu.. aku bermimpi buruk.. dalam mimpiku, pelipismu terluka. Hei... kau benar-benar terluka!” aku menunjuk perban di kepala Eve. Eve mengangguk, sambil memperbaiki selimutku. “Jadi.. yang tadi itu bukan mimpi?” tanyaku pada Eve yang menatapku sedih.
“Dessy, ibu di sini, sayang.”
“ibu?” aku menoleh ke kiriku, dan mendapati Ibu , Hilla dan April. Mereka adalah keluargaku. Tapi pagi ini semuanya nampak sangat asing bagiku.
“apa yang kalian lakukan di sini?” aku merasakan dadaku mulai sakit, dan nafasku memburu. Aku langsung melompat dari tempat tidur. Lalu menyambar air tadi yang kini di letakkan di meja.
Aku meneguknya sekali lagi, lalu kurasakan kondisiku jadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Tidak salah lagi.. ini....
“ini buatan Tuan Leo. Apa yang terjadi? Tadi itu Cuma mimpikan? Dia.. masih hidup!”
“sayang.. tenangkan dirimu, kau belum cukup kuat” Ibu menghampiriku.
“aku ingin bertemu dengannya! Aku harus menemui Tuan Leo! ”
“Tuan Leo tidak di sini, Dessy” Hilla angkat suara.
“dia masih di perpustakaan? Kenapa dia tidak ikut bersama kalian? Yah sudahlah.. aku ada janji bersama Tory, kami akan pergi menyusul paman di perpustakaan!”
“Dessy, Tuan Leo sudah tiada!”
Kata-kata yang keluar dari bibir kakakku itu bahkan lebih tajam daripada pedang tertajam di dunia.
“dia...” meskipun kondisi tubuhku sudah sehat kembali, tapi rasa sakit di hatiku tidak kunjung berhenti. Aku melirik gelas yang kini telah kosong itu. Bahkan di saat ia sudah hampir mati, ia masih memikirkan kesehatanku.
“kakak.. apa kakak baik-baik saja?”
.............................................................................................................................................................................................................................
“kak.. aku tidak bermaksud-----“
“AKU TIDAK BAIK-BAIK SAJA! KALIAN SEMUA, KELUAR DARI SINI!!! terutama kau, April. Aku tidak mau melihatmu! Pergiiii! Keluaaaaaaarrr!”
“Dessy, tenang, nak. Kau belum cukup stabil!”
“STABIL, IBU BILANG? PERGI! KALIAN SEMUA BUKAN KELUARGAKU! JIKA MEMANG BENAR KITA KELUARGA, KENAPA BARU SEKARANG KALIAN SEMUA BERUSAHA SELALU ADA UNTUKKU? KALIAN TERUS-TERUSAN MENGABAIKANKU, BAHKAN SAMPAI MENGIRIMKU KE TUAN LEO UNTUK DI ASUH. KAU TAHU RASANYA? RASANYA SANGAT KONYOL DAN MENYEDIHKAN! SEKARANG APA? DIA SATU-SATUNYA YANG SELALU MENJAGAKU KINI TELAH MATI, GARA-GARA KAU! GARA-GARA KAU! BRENGSEK!!!!!!!! APA YANG KAU LAKUKAN PADA TUAN LEO? HAHH??”
“kakakk!”
“berhenti memanggilku kakak! Kau tahu, kau sangat mengganggu! Itu sebabnya aku selalu melarangmu menjadi seorang putri! lihat? Semua kekacauan ini di karenakan kau!”
Aku membanting gelas di tanganku, dan dengan geram, aku keluar dari kamarku. Meninggalkan orang-orang egois itu di belakang. Aku sudah menyuruh mereka pergi, tapi karena mereka tidak kunjung pergi, akan lebih baik bila aku saja yang pergi.
Ketika mendapati panggung bekas tempat eksekusi Tuan Leo, aku segera menaikinya, lalu membakarnya menggunakan apiku. Aku tidak peduli lagi jika kemampuan rahasiaku ini terbongkar. Kalau perlu, biarkan semua orang tahu, bahwa aku berkekuatan ganda, bahwa aku bisa menjadi ratu kegelapan, seperti yang mereka takuti selama ini.
Begitu panggung itu terbakar, semua orang mulai keluar, mencoba mematikan api. Aku tersenyum licik. Rasakan itu. Kemarin kalian sudah menjadikan kami sebagai tontonan menarik, bukan?
“Dessy! Apa yang kau lakukan, nak?”
“jika kau berfikir bahwa Tuan Leo tidak bersalah, dan hendak membalas dendam, kau salah sayang. Sudah terbukti bahwa dia meracuni adikmu!”
“oh.. jadi ayah percaya itu? Ayah percaya dengan berita bodoh itu?”
“adikmu terkena racun! Ia tidak sadarkan diri selama 2 hari! Keadaannya sangat kritis. Jika kau melihatnya, kau pasti akan tahu bahwa dia bersalah!”
“bagaimana kau tahu bahwa yang di berikan tuan Leo adalah racun!? Kenapa tidak menunggu beberapa hari untuk memastikan keadaan April?! Tidak. Tuan Leo ku di jebak. Dan kalian semualah yang menjebaknya!”
“dia.. membahayakan nyawa adikmu,” tiba-tiba ketua Dewan bergabung.
Dengan frustasi aku menutup telingaku seperti kesetanan. “tutup mulut kalian! Kalian tidak tahu apa-apa...oh, aku tahu alasan kalian menghukumnya secepat ini. kalian pasti takut jika aku datang, aku mungkin akan menggagalkan hukumannya, iyakan?”
“Dessy, buka mata mu! Dia berbohong pada kita! Kau tahu, dia seseorang dari klan Alam! Ia ahli dalam membuat ramuan, tentu saja ia akan meracuni adikmu.”
“apa kau mengetahui alasannya?” tanyaku.
Mereka berdua hanya terdiam.
“padahal, dia sahabat mu, ayah. Dia teman baikmu. Dia bersedia membantumu mengasuhku! Bahkan bersedia melindungi dan melatihku! Tidak adakah rasa terima kasih terhadap dia? Apa kau tidak menyesal? Pada Tuan Leo? Pada Tory? Atau bahkan Aku?”
Aku menatap mereka yang berkerumun dan melihat ku satu persatu. “Bah.. kalian para dewan memang ayah yang payah!”
“Tapi April adalah anakku, sama seperti mu, aku tidak akan membiarkannya terluka!”
Aku menutup telingaku sambil berteriak “BERHENTI MENGATAKAN SEOLAH-OLAH KAU PEDULI PADA ANAKMU. KAU TIDAK MAU MEMBIARKAN KAMI TERLUKA, TAPI MELUKAIKU DARI DALAM! TIDAK.. KAU BUKAN AYAH KU! KAU.. BUKAN AYAHKUUUUU!!!”
Bersamaan dengan teriakan itu, aku membiarkan emosi dan kekuatan ku keluar. Rasanya aku ingin mati saja. Aku tidak mau jadi pendendam seperti ini, tapi rasa sakit ini menyiksaku sedemikian rupa.
Aku terduduk di atas rerumputan. Ku biarkan seluruh emosiku yang selama ini ku tahan, membuncah. Biar bagaimanapun, ku harap, satu kali ini saja... aku tidak ingin menyembunyikan sakit hatiku dengan senyum pahit seperti biasa. Aku ingin menangis sebisaku, tidak hanya di hadapan Tory dan Tuan Leo, tapi di hadapan semuanya.
Aku ambruk ke tanah. Di sana, aku menangs sejadi-jadinya. Aku terluka, dan tidak ada yang bhkn repot-repot berusaha menenangkanku.
Aku butuh.. seseorang yang memahami diriku, lebih dari diriku sendiri.
“Des.. apa kau baik-baik saja? Kau dengar suaraku? Dessy!” Seseorang menggoncang-goncang tubuhku. Tangan kekarnya menyentuh pipiku sesekali. Ketika aku berhasil memfokuskan diri, wajah pria di hadapan ku ini tidak asing.
Di bawah dinginnya hujan salju, Tory memelukku. Menyalurkan kehangatan dalam dadanya padaku.
“Tory?...” tanya ku lirih.
“iya.. ini aku. Apa yang kau lakukan?”
“Tuan Leo...”
“iya, aku tahu. Kita berdua tahu. Dia sudah tiada.”
“orang-orang ini membunuhnya.. aku... kita harus bagaimana, Tory?”
“sudah... tumpahkan saja tangismu. Tenang saja, masih ada aku.”
Dan dengan kata-kata itu, ia berhasil menyihirku. Segala beban berat di pundakku ini meluruh, seakan-akan hanyut dan tertimbun di bawah salju yang ku ciptakan. Aku menyenderkan kepalaku ke bahunya yang terasa kokoh, lalu menutup mataku
“bawa aku pergi, Tory”[].