
-SHIDA’s POV-
Guntur menggelegar di sertai kilat dan petir adalah pemandangan yang sangat indah, menurutku. Karena kalau bukan, apalagi?
Tentu saja maksudku pemandangan indah itu adalah ketika aku berhasil mengejutkan dan menyambar musuh-musuhku yang jelek itu dari ketinggian.
Yah, tepat saat musuh-musuh kami mundur, aku memutuskan untuk berdiam diri di daerah kekuasaanku. Segera setelah Eve mulai pulih, dan bisa berjalan kembali, aku segera naik ke langit. Karena jika aku tetap berada di bawah, aku mungkin harus bertemu Daniel lagi. Bukan karena aku membencinya,tapi ku rasa saat ini berbicara dengannya mungkin akan membuat mood ku bagus, dan mood yang cerah tidak akan membantu apa-apa dalam pertempuran.
Mungkin kalian agak bingung dengan kemampuan ku yang ini. Aku menguasai petir, dan terkadang naik ke langit karena dari atas, aku lebih aman, dan kekuatan ku seolah-olah tidak berbatas. Terbatas sih.. tapi maksudku kekuatan ku jadi lebih terasa saat aku di langit. Dengan cara apa aku naik? Sulit di bahasakan. Dan tentu saja aku tidak punya sayap. Pokoknya aku hanya melompat lalu membiarkan diriku terbawa hingga ke atas.
Sayangnya pilihan ku ini ku sesali beberapa jam kemudian. Tepatnya saat aku menyadari bahwa pasukan musuh kini telah kembali. Oh, yang benar saja, kami baru saja berperang selama dua hari tanpa henti. Ku fikir malam ini kita bisa beristirahat setelah berhasil menutup portal tadi sore. Tentu saja, puncak kekuatan tuan mereka adalah ketika malam datang.dan ini saat yang tepat untuk menyerang balik.
Aku mengirimkan petir besar untuk melumpuhkan pasukan musuh. Lalu meneleportasikan diriku bersama petir besar tadi. Dan percayalah, jika seandainya kau jadi aku, kau akan berusaha untuk tidak sering-sering menggunakan petir besar untuk bertarung. Karena energi yang di butuhkan untuk petir besar yang cukup untuk menghanguskan musuh radius seluruh padang ini, hampir saja membuatku pingsan.
Aku mencoba turun ke bawah, takut kalau aku kehilangan kendali atas diriku. Lebih baik bertarung dengan cara biasa. Setidaknya mengurangi peluang kematian ku sebanyak 50% dengan jatuh dari ketinggian 1000 kaki di udara.
Tentu saja, kata hampir selalu menghampiriku.
Begitu aku sampai ke tengah-tengah barisan, aku lagi-lagi hampir jatuh. Tapi ada Daniel yang menangkapku sebelum ambruk ke tanah.
“jangan buang tenangamu. Ada putri lain, dan kami pasukan biasa yang bersedia membantumu. Simpan tenagamu untuk menutup portal”
“cih.. bicaramu sok sekali”
“biarpun sok, tapi tetap kerenkan?”
“oh.. sudahlah. Makin lama kau makin mirip aku”
“entahlah. Aku rasa aku seperti ini sudah sejak dulu” kemudian Daniel melesat pergi sambil melambaikan tangannya padaku.
Okay, mungkin situasi dan kondisinya tidak tepat, tapi jelas sekali aku tidak bisa marah lama-lama dengan cowok itu. Tadi aku membencinya setengah mati, sekarang aku kegirangan setengah mati.
Jadi, aku juga melambaikan tangan padanya.
Ia sempat mengerling heran, lalu kembali melaju menyambut musuh-musuh yang kembali berdatangan. Aku baru saja menunduk untuk mengambil pisau yang sengaja ku selipkan di pahaku. Pedangku tadi telah hilang dalam pertempuran awal. Dan Aku tidak suka memakai senjata orang lain. Meskipun pisau sedikit sulit di gunakan.
Lalu aku menyadari sesuatu yang salah terjadi.
Waktu di sekitarku terasa melambat. Aku seperti dalam adegan slow motion. Orang-orang berlarian untuk bertarung di sekitarku. Teriakan mereka, tiap hunusan pedang mereka, terasa melambat. Aku tahu ada sesuatu yang hadir di sini. dan tentu saja aku tahu siapa yang datang.
Perasaan ini, pernah terjadi beberapa kali.
Aku buru-buru melepaskan petir ke udara, memanggil rekan-rekanku, terkusus Eve. Kami kedatangan musuh besar.
“wah.. kita bertemu lagi, Putriku”
Berdiri tegak seorang pria berjalan santai mendekatiku. Panglima kerajaan Kegelapan, salah satu putra Aletta yang bangkit dan menjadi panglima ayahnya. Mimpi burukku. Ku perkenalkan satu lagi peran antagonis dalam kisah ini, Lord Meus.[]
***
Aura yang ia pancarkan hampir sama dengan aura yang di miliki ayahnya, meskipun ayahnya terasa jauh lebih kejam, tidak ada ampun, dan kuat. Namun aku punya alasan yang jauh lebih bagus untuk lebih membenci Meus. Lord Meus adalah orang yang membunuh orang tuaku saat aku baru saja di nobatkan menjadi seorang Putri.
Itu sebabnya, aku sangat takut dengan pria ini.
langkah kakinya bahkan terdengar jelas di benakku saat ia mendekat.
Seketika itu, kenangan pahit akan keduanya menyeruak. Membuatku tidak mampu bergerak. Aku berusaha mengatur nafas dan rileks tapi tetap saja, bayangan keluargaku yang telah di bunuh olehnya malah semakin nyata di benakku.
Aku mundur selangkah demi selangkah, berusaha mengindarinya.
Aku benci diriku yang seperti ini, tapi aku tetap tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan memikirkan suatu cara untuk menyerangnya pun tidak mampu. Otakku terasa lumpuh oleh ketakutanku. Aku tahu hari ini akan datang. Hari dimana aku akan bertemu si brengsek ini, yang ternyata terjadi 12 tahun kemudian.
Benar-benar sebuah reuni yang sangat tidak di harapkan.
“menjauh dari Shida”
Aku merasakan lengan seseorang di bahuku.
“Eve? Kau.. yakin sudah baikan? Tadi waktu aku meninggalkanmu kau masih...”
“aku sudah siuman. Aku juga mendapat ramuan obat dari Tuan Leo. Sesaat sebelum pertempurannya terjadi, aku meminumnya. Itulah yang menjadi sebab aku bisa berdiri di sini.”
Aku menggenggam tangan Eve erat.
“Lord Meus. Putra kedua Aletta, Panglima tertinggi kerajaan. Lama tidak bertemu dengan anda” ujar Eve.
“kalian berdua benar-benar tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik. Aku tidak percaya aku bisa menghabiskan banyak tahun tanpa wanita cantik seperti kalian—“
“tidak perlu mengucapkan kata-kata manis. Kami tahu niat busukmu” sembur Eve cepat-cepat.
“sejak kapan kau jadi secerewet ini, Putri Eveline? Ku fikir yang banyak bicara adalah rekanmu, Shida. ku lihat sekarang dia yang tidak bisa bicara.”
“kau.. membunuh keluargaku. Kita lihat saja nanti, akan aku balaskan dendam mereka padamu. Aku akan membunuhmu, dengan cara yang menyakitkan, seperti caramu membunuh keluargaku dulu” ujar ku.
Lord Meus tersenyum pongah. “percayalah, kau tidak akan mampu. Aku semakin bertambah kuat.”
Senyum ponah yan terukir di wajahnya membuat kettakutan ku berubah menjadi amarah. Pertama kalinya dalam pertempuran kami, aku merasa begitu tenang. “kau fikir hanya kau yang bertambah kuat? Jangan fikir aku hanya akan berdiam diri, Meus”
Dan dengan itu, aku menyambarnya menggunakan pisauku [].